"Ada apa? kenapa menangis" ucap Dimas yang langsung memeluk Alea.
Dimas mencoba untuk menenangkan Alea, namun bukannya tenang Alea justru semakin menangis dengan tersedu-sedu.
Alea juga tidak tahu kenapa ia bisa menangis seperti ini.
Bukan, bukan karena jarinya yang tertusuk sehingga ia menangis. Namun perasaannya, saat ini Alea sedang merasakan hatinya yang terguncang hebat.
Alea tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, yang ia tahu dirinya saat ini ingin menangis mengeluarkan rasa sesak yang ada di dalam hatinya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Dimas yang semakin khawatir melihat Alea yang menangis seperti ini.
"Duduk disini, aku akan ambilkan minum untukmu" ucap Dimas mengusap Alea lalu beranjak dari duduknya mengambil segelas air.
"Ini, minum pelan-pelan" sambung Dimas memberikan gelas itu pada Alea.
Alea mengambilnya, ia meminum air yang ada di dalam gelas tersebut. Tangisnya mulai mereda, namun perasaannya masih sama. Ada sesuatu yang mengganjal dihatinya.
"Sudah jangan menangis lagi" ucap Dimas sangat lembut.
...
Drrrtt ... drrrtt ... drrrtt
Ponsel Jamsh berdering.
Jamsh mengambil ponselnya lalu menjawab panggilan tersebut.
"Apa!"
Tangannya bergetar mendengar apa yang dikatakan seseorang dibalik ponselnya. Pikirannya seolah terhenti dalam satu titik.
Kabar ini sungguh membuatnya syok.
"Tuan" panggil seseorang terdengar dari ponsel Jamsh.
"Tuan" ulangnya lagi.
"Apa kalian sudah memanggil ambulan?" tanya Jamsh dengan mata yang sudah berkaca-kaca dan memerah.
"Baik aku akan menyusul" balas Jamsh menutup panggilannya.
Dengan cepat Jamsh mengambil kunci mobil lainnya, ia bergegas menuju parkiran dan menancapkan gas mobilnya menuju rumah sakit dimana Sean sudah dibawa ke sana.
Ini yang selama ini Jamsh takutkan. Ia takut jika Sean tidak bisa mengontrol dirinya hingga kehilangan kendali.
Jamsh diam-diam mengirim bawahannya untuk mengikuti Sean, Jamsh benar-benar takut jika sesuatu terjadi pada Sean lalu tidak ada yang mengetahuinya.
Laju mobil Jamsh semakin cepat, dalam perjalanan ia tak kuasa menahan tangisnya. Ia merasa bersalah karena membiarkan Sean mengemudikan mobilnya sendiri.
"Tuan anda harus bertahan" ucap Jamsh.
Sepuluh menit perjalanan Jamsh sudah sampai di rumah sakit. Saat ini, Sean sudah berada di ruang UGD.
Jamsh tak henti hentinya berdoa untuk keselamatan Sean.
"Jamsh, bagaimana keadaanya?" tanya Maxi dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Jamsh bagaimana keadaan kakak?" tanya Clara panik dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Tuan masih di dalam" balas Jamsh.
Clara menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia mengeluarkan tangisannya yang sudah ia tahan.
Maxi memeluk Clara membawanya duduk mencoba menenangkan sang istri.
"Jangan menangis, dia akan baik-baik saja. Bukannya kakakmu sangat kuat, dia pasti bisa melewati semua ini" ucap Maxi membuat Clara semakin terisak.
"Jangan menangis sayang" sambung Maxi mengusap lembut rambut Clara dan sebisa mungkin menahan air matanya supaya tidak terjatuh.
...
Semuanya menunggu sang dokter keluar dengan sabar.
Hingga empat jam kemudian, barulah pintu terbuka.
"Dokter bagaimana keadaan kakak saya?" tanya Clara.
"Saya akan menjelaskannya, pasien harus dipindahkan lebih dulu"
"Baik dok"
Sean dipindahkan pada ruangan khusus dengan banyak alat yang tersambung pada tubuhnya.
"Pasien, masih dalam keadaan koma. Kami tidak tahu kapan ia bisa bangun, kami sudah melakukan yang terbaik. Sisanya tergantung pada Pasien apakah kuat melewati masa ini" jelas dokter membuat Clara memundurkan langkahnya dan dengan cepat Maxi menangkapnya.
"Baik dok, terimakasih" ucap Jamsh.
"Sama-sama" ucap Dokter lalu pergi meninggalkan mereka.
"Clara, kamu harus kuat" ucap Maxi membawanya duduk.
Jamsh melihat ke arah dalam ruangan lewat jendela kaca bulat dari pintu ruangan itu.
Mereka hanya bisa melihat Sean dari luar, saat ini masih tidak diperbolehkan untuk masuk demi kenyamanan pasien.
Maxi merasa bersalah pada Sean, terakhir kali mereka bertemu adalah ketika Maxi memukul wajah Sean.
Maxi tidak tahu hal ini akan terjadi pada Sean, jika diperbolehkan masuk, Maxi sangat ingin masuk dan meminta maaf padanya.
Sebenarnya hilangnya Alea juga bukan sepenuhnya kesalahan Sean. Maxi merasa dirinya juga bersalah karena mengajak Alea ke luar negeri.
Jika saja saat itu Maxi menahan Alea dan mencari solusi lain. Mungkin Alea tidak akan diculik, dan harusnya Maxi bisa mempertahankan Alea saat penculikkan itu.
"Jamsh, kamu terlihat lelah. Lebih baik istirahat saha" ucap Maxi pada Jamsh.
"Terimakasih tuan.Tapi aku masih ingin berada disini" balas Jamsh.
"Kita akan bergantian berjaga disini. Untuk saat ini biarkan aku dan Clara yang berjaga. Jika sampai kamu sakit, bagaimana dengan perusahaan? hanya kamu yang dipercayai oleh Sean" jelas Maxi membuat Jamsh berpikir.
Akhirnya Jamsh menyetujui apa yang dikatakan Maxi, ia akan pergi untuk mengistirahatkan dirinya yang belum istirahat selama belakangan ini.
"Baiklah, saya titip tuan. Kalau begitu saya permisi" ucap Jamsh hendak pergi.
"Apa yang terjadi?" teriak Leon tiba-tiba yang berlari mendekat pada mereka.
"Dimana kakak?" tanya Leon.
"Leon kamu disini?" tanya Clara.
"Clara, kenapa kakak bisa seperti ini?" tanya Leon.
"Leon tenanglah" ucap Maxi.
"Jamsh! bukannya kamu bertanggung jawab untuk menjaga kakak?" bentak Leon mengusap wajahnya kasar.
"Maaf tuan"
"Leon, kamu tidak boleh berkata seperti itu" timpal Clara.
"Maaf aku hanya emosi. Jamsh aku minta maaf"
"Tidak tuan, ini memanglah kelalaian saya" balas Jamsh yang semakin merasa bersalah.
"Jamsh kamu istirahatlah" ucap Maxi.
"Saya permisi" ucap Jamsh memberikan bow.
"Leon, kemari dan duduklah. Kau baru pulang dari luar kota. Tenangkan dirimu" ucap Maxi mememberikan botol minum.
Leon menerimanya, ia meminum air yang ada di dalam botol itu.
Kali ini Leon sudah sedikit tenang, namun ia masih berusaha menahan tangisnya.
"Bagaimana keadaan kakak?" tanya Leon.
"Saat ini keadaannya koma, dokter juga tidak tahu kapan kakak bisa membuka matanya" balas Clara.
"Dimana istrinya?" tanya Leon.
"Diculik"
"Apa?"
"Biar aku jelaskan semuanya" ucap Clara.
Clara menjelaskan apa yang terjadi selama ini, Leon memang tidak tahu permasalahan Sean. Karena selama ini ia berada di luar untuk menyelesaikan urusan rumah sakitnya.
Mendengar apa yang di jelaskan oleh Clara, Leon benar-benar terkejut. ternyata begitu banyak hal yang ia lewatkan selama ini.
Yang Leon tahu, Alea dan Sean hanya selalu bertengkar kecil. Mereka selalu bertengkar lalu tak lama mereka akan berbaikan, meskipun begitu Leon tahu bahwa Alea dan sang kakak saling mencintai.
Leon tidak terpikirkan semua ini bisa terjadi pada mereka berdua.
"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Leon.
"Aku masih berusaha mencari informasi tentang Alea" balas Maxi.
"Semoga kak Alea cepat ditemukan"
"Semoga"
"Pasti kalian belum makan?" tanya Leon.
"Aku akan membelikan sesuatu untuk kalian makan" sambung Leon beranjak pergi.
"Leon, jangan lakukan hal lain disaat Sean seperti ini" ucap Clara.
"Baik, tenang saja aku tidak akan melakukan apa-apa" balas Leon melanjutkan langkahnya.
"Ahhh, aku sangat takut jika Leon melakukan hal aneh" keluh Clara.
"Memangnya apa yang akan dia lakukan?" tanya Maxi penasaran.
"Entahlah, kita lihat saja nanti" balas Clara.