Di rumah, keadaan tidak berubah.
Kakakku tetap pulang malam dengan wajah lelah.
Ibu tiriku tetap menghitung uang belanja di meja makan.
Aku tetap belajar sampai larut, bukan semata-mata karena rajin, tetapi karena diam-diam percaya bahwa jika aku berhenti, seluruh bangunan kecil bernama harapan akan roboh menimpaku.
Tetapi sekarang, di sela angka-angka dan rumus, sebuah kata ganti yang diam-diam sudah bertindak seperti nama kadang muncul tanpa izin.
Saat aku membuka buku fisika.
Saat hujan mengetuk atap seng.
Saat aku melihat gelas teh di meja makan.
Saat seseorang di rumah berkata, “Jangan lupa makan,” dengan nada yang terlalu biasa.
Aku tidak menulis namanya di buku.
Tidak pernah.
Aku terlalu takut pada bukti.
Tetapi di dalam kepala, nama itu mulai menjadi tempat singgah.
Empat huruf.
Terlalu pendek untuk memuat seluruh ketakutan yang perlahan tumbuh bersamanya.
Suatu sore di halte, Tika tiba-tiba bertanya, “Gas, kamu sering ketemu sama adikku di sekolah?”
Aku hampir tersedak udara.
Badru langsung menoleh dengan wajah yang terlalu menikmati keadaan.
“Kenapa?” tanyaku.
“Enggak. Dia bilang kamu sering di perpustakaan.”
Aku mencoba terlihat biasa.
“Aku memang sering di perpustakaan.”
“Baca buku?”
“Iya.”
Badru tersenyum miring.
“Buku apa? Buku cara pura-pura tenang?”
Aku menatapnya.
Tika melihat kami bergantian, lalu menyipitkan mata.
“Kalian aneh.”
“Yang aneh Badru,” kataku.
“Setuju,” kata Tika cepat.
Badru tersinggung. “Kok gampang banget kompaknya?”
Tika tertawa.
Percakapan berbelok ke hal lain.
Namun aku tetap memikirkan kalimat itu.
Dia bilang kamu sering di perpustakaan.
Artinya dia menyadari kehadiranku.
Artinya aku tidak hanya melihat.
Aku juga terlihat.
Dan bagi seseorang yang sepanjang hidupnya merasa ingin dilihat sekaligus takut terlihat, kenyataan itu terasa seperti berdiri di tepi sesuatu yang dalam.
Aku tidak tahu apakah ingin melompat atau mundur.
Mungkin sejak awal, hidupku memang selalu bergerak di antara dua dorongan itu.
Ingin ditemukan.
Takut diketahui.
Ingin diterima.
Takut terbukti tidak layak.
Ingin tinggal.
Takut suatu hari harus pergi.
Ia tidak pernah menyatakan apa pun.
Aku juga tidak.
Mungkin karena kami terlalu muda.
Mungkin karena aku terlalu takut.
Mungkin karena beberapa hubungan memang lahir lebih dulu sebagai ruang sunyi sebelum manusia berani menyebutnya apa-apa.
Tetapi di antara kami, ada sesuatu yang pelan-pelan terbentuk.
Yang tumbuh di antara kami belum bisa disebut janji, hubungan, apalagi cinta. Ia lebih mirip pengertian kecil.
Bahwa jika aku duduk di perpustakaan dekat jendela, ia boleh duduk dua meja dariku tanpa perlu menjelaskan kenapa.
Bahwa jika hujan turun, kami boleh berdiri di koridor yang sama dan membicarakan hal-hal sepele.
Bahwa jika Tika terlalu ribut, dia boleh menatapku sebentar dengan senyum yang mengatakan, “Maaf, kakakku memang begitu.”
Bahwa jika aku terlalu diam, ia tidak akan membuat diam itu menjadi masalah.
Hal-hal seperti itu mungkin tampak remeh.
Tetapi pada masa remaja, ketika seseorang sedang membangun seluruh gambaran dirinya dari tatapan orang lain, remeh bisa menjadi tempat berlindung.
Dan bagiku, dia perlahan menjadi tempat semacam itu.
Tempat yang tidak kumiliki.
Tempat yang bahkan tidak berani kuakui sedang kucari.
Hanya saja, semakin aku merasa nyaman, semakin kuat pula bagian diriku yang berkata bahwa kenyamanan itu tidak pantas kumiliki.
Karena di balik semua pertemuan kecil itu, masa depan tetap mendekat.
Ujian.
Seleksi.
Formulir.
Brosur universitas.
Pembicaraan guru.
Harapan kakakku.
Angka-angka biaya yang menghantui malam-malamku.
Dan setiap kali masa depan disebut, aku merasa dunia yang diam-diam kubangun bersama Ia menjadi sesuatu yang mustahil dipertahankan.
Ia membuatku ingin tinggal.
Tetapi hidupku menuntutku pergi.
Atau mungkin sebaliknya: hidup menawarkanku jalan pergi, dan aku menggunakan itu sebagai alasan untuk tidak perlu belajar tinggal.
Aku tidak tahu waktu itu.
Aku hanya tahu bahwa semakin dekat seseorang terasa, semakin besar pula keinginanku untuk menjaga jarak sebelum ia melihat terlalu banyak.
Itulah tragedi kecil orang-orang yang tidak selesai dengan dirinya sendiri.
Mereka sering mengira sedang melindungi orang lain dari luka.
Padahal sebenarnya sedang melindungi diri sendiri dari kemungkinan dicintai dengan sungguh-sungguh.
Dan kemungkinan itu, bagi sebagian orang, jauh lebih menakutkan daripada penolakan.
Karena jika ditolak, kita bisa tetap percaya bahwa kita memang tidak layak.
Tetapi jika diterima?
Jika seseorang melihat semua kekurangan itu dan tetap tinggal?
Maka seluruh alasan yang selama ini kita pakai untuk membenci diri sendiri akan mulai runtuh.
Aku belum siap kehilangan alasan-alasan itu.
Tidak pada usia tujuh belas.
Tidak ketika rumah masih terasa seperti tempat yang harus kuselamatkan.
Tidak ketika masa depan mulai berdiri di depan pintu dengan wajah yang terlalu mahal.
Tidak ketika dia menatapku seolah aku tidak perlu menjadi hebat untuk boleh duduk di sampingnya saat hujan.
Mungkin karena itu, setiap kali perasaan itu tumbuh sedikit lebih jelas, aku justru mundur satu langkah.
Tidak banyak.
Cukup sedikit untuk tidak dicurigai.
Cukup pelan untuk bisa kusebut sebagai kesibukan.
Aku mulai lebih sering belajar sendirian di kelas daripada di perpustakaan.
Mulai pulang lebih cepat ketika tahu Tika akan menunggu adiknya.
Mulai menjawab pesan-pesan kecil melalui Tika dengan kalimat yang terlalu pendek.
Mulai menggunakan ujian sebagai alasan.
Masa depan sebagai alasan.
Kelelahan sebagai alasan.
Padahal alasan paling jujurnya sederhana:
Aku takut.
Takut menjadi dekat.
Takut berharap.
Takut ditemukan.
Takut suatu hari dia melihatku sebagaimana aku melihat diriku sendiri: anak laki-laki miskin yang pintar, tetapi rapuh; dipuji banyak orang, tetapi diam-diam ingin menyerah; terlihat punya jalan panjang, tetapi sebenarnya tidak tahu apakah sanggup melangkah sampai ujung.
Dan karena aku takut ia melihat semua itu, aku mulai menjauh sebelum ia benar-benar sempat mendekat.
Aku tidak tahu, waktu itu, bahwa seseorang bisa terluka bukan hanya karena ditinggalkan secara terang-terangan.
Kadang seseorang terluka karena perlahan-lahan tidak lagi diberi tempat untuk mendekat.
Kadang luka paling sunyi datang dari orang yang tidak pernah berkata pergi, tetapi selalu mengambil satu langkah mundur setiap kali kau mencoba percaya.
Jika aku bisa kembali ke masa itu, mungkin aku tidak akan langsung mengatakan cinta.
Kata itu terlalu besar.
Terlalu muda.
Terlalu mudah disalahpahami.
Aku mungkin hanya akan berkata jujur.
Bahwa aku takut.
Bahwa aku tidak tahu harus bagaimana dengan hidupku.
Bahwa berada di dekatnya membuatku tenang sekaligus malu.
Bahwa aku ingin menjadi seseorang yang pantas duduk di sebelahnya, tetapi semakin ingin menjadi pantas, semakin aku merasa tidak layak.
Aku mungkin akan berkata, “Jangan pergi dulu. Aku sedang belajar tidak membenci diriku sendiri.”
Tetapi tentu saja, aku tidak mengatakan apa-apa.
Anak laki-laki tujuh belas tahun jarang tahu bahwa diam juga bisa menjadi bentuk pengkhianatan.
Terutama kepada dirinya sendiri.
Maka aku diam.
Dia juga diam.
Dan di antara dua diam itu, sesuatu yang seharusnya bisa tumbuh pelan-pelan mulai belajar menjadi kenangan sebelum sempat menjadi kenyataan.