Alea kini berada di kamarnya, ia melihat Alsean yang masih tertidur pulas. Dua bulan lagi Alsean berumur satu tahun.
Tak terasa air mata Alea menetes, ternyata dirinya sudah lama berada di rumah ini. Rasa rindu dihatinya semakin besar. Ia sangat ingin tahu bagaimana keadaan Sean, Maxi dan yang lainnya.
"Apa ini sudah waktunya aku kembali?" pikir Alea.
Disisi lain Sean yang masih terbaring di rumah sakit masih belum membuka matanya.
Clara, Jamsh, Maxi, dan Leon secara bergantian menjaga Sean kurang lebih sudah satu tahun ini.
Keberadaan Alea juga mereka masih tidak bisa menemukannya. Semuanya sudah melakukan banyak cara untuk melacak keberadaan Alea, namun hasilnya selalu mengecewakan.
Tentu Alea sangat sulit ditemukan karena Dimas melakukan segalanya supaya keberadaan Alea tidak bisa di tembus atau di temukan.
"Kak, apa kakak sungguh tidak ingin bangun? apa kakak tidak ingin mencari Alea?" tanya Clara yang sudah pasrah dengan apa yang terjadi.
"Sean cepat bangun dan segera temukan adikku. Kau harus bertanggung jawab" ucap Maxi.
"Kakak?" pekik Clara melihat telunjuk Sean yang mulai bergerak.
Perlahan Sean mulai membuka matanya, pandangannya buram lalu tak lama terlihat sangat jelas.
"Alea" panggil Sean.
"Aku akan panggil dokter" ucap Maxi segera keluar memanggil dokter.
"Kak, kakak ini Clara" ucap Clara.
Sean menoleh, ia melihat adik perempuannya berada disampingnya dengan senyum bahagianya.
Pintu ruangan kembali terbuka, dokter beserta kedua susternya datang untuk melihat kondisi pasien.
"Keadaannya sudah membaik, tetapi ia masih harus istirahat dan tidak boleh terlalu banyak bicara" ucap dokter.
"Baik dokter, terimakasih" ucap Clara.
"Sama sama" balas Dokter lalu berjalan keluar ruangan dan kembali melanjutkan kegiatannya.
Dalam ruangan Clara terus mengucap syukur karena Sean yang sudah sadar. Begitu juga dengan Maxi, ia memberitahu berita baik ini pada Jamsh dan Leon.
Hari berjalan seperti biasanya, sudah dia minggu Sean melakukan pemulihan hingga ia sudah pulih sepenuhnya dan kembali ke perusahaan untuk melihat bagaimana keadaan perusahaannya.
Semua nampak baik-baik saja, Jamsh mengurus perusahaan dengan sangat baik.
"Kamu sekarang lebih hebat" ucap Sean pada Jamsh.
"Terimakasih tuan" balas Jamsh.
"Bagaimana, Alea masih belum ditemukan?" tanya Sean.
"Belum tuan" jawab Jamsh.
Sean menghela nafasnya, sudah dua hari Sean melakukan pelacakan dan tetap tidak mendapatkan hasil apapun.
Drrrrtt ... drrrrtt
Ponsel miliknya berdering.
Sean merogoh saku jasnya lalu mengangkat panggilan itu.
"Hallo, Sean Alexavier Deacon. Apa kabar?"
Mendengar siapa yang berbicara di balik telepon membuat Sean mengeratkan genggaman tangannya, meremas semua jarinya dengan mengepal sangat kuat.
Jamsh memperhatikan Sean, sepertinya orang yang menghubungi Sean bukanlah orang biasa.
"Dimana istriku" ucap Sean membuat Jamsh terkejut.
"Cih, aku akan datang tepat waktu" ucap Sean menutup panggilannya.
"Tuan?" panggil Jamsh.
"Dimas" ucap Jamsh.
"Tuan akan menemuinya?" tanya Jamsh.
"Tentu"
"Tapi tuan"
"Aku haru memberinya pelajaran" potong Sean.
"Tuan harus hati-hati"
"Hm" balas Sean berbalik dan pergi meninggalkan Jamsh.
Satu jam lagi, Sean akan menemui Dimas di cafe x. Dimana Dimas meminta Sean untuk bertemu.
Sean sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengan Dimas, satu jam terasa satu tahun baginya. Sangat lama, Sean tidak tahan jika harus diam dan menunggu. Ia memilih untuk berangkat saat ini juga.
Dua puluh menit perjalanan akhirnya Sean sampai di cafe tersebut. Ia memesan cofe untuk menunggu kedatangan Dimas.
Seperti akan berperang, Sean sudah membuat aura di sekitar nya terasa sangat dingin dan suram. Siapa saja yang melihatnya terasa terhembus angin yang begitu dingin membuat seluruh bulu kuduk berdiri.
"Sudah menunggu lama?" tanya Dimas.
Sean menoleh, ia melihat wajah itu lalu tak lama.
Bug!!
Sean memukul Dimas membuat lelaki itu jatuh tersungkur. Dimas mengelap sudut bibirnya, ia tidak terima Sean memukul nya seperti ini. Dimas membalas pukulan Sean sehingga membuat keributan di dalam cafe.
"Kalian hentikan!" teriak Alea.
Keduanya berhenti, melihat ke asal suara.
"Alea" lirih Sean sangat pelan.
Sean melepas tangannya yang menggenggam kerah Dimas. Ia berjalan mendekat pada yang tengah menggendong seorang anak.
"Alea apa kamu baik-baik saja?" tanya Sean memegang wajah yang ia rindukan selama ini.
"Anak siapa ini?" tanya Sean yang teralihkan pada bayi itu.
"Anakku" ucap Alea membuat Sean terkejut sekaligus marah.
Sean kembali berbaik dan meraih kerah Dimas.Ia menggerakkan tangannya dan hendak kembali memukul wajah Dimas.
"Dan anakmu, Sean" sambung Alea yang sudah ketakutan melihat Sean yang akan kembali memukul Dimas.
Ucapan Alea membuat Sean menghentikan gerakannya. Sedangkan Dimas ia menarik salah satu ujung bibirnya tersenyum sinis pada Sean.
Sean kembali melepas genggamannya. Ia beralih menuju Alea lalu membawanya duduk. Begitu juga Dimas, tanpa di suruh ia sudah duduk di samping Alea membuat Sean memicingkan matanya.
"Sudah kalian jangan berkelahi" ucap Alea.
Di dalam cafe itu hanya ada mereka bertiga dan para pelayan juga pemilik cafe. Semua pengunjung ketakutan saat terjadi perkelahian antara Dimas dan Sean yang begitu sengit.
Manager cafe kebingungan apa yang harus ia lakukan, sebagian barang-barang toko hancur seperti kursi meja dan gelas piring lainnya.
Semua staf dan manager cafe masih berada disana memperhatikan ketiga orang yang sudah duduk.
"Aku akan mengganti semuanya, kalian pergilah. Aku meminjam tempat kalian sebentar" ucap Dimas memberikan kartu nama miliknya.
Manager cafe mengambilnya, dan saat membacanya mereka langsung terkejut lalu meminta maaf. Setelah itu mereka semuanya pergi meninggalkan Sean, Dimas dan Alea.
Hingga saat ini di ruangan itu hanya ada mereka bertiga dengan tatapan Sean yang mematikan pada Alea sekaligus Dimas.
"Jelaskan" ucap Sean.
"Aku-"
"Dimas" ucap Sean memotong perkataan Alea.
"Kenapa harus aku?" tanya Dimas.
"Tentu saja, kenapa kamu menculiknya?" tanya Sean.
"Bukannya kau sudah tahu. Semua demi Moly" jelas Dimas.
"Dim, berapa kali aku harus bilang. Aku tidak membunuh Moly" tekan Sean.
"Aku tahu" balas Dimas membuat Sean mengernyitkan dahinya.
"Lalu, kenapa kau masih menculiknya"
"Karena saat itu aku belum tahu kebenarannya. Aku tahu semua setelah aku menculik istrimu. Dan istrimu uang memberitahuku dengan semua buktinya" jelas Dimas.
Tatapan Sean kini beralih pada Alea. Alea sedikit gugup saat Sean menatapnya seolah marah padanya.
"Kenapa melihatku seperti itu" ucap Alea.
Sean tidak menjawabnya, ia kembali melihat Dimas.
"Terus kenapa kau tidak melepaskan istri ku?"
"Harusnya kau tanya pada istrimu sendiri" balas Dimas menyilangkan kedua tangannya di atas d**a.
Sean kembali menoleh pada Alea dengan tatapan intens.
"Jelaskan"
"Jangan melihat ku seperti itu jika ingin tahu alasannya" balas Alea.