Usia hampir lima puluh ternyata tidak membuat isi kepala menjadi lebih tenang.
Dulu aku percaya manusia akan tiba pada semacam kedewasaan yang rapi setelah melewati cukup banyak tahun. Seolah umur adalah tangan besar yang pelan-pelan membereskan kamar berantakan di dalam diri kita: melipat penyesalan, menyapu rasa malu, membuang ketakutan-ketakutan lama yang sudah kedaluwarsa.
Ternyata tidak.
Umur hanya membuat kita lebih pandai menyembunyikan kekacauan.
Ia tidak selalu menyembuhkannya.
Malam itu aku berdiri sendirian di ruang tamu dengan lampu yang terlalu terang, dan aku merasa seperti seseorang yang tiba-tiba dipaksa menghadiri persidangan atas seluruh hidupnya sendiri.
Tidak ada hakim.
Tidak ada jaksa atau saksi di sana. Hanya aku.
Dan semua versi diriku yang selama bertahun-tahun saling menyalahkan di ruangan gelap kepala sendiri.
Rumah terasa berbeda ketika Laras tidak ada.
Bukan hanya lebih sepi.
Lebih telanjang.
Ada rumah yang sunyinya menenangkan, dan ada rumah yang sunyinya seperti mengembalikan semua pertanyaan yang selama ini kita titipkan pada kesibukan orang lain. Tanpa suara Laras di dapur, tanpa langkahnya yang mondar-mandir mengurus hal-hal kecil, tanpa tegurannya yang pelan tapi konsisten, rumah ini tiba-tiba terasa seperti panggung kosong setelah semua orang pulang.
Aku bisa mendengar kulkas berdengung.
Jam dinding berdetak.
Angin malam menggesek daun pisang di samping pagar.
Dari kamar Mega, terdengar suara musik pelan yang mungkin ia putar sambil mengerjakan tugas atau pura-pura mengerjakan tugas. Anak itu semakin besar. Semakin punya dunia sendiri. Semakin jarang bercerita panjang seperti ketika masih kecil.
Aku tidak tahu apakah itu wajar.
Atau apakah aku yang terlalu sering absen bahkan saat berada di rumah.
Di dinding ruang tamu, foto keluarga kami tergantung dalam bingkai kayu sederhana.
Aku, Laras, dan tiga anak kami.
Foto itu diambil tiga tahun lalu di acara keluarga.
Dulu, rumah ini tidak pernah semenganga ini.
Aku masih ingat masa ketika ruang keluarga ini penuh dengan mainan Raka yang berserakan, atau suara petikan gitar Ririn dari balik pintu kamarnya yang selalu lupa ditutup rapat.
Tapi waktu bekerja dengan senyap.
Raka kini sudah bekerja di luar kota, sementara Ririn sibuk dengan kuliahnya di Bandung.
Mereka tumbuh, mengepak barang-barang mereka, dan pergi membangun dunia sendiri.
Tertinggal aku, Laras, dan Mega yang kini kelas satu SMA.
Dan ketika rumah ini perlahan mengosong, suara-suara dari kepalaku yang selama puluhan tahun berhasil kutenggelamkan dengan kebisingan anak-anak, kini mulai terdengar jelas.
Sunyi ternyata bukan sekadar ketiadaan suara; ia adalah pengeras suara bagi masa lalu.
Laras berdiri di sampingku dalam foto itu.
Senyumnya tenang.
Tidak berlebihan.
Senyum perempuan yang sudah terlalu lama hidup bersama lelaki pendiam sampai belajar mencintai tanpa meminta terlalu banyak penjelasan.
Aku menatap wajahnya di foto cukup lama.
Lalu rasa bersalah datang.
Bukan menghantam.
Tidak seperti ombak besar.
Ia datang seperti rembesan air dari dinding retak: pelan, dingin, dan terus-menerus.
Aku belum melakukan apa-apa.
Kalimat itu muncul sebagai pembelaan pertama.
Aku belum menghubungi siapa pun.
Belum mencari nomor.
Belum membuka pintu.
Aku hanya bermimpi.
Hanya mengingat.
Hanya duduk terlalu lama dalam kesunyian.
Tetapi bagian lain dari diriku, bagian yang lebih jujur dan karena itu lebih kejam, langsung menjawab:
Tidak semua pengkhianatan dimulai dari tindakan. Ada yang dimulai dari ruang yang diam-diam kau sediakan di dalam dirimu.
Aku menelan ludah.
Ruang tamu terasa lebih dingin.
Aku duduk di sofa.
Sofa itu sudah agak turun di bagian tengah karena terlalu sering dipakai. Laras beberapa kali ingin menggantinya, tetapi selalu ada kebutuhan lain yang lebih penting: biaya kuliah Ririn, perbaikan motor, laptop Mega, tiket pulang Raka saat lebaran.
Hidup keluarga memang sering dibangun dari penundaan-penundaan kecil.
Aku menyandarkan punggung, memejamkan mata.
Dan persidangan itu dimulai.
“Kamu cuma sedang lelah.”
Suara pertama terdengar masuk akal.
Dewasa.
Tenang.
“Mimpi itu biasa. Orang seusiamu memang sering mengingat masa muda.”
Suara lain menjawab, lebih pelan.
“Tapi kenapa kamu takut Laras tahu?”
Aku membuka mata.
Tidak ada siapa-siapa.
Tentu saja.
Hanya dinding, foto keluarga, meja kecil, remote televisi, gelas kosong, dan ponsel yang tergeletak di dekat bantal sofa.
“Kamu tidak melakukan kesalahan.”
“Belum.”
“Kamu hanya ingin memahami masa lalu.”
“Kamu ingin mendengar suaranya lagi.”
Aku mengusap wajah dengan kedua tangan.
“Tidak,” gumamku.
Tetapi suara itu tidak berhenti.
“Kalau hanya masa lalu, kenapa dadamu berdebar setiap kali nama itu hampir muncul?”
“Karena aku terluka.”
“Karena kamu berharap.”
“Aku punya keluarga.”
“Makanya kamu takut.”
Aku berdiri tiba-tiba.
Terlalu cepat.
Kepala sedikit berkunang.
Aku berjalan ke dapur, membuka kulkas, lalu menutupnya lagi tanpa mengambil apa pun. Lampu kulkas yang menyala sebentar terasa terlalu putih, terlalu jujur.
Aku kembali ke ruang tamu.
Ponselku menyala.
Pesan dari Laras.
Mas, Mega sudah tidur? Jangan lupa kunci pagar. Aku mungkin pulang dua atau tiga hari lagi, tergantung urusan di sini selesai kapan.
Aku membaca pesan itu lama.
Lalu mengetik:
Mega sudah di kamar. Pagar nanti aku kunci. Kamu jangan capek-capek.
Terkirim.
Terlalu wajar.
Terlalu suami.
Terlalu aman.
Dan di bawah kewajaran itu, ada sesuatu yang mulai membusuk karena tidak disebut.
Aku berjalan ke kamar Mega dan mengetuk pintunya pelan.
“Meg?”
Musik berhenti.
“Iya, Yah?”
“Sudah mau tidur?”
“Bentar lagi.”
“Jangan terlalu malam.”
“Iya.”
Hening.
Aku hampir pergi, tetapi entah kenapa tetap berdiri di depan pintu.
“Ada tugas?”
“Udah selesai.”
“Besok masuk pagi?”
“Iya, Yah.”
Lalu hening lagi.
Percakapan itu pendek. Fungsional. Seperti kebanyakan percakapan kami akhir-akhir ini. Aku ingin mengatakan sesuatu yang lebih hangat, sesuatu yang mungkin biasa dikatakan ayah lain kepada anak perempuannya. Tapi kalimat-kalimat seperti itu selalu terasa tersangkut di tenggorokanku.
Akhirnya aku hanya berkata, “Kalau butuh apa-apa, bilang.”
“Iya.”
Aku kembali ke ruang tamu dengan rasa gagal yang kecil tetapi tajam.
Ada kegagalan-kegagalan yang tidak pernah tercatat dalam hidup seseorang. Tidak masuk rapor. Tidak dibicarakan dalam acara keluarga. Tidak terlihat pada foto. Tetapi ia tumbuh diam-diam dalam jarak antara ayah dan anak, antara suami dan istri, antara tubuh yang pulang ke rumah dan jiwa yang entah menetap di mana.
Aku duduk lagi.
Di foto keluarga, Laras masih tersenyum.
Dan tiba-tiba aku merasa marah.
Kemarahan itu tidak tertuju kepada Laras, Mega, atau perempuan dalam mimpiku. Ia pulang kepada diriku sendiri.
Karena bagaimana mungkin setelah diberi rumah, keluarga, anak-anak yang tumbuh, hidup yang meski tidak sempurna tetap cukup baik, aku masih membiarkan satu lorong lama di sekolah menguasai dadaku seperti ini?
Manusia serakah sekali.
Atau mungkin terluka.
Kadang dua hal itu sulit dibedakan.
Ponselku bergetar lagi.
Bukan Laras.
Badru.
Masih hidup?
Aku menatap pesan itu.
Badru punya jam biologis yang tidak jelas. Ia bisa mengirim pesan tengah malam seolah semua orang di dunia memang sedang duduk menunggu absurdnya.
Aku membalas:
Sayangnya iya.
Balasannya cepat.
Bagus. Gue belum rela jadi orang paling tua sendirian.
Aku hampir tersenyum.
Lalu ia mengirim lagi:
Lu masih aneh?
Aku mengetik:
Aneh gimana?
Jawaban defensif. Berarti iya.
Aku meletakkan ponsel sebentar.
Mengambilnya lagi.
Ada dorongan untuk mengabaikan percakapan itu, tetapi juga ada kelelahan yang membuatku ingin sedikit jujur pada seseorang yang tidak terlalu rapi untuk menilai hidup orang lain.
Aku sering mimpi masa SMA.
Titik tiga muncul.
Hilang.
Muncul lagi.
Mimpi utang kantin? Kalau iya gue juga sering.
Aku menatap layar.
Kesal.
Tetapi juga lega.
Badru selalu membuka pintu lewat candaan agar orang tidak terlalu takut masuk.
Serius, Dru.
Kali ini balasannya lebih lama.
Oke. Mimpi apa?
Aku tidak langsung menjawab.
Bagaimana menuliskannya?
Mimpi lorong sekolah.
Mimpi hujan.
Mimpi suara perempuan.
Mimpi seseorang yang namanya bahkan belum berani kusebut kepada diriku sendiri.
Akhirnya aku hanya mengetik:
Mimpi orang-orang lama.
Badru membaca.
Lama tidak membalas.
Lalu:
Kadang yang lama balik bukan karena pengen diajak pulang, Gas.
Aku mengerutkan kening.
Maksud lu?
Kadang cuma mau nunjukin ada yang belum lu kubur bener-bener.
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Untuk ukuran Badru, kalimat itu terlalu waras.
Dan karena terlalu waras, ia terasa mengganggu.
Ada yang bisa selesai setelah puluhan tahun? tanyaku.
Balasan datang agak lama.
Ada yang selesai karena dimaafin. Ada yang selesai karena diterima. Ada juga yang enggak perlu selesai, cukup jangan dijadikan alasan buat ngerusak yang sekarang.
Aku membeku.
Kalimat terakhir seperti mengetuk langsung ke bagian yang paling kuhindari.
Cukup jangan dijadikan alasan buat ngerusak yang sekarang.
Aku menoleh ke foto keluarga.
Laras.
Anak-anak.
Rumah ini.
Hidup yang sudah kubangun bukan dengan gairah besar, tetapi dengan tahun-tahun panjang, kerja lembur, cicilan, diam, kompromi, dan banyak hal kecil yang tidak terlihat heroik tetapi nyata.
Aku mengetik:
Lu tahu sesuatu?
Badru membalas:
Gue tahu lu. Itu kadang lebih repot daripada tahu sesuatu.
Aku menutup mata.
Dadaku sesak.
Setelah percakapan dengan Badru berhenti, rumah semakin sunyi.