Namun semua rencana Dimas gagal karena para penjaganya yang berkhianat dan malah mau memperkosa Alea.
Bukan masalah Alea, tetapi pada penghianatan dan bermain di belakangnya. Dimas termasuk orang yang tidak menyukai tentang sebuah penghianatan. Itulah yang selalu menjadi pondasi di hatinya dan pikirannya.
Walaupun sebenarnya, perasaannya juga tidak bisa menerima saat melihat Alea yang sangat ketakutan dan seolah meminta pertolongan darinya.
Bisa saja Dimas tinggal menyuruh keempat bawahannya itu untuk keluar dan menghukumnya di luar. Namun entah kenapa ia merasa sangat marah dan kesal ketika melihat Alea yang diperlakukan seperti itu hingga membuat dirinya melemparkan peluru pada setiap kepala bawahannya.
Dimas melihat dengan jelas bahwa Alea semakin ketakutan, apalagi darah dari penjaga itu menyiprat padanya.
Dimas tidak bermaksud untuk membawanya, namun entah kenapa hari ini dia tidak bisa mengendalikannya.
Dimas justru membawa Alea masuk Alea ke dalam mobilnya, lalu membersihkan darah itu dan membawanya ke tempat rumahnya yang tidak ada satupun yang mengetahui tempat itu. Bahkan Dimas belum pernah mengajak siapapun menuju tempat rahasianya, lebih tepatnya tempat persembunyian nya.
Dimas tetaplah Dimas, sebelum ia melajukan mobilnya dan membawa Alea ke tempat itu. Dimas menghubungi bawahannya untuk membeli satu set pakaian dalam wanita dan celana yang mirip dengan celana yang dipakai Alea.
Dimas memotret celana Alea, lalu meminta bawahannya untuk membeli yang sam persis.
Karena sudah terlanjur seperti ini, Dimas meminta para bawahannya untuk merobek dan mengotori supaya tidak terlihat seperti baru.
Dimas sangat yakin kalau Sean akan datang. Dan dirinya ingin Sean melihat tempat itu membuat nya berpikir bahwa mereka memang melakukan itu pada Alea.
"Kenapa dia masih belum bangun?" ucap Dimas yang masih berada di dalam mobil bersama Alea.
Dimas mencoba memanggil Alea beberapa kali, namun hasilnya masih sama. Alea belum juga membuka matanya.
"Ah kenapa aku malah membawanya kemari" sambung Dimas melihat pemandangan yang ada dihadapannya.
"Sudahlah, hanya sementara waktu"
Dimas keluar dari dalam mobil, ia berjalan memutar dan membuka pintu mobil Alea lalu membawanya kedalam rumah miliknya.
Ia membaringkan Alea dengan pelan, lalu Dimas merogoh sakunya untuk memanggil seseorang.
"Ya, cepat" tutup Dimas mengakhiri panggilannya.
Dimas meninggalkan Alea di kamar itu, ia memilih untuk membersihkan tubuhnya lebih dulu sekaligus menyegarkan pikirannya.
Selesai membersihkan tubuhnya, Dimas berjalan memasuki kamar Alea untuk melihat keadaan nya. Ternyata Alea masih memejamkan matanya.
"Dia pingsan atau mati? kenapa tidak bangun bangun" pekik Dimas.
Tak lama dari itu terdengarlah suara bell pintu berbunyi. Dimas berjalan dan membukanya.
Dokter dan satu orang pelayan dengan beberapa barang lainnya.
Dimas mempersilahkan mereka masuk, ia meminta dokter untuk mengecek bagaimana keadaan Alea saat ini.
"Bagaimana dok?" tanya Dimas.
"Selamat tuan, anda akan menjadi seorang ayah" ucap dokter itu dengan senyum bahagia.
"Apa?" pekik Dimas.
Bagaikan tersengat petir di siang bolong, Dimas benar benar terkejut dengan perkataan dokter.
"Di-di-a hamil?" tanya Dimas.
"Benar tuan, kenapa anda-"
"Tolong cek satu kali lagi" ucap Dimas untuk meyakinkan dirinya.
Sang dokter hanya bisa menuruti apa yang dikatakan Dimas, dokter kembali mengecek keadaan Alea.
"Tuan, istri anda benar benar hamil. Apa anda tidak senang?" tanya dokter.
"Ah ya, aku senang. Aku bahagia" balas Dimas dengan tawa sumbangnya.
"Saya sudah menulis resep obatnya, saya juga sudah menuliskan kapan obat itu harus diminum. Jika sudah selesai saya pamit undur diri" jelas Dokter.
"Iya d-o-k" jawab Dimas masih tidak percaya.
"Oh ya dok, kapan dia sadar?" tanya Dimas tersadar dari lamunannya.
"Mungkin dua atau tiga jam lagi. Sepertinya istri tuan mengalami syok hingga ia tertidur dan pingsan selama ini"
"Ah ya, terimakasih dok. Biar saya antar" balas Dimas.
Dokter tersenyum, ia menganggukkan kepalanya lalu berjalan keluar dengan di dampingi oleh Dimas.
"Oh ya, sepertinya rahim istri tuan sedikit lemah. Saya sarankan untuk menjaganya dengan sangat hati-hati dan jangan biarkan dia terlalu banyak pikiran sehingga berpengaruh pada rahimnya"
"Baik dok"
"Suami yang baik, kalau begitu saya pamit" balas Dokter lalu memasuki mobilnya dan pergi meninggalkan rumah itu.
Sedangkan Dimas ia memasang senyum terpaksanya dan terus menganggukkan kepalanya.
"Ah bagaimana ini. Kenapa aku menculik ibu-ibu" ucap Dimas kembali berjalan memasuki rumahnya.
"Suami? ayah? memangnya aku setua itu?" sambung Dimas.
"Memangnya aku cocok jadi seorang ayah?"
"Husss apa yang sedang ku pikirkan" tungkas Dimas kembali memasuki kamar Alea.
"Mona kamu sudah siapkan semua yang saya minta?" tanya Dimas pada Mona salah satu orang kepercayaannya.
"Sudah tuan"
"Hm bagus. Kalau begitu, bantu dia mandi dan bersihkan tubuhnya. Aku tidak ingin melihat darah yang sudah kubunuh masih ada di dalam tubuhnya" jelas Dimas membuat Mona terdiam.
(Siapa lagi yang tuan bunuh) pikir Mona yang merasa ngeri saat melihat Dimas seperti ini.
"Oh ya, ganti bajunya juga dengan baju yang sudah kau siapkan sebelumnya"
"Baik tuan" balas Mona.
"Oh ya, satu lagi. Hmmm dia hamil, jadi pelan-pelan saat membersihkan tubuhnya" ucap Dimas berbalik.
"Baik tuan" balas Mona dengan senyumnya.
"Satu lagi, jangan biarkan pakaiannya yang tipis" ucap Dimas.
"Baik tuan" balas Mona dengan senyum ramahnya yang sebenarnya sudah kesal melihat Dimas yang tak kunjung keluar dari kamar dan terus memotong pergerakkannya yang hendak membuka kancing baju pakaian Alea.
"Kenap kamu melihat ku seperti itu" tanya Dimas.
"Tidak tuan, saya akan membersihkan tubuh nyonya" ucap Mona.
"Hm ya bagus, lanjutkan" ucap Dimas berbalik dan hendak keluar.
"Hm mona" panggil Dimas yang kembali memasuki kamar Alea.
"Iya tuan? saya tahu saya harus hati-hati. Tetapi jika tuan seperti ini saya akan kesulitan membersihkannya" potong Mona berjalan menutup pintu kamar.
"Hm lakukanlah" balas Dimas.
Baru saja Mona menutup pintunya, tiba-tiba Dimas kembali membuka pintu tersebut membuat Mona kesal setengah mati yang langsung menutup pintu dengan kasar lalu menguncinya dengan cepat.
"Tenang tuan, semuanya akan baik-baik saja" teriak Mona.
"Cih, ada apa dengannya. Memangnya aku peduli?" pekik Dimas berjalan menuju ruang tv.
Didalam kamar Mona menghempaskan nafasnya dengan Kasar. Ia merasa kesal kesal dengan sikap Dimas yang terus membuat kesabarannya semakin menipis.
"Ada apa dengan tuan. Tidak biasanya cerewet seperti itu" pekik Mona.
Mona berjalan menuju Alea, ia membuka pakaian Alea dengan pelan. Mona juga membersihkan tubuh Alea, mengelap darah yang sudah mengering di beberapa bagian tubuhnya.
Mona melakukan itu dengan sangat pelan dan penuh hati-hati. Tak lama dari itu, ia tersenyum saat melihat perut Alea.
"Ternyata Tuan sudah akan menjadi seorang ayah" pekik Mona.
Bagaimana pun, Mona dan Dimas sudah melewati banyak hal. Mona tahu baik buruknya sikap dan perbuatan Dimas. Bahkan dia juga sudah terbiasa dengan sikap Dimas.
Sikap Dimas yang selalu perhatian padanya namun enggan memberikan perasaan padanya.
"Aku akan bahagia, jika kamu bahagia. Meskipun itu akan menyakitiku, namun itu adalah janjiku" lirih Mona mengulum senyumnya.