"Lalu kenapa tuan membawanya kemari?" tanya Mona.
"Entah, aku juga tidak tahu. Pada saat itu aku tidak memikirkan apapun. Hanya ingin menolongnya dan tanpa dadar membawanya ke rumah ini" jelas Dimas
"Kau memang menyukainya" gumam Mona sangat pelan.
"Apa?" tanya Dimas yang kurang jelas mendengar gumaman Mona.
"Tidak, lalu sekarang bagaimana rencana tuan?" tanya Mona.
"Aku masih memikirkan nya" ucap Dimas.
"Sudah larut kembalilah ke kamarmu, angin malam tidak baik untukmu" sambung Dimas beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan Mona.
"Iya tuan" balas Mona.
...
Hari demi hari berjalan seperti biasanya, kehamilan Alea semakin terlihat dengan perut yang mulai membesar.
Satu bulan sudah berlalu sejak kejadian saat itu, dan kondisi Alea masih kurang baik karena terus mengurung diri di kamar.
"Alea, apa kamu ingin pulang? jika kamu ingin pulang aku bisa melepaskan mu" tanya Dimas yang akhirnya melontarkan pertanyaan itu setelah sekian lama ia tahan untuk tidak mengatakannya.
"Aku ingin, tapi tidak tahu dengan Sean. Apakah dia akan menerimaku atau tidak. Sampai saat inipun Sean belum mencariku" balas Alea dengan tatapan sendu.
Dimas tak membalas perkataan Alea. Bagaimana pun juga apa yang dikatakan Alea ada benarnya. Dengan kemampuan Sean dan koneksinya tidak mungkin sesulit itu untuk menemukan keberadaan Alea.
Apalagi Sean sudah mengetahui orang yang menculik istrinya.
"Lalu, apa sekarang rencana mu?" tanya Dimas.
"Apa aku boleh lebih lama tinggal disini? setidaknya sampai aku melahirkan anak ini" ucap Alea mengelus perutnya membuat Dimas terkejut.
"Boleh saja, tapi apa kamu yakin dengan keputusan mu saat ini?"
"Iya" balas Alea.
"Baiklah jika itu keputusan mu"
"Terimakasih"
Alea kembali menatap pada jendela kamarnya, ia memandang dengan tatapan kosong. Jika bukan karena anak ini, Alea sungguh tidak ingin memakan apapun.
Dimas keluar dari kamar Alea, ia merasa prihatin dengan kondisi Alea.
Setiap hari berjalan seperti biasanya, Dimas meminta Mona untuk selalu mengawasi dan menjaga Alea disaat ia berada di luar rumah.
Dimas harus tetap menjalankan bisnisnya, perusahaan yang ia pimpin selama kurang lebih sepuluh tahun ini tidak mungkin ia lepaskan atau serahkan pada orang lain.
Hari berganti bulan, semakin hari Alea semakin terbiasa. Ia kembali menemukan semangat nya untuk hidup lebih baik demi anaknya.
Saat ini perut Alea sudah sangat besar, sembilan bulan ini merupakan puncak dimana bayi yang ia kandung akan segera lahir.
"Mona" panggil Alea.
"Iya kak"
"Apa Dimas sudah pulang?" tanya Alea
"Belum kak, ada apa?"
"Kenapa lama sekali, aku titip makanan padanya. Aku sangat ingin segera memakan makanan itu" jelas Alea.
Mona tertawa kecil, meskipun kehamilan Alea sudah sembilan bulan. Alea masih selalu menginginkan ini dan itu. Bahkan semakin hari keinginannya semakin aneh.
Hal ini sudah biasa bagi Mona, ia benar-benar menganggap Alea sebagai kakaknya. Mona berperilaku sangat baik pada Alea. Ia selalu memberikan perhatian lebih padanya.
Terkadang, jika Alea merasa down. Mona selalu siap menghiburnya dan memberikan semangat untuk Alea hingga ia bisa bangkit kembali dengan semangat nya.
"Mona" panggil Alea dengan serius.
"Iya kak?"
"Sebenarnya aku ingin tahu alasan kenapa Dimas ingin melakukan balas dendam pada Sean" jelas Alea. Ia tahu benar bahwa Mona pasti mengetahui apa yang terjadi pada Dimas dan Sean.
"Ah ituu"
"Tidak apa, katakan saja. Aku sangat ingin mengetahuinya"
"Yang aku tahu sebenarnya, tuan Sean dan tuan Dimas adalah teman masa kecil yang sangat dekat. Mereka begitu bersahabat, dan mereka selalu bermain dengan Moly. Moly adalah seekor anjing jenis Alaska Malamut. Anjing itu mereka temukan saat bermain di hutan, Moly terluka mereka mengobati Moly lalu berjanji akan menjaga satu sama lain. Waktu berjalan sangat cepat, Moly tumbuh dengan gagah dengan bulunya yang indah. Bahkan sekilas moly terlihat seperti serigala. Mereka bermain bersama tertawa dan tersenyum bahagia. Masa kecil yang sangat indah"
"Lalu?" tanya Alea penasaran.
"Di suatu saat, tuan Dimas melihat tuan Sean memegang pisau di samping Moly yang sudah tidak dadarkan diri. Moly sudah mati, dengan tusukan di leher dan di perutnya. Tuan Dimas melihat tangan tuan Sean yang penuh dengan darah beserta pisau di tangannya. Tanpa berpikir panjang, tuan Dimas langsung memukul Sean. Mereka berkelahi, dan tuan Dimas merasa bahwa tuan Sean sudah mengkhianati dirinya dan Moly" jelas Mona panjang lebar.
"Oleh karena itu, Dimas mau membunuh Sean?" tanya Alea .
"Tidak sampai membunuh, tuan Dimas hanya ingin berkelahi dengan tuan Sean hingga tuan Sean menunduk padanya dan ingin satu kali saja menusuk Sean tanpa menghilangkan nyawanya. Namun tidak sampai disana, tuan Dimas juga menginginkan tuan Sean melihat bagaimana ia menyentuh apa yang menjadi miliknya. Yaitu kakak, istri dari tuan Sean" jelas Mona.
Alea terdiam sejenak, akhirnya Alea tahu apa akar dari masalah semuanya dan ia juga tahu kenapa saat itu Dimas menculikknya.
Namun ada hal yang aneh, Dimas pernah menawarkan atau bertanya apakah aku ingin pulang?
"Apa sampai sekarang Dimas masih dendam pada Sean?" tanya Alea.
"Sepertinya masih"
"Tetapi kenapa Dimas memperlakukanku dengan baik, bahkan ia bisa melepaskan ku jika aku ingin kembali" gumam Alea namun masih terdengar oleh Mona.
"Karena tuan menyukai kakak" ucap Mona membuat Alea menoleh padanya.
"Itu tidak mungkin Mona" timpal Alea.
"Terserah kakak mau percaya atau tidak, tapi yang aku lihat memang seperti itu. Tuan Dimas menyukai kakak"
"Lalu, bagaimana denganmu?" tanya Alea membuat Mona terdiam.
"Kamu mencintai nya kan?" sambung Alea.
"Aku permisi ka" ucap Mona hendak pergi dari sana.
"Tunggu Mona" ucap Alea menahannya.
"Tidakkah kamu bisa lebih berani sedikit untuk menunjukan perasaanmu?" sambung Alea.
"Aku takut ka"
"Perlahan, tunjukan semua perhatianmu padanya. Aku akan membantumu, tapi aku menginginkan sesuatu darimu" ucap Alea.
"Apa yang kakak inginkan?" tanya Mona.
"Aku ingin semua informasi mengenai Dimas, baik keluarganya atau temannya dan masalalu nya" jelas Alea.
"Tapi itu adalah privasi tuan Dimas, aku tidak akan mengkhianati nya" balas Mona.
"Tenang saja, aku tidak akan memberitahunya. Aku hanya membutuhkan informasi nya"
"Untuk apa kakak melakukan hal ini?" tanya Mona yang mulai ragu dengan perasaannya.
"Kau boleh mencurigai ku, hanya saja kau harus ingat. Aku melakukan semua ini untuk kebaikannya dan suamiku. Aku mengenal Sean, dan dia bukanlah tipe orang yang tiba-tiba menghabisi seekor anjing. Apalagi itu adalah anjing sebuah persahabatan" jelas Alea.
"Maksud kakak?"
"Aku ingin semua informasi mengenai Dimas dan kejadian saat itu. Aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jika misi ini berhasil, aku akan membantumu mendapatkan Dimas. Bagaimana?" tanya Alea membuat Mona terdiam.
Mona tergiur dengan tawaran Alea, namun apakah pantas demi egonya ia harus memberitahu privasi Dimas?