"Oh ya masakanku" pekik Alea teringat saat terakhir kali ia berada di dapur.
"Sudah pingsan begini masih mikirin masakan. Kasian tuh bayi kamu. Jangan kecapean, and jangan banyak pikiran" jelas Dimas.
"Hmm" deham Alea.
"Maafkan mama ya nak, mama akan berusaha supaya kamu tetap sehat didalam sana" sambung Alea mengelus perutnya.
Tanpa sadar Dimas tersenyum melihat apa yang dilakukan Alea. Sungguh pemandangan yang hangat.
"Kamu tersenyum?" ucap Alea membuat Dimas kembali memasang wajah dinginnya.
"Tidak" sanggah Dimas.
"Hmm ya" ucap Alea melipat bibirnya menahan senyum.
"Sudah, ayo makan" alih Dimas.
"Tapi makanannya belum di-"
"Sudah ayo" paksa Dimas.
Alea menurut, ia beranjak dari tidurnya pelan-pelan dengan di bantu Dimas yang memapahnya.
"Oh ya boleh ku tanya sesuatu?" tanya Alea.
"Hm"
"Kenapa kamu menculikku?" tanya Alea dengan polosnya.
Langkah Dimas terhenti, ia menoleh pada Alea. Dimas sendiri bingung harus menjawab apa pada Alea. Pasalnya ini bukanlah rencana awalanya.
"Tidak tahu" balas Dimas membuat Alea melongo.
"Bagaimana bisa kamu menculikku tanpa sebuah alasan" ucap Alea.
"Ini bukan rencanaku. Awalnya aku memang sengaja menculikmu untuk memancing Sean dan membalaskan dendamku. Tapi rencananya berubah saat kejadian waktu itu kau di kamar mandi"
"Stop" potong Alea
"Jangan ungkit kejadian di kamar mandi, sungguh itu adalah peristiwa terburuk sepanjang hidupku" sambung Alea.
"Ya ya baik"
Dimas kembali melanjutkan langkahnya diikuti Alea. Mereka mulai duduk dan bersiap untuk sarapan pagi.
"Kamu mau kemana?" tanya Alea melihat Mona hendak pergi.
"Makan disini saja, ayo duduk" sambung Alea.
"Tidak, tidak perlu terimakasih" balas Mona.
"Jangan begitu, ayo makan bersama-sama" timpal Alea.
Mona melihat ke arah Dimas seolah meminta persetujuan darinya.
"Mona, duduklah" ucap Dimas.
Mona mengangguk, ia duduk disamping Alea yang tengah tersenyum kepadanya.
Suasana makan pagi ini terasa khidmat, semuanya menikmati hidangan yang ada didepannya masing-masing.
Berbeda halnya dengan Sean, ia kini sedang memarahi beberapa departemen di perusahaan nya.
Pikiran Sean saat ini sangat kacau, kesalahan kecil pun Sean permasalahkan dengan emosinya.
Kemarin malam Sean tidak pulang ke apartemen nya, ia bermalam di perusahaan karena membereskan beberapa hal.
Hari ini semuanya sudah selesai, dan perusahaannya sudah kembali stabil. Hanya saja emosi Sean masih belum stabil.
Ia masih memarahi bagian departemen lainnya yang lalai mengerjakan tugasnya.
"Ada apa dengan Presdir, ini hanya kesalahan kecil" bisik seseorang.
"Sepertinya Presdir sedang banyak pikiran. Sudah dengarkan saja" timpal yang lainnya.
Kurang lebih sudah tiga puluh menit Sean mencurahkan kekesalan dan amarahnya. Semua departemen begitu sabar mendengarkan kalimat yang diucapkan oleh Sean, karena bagaimanapun sebagian perkataan Sean juga ada benarnya.
"Tuan, anda belum sarapan" bisik Jamsh memberanikan dirinya.
Sean menoleh ke arah Jamsh, ia melihat Jamsh yang sepertinya sudah sangat kelaparan.
Jamsh selalu setia menemani Sean, bahkan ia juga lupa tidak makan apa-apa karena terus berjaga. Jamsh takut jika Sean melakukan hal aneh yang diluar perkiraannya.
Kalimat Jamsh akhirnya menutup kekesalan Sean. Sean menghentikan rapatnya, ia keluar dari ruangan itu dengan diikuti oleh Jamsh.
Semua departemen menghembuskan nafas leganya. Jamsh selalu jadi penolong bagi mereka saat Sean sedang seperti ini.
Jamsh mengikuti Sean yang berjalan menuju ruangannya.
"Jamsh pesankan makanan" ucap Sean.
"Baik tuan" balas Jamsh yang langsung merogoh saku jas miliknya untuk mengambil ponsel.
Sesampai di ruangan, biasanya Sean duduk di kursi kebanggaannya. Namun kali tidak, Sean bergegas mengambil kunci mobil miliknya lalu kembali keluar dari ruangan itu.
"Tuan mau kemana?" tanya Jamsh.
"Tempat biasa"
"Tapi makanannya tuan?"
"Habiskan saja"
"Tuan biar saya temani" balas Jamsh yang merasa khawatir dengan keadaan Sean saat ini.
"Tidak perlu. Kau atasi saja semua pekerjaan ku" tegas Sean.
Jamsh tidak menjawabnya lagi, jika Sean sudah menekankan perkataannya berarti tuannya itu memerlukan waktu untuk sendiri.
Sean menutup pintu, ia berjalan menuju parkiran.
"Tuan semoga anda baik baik saja" lirih Jamsh.
Sesampai di parkiran Sean memasuki mobilnya dan mulai menancapkan gas melaju dengan kecepatan tinggi.
Seperti biasanya Sean melaju menuju pantai dimana tempat ia menenangkan dirinya. Bagi Sean, sayup angin dan deburan ombak membuat hatinya tenang.
Jika hatinya tenang, maka ia bisa memikirkan langkah apa yang harus ia ambil.
Sean semakin menekan injakan gas mobilnya, membuat mobil itu melaju di atas kecepatan rata-rata.
Pikirannya saat ini sangat stress juga tertekan. Apalagi bayangan dimana perdebatan terakhir antara dirinya dan Alea terus berputar di otaknya. Sesekali Sean memukul stir kendali meluapkan kemarahannya.
Sangat marah, ia marah karena dirinya terlambat memahami semuanya. Bahkan saat ini ia telah kehilangan istrinya.
"Alea kamu dimana" lirih Sean.
Braakkk!!!!
Suara benturan mobil yang bertabrakan dengan mobil lainnya terdengar sangat keras.
Tikungan jalan itu memang selalu memakan banyak korban. Oleh karenanya sebelum tikungan tersebut ada sebuah papan yang bertuliskan bahwa kecepatan harus dikurangi.
Sean tidak membaca tulisan tersebut, ia terlalu sibuk dengan apa yang ada di dalam pikirannya hingga menyebabkan kecelakaan hebat untuknya.
Mobil Sean menabrak mobil lain, kecepatan nya yang sangat tinggi membuat mobil yang dikendarai oleh Sean berguling sangat cepat hingga sangat rusak.
Kala mobil itu berhenti, banyak darah keluar dari tubuh Sean.
Lelaki itu masih membuka matanya memandang lurus dengan tatapan kosong dalam beberapa detik.
"Alea maafkan aku" gumam hati Sean.
Tak lama dari itu, kedua matanya perlahan menutup.
Pranggg!
Disisi lain tak sengaja Alea menyenggol gelas membuat gelas tersebut jatuh dan pecah.
"Aw" rintih Alea.
Jari telunjuknya tertusuk oleh kepingan gelas tersebut kala ia hendak membereskannya.
"Ada apa ini. Kenapa perasaanku terguncang hebat" ucap Alea.
Ia memegang dadanya dengan tangan yang satunya lagi. Ada perasaan aneh yang ia rasakan saat ini.
Tiba-tiba saja Alea teringat dengan Sean. Ia merasakan hal buruk telah terjadi pada suaminya.
"Sean, semoga kamu baik-baik saja" ucap Alea tanpa sadar menitikkan air matanya.
"Alea? kamu tidak apa-apa?" tanya Dimas segera menghampiri Alea.
Alea tidak menjawab perkataan Dimas, ia masih sibuk dengan perasaan nya yang saat ini tidak karuan.
Dimas melihat jari Alea yang mengeluarkan darah. Ia terkejut sekaligus khawatir saat melihat nya.
"Alea jarimu berdarah, cepat kemari" ucap Dimas mengajak Alea untuk berdiri dan membawanya duduk di atas kursi yang tak jauh dari sana.
"Kenapa kamu bisa seceroboh ini" sambung Dimas mengobati luka Alea.
"Alea?" panggil Dimas yang melihat Alea seperti orang linglung dengan tatapan kosongnya.
"Alea?" panggil Dimas sedikit lebih keras.
Mendengar panggilan kedua barulah Alea tersadar dari lamunannya. Ia melihat ke arah Dimas lalu pada telunjuknya yang sudah diberi plaster.
"Dimas" panggil Alea lalu tak lama ia menangis.