Sementara itu, Alea baru saja selesai membersihkan tubuhnya. Ia mulai memakai pakaian nya dan bersiap untuk menuju bandara.
Clara juga mengetahui hal ini, dan Alea memintanya agar Clara tidak memberitahu Sean atau siapapun atas kepergiannya ke negera lain.
Awalnya Clara tidak setuju, namun ia juga tidak bisa apa-apa jika Maxi dan Alea yang memintanya.
Saat ini Maxi sudah berada di dalam mobil, ia menunggu Alea hingga beberapa menit barulah Alea datang dan memasuki mobil setelah berpamitan pada Clara.
Mobil Maxi kini mulai melaju keluar dari kediamannya, dan saat itu mobil Sean datang berhenti di depan rumahnya.
Clara mengenali mobil tersebut, ia tahu bahwa itu adalah Sean.
Saat ini dirinya sangat bingung, entah harus berpihak pada siapa. Maxi adalah suaminya, namun Sean juga adalah kakak kandungnya.
"Clara" panggil Sean yang melihat Clara hampir menutup pintu rumahnya.
"Ah iya? eh Kakak, kenapa ada disini?" tanya Clara pura-pura baru melihat Sean disana.
"Hmm, dimana Alea" tanya Sean, walau sebenarnya ia tahu bahwa Clara sudah melihatnya dari tadi.
"Alea? Alea tidak ada disini" jawab Clara.
"Clara jangan berbohong padaku" timpal Sean.
"Tidak, aku tidak berbohong"
"Dimana Alea" tegas Sean
"Alea ... pergi ke luar negeri" balas Clara lesu menundukkan kepalanya, bagaimana pun juga Clara pasti akan kalah jika berdebat dengan Sean sang kakak.
"Apa? kemana?" tanya Sean yang benar-benar sangat terkejut dengan jawaban Clara.
"Aku tidak tahu, hanya saja dia pergi untuk berobat. Lagian kakak kenapa baru sekarang mencari Alea? kakak tahu? Alea menangis seharian ini. Dan pada akhirnya dia memutuskan untuk pergi. Sekarang sudah seperti ini kakak baru menyesal kan?"
"Ya kakak tahu, kenapa kamu malah mengomeli kakak"
"Ishh kakak ini" sebal Clara
"Sudah, kakak harus pergi dulu menuju bandara" ucap Sean yang langsung kembali memasuki mobil miliknya.
"Ah kenapa aku tidak bisa berbohong pada kakak" kesal Clara menutup pintu rumahnya kasar dan kembali ke kamarnya.
Sementara itu, Sean melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Bandara. Ia berharap bahwa Alea dan Maxi masih belum menaiki pesawat.
Sean menambah kecepatan nya, namun tak lama dari itu ada sebuah mobil yang berhenti di tengah jalan membuat Sean membanting stir untuk menghindari tabrakan.
Sean membuang nafas dalamnya, ia benar-benar terkejut karena hampir menabrak nya. Tetapi untungnya ia masih bisa mengendalikan mobil miliknya.
"Sial, apa lagi ini. Kenapa ada mobil di tengah jalan" pekik Sean memukul stir kendali.
"Tunggu, bukannya itu mobil Maxi?" sambung Sean.
Sean keluar dari dalam mobil, ia mendekat pada mobil yang berada di tengah jalan itu untuk memastikan pikiran nya.
"Maxi?" lirih Sean yang melihat Maxi sudah tidak sadarkan diri dengan keadaan wajahnya yang babak belur.
"Maxi" panggil Sean menepuk wajah Maxi beberapa kali yang tak kunjung membuka matanya.
"Alea?" pikir Sean segera mencari ke seluruh bagian mobil namun tidak menemukannya.
"Kenapa Alea tidak ada disini" sambung Sean mengacak rambutnya.
Melihat keadaan Maxi, Sean sudah mempunyai pirasat buruk mengenai Alea. Apalagi saat ini Alea tidak bersama dengan Maxi.
Drrrtt ...
Ponsel Sean berbunyi, ia merogoh saku jas kanannya untuk mengambil ponsel dan melihat sebuah pesan yang masuk ke dalam ponsel miliknya.
'Sean Alexavier Deacon, sudah lama tidak bertemu. Akan ku pinjam istri mu untuk bermain dengan ku sebentar'
Kalimat itulah yang tertulis di layar ponsel miliknya.
Sean mengepalkan tangannya membaca pesan tersebut membuat dirinya sangat marah dan semakin khawatir dengan keadaan Alea.
"Sial" kesal Sean mengeratkan genggaman tangannya yang sedang memegang ponsel.
"Se-an" rintih Maxi yang sudah membuka matanya.
"Maxi" ucap Sean menoleh ke arah Maxi dan membantunya untuk duduk.
"Alea" pekik Maxi.
"Aku tahu, sekarang lebih baik kita ke rumah sakit dulu" balas Sean memapah Maxi menuju mobil miliknya.
Sean memberi botol minum pada Maxi, dan ia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Pelan-pelan saja, tidak perlu ke rumah sakit. Kita harus bicara" ucap Maxi setelah dirinya merasa jauh lebih baik.
"Tapi luka-"
"Ikuti saja perkataan ku" tegas Maxi membuat Sean mengernyitkan dahinya karena tidak mengerti dengan perubahan sikap Maxi yang begitu cepat.
Hanya dalam beberapa menit Sean dan Maxi sudah berada di kediaman Baker. Maxi hampir saja terjatuh namun Sean segera menangkapnya.
Maxi dengan cepat menghempas tangan Sean dan menguatkan dirinya untuk berjalan memasuki rumahnya.
Sean masih diam, sebenarnya apa yang terjadi pada Maxi sehingga memperlakukannya seperti ini.
"Clara" panggil Maxi.
Clara yang mendengar suara suaminya segera keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga untuk menemui Maxi.
"Sudah pulang? kenapa cepat seka-"
Clara tidak melanjutkan perkataannya, ia terkejut dengan melihat keadaan Maxi dengan ujung bibir yang mengeluarkan sedikit darah.
"Ini, ada apa? kenapa wajah-"
"Aw" rintih Maxi yang ujung bibirnya di sentuh oleh Clara.
"Aku akan membawa obatnya" ucap Clara kembali berjalan cepat.
"Max, apa yang terjadi?" tanya Sean.
Bug!
Pukulan adalah jawaban yang diberikan oleh Maxi.
Sean beranjak dari duduknya yang terhempas karena pukulan Maxi.
"Ada apa denganmu" ucap Sean mengelap sudut bibirnya.
"Kenapa lo memperlakukan Alea seperti ini? apa lo nikahi adek gue hanya karena untuk seorang anak? lo udah janji untuk menyayanginya, mencintainya, dan menjaganya termasuk menerima apa adanya. Namun apa sekarang? lo mencapakkannya hingga Alea terus bersedih dan memilih untuk pergi. Gue kecewa sama lo, Sean" jelas Maxi memegang kepalanya.
Sean diam, ia tidak menyangkal atau membantah apa yang dikatakan Maxi. Wajar saja jika Maxi mengucapkan kalimat itu padanya, karena memang Sean yang melakukannya.
"Gue minta maaf" ucap Sean.
"Dan sekarang? siapa lagi musuh lo. Alea diculik! dan dia mengatakan semua ini karena lo. Sean Alexavier Deacon"
"Cih, sepertinya gue salah karena merestui kalian berdua. Seharusnya gue tahu, kalau masalalu lo bisa mengancam keselamatan Alea" sambung Maxi.
Sean memalingkan wajahnya, mendengar apa yang dikatakan Maxi membuat hatinya terluka. Ini semua juga bukanlah keinginannya.
"Aku akan membawanya kembali padamu" ucap Sean beranjak pergi dari rumah Maxi.
"Kakak mau kemana?" tanya Clara yang baru saja sampai dengan kotak obat yang berada di tangannya.
"Ada apa? apa kalian bertengkar? kenapa kakak tidak menungguku" tanya Clara pada Maxi.
"Tidak ada apa-apa" balas Maxi.
Clara menghela nafasnya, sudah pasti ada yang terjadi diantara Sean dan Maxi.
"Kemari itu harus di obati dulu" bujuk Clara memegang tubuh Maxi dan membawanya untuk duduk.
"Hm" balas Maxi.
Clara membuka kotak obat dan mulai mengeluarkan kapas beserta obatnya. Ia membersihkan dan mengobati luka Maxi dengan sangat teliti dan pelan.