Dimas membawa Alea ke dalam mobilnya. Ia meletakkan tubuh Alea di kursi kemudi bagian depan tepat disampingnya.
Setelah meletakkan Alea, Dimas menutup pintu mobilnya lalu berjalan memutar menuju tempat kemudi.
"Bereskan saja mayatnya, oh ya beli celana dan satu set pakaian dalam wanita. Untuk selanjutnya akan ku beritahu lewat sebuah pesan" ucap Dimas mengakhiri panggilannya.
Selesai memasukkan ponselnya, Dimas mulai melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.
Diperjalanan sesekali Dimas menoleh ke arah Alea yang tak kunjung sadarkan diri. Selain itu sedikit darah yang terciprat pada wajah sekaligus leher Alea mulai mengering.
"Kenapa dia belum bangun" pekik Dimas yang terus menoleh ke arah Alea.
"Apa dia mati?" sambung Dimas yang langsung meminggirkan mobilnya dan menghentikannya.
Dimas menggerakkan tangannya, meletakkan telunjuk kanannya pada hidung Alea.
"Huh, masih hidup ternyata" lega Dimas menyandarkan tubuhnya.
Dimas kembali menoleh pada Alea, ia merasa sedikit risih saat melihat bercak darah pada wajah Alea dan sekitarnya.
Ia kembali menggerakkan tangannya mengambil tisu lalu memberinya sedikit air minum supaya tisu itu basah dan dengan mudah menghapus titik titik darah yang mulai mengering.
"Sudahlah, terpaksa aku harus melakukannya" ucap Dimas mulai mengelap wajah Alea dan membersihkan darah tersebut.
Perlahan tapi pasti Dimas membersihkan dengan sangat teliti. Hingga beberapa menit tangannya berhenti bergerak dan matanya memandang wajah Alea yang sudah bersih.
"Cantik" tanpa Dimas sadari, ia telah mengucapkan kalimat itu.
"Aish, apa yang sudah kukatakan" sanggah Dimas menyadarkan lamunannya.
Dimas sedikit menjauh ia kembali memandang lurus pada kaca mobil. Dimas mengatur nafasnya lalu membuang tisu itu dan mengambil yang baru untuk membersihkan bagian lainnya.
Sebelum ia melanjutkan untuk membersihkan leher Alea, Dimas berkali-kali mengatur detak jantungnya menghembuskan nafasnya untuk bisa tetap tenang.
"Jangan lihat kemana-mana. Bersihkan saja, atau orang lain akan curiga dengan darah yang menempel padanya" ucap Dimas meyakinkan dirinya.
Setelah cukup kuat, Dimas membuka sedikit jas yang Alea kenakan. Ia mulai mengelap bagian leher dan turun kebawah.
"Tidak, aku tidak bisa menahannya" pekik Dimas yang hampir saja tangannya menyentuh kedua gunung milik Alea.
"Cukup sampai disini saja" ucap Dimas berusaha menahan dirinya.
Dimas kembali merapikan jas Alea dengan pandangannya yang lurus ke depan tidak ingin menoleh pada Alea.
Selesai itu Dimas kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sementara itu, Sean dan Jamsh masih bergelut dengan komputer yang ada dihadapan mereka.
Jamsh berusaha untuk melacak ponsel Alea agar mengetahui dimana keberadaan Alea.
"Bisakah lebih cepat?" tanya Sean yang sudah sangat khawatir dengan keadaan Alea.
"Sedang saya usahakan tuan" balas Jamsh.
"Cepatlah, aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya" timpal Sean.
"Baik tuan"
Pencarian cukup memakan waktu sedikit lama, yaitu dua puluh menit. Setelah dua puluh menit akhirnya Jamsh bisa menemukan dimana lokasi Alea.
"Tuan saya menemukannya" ucap Jamsh.
"Dimana?"
"Gudang kosong di xx xx"
"Baiklah, ayo kita kesana" balas Sean mendapat anggukan dari Jamsh.
Mereka berdua kini bergegas dan segera memasuki mobil menuju lokasi Alea.
Perjalanan mereka cukup memakan waktu yang lama. Dengan kecepatan yang lumayan cepat mereka sampai setelah satu jam perjalanan.
Saat mobil berhenti, Sean keluar dari dalam mobil dan mendobrak pintu gudang itu dengan tendangannya yang keras.
Hening,
Sean sudah membuat pintu itu rusak, dan di dalam gudang kosong itu tidak terlihat tanda-tanda penghuni.
Tangan Sean semakin erat menggenggam. Ia berjalan kesana kemari melihat ke setiap sudut hingga akhirnya dirinya tidak sengaja menginjak ponsel milik Alea.
Sean menundukkan kepalanya, ia mengambil benda pipih itu.
"Ini ponsel Alea" pekik Sean semakin mengeratkan genggaman tangannya meremas ponsel tersebut.
"Tuan" panggil Jamsh.
"Hm"
"Anda harus lihat di kamar mandi itu" ucap Jamsh.
Sean melanjutkan langkahnya, ia berjalan menuju kamar mandi.
Bug!
Sean melayangkan pukulannya pada cermin besar yang ada di dalam kamar mandi.
Seketika cermin itu pecah dan berhamburan. Begitu juga dengan tangan Sean yang saat ini mengeluarkan cucuran darah akibat dari tinjuan itu.
Jamsh sedikit memundurkan langkahnya, ia terkejut dengan Sean yang memukul begitu saja saat melihat keadaan yang ada di dalam kamar mandi.
"Tuan, tenanglah" ucap Jamsh berusaha menenangkan Sean.
Sean memejamkan matanya, ia menggerakkan tangan satunya lagi untuk memijat keningnya yang terasa pusing.
Sean mencoba untuk berpikir jernih melihat semuanya.
"Mungkin bukan seperti ini tuan-"
"Diam" tegas Sean.
Jamsh melipat bibirnya, ia tidak melanjutkan kalimatnya atau mengatakan apapun lagi pada Sean.
Jamsh mengerti dengan apa yang dilihat Sean saat ini. Darah dan pakaian lengkap Alea yang terdapat banyak robekan berhamburan dimana-mana.
Siapa yang tidak akan langsung berpikiran kotor melihat hal itu. Apalagi Alea adalah istrinya.
Sean masih memejamkan matanya, ia mengudap kasar wajahnya lalu pergi meninggalkan gedung kembali memasuki mobilnya.
Bruk!
Sean menutup pintu mobil dengan sangat keras. Ia kembali menundukkan kepalanya. Tangannya mengeluarkan darah, meskipun begitu rasa sakit ditangannya tidak seberapa dengan rasa sakit dihatinya.
Jamsh memasuki mobil ia duduk di kursi kemudi tepat di samping Sean.
Sean menyandarkan tubuhnya, ia menutup wajahnya dengan tangan satunya yang tidak terluka.
Hingga tak lama Sean mulai mengeluarkan sedikit suara tangisan yang sangat pelan.
Jamsh masih diam, ia belum melajukan mobilnya.
"Tuan" panggil Jamsh pelan, ia tahu saat ini Sean sedang tidak baik baik saja.
"Jamsh, aku terlambat" lirih Sean pelan membuat tangisannya semakin jelas.
Jamsh merangkul Sean, ia menepuk-nepuk pundak Sean. Jamsh mengerti bagaimana sakitnya melihat itu dan membayangkannya.
Sean yang menangis seperti ini membuat Jamsh juga meneteskan air matanya. Selama bertahun-tahun bersama Sean, baru kali ini Jamsh melihat Sean selemah ini dan menangis seperti ini.
"Tuan" panggil Jamsh.
"Tuan" panggil Jamsh lagi berharap Sean berhenti dan kembali pada Sean yang dulu.
"Sean Alexavier Deacon" panggil Jamsh yang akhirnya membuat Sean berhenti.
"Jamsh, kita kembali" ucap Sean menatap lurus seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
"Baik tuan" balas Jamsh menginjak gas mobil dan melajukannya.
Disisi lain Dimas baru saja sampai di sebuah rumah yang terbilang megah dengan banyak tumbuhan di sekitarnya.
Drrrtt ... drrttt ... drrtt
Ponsel Dimas berdering.
"Ya" jawab Dimas.
"Sempurna, kerja yang bagus" balas Dimas menutup panggilannya dan menyeringai.
"Meskipun semuanya tidak sesuai rencana, tapi aku menyukainya" pekik Dimas tersenyum puas.
Dimas berencana menculik Alea dan membiarkan ponselnya hidup agar Sean bisa melacaknya.
Awalnya Dimas ingin menemui Sean secara langsung, lalu bertarung dengannya satu lawan satu untuk membalaskan amarahnya atas apa yang terjadi di masa lalu.
Dimas sudah bertekad akan membuat Sean bertekuk lutut dihadapannya, dan menyesal atas apa yang dilakukannya di masa dulu.