Aku mematikan lampu ruang tamu, menyisakan lampu kecil di sudut dekat rak buku. Cahaya kuningnya jatuh lembut ke lantai, membuat bayangan kaki meja tampak panjang.
Aku duduk di lantai, bersandar pada sofa.
Entah kenapa posisi itu mengingatkanku pada masa kecil: duduk di lantai rumah, mendengar orang dewasa bicara di ruang lain, berusaha memahami hidup dari potongan kalimat yang tidak lengkap.
Mungkin sejak kecil aku memang selalu berada di balik pintu.
Mendengar.
Menebak.
Menyimpulkan sendiri.
Jarang bertanya.
Jarang meminta.
Jarang percaya bahwa jawabannya akan cukup lembut untuk kuterima.
Aku memejamkan mata.
Dan suara lain muncul.
Itu bukan suara Badru, Laras, atau perempuan dalam mimpiku. Suara itu lebih tua.
Lebih jauh.
Mungkin suara Bapak.
Atau mungkin hanya ingatanku yang menciptakan seorang ayah agar aku punya tempat bertanya.
“Kamu capek, Gas?”
Aku tidak menjawab.
Dalam kepalaku, aku kembali menjadi anak sepuluh tahun yang berdiri di dekat pintu kamar, melihat tubuh bapaknya semakin kecil di balik selimut.
“Kamu selalu berpikir harus kuat.”
Aku membuka mata.
Ruangan tetap kosong.
Tetapi rasa sakitnya nyata.
“Aku enggak punya pilihan,” bisikku.
Bagian lain dalam diriku menjawab:
“Dulu mungkin tidak. Sekarang?”
Sekarang.
Kata itu membuatku diam.
Karena mungkin inilah yang paling menakutkan dari menjadi dewasa: pada titik tertentu, luka lama tidak lagi bisa sepenuhnya dijadikan alasan. Ia tetap menjelaskan banyak hal, tetapi tidak membebaskan kita dari tanggung jawab atas apa yang kita lakukan dengan luka itu.
Aku pernah menjadi anak yang takut.
Itu benar.
Aku pernah miskin.
Benar.
Aku pernah merasa sendirian.
Benar.
Aku pernah memilih mundur karena tidak tahu cara meminta tolong.
Benar.
Tetapi sekarang aku bukan lagi anak itu.
Aku suami seseorang.
Ayah dari tiga anak.
Laki-laki yang rumahnya menyimpan foto keluarga di dinding.
Kalau aku membiarkan masa lalu menarikku terlalu jauh, aku tidak hanya sedang membuka luka sendiri.
Aku mungkin sedang menciptakan luka baru bagi orang-orang yang tidak bersalah.
Kesadaran itu datang pelan.
Tidak dramatis.
Tidak membuatku langsung menjadi bijak.
Hanya membuat napasku lebih berat.
Aku mengambil buku catatan hitam yang beberapa hari lalu kutemukan di laci ruang kerja.
Buku itu sudah lama tidak kusentuh. Sampulnya sedikit mengelupas di sudut. Beberapa halaman menguning. Tulisan tanganku di dalamnya berbeda-beda: ada yang rapi, ada yang miring, ada yang seperti ditulis ketika marah atau terlalu lelah.
Aku membukanya secara acak.
Di salah satu halaman, ada kalimat pendek:
Beberapa orang tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya pindah tinggal di bagian tubuh yang paling sakit.
Aku menatap kalimat itu.
Lama.
Lalu membalik halaman.
Halaman berikutnya kosong.
Aku mengambil pena dari meja.
Tanganku menggantung di atas kertas.
Untuk beberapa saat, tidak ada kata yang keluar.
Kemudian aku menulis:
Aku takut mengingatnya bukan karena ia berbahaya.
Aku berhenti.
Menelan ludah.
Lalu melanjutkan:
Aku takut karena bagian diriku yang hidup kembali bersamanya mungkin akan meminta sesuatu yang tidak berhak kuberikan.
Pena berhenti.
Di luar, angin malam terdengar melewati celah jendela.
Aku membaca kalimat itu lagi.
Kali ini rasa bersalah tidak datang sendirian.
Ia datang bersama sesuatu yang lain.
Kesadaran.
Bahwa masa lalu tidak salah karena kembali.
Yang berbahaya adalah jika aku mengizinkan diriku memperlakukannya sebagai pembenaran untuk mengkhianati masa kini.
Aku menutup buku.
Lalu menunduk cukup lama.
Untuk pertama kalinya sejak mimpi-mimpi itu datang, aku tidak hanya takut pada kenangan.
Aku takut pada diriku sendiri.
Bukan karena aku jahat.
Mungkin justru karena aku manusia.
Dan manusia, ketika merasa ada bagian dirinya yang hilang ditemukan kembali, bisa menjadi sangat pandai mencari alasan untuk menyentuh api sambil menyebutnya cahaya.
Menjelang tengah malam, aku berdiri di depan pintu kamar Mega lagi.
Tidak mengetuk.
Hanya memastikan lampunya sudah mati.
Dari celah bawah pintu tidak ada cahaya. Anak itu sudah tidur.
Aku berjalan ke dapur, memeriksa kompor, lalu ke depan rumah untuk mengunci pagar. Udara luar dingin. Jalan gang sepi. Lampu jalan membuat aspal tampak basah meski tidak hujan.
Aku berdiri sebentar di balik pagar.
Kota ini sunyi dengan cara yang terlalu mengenal aku.
Di suatu tempat dalam kota yang sama, Tika mungkin masih tinggal. Perempuan itu juga bisa saja masih ada. Hidupnya barangkali baik-baik saja, atau tidak. Ia bisa saja sudah sepenuhnya lupa; ingatan tentangku mungkin hanya debu kecil di sudut yang tidak cukup penting untuk dibersihkan.
Atau mungkin—
Aku menghentikan pikiran itu.
Tidak.
Malam itu aku belum boleh berjalan lebih jauh.
Aku mengunci pagar.
Masuk rumah.
Mematikan lampu.
Tetapi sebelum tidur, aku menulis satu kalimat lagi di buku catatan hitam.
Aku harus tahu bedanya menyembuhkan luka dan membuka pintu yang bisa melukai orang lain.
Kalimat itu tidak membuatku tenang.
Tetapi setidaknya ia membuatku jujur.
Dan pada malam-malam tertentu, kejujuran adalah satu-satunya bentuk keselamatan yang masih bisa dicapai seseorang sebelum pagi benar-benar datang.