Dimas merasa khawatir melihat keadaan Alea yang seharian ini mengurung diri di kamar. Sikap Alea berubah drastis membuat Dimas kebingungan harus melakukan apa pada Alea.
Tok .. tok .. tok
Dimas mengetuk pintu kamar Alea.
"Alea, makanlah sesuatu ini sudah malam dan sejak siang kamu belum makan apa-apa" ucap Dimas.
"Aku tidak lapar" balas Alea dengan lesu.
"Tidak apa jika kau tidak makan. Tapi pikirkan bayi yang ada dalam kandunganmu" timpal Dimas.
Tidak ada jawaban apapun, Dimas mendekatkan telinganya pada pintu tersebut untuk mengetahui apa yang terjadi.
Tiba-tiba saja pintu itu terbuka hampir membuat nya terjatuh.
"Ah kau mengagetkanku saja" ucap Dimas.
"Hm"
"Ayo makan dulu, kasian bayi mu"
"Iya"
Alea berjalan dengan lemahnya, sebenarnya dirinya sangat malas keluar kamar. Apalagi harus melakukan makan malam.
Saat ini perasaannya masin tidak karuan, walaupun tidak sedikit membaik tetapi tetap saja Alea selalu merasa ada yang mengganjal di hatinya
Alea duduk di meja makan, Mona telah menyiapkan semuanya.
Melihat makanan yang ada dihadapannya membuat Alea menghembuskan nafas beratnya.
Sangat malas, benar benar sangat malas. Namun harus bagaimana lagi jika dirinya tidak makan sedikitpun maka bayi yang ada di dalam perutnya pasti akan kelaparan.
"Apa nyonya tidak suka dengan makanannya?" tanya Mona.
"Ah bukan begitu, hanya saja rasanya aku sangat malas untuk makan"
"Nyonya harus makan, supaya bayi nyonya sehat"
"Hmm ya, aku harus melakukan itu. Oh ya, berapa umurmu? sepertinyamu lebih muda dariku" tanya Alea.
"Saya berumur 20th"
"Kalau begitu jangan memanggilku nyonya. Panggil kakak juga tidak apa-apa. Anggap saja aku adalah kakakmu. Jika kamu mau"
"Saya mau sekali, apalagi saya sebatang kara. Mempunyai kakak yang baik sepertimu itu adalah keberuntungan ku. Tapi sepertinya itu tidak pantas karena-"
"Aku sandra disini jadi jangan panggil nyonya"
"Sandra?"
"Ya, Dimas menculikku" ucap Alea mulai memakan makanannya.
Mona menoleh ke arah Dimas seolah mempertanyakan apa yang terjadi.
"Sudah jangan mengganggunya makan" timpal Dimas yang mendapat tatapan itu dari Mona.
"Baik tuan" ucap Mona beranjak pergi.
"Kami mau kemana?" tanya Alea.
"Saya mau ke belakang nyonya"
"Panggil aku kakak"
"Maaf kak"
"Kamu makan disini bersamaku" ucap Alea.
"Aku tidak lapar kak, kakak lanjutkan saja" balas Mona dengan lembut.
"Kamu yakin? setidaknya makan satu atau dua suap"
"Aku akan makan nanti malam kak, untuk saat ini ada yang harus aku bereskan"
"Hmmm baiklah, jangan terlalu lelah"
"Terimakasih ka" ucap Mona tersenyum lalu pergi meninggalkan Alea dan Dimas.
Dimas menundukkan kepalanya, ia merasa telah melakukan hal yang salah pada Mona. Namun apakah pantas ia memikirkan hal itu? Mona adalah bawahannya, hubungan mereka tidak lebih dari itu. Dimas selalu meyakinkan pikirannya dengan kalimat tersebut.
"Alea, makan yang banyak" ucap Dimas memberikan lauk yang lain ke atas piring Alea.
"Terimakasih" ucap Alea.
"Dimas" panggil Alea.
"Iya?"
"Jangan terlalu keras padanya, bagaimana pun juga dia selalu membantu semua keperluan mu. Dan menurutku, dia cocok denganmu meskipun yaa umurmu jauh lebih tua" ucap Alea.
"Apa yang kau katakan. Fokus makan saja, jangan memikirkan hal lain" balas Dimas.
Alea tersenyum, sebenarnya ia tahu betul perasaan antara Mona dan Dimas yang saling bergantung satu sama lain.
"Alea?" panggil Dimas.
"Hmm"
"Memangnya aku setua itu? sampai kau mengatakan kalimat itu" tanya Dimas.
Alea menghentikan kegiatannya, ia melihat pada Dimas. Kalimat panjang yang dia ucapkan tadi hanya kata itu yang menempel pada pikirannya?
"Aku tahu, karena menurut tebakanku kamu tidak jauh beda umurnya dengan Sean" balas Alea.
"Hmm cukup pintar"
"Tentu saja. Biar ku tebak, kamu pasti pernah dekat dengan Sean?" ucap Alea dengan mata seolah mengintrogasi Dimas.
Dimas terdiam mendengar apa yang dikatakan Alea. Wajahnya berubah menjadi serius dan menatap pada Alea.
Alea memundurkan wajahnya, ia mulai sedikit takut saat Dimas menatap nya serius lalu mendekat kan wajahnya pada wajah Alea.
"A-pa yang kau lakukan" ucap Alea yang semakin memundurkan kepalanya.
Dimas semakin mendekatkan wajahnya, Alea hendak beranjak namun Dimas menahan kursi Alea dengan sangat kuat hingga sulit bergerak.
"Di-mas" panggil Alea yang semakin ketakutan lalu tak lama memejamkan matanya.
Kini nafas Dimas terdengar sangat jelas, bahkan bibirnya sedikit lagi menyentuh bibir Alea.
Alea berusaha menahan nafasnya, hingga beberapa detik kemudian.
"Aku tidak suka kau membahas itu" ucap Dimas lalu pergi meninggalkan Alea.
Alea membuka matanya, ia membuang nafasnya yang ia tahan dari tadi. Ale mencoba kembali mengatur nafasnya. Ia mengambil gelas yang berisi air putih lalu meminumnya.
"Membuatku takut saja" pikir Alea lalu memilih untuk beranjak pergi dari sana dan kembali masuk ke dalam kamarnya.
Sementara itu, Mona masih tersenyum merasa senang dengan perhatian yang Alea berikan. Ternyata Alea tidaklah seperti yang ada di dalam pikirannya.
Meskipun cantik dan mempunyai bola mata yang unik, Alea tetaplah rendah hati. Ia sangat baik dan ramah.
"Kak Alea orang yang baik pantas saja tuan Dimas menyukainya" pikir Mona lalu duduk di kursi panjang taman belakang.
Mona memandang lurus, menghirup dinginnya angin malam. Entah rencana apa yang dilakukan Dimas saat ini, yang pasti hal tersebut sangat mengganggu pikirannya.
Tidak seperti biasanya, Dimas tidak memberitahu apa yang ia lakukan saat ini.
Mona benar-benar tidak tahu bahwa Dimas telah menculik Alea dan menjadikannya sebagai sandra. Ia kira, Dimas menghamili Alea dan membawanya ke tempat persembunyian ini.
Mona memegang keningnya, ia memejamkan matanya lalu menggerakkan jarinya untuk memijat keningnya secara perlahan.
"Makanlah" ucap Dimas tiba tiba dengan mengulurkan sebuah sandwich.
Mona membuka matanya, ia membetulkan posisi duduknya.
"Tuan" sapa Mona hendak berdiri.
"Duduk saja" balas Dimas lalu duduk di samping Mona.
"Nih ambil" ucap Dimas memaksa meletakkan Sandwich itu pada tangan Mona.
Mona hanya bisa mengangguk, ia mengambil dan memakan Sandwich tersebut.
"Enak?" tanya Dimas dengan pandangan matanya yang masih lurus ke depan.
"Iya enak" balas Mona tersenyum.
"Tentu saja enak, aku membuatnya sendiri" ucap Dimas membuat Mona semakin mengembangkan senyumnya.
Ini bukanlah pertama kalinya Dimas membuatkan sandwich untuk Mona. Biasanya jika Dimas melakukan kesalahan pada Mona atau merasa ada sesuatu yang mengganjal dihatinya pada Mona.
Dimas tidak pernah meminta maaf atau mengucapkan maaf pada Mona sekalipun. Ia hanya membuat sandwich lalu memberikannya pada Mona, dan Mona menganggap bahwa itu adalah permintaan maaf darinya.
Meskipun Mona kesal, anehnya ia selalu menerima sandwich itu dan memakannya. Memaafkan apa yang telah Dimas lakukan.
"Dia istrinya Sean" ucap Dimas membuat Mona menoleh padanya.