"Baik, aku setuju" ucap Mona membuat Alea tersenyum.
"Kalau begitu, mulai sekarang sering seringlah masuk ke dalam kamar ku. Untuk saat ini, itu adalah tempat paling aman" jelas Alea.
"Baik ka" balas Mona.
Kali ini Mona harus lebih berani untuk melakukannya. Jika dia terus diam seperti ini, maka Dimas tidak akan pernah meliriknya.
(Izinkan satu kali saja untuk memenuhi egoku) gumam hati Mona.
Mona mengangguk yakin, ia menatap dirinya pada pantulan cermin yang ada di kamarnya.
"Ini juga tidak akan merugikanmu tuan" gumam Mona.
Satu jam kemudian, Dimas baru saja pulang dari kantornya. Ia membawa makanan yang dipesan oleh Alea.
"Dimana Alea?" tanya Dimas pada Mona yang saat ini tengah berada di dapur.
"Kak Alea berada di kamar" balas Mona.
Dimas berbalik, ia berjalan menuju kamar Alea untuk memberikan makanan yang dipesannya.
"Alea" panggil Dimas lembut dengan mengetuk pintu kamarnya.
"Masuk, tidak di kunci" ucap Alea
Dimas memegang kenop pintu, ia membukanya lalu masuk ke dalam kamar Alea.
"Kau seharian di kamar?" tanya Dimas mendekat pada Alea yang lagi-lagi sedang memandang ke luar jendela.
"Tidak, aku tadi sempat keluar kamar dan mengobrol dengan Mona"
"Hmm, baguslah. Oh ya, ini pesanan mu" ucap Dimas memberikan kantong makanan kecil pada Alea.
"Kenapa lama sekali" cemberut Alea yang sedikit kesal.
"Sudan tidak mau? yasudah kalau tidak mau" balas Dimas.
"Ehhh udah sini, terimakasih" rebut Alea dengan menekankan kata terimakasih.
"Hmm sama sama" balas Dimas.
"Sampai kapan kamu ada disini?" tanya Dimas menghentikan gerakannya tangan Alea yang sedang membuka bungkus makanan.
"Sampai...."
(Sampai aku membereskan permasalahan mu dengan Sean. Jika masalahmu sudah selesai, aku akan kembali dan menemui kakak) sambung hati Alea.
"Sampai aku melahirkan" jawab Alea.
"Hmmm yasudah"
"Memangnya kenapa? kamu keberatan aku berada disini?" tanya Alea.
"Tidak, mau lima tahun lagi juga gapapa" balas Dimas lalu beranjak pergi meninggalkan Alea.
"Aku pergi dulu, tubuhku sudah sangat tidak nyaman" sambung Dimas lalu menutup pintu.
"Jika aku disini terlalu lama, kamu akan semakin tua. Kasian Mona jika harus menunggu bertahun tahun lagi" lirih Alea pelan melihat Dimas yang sudah menutup pintu kamarnya.
Alea menghembuskan nafas dalamnya, ia kembali memandang ke arah jendela kamarnya. Entah apa yang menarik dari jendela kaca kamar miliknya, hanya saj ia selalu merasa nyaman jika memandang ke arah luar.
"Ah sudahlah, apa yang ku pikirkan" tangkas Alea melanjutkan membuka makanannya.
"Ahhh akhirnya aku akan memakan mu" ucap Alea dengan mata berbinar.
...
Semenjak kerja sama antara Mona dan Alea, Mona menjadi lebih sering masuk ke dalam kamar Alea. Dimas tidak mencurigai apapun, ia berpikir bahwa Mona membantu Alea melakukan apa yang ia butuhkan.
Justru Dimas merasa senang karena dengan begitu Alea mungkin akan mempunyai teman bicara.
Apalagi sekarang kandungannya sudah sembilan bulan, harus selalu ada yang berada di sisinya untuk menjaga Alea.
Mona lebih sering datang ke kamar Alea di saat Dimas pergi bekerja di perusahaan nya. Mona menjadi kan itu sebagai kesempatan nya untuk menceritakan apa yang ingin Alea ketahui tentang informasi mengenai Dimas.
"Hmm, seperti itu ternyata" ucap Alea mendengar apa yang dikatakan Mona.
"Apa kau bisa melakukan sesuatu?" tanya Alea.
"Tentu, selagi itu tidak merugikan tuan Dimas" ucap Mona.
"Aku ingin...."
"Tapi kak, itu"
"Tenang saja, tidak akan apa-apa. Kita harus mencari bukti yang lebih kuat"
"Ah baiklah. Aku akan mencobanya"
"Terimakasih Mona"
"Iya kak" balas Mona dengan tersenyum.
"Aw aduh" pekik Alea memegang perutnya.
"Kak, kakak kenapa?" tanya Mona khawatir melihat Alea yang kesakitan.
"Sepertinya aku akan melahirkan ini sakit sekali" ucap Alea.
"Yaampun, bagaimana ini" ucap Mona yang malah menjadi panik dan bingung harus melakukan apa.
"Panggil pak jeje, bawa aku ke rumah sakit" ucap Alea dengan menahan perutnya yang sangat sakit.
"Oh ya rumah sakit. Pak jeje" ucap Mona segera mengambil ponsel miliknya lalu meminta pak Jeje untuk masuk ke dalam dan membantu Alea keluar dari rumah.
Pak Jeje adalah sopir yang sudah disiapkan oleh Dimas untuk berjaga-jaga hal seperti ini terjadi.
"Pak pelan-pelan" ucap Mona yang juga membantu Alea berjalan menuju mobil.
"Perutku sangat sakit, aku sudah tidak kuat berjalan" ucap Alea.
"Tahan sedikit kak, sebentar lagi kita akan sampai di mobil" ucap Mona.
Beberapa menit kemudian akhirnya Alea sampai di dalam mobil. Pak Jeje segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
"Apa tuan Dimas sudah diberitahu?" tanya pak Jeje.
"Ah iya aku hampir lupa" ucap Mona kembali mengambil ponselnya lalu menghubungi Dimas untuk memberitahunya.
Mungkin karena terlalu khawatir sekaligus panik, Mona menjadi kebingungan harus melakukan apa hingga ia lupa untuk menghubungi Dimas. Untungnya pak Jeje mengingat Mona untuk menghubungi Dimas.
"Tuan, perut kak Alea sakit seperti nya hari ini kak Alea akan melahirkan. Kami sudah berada di dalam mobil menuju rumah sakit" ucap Mona.
Dimas yang berada di seberang telepon, terkejut. Saat ini ia sedang berada di ruangannya, tanpa membalas perkataan Mona, Dimas langsung mengambil kunci mobilnya dan melajukannya menuju rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit, Dimas mencari keberadaan Alea. Namun sudah begitu lama ia tak kunjung menemukan dimana Alea.
Dimas semakin khawatir, ia menelpon Mona untuk memastikan kembali.
"Dimana kalian?" tanya Dimas.
"Sebentar lagi sampai" ucap Mona.
"Kalian belum sampai?" tanya Dimas.
Bagaimana mungkin ia lebih dulu bisa sampai di rumah sakit ini. Sedangkan orang yang akan melahirkan belum juga sampai.
Tak lama dari itu berhenti lah sebuah mobil diluar, Dimas menoleh dari dalam rumah sakit tempat resepsionis yang tak jauh dari pintu keluar.
Dimas merasa yakin, kalau itu adalah mobilnya.
Melihat itu Dimas mematikan panggilannya ia memasukkannya ke dalam jas hitam miliknya lalu berlari menuju mobil tersebut.
"Alea" panggil Dimas membuka pintu.
"Tuan" panggil Mona.
"Dimas tolong, aku sudah tidak kuat berjalan" ucap Alea.
"Tenanglah, ayo atur nafas. Tarik dari hidung keluarkan dari mulut pelan-pelan. Teruslah seperti itu, Mona bantu dia. Aku akan memanggil suster" ucap Dimas kembali berlari ke dalam.
Setelah itu, barulah beberapa suster datang dengan membawa ranjang dorong dan membawa Alea ke ruang dimana tempat melahirkan.
Pak Jeje, Mona dan Dimas berada di luar ruangan. Mereka terus berdoa tiada henti, apalagi Dimas, ia terus berjalan kesana kemari membuat suasana semakin terasa tegang.
"Tuan bisakah anda duduk?" tanya Mona yang merasa pusing melihatnya.
"Aku sangat khawatir" balas Dimas.
"Saya juga tuan, tapi tuan mondar mandir seperti itu membuat saya dan pak Jeje pusing. Betul kan pak?"
"Ya kurang lebih seperti itu" ucap Pak Jeje yang refleks menjawab.
"Ck, kalian ini" kesal Dimas lalu duduk.