Sean kembali ke apartemennya, ia membanting dan melempar semua benda yang ada di sekitarnya.
"Jamsh, datang kemari" pekik Sean menutup panggilannya.
Tak membutuhkan waktu yang lama Jamsh sudah berada di dalam apartemen Sean. Jamsh mengedarkan pandangannya melihat apartemen Sean yang berantakan.
(Sepertinya ada masalah) pikir Jamsh.
"Tuan" sapa Jamsh.
"Lacak Dimas"
"Dimas?"
"Ya, Dimas Abraham. Alea di culik olehnya"
"Apa?"
"Cepat Jamsh"
"Baik tuan"
Jamsh berjalan mengikuti Sean menuju ruang rahasia miliknya, dimana ruangan itu terdapat banyak komputer canggih.
Disisi lain Alea baru saja membuka matanya, ia melihat seseorang yang tengah memegang kepalanya dengan mata yang terpejam.
Sosok lelaki itu mempunyai aura yang cukup kuat. Alea terus memandangnya hingga terlintas sebuah nama dipikirannya.
"Dimas?" lirih Alea pelan.
Alea sangat yakin bahwa itu adalah Dimas. Yaitu orang yang terjebak satu lift dengannya saat berada di perusahaan Sean.
"Kenapa dia ada disini? apa dia yang menculikku?" pikir Alea.
"Sudah bangun?" ucap Dimas namun masih tetap dengan posisinya.
"Hm" balas Alea pelan.
Dimas membuka matanya, ia menatap Alea dengan intens. Dimas mulai berjalan mendekat pada Alea, melihat wajah gadis itu secara sangat dekat.
Alea memundurkan wajahnya agar tidak terkena wajah Dimas. Pada saat itu, Alea mencium sebuah aroma yang tidak asing.
"Tuan Dams?" pekik Alea.
Dimas diam, ia berdiri dengan tegap dan kedua tangan yang dilipat di d**a bidangnya.
"Kau mengenaliku?" pekik Dimas.
"Ternyata benar. Kamu Dams" sambung Alea.
"Ya, ini memang aku. Kamu orang pertama yang melihat wajah asliku. Bagaimana bisa mengenaliku?"
"Aroma" balas Alea.
"Ah, aku lupa tidak mengganti aromanya" timpal Dimas dengan tertawa sumbang.
Alea membuang wajahnya, sebenarnya tak hanya aroma yang membuat Alea mengenali Dimas. Tetapi model pakaian dan cara berjalannya benar-benar terlihat seperti Dams idolanya.
"Kenapa diam saja? apa kau terkejut?" tanya Dimas meletakkan tangannya di leher Alea.
"A-pa yang kau laku-kan" ucap Alea dengan nafas yang hampir saja putus.
Uhuk ... uhuk
Dimas melepaskan tangannya membuat Alea bisa kembali menghirup udara.
"Tenang saja, aku hanya perlu bermain-main denganmu dan menunggu suamimu datang" balas Dimas.
"Dia tidak akan datang" sanggah Alea.
"Benarkah?" ucap Dimas menyeringai lalu mendekatkan wajahnya dan hendak mencium bibir Alea.
Oekk oekk
Sedikit lagi bibir mereka bersentuhan, Alea merasa mual dan hampir muntah di wajah Dimas.
"Cih, menyebalkan" pekik Dimas yang langsung menjauh dari wajah Alea.
Alea tidak berhenti, ia terus merasakan ingin mual namun tidak bisa beranjak kemana-mana karena tangan dan tubuhnya yang diikat pada kursi.
Dimas terus memperhatikan Alea yang terus mengeluarkan suara ingin muntah.
"Apa dia pura-pura?" pikir Dimas meneliti ekspresi yang dikeluarkan Alea.
"Sepertinya tidak" sambung nya yang melihat wajah Alea memerah menahan rasa mualnya.
"Lepaskan talinya dan biarkan dia ke toilet" pekik Dimas.
Anak buah Dimas melepaskan tali yang mengikat tubuh Alea. Mereka membawa Alea ke dalam kamar mandi untuk menyalurkan rasa muntahnya.
Sesampainya di toilet Alea membasuh wajahnya ia menumpahkan apa yang ingin dia muntahkan meskipun itu tidak ada.
"Ada apa denganku" pikir Alea yang kembali ingin muntah namun tidak memuntahkan apapun.
Alea kembali membasuh wajahnya dan mulutnya, setelah merasa lebih segar ia kembali membuka pintu.
Klek
Ada beberapa penjaga yang tengah berdiri di depan pintu.
(Kenapa penjaganya bertambah) pikir Alea melihat pengawal yang berjumlah empat orang. Padahal sebelumnya hanya dua orang yang mengawal dirinya.
"Mari kita bersenang-senang dulu" pekik salah satu dari mereka lalu berjalan beberapa langkah.
Alea menelan salivanya, jika dilihat dari gerak gerik mereka akan sesuatu hal yang tidak baik terjadi.
Alea memundurkan langkahnya, para penjaga itu tersenyum melihat Alea yang ketakutan.
"Mau apa kalian" ucap Alea.
"Jangan mendekat atau aku akan panggil bos kalian" teriak Alea yang semakin memundurkan langkahnya.
Mendengar teriakan Alea para penjaga itu langsung membungkam mulut Alea dan membawa badannya ke pojok kamar mandi yang terbilang luas.
Alea memberontak, ia menggigit tangan penjaga itu yang membungkam mulutnya lalu berteriak sekeras mungkin.
"Dimassss" teriak Alea.
"Aw sialan" pekik penjaga itu yang terkena gigitan Alea.
Srettt!
Pakaian Alea kini terlepas sobek, meskipun begitu Alea masih berusaha memberontak walau tenaganya semakin melemah dan rasa mual yang terus mengganggunya.
"Bagus juga bodynya" pekik para penjaga dengan menyeringai.
Srettt!!
Kini baju Alea sudah terlepas. Hanya tangtop dan celana yang masih para penjaga itu berusaha untuk melepaskannya.
Alea terus meneteskan air matanya, ini akan menjadi kenangan terburuk baginya.
Gebruk!!!
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dengan sangat keras, bahkan sekarang pintu kamar mandi tersebut terlepas dari tempatnya.
"Dasar b*****h" pekik Dimas yang langsung memainkan pistol miliknya menembak keempat penjaga itu tepat pada kepala mereka masing-masing hingga langsung tak bernyawa.
Craatttt!
Alea yang langsung berhenti menangis dan terdiam. Tangan dan tubuhnya kini bergetar mendapat cipratan darah sekaligus melihat keempat orang itu tewas seketika.
Pandangannya kini beralih pada Dimas yang tengah memegang pistol.
"Alea" pekik Dimas.
"Jangan, jangan lihat aku" timpal Alea yang menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya. Bahkan saat ini tangtopnya sudah hampir terlepas.
Dengan refleks, Dimas segera berbalik. Ia mengambil nafasnya dalam lalu menghembuskannya. Bohong jika Dimas tidak melihat lekuk tubuh Alea yang begitu sempurna.
"Jangan melihat ke arahku" ucap Alea dengan gemetaran.
Alea mencoba memungut kembali pakaian yang sudah robek. Ia hendak kembali memakainya, namun itu mustahil.
Pakaiannya miliknya sudah sangat hancur dan sobek terbelah dua. Tidak bisa di pakai lagi, selain itu. Pakaian miliknya juga dipenuhi banyak darah.
"Apa yang kau lakukan-"
"Jangan berbalik" potong Alea dengan ketakutannya.
Dimas berdecak. Lalu tak lama ia membuka jas yang dikenakannya dan melemparkannya pada Alea dengan posisi masin membelakanginya.
"Pakai ini" ucap Dimas melempar pakaiannya.
Alea sedikit bergerak, ia berusaha memakai jas itu meskipun kini seluruh tubuhnya terasa nyeri dan linu.
Alea berhasil memakai jasnya, ia hendak berdiri namun tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Alea sudah mencoba untuk menyadarkan pikirannya dengan menggelengkan kepalanya.
Entah karena bau anyir atau melihat darah yang menggenang kepala Alea semakin pusing hingga tak lama pandangannya mulai buram menghitam dan pingsan.
"Kenapa lama sekali?" tanya Dimas tidak mendapat jawaban apapun.
"Alea" panggil Dimas dengan menunggu respon Alea.
"Jika hitungan ketiga kau masih tidak menjawabku. Aku akan berbalik" sambung Dimas.
Hening, masih tidak ada jawaban apapun.
"Aku hitung, satu, dua, tiga..."
Dimas berbalik, ia melihat Alea yang sudah tak sadarkan diri.
"Apa dia tidur?" pikir Dimas lalu mendekat.
"Woy, bangun" sambung Dimas menggerakkan tubuh Alea dengan kakinya.
"Cih, merepotkan saja" ucap Dimas menyimpan pistol miliknya lalu meraih tubuh Alea dan membawanya.