Jamsh masih setia berdiri disamping Sean, ia enggan untuk meninggalkan Sean meskipun tuannya itu sudah memintanya untuk pergi berkali-kali.
Ting tong
Bell apartemen berbunyi.
Jamsh berjalan menuju pintu dan membukanya.
Ternyata seseorang yang memberikan sebuah surat dari rumah sakit.
"Baik terimakasih" ucap Jamsh.
Jamsh kembali berjalan mendekat Sean, ia memberikan kertas itu pada Sean.
"Apa ini?" tanya Sean.
"Tuan bisa membukanya"
Sean mengambil surat yang diberikan Jamsh, ia membuka surat itu. Dan betapa mengejutkannya saat melihat isi surat tersebut.
Sean mengepalkan tangannya, ia meremas surat itu lalu melemparkannya ke sembarang arah.
"Ada apa tuan" tanya Jamsh.
"Alea sehat. Ia bisa memberikan keturunan, semuanya hanya kesalah teknis" jelas Sean memukul Meja dengan tangan yang masih terluka.
"Aku harus menuntut rumah sakit itu yang sudah membuat semuanya hancur" pekik Sean.
"Tidak tuan tenanglah. Jangan sampai emosi membuat masalah baru lagi"
"Tidak bisa Jamsh"
"Tuan tenanglah, kita harus fokus mencari keberadaan nyonya Alea"
Mendengar apa yang dikatakan Jamsh, barulah Sean berhenti dari berontak nya.
"Tuan, kita obati dulu luka ditangan tuan" ucap Jamsh menahan Sean lalu memaksanya untuk kembali duduk.
Kali ini Sean tidak memberontak lagi, ia menurut pada Jamsh yang mulai mengobati lukanya.
"Pelan-pelan" rintih Sean.
"Maaf tuan" balas Jamsh.
"Jamsh" panggil Sean.
"Iya tuan"
"Kira-kira kemana dia akan membawa Alea?" tanya Sean.
"Sepertinya dia membawa nyonya Alea ke tempat yang lebih sulit untuk kita lacak. Aku tahu tuan mengerti bagaimana dengan sikapnya" balas Jamsh.
"Hm" deham Sean.
Drrrt .. drrt
Ponsel Jamsh berdering.
"Tuan saya izin mengangkat nya lebih dulu"
"Hm"
Jamsh menyimpan kapas yang da ditangannya. Ia berjalan sedikit menjauh namun masih berada di ruangan itu.
"Apa?" ucap Jamsh yang terkejut.
"Baik tenang saja, aku akan menyampaikannya pada Presdir" tutup Jamsh mengakhiri panggilan tersebut.
"Ada apa" tanya Sean saat Jamsh kembali mengambil kapas yang sebelumnya ia simpan.
"Ini masalah perusahaan tuan"
"Katakan saja"
"Ada sesuatu terjadi di perusahaan, seperti nya kita harus segera kesana"
"Baiklah ayo pergi"
"Tidak tuan tangan anda harus diobati lebih dulu"
"Biarkan saja" balas Sean yang langsung berdiri.
Kali ini Jamsh tidak bisa menahan Sean, ia mengikuti Sean lalu memasuki mobil dan mulai melajukannya dengan kecepatan sedang.
Diperjalanan Sean terus diam, terlihat nampak jelas banyak sekali yang ia pikirkan.
Sementara itu, Alea masih menunggu makanannya datang. Ia melupakan sejenak beban yang ada dipikirannya. Bagaimana pun juga saat ini perutnya sudah sangat kelaparan.
"Apakah masih lama?" tanya Alea memberanikan dirinya.
"Lapar sekali ya?" ucap Dimas mendapat anggukan dari Alea.
"Ayo ke meja makan" ajak Dimas.
Alea menganggukkan kepalanya, saat ini Alea hanya bisa jadi penurut. Bagaimana pun juga kali ini kondisinya sedang diculik oleh pemilik rumah.
Gebruk!
Kebiasaan Alea yang selalu menabrak meja yang ada dihadapannya.
"Aw" pekik Alea mengusap lututnya yang terbentur.
"Hey hati hati" ucap Dimas yang langsung melihat lutut Alea.
"Hmm, aku tidak apa apa. Ini kebiasaan ku" balas Alea dengan cengiran kudanya.
"Sudah biasa?" tanya Dimas.
"Heem" angguk Alea.
"Cih, bagaimana Sean bisa menjagamu jika menabrak saja sudah menjadi kebiasaan" gerutu Dimas.
"Aku dengar itu" timpal Alea.
"Udah duduk, lain kali kalau jalan tuh liat-liat pake mata. Apalagi sekarang lagi berbadan dua" ucap Dimas.
"Iya iya" balas Alea duduk di kursi yang sudah Dimas siapkan.
"Ini, untuk sementara makan biskuit saja dulu" ucap Dimas memberikan sebuah kotak yang berisi biskuit.
"Hmm iya" timpal Alea mengambil kotak itu lalu membukanya.
"Kenapa keras sekali" sambung Alea pelan.
"Bukan begitu bukanya. Ini" rebut Dimas lalu membuka toples tersebut.
Krek.
Sangat mudah, bahkan seolah tanpa menggunakan tenaga.
"Hehe ternyata gampang" ucap Alea.
Dimas hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap Alea.
Alea memakan biskuit itu dengan perlahan sembari menunggu pesanannya datang. Begitu juga dengan Dimas, ia terus memperhatikan Alea yang memakan biskuit itu seperti anak kecil.
Kadang memakannya kering, kadang dicelupkan pada air putih yang ada didepannya.
Alea melirik Dimas yang terus memperhatikan dengan tatapan aneh. Meskipun merasa risih Alea berusaha untuk tidak memperdulikannya dan fokus memakan biskuit untuk mengganjal rasa lapar diperutnya.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya pesanan Alea mulai datang satu persatu. Wajah Alea kini terlihat sangat cerah dan ceria. Bahkan ia mengetap ngetapkan mulutnya yang sudah tidak sabar untuk mencicipi makanan yang sudah ia pesan.
"Kamu yakin ini semua akan habis?" tanya Dimas yang melihat kini semua makanan sangat penuh di meja makannya.
"Iya" ucap Alea dengan semangat.
"Hm, makanlah" sambung Dimas.
Alea menganggukkan kepalanya, tanpa berlama-lama ia langsung mengambil salah satu hidangan yang ada di atas meja makan itu.
"Ahh ini enak sekali" ucap Alea dengan mulut yang penuh.
"Jangan banyak berbicara, makan saja dan pelan-pelan tidak akan ada yang merebutnya" jelas Dimas.
"Ah baiklah" balas Alea.
Alea memakan makanannya dengan lahap. Dimas sungguh tidak menyangka dengan postur tubuh Alea yang sekecil itu mampu menampung semua makanan yang saat ini sudah hampir habis dalam hitungan menit.
"Sudah berapa lama kamu tidak makan?" tanya Dimas.
"Aku belum makan saat kau culik. Aku kelaparan, biasanya aku juga tidak terlalu banyak seperti ini. Mungkin ini karena efek bayi yang ada diperutku" jelas Alea.
"Hmm" balas Dimas.
"Kamu mau?" tanya Alea.
"Tidak"
"Ayo coba saja, ini namanya seblak. Enak loh, sekali coba pasti ketagihan" bujuk Alea memberikan satu suap sendok pada Dimas.
"Aku tidak mau" tolak Dimas.
"Ayolah, coba satu suap saja. Masa aku makan sendiri?"
"Hmm"
"Aaa ayo makan" paksa Alea yang akhirnya Dimas membuka mulutnya dan memakan suapan itu.
Hanya dalam hitungan detik, lidah Dimas terasa sangat panas dan pedas. Ia tidak bisa menahannya, Dimas segera berdiri dan berjalan mengambil botol minum lalu meminumnya dengan tegukan cepat.
"Ah ini pedas sekali" pekik Dimas yang terus meneguk air putih dalam botol. Tak hanya itu, keringat Dimas juga mulai bercucuran karena pedas yang melanda dirinya.
Alea tertawa dibuatnya, padahal ia baik baik saja memakan seblak yang ada di depannya. Menurut Alea rasa pedas seblak ini memang terbilang pedas, namun ia masih bisa menahannya.
"Sudah jangan di makan, kasian bayinya" ucap Dimas berjalan mendekat lalu mengambil seblak yang sedang Alea makan.
"Dimass" pekik Alea yang tidak terima.
"Apa?"
"Seblak nya kenapa di buang"
"Bahaya, kasian bayi kamu. Makan yang lain" bantah Dimas.
Alea berdecak, ia sedikit ngeri dengan Dimas yang menatapnya tegas. Padahal dirinya sungguh sangat menikmati seblak itu.
"Harusnya aku gak maksa buat dia coba" pikir Alea menatap sinis.