"Sepertinya kau benar" ucap Dimas.
"Jangan terlalu banyak berpikir. Lebih baik sekarang kamu istirahat saja" ujar Alea memapah Dimas menuju kamarnya.
"Alea" panggil Dimas.
"Alea, aku menyukai mu" sambung Dimas membuat Alea menghentikan langkahnya.
"Aku sudah menikah Dimas"
"Aku tahu, andai saja waktu bisa kembali berputar. Aku harusnya lebih dulu bertemu denganmu, bukan Sean"
"Dimas, sudah jangan banyak berbicara ayo istirahat"
"Alea, biarkan aku memelukmu" ucap Dimas yang langsung memeluk tubuh Alea.
"Dimas apa yang kamu lakuk-"
Belum sempat Alea menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba Dimas mencium bibir Alea membuat Alea sangat terkejut dan reflek mendorong Dimas.
"Dimas!" kesal Alea.
Dimas tersungkur dan tidak bangkit kembali. Entah dia pingsan atau tertidur, yang pasti Dimas tidak bangkit dari posisinya.
"Dimas?" panggil Alea
"Ternyata mabuknya sangat parah" ucap Alea mau tidak mau kembali membawa Dimas dan menyeretnya masuk ke dalam kamarnya.
"Tubuhnya sangat berat" pekik Alea yang masih menyeret tubuh Dimas.
"Huh, melelahkan sekali" sambung Alea yang berhasil membawa Dimas ke atas kasur.
Alea membenarkan posisi bantal Dimas, ia membuka sepatu dan jas luar yang dipakai Dimas. Selesai itu ia menarik selimut untuk menutupi tubuh Dimas dan mematikan lampu.
"Selamat malam, dan beristirahat" ucap Alea menutup pintu dengan pelan.
Hanya itu yang bisa Alea lalukan untuk Dimas. Ia tidak bisa jika harus membersihkan tubuh Alea, bagaimana pun Alea dan Dimas tidak mempunyai hubungan apa-apa. Alea melakukan semua ini, karena ia merasa berhutang pada Dimas yang selalu merawat dan membiayai nya.
Setelah pintu tertutup rapat, Dimas mulai membuka matanya. Sebenarnya ia tidak benar-benar pingsan atau tidur. Dimas hanya ingin melihat reaksi Alea. Dimas juga tidak terlalu mabuk, ia pandai dalam hal minum.
"Kenyataan ini semakin sulit untuk membuatmu jatuh ke tanganku" pikir Dimas.
Pukul tiga pagi Alsean menangis membuat Mona terbangun dari tidurnya. Sepertinya Alsean kelaparan dan membutuhkan ASI.
Mona membawa Alsean menuju Alea, awalnya Mona ragu untuk ke kamar Alea karena takut mengganggu Alea yang sedang beristirahat. Namun harus bagaimana lagi jika Alsean sudah menginginkan ASI.
Tok ... tok ... tok
Mona mengetuk pintu kamar Alea.
Alea yang baru saja terlelap dalam tidurnya kembali membuka mata, mengambil ponsel yang ada di atas nakas.
"Masih pukul tiga pagi" ucap Alea.
"Kak, kak Alea" panggil Mona diiringi tangisan Alsean.
"Ah hampir aku melupakan Alsean" ucap Alea beranjak dari tidurnya berjalan menuju pintu kamar.
"Alsean menangis ya, maaf sudah merepotkan mu" ucap Alea.
"Tidak apa-apa kak" jawab Mona.
"Kemari sayang, kamu lapar ya" ucap Alea mengambil Alsean ke pangkuannya.
"Mona sekarang kamu istirahat saja" sambungnya Alea.
"Hm iya ka. Oh ya, hmm itu tuan Dimas?"
"Dimas baik-baik saja. Tadi dia sempat marah dan keluar rumah, aku sudah menunggunya. Dimas pulang dengan keadaan mabuk, dan dia sudah aku antar ke kamarnya. Kau tenang saja, jangan terlalu banyak pikiran" jelas Alea.
"Iya ka, kalau begitu aku pamit" ucap Mona.
"Iya, selamat malam"
"Malam ka"
Mona berbalik ia berjalan menuju kamarnya, saat menuju kamar Mona melewati pintu kamar Dimas.
Ingin rasanya ia membuka pintu itu dan melihat bagaimana keadaan Dimas. Hanya saja, Mona takut dirinya akan menganggu Dimas. Oleh karena itu, Mona memilih untuk melanjutkan langkahnya menuju kamar miliknya.
Esok harinya, jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi. Alea masih belum beranjak dari kasurnya. Bahkan Alea belum membuka matanya, ia masih menutup matanya tertidur lelap bersama putranya.
Mona sudah memasak dan menyiapkan makanan, namun ia belum melihat orang rumah yang keluar dari tempat nya masing-masing.
"Kemana orang-orang?" pikir Mona.
Mona memilih untuk membangunkan Dimas lebih dulu. Ia berjalan dan mulai mengetuk pintu.
Sudah mengetuk pintu beberapa kali namun masih belum ada jawaban dari dalam kamar. Mona memegang kenop pintu lalu membukanya.
"Tuan" panggil Mona.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka, Mona berbalik untuk melihat.
"Aaaaaaa" teriak Mona yang tak sengaja melihat tubuh Dimas bagian atas tanpa mengenakan apapun.
Dimas yang sempat terdiam segera berbalik dan kembali memasuki kamar mandi.
"Sedang apa kamu disana"
"Maaf aku tidak sengaja, aku- aku ingin memberitahu tuan kalau makanan sudah siap. Kalau begitu saya permisi" ucap Mona segera meninggalkan kamar Dimas.
Dima mengacak rambutnya, ia membuang nafas kasarnya.
Mona berjalan dengan terus mengatur nafasnya, ia memukul ringan kepalanya yang dipenuhi dengan gambar-gambar kejadian tadi. Lebih tepatnya bagian atas Dimas yang bagaikan roti sobek.
"Ah apa yang aku katakan pada tuan. Apa yang aku pikirkan" ucap Mona.
"Mona? kamu tidak apa-apa?" tanya Alea yang mendengar teriakan Mona dan segera kelur kamar.
"Ti-tidak ka" ucap Mona.
"Apakah aku berteriak sangat keras?" tanya Mona.
"Terdengar sampai kamar ku" balas Alea.
"Ah ya ampun" keluh Mona.
"Ada apa? kenapa wajahmu merah? kamu demam?" tanya Alea.
"Tidak aku tidak demam ka, hanya saja tadi-"
"Tadi apa?"
"Tikus, ya aku melihat tikus" ucap Mona.
"Tikus? dimana?"
"Di kamar tuan Dimas" ucap Mona asal.
Alea mengernyitkan dahinya, ia sedikit bingung dengan perkataan Mona yang kesana kemari.
"Sudah ka, jangan dipikirkan lagi. Oh ya apa Alsean sudah bangun? kakak ayo sarapan dulu" jelas Mona.
"Tadi sempat bangun, namun sudah tidur kembali. Kamu juga makan, oh ya Dimas sudah bangun?" tanya Alea.
"Sudah" balas Mona.
"Yasudah" ucap Alea berjalan menuju meja makan.
Alea dan Mona mulai duduk, tak lama disusul dengan Dimas yang baru saja keluar dari kamarnya lalu bergabung bersama mereka.
Pagi ini suasana terasa berbeda, sedikit canggung dan aneh. Apalagi yang Alea rasakan saat ini. Atmosfer di ruang makan itu terasa kikuk.
"Ada apa dengan mereka? apa terjadi sesuatu yang aku tidak tahu?" pikir Alea.
"Hmm aku sudah selesai makan, aku akan kembali untuk melihat Alsean" ucap Alea yang seperti nya harus pergi dari sana.
"Iya kak" balas Mona.
"Hm" balas Dimas.
Suasana kembali hening, Dimas dan Mona sibuk dengan makanan mereka masing-masing.
"Ekhem, itu em ..."
"Saya minta maaf tuan" potong Mona sebelum Dimas melanjutkan perkataannya.
"Anggap saja tidak terjadi" ucap Dimas.
"I-ya tuan"
"Habiskan makananmu" ucap Dimas pergi.
"Iya tuan" balas Mona menghembuskan nafas lega saat Dimas meninggalkannya.
Mona tidak melanjutkan memakan makanannya, ia memilih untuk minum karena pada saat ada Dimas entah kenapa ia sangat sulit sekali untuk menelan.
"Apakah wajahku masih merah?" pikir Mona beranjak melihat kaca yang tak jauh di sana.
"Pagi-pagi begini sudah seperti ini" ucap Mona mencoba merapikan pakaian, rambut dan mencoba untuk mengatur nafasnya serta menghilangkan bayangan bayangan yang terus bergentayangan di pikirannya.