Beberapa menit setelah Dimas duduk, tiba-tiba teriakan Alea semakin keras. Hal itu membuat Dimas, Mona dan pak Jeje semakin khawatir.
Di dalam ruangan Alea terus mengeratkan genggaman tangannya. Meremas bantal dan berusaha mengatur nafasnya.
Kali ini Alea benar-benar merasakan rasa nyeri yang sangat dahsyat.
"Alea kamu harus kuat" gumam Dimas.
Setelah beberapa kali teriakan dan tarikan nafas akhirnya suara tangis bayi terdengar sangat jelas membuat Dimas, Mona dan pak Jeje saling menatap dan bernapas lega.
"Selamat nona, anak anda seorang laki-laki" ucap suster dengan senyumnya.
"Laki-laki?" tanya Alea.
"Iya nona" balas Suster.
Alea tersenyum, sesuai harapan nya. Alea menginginkan seorang anak laki-laki.
Selesai semuanya Alea di bawa ke ruang rawat. Mona, Dimas dan pak Jeje berada di dalam ruangannya melihat bayi yang begitu tampan.
"Kakak bayimu sangat tampan dan lucu" ucap Mona.
"Benar sekali nyonya" ucap pak Jeje.
"Tentu saja, ibunya juga cantik" sambung Dimas.
"Apa kalian ingin menggendong nya?" tanya Alea mendapat anggukan dari Mona.
Alea mengizinkannya, dengan senangnya Mona meraih tubuh bayi itu.
"Jangan, dia masih kecil. Sudah biarkan dia bersama ibunya" ucap Dimas menghentikan langkah Mona sekaligus membuatnya kesal.
"Hmm baik tuan" balas Mona.
Sedangkan Alea, ia hanya tertawa kecil melihat keduanya.
"Kamu sudah menyiapkan nama untuknya?" tanya Dimas.
"Sudah"
"Siapa namanya ka?" tanya Mona.
"Alsean Deacon" ucap Alea dengan senyum yang tak pernah luntur di bibirnya.
"Wahh namanya bagus sekali" ucap Mona dan pak Jeje bersamaan.
"Tidak biasa saja" potong Dimas.
"Seharus itu ya ujungnya diberi nama Deacon" tanya Dimas.
"Bagaimana pun juga dalam darahnya terdapat darah keturunan Deacon" ucap Alea.
"Kalau begitu tambah margaku" ucap Dimas.
"Aku kan yang merawatmu selama sembilan bulan" sambung Dimas saat melihat tatapan penuh tanya dari Alea.
"Kamu ini ada ada saja" timpal Alea membuat Dimas berdecak.
"Kak, Alsean matanya sangat indah sekali" ucap Mona yang terus memperhatikan Alsean.
Alsean memiliki mata yang sangat memikat sama seperti Alea. Kedua bola mata Alsean berwarna biru.
Alea merasa senang, karena Alsean tidak memiliki warna bola mata seperti dirinya yang berbeda. Karena menurut Alea itu akan menyulitkan nya suatu saat ketika ia beranjak dewasa.
Dimana Alsean akan bersekolah dan berbaur dengan temannya. Setidaknya Alsean tidak perlu memakai lensa mata untuk menutupi kedua bola mata atau salah satunya.
Beberapa hari Alea di rawat di rumah sakit, setelah cukup sehat Dimas membawanya kembali pulang.
Keberadaan Alsean membuat hari-hari Alea lebih berwarna dan tidak terasa bosan. Alea merasa waktu berjalan begitu cepat.
"Mona bagaimana hasilnya?" tanya Alea.
"Kak, ternyata benar. Bukan tuan Sean yang melakukannya. Ternyata yang membunuh Moly adalah ibu tuan Dimas" jelas Mona.
"Ibunya Dimas?" pekik Alea.
"Iya kak, ini bukti yang sudah terkumpul"
"Hmm, baiklah. Malam ini aku akan berbicara dengan Dimas" ucap Alea.
"Tapi kak, aku merasa khawatir jika tuan Dimas akan marah pada kakak" timpal Mona.
"Tenang saja Mona, Dimas tidak akan melakukan apapun padaku" balas Alea.
"Kalau begitu kakak berbicara baik-baik" ucap Alea.
"Iya, kamu tenang saja" balas Alea.
Selesai berbincang, Mona kembali keluar dari kamar. Melihat Mona yang sudah menutup pintu, Alea melihat kembali bukti-bukti itu.
Ia merasa senang karena Sean bukan pelakunya, namun ia juga merasa khawatir dengan Dimas yang harus mengetahui bahwa ibunya yang telah membunuh Moly.
Alea juga tidak mungkin diam saja menutupi semuanya membiarkan Dimas terus mempunyai rasa dendam pada Sean.
"Aku akan memberitahunya" ucap Alea.
Malam kini sudah tiba, Alea meminta Dimas untuk bertemu di taman belakang. Alsean ia titipkan pada Mona.
"Ada apa?" tanya Dimas yang merasa aneh dengan sikap Alea. Tidak biasanya Alea meminta bertemu dengannya seperti ini dengan begitu serius.
"Dimas, aku akan memberitahu sesuatu padamu. Namun kau harus berjanji padaku untuk tidak marah, atau melakukan hal aneh" ucap Alea.
Dimas mengernyitkan dahinya, ia merasa ada sesuatu yang terjadi pada Alea.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Dimas.
"Dimas, berjanjilah" ucap Alea.
"Hmm baik, aku janji" timpal Dimas.
Alea menarik nafasnya sebentar lalu menghembuskan nya pelan. Ia mengeluarkan sebuah amplop coklat dan memberikan amplop itu pada Dimas.
"Apa ini?" tanya Dimas.
"Kamu bisa membukanya" ucap Alea.
Dimas membuka amplop itu yang berisi sebuah surat, foto dan bukti bukti lainnya yang menunjukkan bahwa ibunyalah yang membunuh Moly.
"Jelaskan" teriak Dimas membuat Alea terkejut.
"Itu...."
Alea menjelaskan apa yang dia tahu semuanya pada Dimas. Dimas mengeratkan kepalan tangannya, ia ingin marah namun Alea terus mengatakan bahwa dirinya sudah berjanji tidak akan marah.
"Untuk apa kau melakukan ini?" tanya Dimas.
"Aku tidak ingin kau mempunyai dendam lagi dengan Sean. Selain itu, mungkin Moly juga tidak akan menyukainya jika kamu dan Sean terus bertengkar. Apalagi penyebab kematiannya bukanlah Sean" jelas Alea.
Dimas menendang lalu memukul kursi panjang yang ada di taman itu membuat Alea sedikit memundurkan langkahnya karena cukup dibuat takut oleh sikap Dimas.
"Aku harus bicara dengan ibu" ucap Dimas meninggalkan taman.
"Dimas" panggil Alea meraih tangan Dimas.
"Kamu sudah berjanji tidak akan marah dan melakukan hal aneh" tahan Alea.
Dimas terdiam, ia menatap pada Alea. Tidak ada jawaban apapun, Dimas melepas tangan Alea lalu meninggalkannya.
Alea membuang nafas dalamnya, ia benar-benar takut jika Dimas dan ibunya akan bertengkar karena hal ini.
Alea berjalan memasuki rumah untuk mencari Mona dan Alsean. Di ruang bermain Alea tidak menemukannya, ia beralih menuju kamar Mona. Ternyata Mona dan Alsean sudah tertidur.
Alea merasa lega, ia kembali menutup pintu dengan pelan. Alea tidak akan membiarkan Alsean untuk tidur malam ini bersama Mona karena dirinya harus menunggu Dimas pulang.
Waktu sudah menunjukan jam dua belas malam, namun Dimas belum juga kembali. Rasa kantuk sudah menyerang Alea, ia hampir terlelap namun terus menahannya dengan mencubit pipi atau tangannya supaya terus terjaga.
Hingga satu jam kemudian barulah terdengar suara pintu terbuka. Alea terbangun dari tidur lelapnya walau hanya 40 menit.
"Dimas kamu sudah pulang?" ucap Alea berjalan ke arah pintu.
Dimas melihat Alea ia tersenyum kecil lalu mengabaikannya.
"Kami mabuk?" tanya Alea.
"Tidak" balas Dimas dengan jalan sempoyongan.
"Hati-hati" timpal Alea meraih tubuh Dimas.
"Sudah ku bilang aku tidak mabuk" ucap Dimas.
"Alea" panggil Dimas.
"Hatiku ini rasanya sangat hancur, ibu melakukan semuanya karena sengaja ingin menghancurkan persahabatan ku dengan Sean" jelas Dimas dengan menangis.
"Sudah tidak apa-apa. Semuanya sudah berlalu. Untuk sekarang lebih baik kau melepaskan semuanya, dan cobalah untuk melepaskan dendam mu" balas Alea.