"Sudah bangun?" tanya Alea yang melihat Dimas berdiri tak jauh dari sana.
"Hey" ulang Alea membuat Dimas tersadar dari lamunannya.
"Ah iya" ucap Dimas terkejut.
"Baru bangun?" tanya Alea.
"Hmm" angguk Dimas berjalan mengambil air mineral dan meminumnya.
"Ternyata jago juga masaknya" pekik Dimas mengambil sedikit makanan yang sudah selesai.
"Ish, jangan di ambil. Nanti saja" rebut Alea segera memindahkan masakannya itu.
Dimas memalingkan wajahnya kesal, namun ia masih melanjutkan mengunyah makanan yang ia comot sebelumnya.
"Hmm enak juga, apa masih lama?"
"Sebentar lagi, tunggu saja di meja makan" balas Alea.
"Baiklah, jangan lama-lama"
"Ya" balas Alea singkat.
Dimas berjalan keluar dari area dapur meninggalkan Alea. Sedangkan wajah Alea kini berubah menjadi murung.
Dirinya teringat sang suami, Alea mengkhawatirkan Sean yang pagi ini sudah sarapan atau belum.
"Apa dia sudah makan?" lirih Alea.
Alea melanjutkan kegiatannya dengan pikirannya yang kesana kemari memikirkan bagaimana keadaan Sean.
Tak hanya itu, Alea juga bersedih karena Sean yang sampai saat ini belum juga menemukan keberadaannya.
Dalam pikiran Alea terlintas bagaimana mereka terakhir kaki bertemu dengan sebuah pertengkaran. Sean yang tidak mengejarnya dan membiarkannya pergi.
"Apa kamu benar benar membiarkan aku pergi?" gumam Alea tanpa sadar air matanya mulai terjatuh melewati pipinya.
"Aww perutku" pekik Alea.
Lagi-lagi perut Alea kini bereaksi, rahim Alea sangat lemah sehingga jika dirinya terlalu stress itu akan membuat kandungnnya terasa nyeri.
Dimas yang berada di ruang makan mendengar Alea yang merintih kesakitan. Ia segera berdiri dan berjalan cepat untuk melihat keadaan Alea.
"Alea, ada apa?" tanya Dimas yang sudah berada di samping Alea.
"Perutku sakit" rintih Alea memegang perutnya.
"Tenanglah, tarik nafas, keluarkan. Ayo pelan pelan" ucap Dimas mencoba untuk menenangkan Alea.
"Aku tidak bisa ini semakin sakit" balas Alea yang sudah mencoba apa yang dikatakan Dimas.
Kali ini Dimas kebingungan harus melakukan apa. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi ini.
"Aku akan mengantarmu ke kamar" ucap Dimas yang langsung mengangkat tubuh Alea, menggendong dan membawanya ke dalam kamar.
"Sakit sekali" rintih Alea yang masih dalam gendongan Dimas.
"Sabarlah" balas Dimas yang kini berusaha membuka pintu kamar yang tiba-tiba saja sangat sulit untuk di buka.
"Aku tidak tah-"
Belum Alea menyelesaikan kalimatnya, kedua mata Alea sudah tertutup.
"Alea" panggil Dimas yang semakin cemas melihat Alea tidak sadarkan diri.
Klek.
Akhirnya pintu kamar berhasil dibuka, Dimas segera membaringkan tubuh Alea. Selepas itu, Dimas menghubungi dokter kepercayaan nya yang sebelumnya pernah memeriksa keadaan Alea.
"Dokter tolong cepat kemari. Alea pingsan" ucap Dimas tampak terlihat jelas kekhawatiran nya.
"Baik, saya akan segera datang" balas sang dokter.
"Terimakasih dok" balas Dimas lalu mematikan panggilannya.
Dimas menyimpan kembali ponsel miliknya, ia terus berjalan mondar mandir menunggu dokter datang.
"Alea bertahanlah" ucap Dimas yang kini beralih memegang tangan Alea.
Dimas terus melihat arloji yang melingkar ditangannya untuk menunggu kedatangan dokter. Waktu berjalan lima menit dan itu terasa sangat lama bagi Dimas saat ini.
Disudut lain, tanpa Dimas sadari Mona sudah memperhatikan semuanya. Ia menundukkan kepalanya. Rasa kecewa dihatinya terasa sangat nyata.
Melihat bagaimana Dimas memperlakukan Alea dengan istinewa, bahkan Dimas tidak pernah marah pada Alea.
Mona selalu menyadarkan pikirannya, mengingat apa status hubungan dirinya dan Dimas. Yaitu, hanyalah sebuah hubungan antara atasan dan bawahan.
"Kamu harus kuat Mona" gumam Mona menguatkan dirinya.
Mona hendak berjalan memasuki kamar, namun tiba tiba pintu luar berbunyi. Mona berbalik dan segera membuka pintu tersebut yang tak lain adalah dokter.
Dokter sudah tiba di rumah Dimas, Mona segera mengantarnya menuju kamar dimana Alea dibaringkan.
"Biar ku lihat keadaannya" ucap Dokter mendekat pada Alea dan mengeluarkan beberapa peralatan medis.
Beberapa menit berlalu, dokter sudah selesai mengecek keadaan Alea.
"Bagaimana dok keadaannya?" tanya Dimas dengan wajah tegangnya.
"Dia mengalami stress, pikirannya tertekan membuat pengaruh pada rahimnya" jelas dokter.
"Lalu bagaimana sekarang?"
"Untungnya ia masih bisa menahannya, sehingga kandungannya masih baik-baik saja. Hanya saja jika ini terlalu sering terjadi, itu akan membahayakan kandungannya." Jelas Dokter.
"Oh ya, setiap pagi biarkan dia minum yang hangat hangat. Entah tes manis, atau s**u coklat, atau air hangat biasa. Itu terserah selera dari istri tuan. Yang terpenting setiap pagi sebelum memakan apa-apa harus diawali dengan itu" sambung Dokter.
"Baik dok, terimakasih" ucap Dimas mendapat anggukan dari dokter.
"Resep obat yang saya berikan apa sudah ada?"
"Sudah, saya sudah membeli obat dengan resep yang dokter berikan"
"Baguslah, jangan sampai istri tuan terlambat untuk makan obat itu"
"Baik dok, sekali lagi terimakasih"
"Hmm ya, sama sama. Kalau begitu saya pamit"
"Biar saya antar" tawar Dimas.
"Tidak apa-apa tidak usah, tuan jaga saja istri tuan"
"Ah baiklah, kalau begitu biarkan Mona yang mengantar dokter"
"Baik" angguk Dokter.
"Silahkan dok" ucap Mona memberikan jalan pada dokter.
Mona mengantar dokter ke luar rumah itu, dan Dimas ia duduk di samping Alea.
"Sebenarnya apa yang sedang aku lakukan" pikir Dimas melihat Alea yang tengah terbaring dengan masih menutup matanya.
"Aku ini akan balas dendam pada Sean, namun kenapa justru aku yang harus mengurus istrinya" pikir Dimas.
"Ada apa denganku ini" sambungnya.
Dimas terus melihat Alea menunggunya membuka mata dan memikirkan apa yang membuatnya memperlakukan Alea seperti ini.
"Apa yang harus aku lakukan. Apa aku harus memberitahu Sean bahwa istrinya ada disini?"
Dimas kembali mengambil ponselnya, ia menekan beberapa tombol untuk menghubungi Sean.
Satu ketukan lagi, Dimas akan menghubungi Sean. Namun jarinya tiba-tiba berhenti tidak melanjutkan untuk memencet tombol biru memanggil Sean.
Dimas kembali melihat Alea yang terbaring lemah. Dalam perasaannya saat ini muncul sebuah keegoisan dimana dirinya tidak ingin Alea kembali pada Sean.
Dengan keberadaan Alea di rumah ini, sudah membuat hatinya sedikit tenang sekaligus senang.
"Tidak, aku tidak bisa menghubungi Sean" gumam Dimas.
"Aku tidak bisa menghubungi nya, dan aku ingin membalaskan dendamku. Biarkan saja ia kesulitan menemukan tempat ini" sambung Dimas kembali memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celananya.
"Alea, maaf. Untuk sementara ini kamu harus berada di rumah ini. Biarkan saja jika kamu hamil, aku bisa menjaganya dan merawatmu" ucap Dimas.
Tak lama dari itu, Alea mulai membuka matanya. Ia memainkan bola matanya melihat pada seseorang yang kini tengah berada disampingnya.
"Sean?" pikir Alea, yang melihat Dimas sebagai Sean.
"Kamu sudah sadar?" tanya Dimas merasa lega.
Alea mengerutkan dahinya, ia memandang sosok itu yang ternyata adalah Dimas.
"Hmm, aku baik-baik saja" balas Alea dengan pandangannya yang sayu.