Benar, Mona mempunyai perasasaan pada Dimas. Tetapi ia enggan untuk menyatakannya.
Mona merasa takut, jika ia mengungkapkan perasaanya akan membuat jarak di antara keduanya.
Jika keadaan seperti ini lebih baik, lebih bisa membuat dirinya terus berada disampingnya. Maka Mona akan terus tetap melakukan hal ini, meskipun itu membuat hatinya terluka.
"Selesai" ucap Mona.
Kini Mona telah selesai membersihkan tubuh Alea sekaligus mengganti pakaiannya. Saat ini Alea terlihat sangat cantik dengan pakaian yang dikenakannya.
"Ah aku memang jago mendandani orang lain" pekik Mona.
Mona membereskan kembali semuanya, setelah itu ia membuka pintu kamar untuk memberitahu Dimas bahwa ia telah selesai membereskan semuanya.
Baru saja Mona membuka pintunya, tiba-tiba ia dikejutkan dengan Dimas yang sudah berdiri disana dengan kedua tangan yang dilipat di d**a dan tubuh yang menyender.
"Yaampun, tuan mengangetkan ku saja" ucap Mona terkejut.
"Hmm, udah beres?" tanya Dimas dengan mata mencari ke dalam ruang kamar Alea.
"Sudah" balas Mona.
"Kalau begitu, kamu bersihkan tubuhmu lalu makan. Aku tahu pasti kamu lapar" ucap Dimas.
"Hm baiklah, terimakasih" ucap Mona keluar dari ruangan itu, dan Dimas masuk ke dalam kamar Alea.
Kini Dimas sudah berada di samping Alea, ia menatap gadis itu dengan seksama.
"Ternyata kamu sudah hamil anaknya Sean" pekik Dimas yang entah kenapa ia merasa sedikit kecewa.
"Apa yang harus aku lakukan padamu" ucap Dimas terus berpikir dengan pandangannya yang masih tertuju pada Alea.
Tak terasa sudah satu jam Dimas memandang Alea tanpa menemukan solusi apa yang harus ia lakukan setelah menculik Alea. Dimas benar-benar terlarut dalam wajah cantik yang kini masih memejamkan matanya.
Dimas benar-benar tidak merasa bosan dengan pemandangan nya yang ada dihadapannya.
Perlahan tangan Alea bergerak, lalu tak lama disusul dengan kelopak matanya yang mulai terbuka.
"Dimana aku" lirih Alea hendak merubah posisinya menjadi duduk.
"Jangan dulu bergerak. Tidur lagi saja" ucap Dimas menahan Alea.
Alea masih sedikit merasa pusing, ia menuruti apa yang dikatakan Dimas padanya.
Selang beberapa detik, Alea segera melihat pakaiannya. Ia menghembuskan nafas laganya karena pakaiannya masih utuh.
"Huh untung saja" pekik Alea.
"Eh tapi" sambung Alea kembali melihat pakaiannya yang sudah berubah.
"Aaaaaaa apa kamu-" teriak Alea menunjuk pada Dimas.
Dimas tersenyum, ia menganggukkan kepalnya.
"Berani sekali kamu" ucap Alea memukul Dimas.
Dimas menahannya dan tertawa terbahak-bahak. Melihat Alea yang seperti ini membuatnya terasa lebih menyenangkan.
"Kenapa malah tertawa" kesal Alea yang semakin keras berusaha memukul Dimas dengan kedua tangannya.
"Hey hentikan" pekik Dimas masih tertawa.
"Aww" tiba-tiba rintih Alea memegang perutnya yang terasa keram.
"Ada apa? hati-hati. Tidur yang benar" ucap Dimas panik melihat Alea yang memegang perutnya karena sakit.
Alea mengernyitkan dahinya, ia merasa aneh dengan sikap Dimas.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Dimas yang menyadari nya.
"Tidak" balas Alea menggelengkan kepalanya.
"Jangan asal bergerak atau bayinya akan kesakitan" ucap Dimas.
"Apa?" ucap Alea yang terkejut.
"Ya kamu hamil" ucap Dimas dengan datarnya kembali menyender kan badannya.
"Hamil? aku tidak bisa hamil" lirih Alea namun masih terdengar oleh Dimas.
"Kenapa tidak bisa? ahh kamu tidak menginginkan anak ini ya? atau jangan jangan kamu belum menikah dengan Sean?"
"Jangan sembarang"
"Hm"
"Kemarin-kemarin aku pingsan, dan dokter bilang aku tidak bisa hamil" jelas Alea.
"Hmm, kenapa bisa begitu. Mungkin hasil datamu tertukar. Memangnya kamu tidak mengeceknya lagi?"
"Tidak"
"Kalau begitu ku harus percaya bahwa kau hamil"
"Lalu kata siapa aku hamil?"
"Dokter lah. Gak percaya? aku akan telfon dokternya"
"Hm"
Dimas mengeluarkan ponsel miliknya, ia kembali menghubungi dokter lalu menggunakan pengeras suara agar Alea bisa mendengarnya.
"Dok, apa istri saya benar-benar hamil? soalnya dia masih belum percaya" tanya Dimas dengan senyum jailnya membuat Alea dengan cepat mencubit pinggang Dimas.
"Aw" rintih Dimas masih dengan senyum jailnya.
"Iya benar tuan. Anda akan menjadi seorang ayah. Dan untuk nyonya, anda tidak boleh banyak pikiran dan terlalu bergerak bebas yang membuat bayi anda terancam"
"Baik dok, terimakasih" balas Alea.
"Sama-sama"
"Kalau begitu saya tutup panggilannya ya dok" ucap Dimas.
"Iya tuan" balas dokter.
Dimas mematikan panggillannya, ia melihat ke arah Alea dengan menggerakkan bahunya seolah mengatakan bahwa apa yang diucapkannya adalah benar kalau Alea sedang hamil.
"Apa aku benar benar hamil?" pikir Alea mengelus perutnya yang terbilang masih kempes.
Alea menggerakkan tangannya menghapus air mata yang mulai jatuh melewati pipinya. Tangis bahagia kini yang dirasakan oleh Alea.
Momen inilah yang selalu ia tunggu tunggu. Memberikan keturunan untuk Sean.
"Lah ko nangis" pekik Dimas.
"Tidak, aku tidak nangis" sanggah Alea.
"Oh ya apa aku bisa minta tolong?" tanya Alea.
"Hm apa"
"Aku lapar" ucap Alea diiringi dengan suara perut keroncongan beberapa detik setelah ia mengucapkan kalimat nya.
"Hehehe" sambung Alea dengan cengiran kudanya.
"Mau makan apa?" tanya Dimas membuat Alea tersenyum merekah.
"Aku mau seblak, mie ayam, bakso, pizza, sate, nasi uduk, ikan bakar sama ayam bakar. Terus minumannya jus alpukat, s**u coklat, eskrim vanila, jus buah. Oh ya sama salad buah satu lagi" jawab Alea dengan antusias.
Dimas terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Alea. Rasanya ada rasa penyesalan saat ia bertanya pada wanita itu.
"Sungguh jawaban yang membuatku terkejut" lirih Dimas.
"Kenapa? kamu tidak ingin membelikanku itu?" tanya Alea memasang wajah sedihnya lalu mengusap-ngusap perutnya.
"Ah baiklah. Aku akan memesannya untukmu" timpal Dimas berjalan ke luar kamar Alea lalu memesan apa yang dikatakan Alea.
"Terimakasih" ucap Alea sedikit keras melihat Dimas yang keluar dari kamarnya.
"Ahh aku akan menjadi seorang ibu" ucap Alea dengan wajah yang ceria dan senangnya.
Namun sayang sekali, tiba-tiba wajah ceria itu meredup saat mengingat siapa ayah dari anak itu.
"Sean, apa kamu tidak mencari ku?" pikir Alea.
Alea menundukkan kepalanya, hatinya cukup kecewa dengan Sean yang sampai saat ini belum datang untuk menjemputnya.
"Apa benar kamu menikah denganku hanya karena seorang anak?" pikir Alea mengelus perutnya.
Kalimat itulah yang selalu ada dipikiran Alea, hingga membuatnya tidak memikirkan alasan alasan lain.
Alea selalu mengingat bagaimana wajah kecewa Sean dan bagaimana ia pergi dari apartemen itu namun Sean tidak mengejarnya. Bahkan Alea memberinya kesempatan beberapa jam untuk menjemputnya, setidaknya kata maaf keluar dari mulut Sean itu akan sedikit mengobati luka yang ada dihatinya.
"Maaf" ucap Sean yang kini berada di apartemennya.
Saat ini pikirannya sangat stress, Sean terus mengacak dan memijat keningnya. Rasa bersalah sekaligus penyesalan di hatinya terus bertumbuh.