"Kenapa melihatku seperti itu? lanjutkan makan nya" ucap Dimas yang mendapat tatapan aneh dari Alea.
"Iya" balas Alea dengan lesu.
Alea mengambil salah satu makanan yang ada dihadapannya. Belum juga makanan itu mendarat di mulut Alea.
Tiba-tiba Dimas menghentikan pergerakkannya.
"Ada apa?" tanya Alea.
"Aku harus mencobanya dulu" balas Dimas langsung memakan suapan yang seharusnya milik Alea.
"Hmm ini aman, lanjutkan" ucap Dimas.
Alea tak membalas apapun, ia hanya memanyunkan bibirnya lalu menyantap makanannya dengan perasaan yang masih kesal pada Dimas karena telah membuang seblak kesukaannya.
Kali ini Dimas kembali berulah, ia mengambil garpu lalu mencoba semua makanan yang ada di atas meja.
Tak hanya itu, kali ini Dimas juga mengambil makanan yang hampir semuanya adalah kesukaan Alea, makanan yang pedas.
Dimas menyingkirkan semua makanan yang menurutnya pedas.
"Kenapa kamu mengambil semuanya?" tanya Alea tidak terima.
"Hanya beberapa" balas Dimas masih memindahkan makanannya.
"Jangan, aku mohon jangan ambil toppoki itu. Satu aja, aku pengen itu. Ngidam" bujuk Alea mengedipkan matanya berkali-kali.
"Baiklah, hanya ini" balas Dimas yang tidak tega melihat Alea begitu menginginkan makanan ini.
"Jangan banyak banyak, perhatikan kandunganmu" balas Dimas berjalan pergi mengambil minum untuknya karena kepedasan memakan makanan yang ia coba.
"Aku yang hamil kenapa dia yang cerewet" pekik Alea.
"Aku dengar itu" teriak Dimas.
"Iya iya" balas Alea.
Alea kembali melahap makanan yang saat ini hanya tersisa sedikit beberapa menu.
Tiga puluh menit sudah berlalu, akhirnya Alea selesai menghabiskan semua makanan yang ada di atas meja dengan bersih tidak tersisa sedikit pun.
"Ternyata orang hamil menyeramkan juga" gumam Dimas yang melihat Alea berhasil menghabiskan semuanya.
"Ahhhh kenyang sekali" ucap Alea.
"Terimakasih Dimas" sambung Alea kembali merapikan piring dan bekas wadah sisa makanan lainnya.
"Sudah biarkan aku saja, lebih baik kau istirahat" ucap Dimas pada Alea.
"Tidak apa-apa, biar aku saja yang membereskannya"
"Sudah sana" rebut Dimas mengambil piring yang dipegang oleh Alea.
Alea menganggukkan kepalanya, ia berjalan menuju ruang tv. Karena Dimas terus memaksanya untuk beristirahat, Alea memilih untuk menonton tv.
Saat ini Alea menikmati film yang sedang di putar pada layar besar itu. Hingga tak terasa dirinya mulai menguap beberapa kali karena kekenyangan.
Ini yang ke lima kalinya Alea menguap, ia sudah tidak tahan dan akhirnya menutup matanya tertidur pulas di sofa panjang yang empuk itu.
"Alea" panggil Dimas yang baru saja selesai membersihkan semuanya.
Dimas mendekat pada Alea dengan membawa obat di tangannya sesuai dengan resep dokter yang telah diberikan.
"Alea ini obat-" belum selesai Dimas mengucapkan kalimatnya, ia melihat Alea yang sudah tertidur sangat pulas.
Dimas semakin mendekat, ia duduk di samping Alea. Tangannya mulai bergerak merapikan rambut yang menghalangi sebagian wajah Alea.
"Kenapa Sean selalu lebih dulu dariku" ucap Dimas memandang Alea.
Tak lama dari itu, Dimas meraih tubuh Alea dan mengangkat nya membawa Alea ke dalam kamar sebelumnya dan membaringkan nya disana. Tak lupa, Dimas juga memberikan selimut hangat untuk menutupi tubuh Alea.
Setelah membaringkan Alea, Dimas berjalan keluar mematikan lampu kamar lalu menutup pintu dengan pelan.
Dimas memijat pundaknya sedikit, hari ini cukup melelahkan baginya.
"Tuan, mau saya pijat?" tanya Mona yang datang tiba-tiba.
"Hm boleh" angguk Dimas.
Mona dan Dimas berjalan menuju ruang tv, disana Mona memijat Dimas dengan sabar walau dirinya juga sedikit kelelahan.
"Mona" panggil Dimas.
"Iya tuan"
"Terimakasih sudah bisa menjadi orang terpercaya bagiku" lirih Dimas yang mulai menutup matanya karena kantuk yang melanda dirinya.
"Iya tuan" balas Mona tersenyum.
Mona merasa senang saat Dimas mengucapkan kalimat itu. Setidaknya Dimas benar benar sudah mempercayainya.
"Jika saja aku bisa lebih sedikit egois, aku menginginkanmu" ucap Mona sangat pelan.
Mona selalu berani mengatakan apa yang ada didalam hatinya pada saat Dimas tertidur. Ia merasa lebih lega jika sudah mengatakan apa yang ia ingin katakan setelah menahannya. Karena jika Dimas tersadar, bibir Mona selalu tidak berani untuk mengungkapkan apapun.
Kali ini mata Mona sudah terasa berat, ia juga sudah menguap beberapa kali. Mona sudah tidak kuat menahan kantuk, hingga tak lama ia mulai memejamkan matanya dan tertidur.
...
Esok harinya, Alea bangun lebih pagi. Semasa di apartemen Alea memang selalu bangun pagi, apalagi jika tidur di tempat asing Alea pasti akan bangun lebih pagi.
Alea mengucek kedua matanya, ia mulai beranjak dan membasuh wajahnya. Tak lupa, ia juga menggosok gigi agar terasa lebih segar.
Selepas itu, Alea berjalan keluar. Di ruang tv, ia melihat Dimas dan Mona.
"Siapa gadis itu? kemarin aku tidak melihat nya" ucap Alea pelan.
"Ah, sepertinya itu pelayan yang mengganti pakaianku" sambung Alea.
Alea mengingat dimana Dimas mengerjainya saat ia terbangun. Saat itu Alea benar-benar kaget dengan anggukan Dimas yang seolah ia memang sudah mengganti pakaiannya.
Padahal sebenarnya, Mona lah yang sudah merawat Alea dan membersihkan tubuh Alea. Dimas sudah menjelaskan itu, dan itu membuat Alea merasa lega karena tahu bahwa kenyataan nya bukan Dimas yang mengganti pakaiannya.
"Tapi sepertinya-" ucap Alea yang terus meneliti wajah Mona.
Alea merasa bahwa Mona memiliki perasaan pada Dimas. Namun mungkin itu hanya dugaannya.
"Sudahlah, aku akan memasak untuk kalian berdua" ucap Alea.
Alea berjalan melanjutkan langkahnya menuju dapur. Ia membuka beberapa laci, rak dan lemari pendingin untuk melihat apa saja bahan makanan yang ia bisa buat.
"Ternyata cukup kumplit juga" ucap Alea melihat bahan makanan yang banyak dan sudah tersusun sangat rapi dan bersih.
Alea tersenyum, ia menyukai area dapur kali ini. Banyak bahan masakan yang membuat Alea tidak merasa bingung untuk membuatnya.
"Baiklah ayo kita mulai" ucap Alea memakai celemek.
Alea mulai mengambil beberapa bahan makanan, lalu ia mengambil pisau dan mengiris beberapa bawang merah, bawah putih dan yang lainnya.
Dengan suasana hati yang baik, dan permainan masak yang lihai membuat siapa saja akan terkagum saat melihatnya. Tak hanya itu sesekali Alea mengeluarkan nyanyian kecil dengan suara merdunya.
Aroma masakan Alea kini menguasai area dapur, apalagi aroma itu kini mulai menyeruak masuk pada penciuman Mona dan Dimas yang masih tertidur.
Mona mulai menggeliat, ia menengok ke kanan dan ke kiri.
"Ah ya ampun aku ketiduran disini" gumam Mona segera berdiri dan pergi meninggalkan Dimas yang mulai terbangun dari tidurnya.
"Hmm, wangi apa ini" ucap Dimas mengacak rambutnya dan membuka matanya.
"Apa aku tertidur disini?" pikir Dimas.
Dimas berdiri, ia memegang lehernya yang sedikit pegal dengan berjalan mengikuti aroma yang dari tadi sudah membuat perutnya terasa lapar.
"Tumben Mona masak pagi-pagi begini" lirih Dimas berjalan menuju area dapur.
Sesampainya disana, Dimas mencoba menyipitkan matanya melihat dengan jelas siapa yang sedang memasak di dapur miliknya.
"Alea?" gumam Dimas.
Matanya kini sudah terbuka sangat lebar, ia melihat Alea yang tengah memasak dengan nyanyian kecilnya juga dengan wajah ceria nya.
"Hmm, cantik" lirih Dimas tanpa sadar melengkungkan sebuah senyuman.