Sesampainya di rumah Maxi, Alea bertemu Clara.
Clara terdiam saat melihat Alea membawa koper dan kedua matanya yang sembab. Clara mulai mengerti, sepertinya Alea dan kakaknya sedang dalam pertengkaran.
"Kemarilah, dan minum ini. Kakak membawakan teh hangat untukmu" ucap Clara memberikan satu gelas yang berisi teh hangat.
"Terimakasih kak" ucap Alea.
"Hm" angguk Clara.
"Bertengkar?" sambung Clara.
Alea menganggukkan kepalanya pelan.
"Tidak apa-apa, wajar saja jika dalam rumah tangga. Tidak mungkin juga selamanya kita akan akur" jelas Clara.
"Istirahat lah, di kamarmu. Semuanya masih sama, dan kamarmu juga tidak ada yang mengisi nya. Aku selalu meminta bibi untuk membereskan kamarmu setiap harinya, jadi kamar itu selalu rapih dan siap kembali dihuni oleh pemiliknya" sambung Clara.
"Terimakasih kak" ucap Alea mendapat anggukan dari Clara.
Alea kini merasa cukup tenang, sikap Clara yang lembut dan perhatian padanya membuat sedikit hatinya merasa nyaman.
Alea berjalan menaiki anak tangga, ia membuka pintu kamar miliknya.
Semuanya masih sama, tidak ada yang berubah. Sama seperti pada saat ia belum menikah dan pergi dari rumah ini.
Alea menyimpan koper miliknya, ia membaringkan tubuhnya di atas kasur dan mulai memejamkan matanya.
Disisi lain suara bel pintu berbunyi, Maxi baru saja datang dari kantornya. Ia bergegas pulang saat Alea menelpon dirinya ingin segera bertemu.
"Dimana Alea?" tanya Maxi.
"Dia ada di kamarnya, sebaiknya jangan dulu bertemu dengannya" balas Clara.
"Tapi Alea memintaku bertemu untuk berbicara"
"Ah begitu ya. Kalau begitu temui saja, namun pelan pelan membuka pintunya. Sepertinya ia sedikit kelelahan"
"Apa dia bertengkar dengan Sean?" tanya Maxi.
"Hm, sepertinya iya" balas Clara menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu aku akan melihat keadaannya" ucap Maxi.
"Hm" angguk Clara.
Maxi berjalan menuju pintu kamar Alea. Dia mengetuknya pelan. Tidak ada jawaban atau pergerakan apapun di dalam kamar.
Perlahan Maxi mulai memegang kenop pintu, ia membuka pintu kamar Alea. Disana Maxi melihat Alea yang tengah menangis dibawah samping ranjang.
Melihatnya Maxi segera berjalan cepat mendekati Alea.
"Alea? ada apa? kamu tidak apa-apa?" tanya Maxi yang langsung memeluk Alea.
Dalam pelukan sang kakak tangis Alea semakin keras.
Maxi mengelus rambut Alea dengan lembut, entah apa yang terjadi pada Alea, melihatnya menangis seperti itu membuatnya merasa sedih.
"Tenanglah Le" ucap Maxi mencoba menenangkan nya.
Maxi memegang bahu Alea meminta agar Alea berdiri dan duduk di atas ranjang.
"Ada apa? cerita sama kakak" tanya Maxi.
"Apa Sean menyakitimu?" sambung Maxi mendapat gelengan kepala Alea.
"Lalu kenapa?"
"Kak, aku-"
"Aku tidak bisa punya keturunan" ucap Alea.
Maxi terdiam, ia terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Alea.
"Bagaimana bisa?"
"Beberapa hari yang lalu, perutku sakit dan pingsan. Lalu dokter memberitahu ada permasalahan di dalam rahim yang membuatku tidak bisa hamil" jelas Alea dengan isakkannya.
"Bukannya haid mu selalu lancar?"
"Iya"
"Lalu kenapa bisa begini?"
"Aku tidak tahu kak, tapi kakak tahu sendiri kalau Sean sangat menginginkan seorang anak"
Maxi menundukkan kepalanya, ia tahu benar bahwa Sean memanglah sangat ingin mempunyai anak.
"Lalu apa selanjutnya rencana kamu?" tanya Maxi.
"Aku tidak tahu ka. Apa aku harus bercerai dengannya?"
"Tidak. Jangan Alea. Apa kamu sudah memberitahu hal ini pada Sean?"
"Sudah"
"Terus bagaimana reaksinya?"
"Sean sama sekali tidak mengejarku"
"Apa? tidakkah dia menahanmu?" tanya Maxi mendapat gelengan kepala dari Alea.
Maxi mengepalkan tangannya, memangnya mereka menikah hanya karena seorang anak?
Maxi membuang nafasnya kasar, ia memijat keningnya.
"Kakak akan carikan dokter terbaik untukmu"
"Hmmm"
"Kak" panggil Alea.
"Aku ingin kakak merahasiakan ini"
"Iya Alea, sudah jangan menangis. Kakak akan carikan dokter saat ini juga"
"Terimakasih kak"
Maxi beranjak dari duduknya, ia merogoh saku jasnya untuk menghubungi seseorang.
Beberapa menit berbincang, Maxi mulai mematikan panggilannya. Ia kembali berjalan menuju Alea.
"Alea" panggil Maxi.
"Kakak punya teman, namanya Mia. Dia dokter yang bisa menyembuhkanmu, hanya saja"
"Kenapa ka?" tanya Alea.
"Ia berada di luar negeri"
"Aku akan pergi"
"Alea, apa kamu yakin?"
"Iya ka" angguk Alea dengan sangat yakin.
"Baiklah"
"Kapan aku berangkat?"
"Malam ini"
"Hm" angguk Alea.
Setelah berbincang dan mempertimbangkan semuanya. Maxi keluar dari ruangan Alea, membiarkan Alea untuk istirahat.
Maxi terus berpikir bagaimana bisa Alea seperti itu, setau Maxi keturunan bahkan para leluhurnya tidak mempunyai penyakit seperti itu.
Selain itu, kenapa Sean bisa bisanya membiarkan Alea pergi dari apartemennya. Maxi benar-benar dibuat kesal oleh sikap Sean yang seperti itu.
(Apa aku harus menyetujui Alea bercerai dengannya? tidak. Aku harus lebih dewasa, itu hanya pemikiran sesaat) pikir Maxi.
"Ada apa?" tanya Clara yang melihat raut wajah suaminya tidak baik.
"Tidak apa-apa, hanya ada masalah kecil"
"Jika masalahnya kecil, Alea tidak mungkin pulang kemari"
"Sayang, aku akan menceritakan nya padamu nanti ya"
"Hmm baiklah"
Disisi lain Sean mulai beranjak dari duduknya, ia mengambil kunci mobil lalu melajukannya dengan kecepatan tinggi.
Sesekali Sean memukul stir kendali, dan kini ia menuju pantai dimana tempat biasanya ia menenangkan dirinya.
"Ada apa dengan semua ini" pekik Sean pelan.
Baru saja Sean mengatakan kalimat itu, tiba-tiba ada seorang kakek yang hendak menyebrang membuat Sean segera menginjak rem dengan cepat.
Hampir saja Sean menabraknya. Namun untung nya Sean berhasil menghentikan mobilnya.
Setelah berhenti, Sean membantu kakek tersebut menyebrang dan meminta maaf kepadanya karena telah mengejutkan kakek itu.
"Tidak apa apa" balas kakek itu.
"Kalau begitu saya pamit kek" ucap Sean mendapat anggukan dari sang kakek.
"Tunggu nak" panggil Kakek tiba-tiba.
Sean berbalik, ia kembali mendekat pada kakek itu.
"Ingatlah tujuan awalmu"
"Maksud kakek?"
"Menikah bukanlah hanya tentang seorang anak. Namun juga cinta, dan memiliki satu sama lain" jelas kakek tersebut.
Sean terdiam beberapa saat, lalu tak lama Ia kembali berpamitan untuk pergi.
Selesai memasuki mobilnya, Sean kembali melajukannya dengan kecepatan sedang.
Sepanjang perjalanan Sean terus memikirkan apa yang dikatakan kakek tersebut. Bahkan saat sudah sampai di pesisir pantai, Sean masih terdiam memikirkan hal tersebut.
Pandangannya lurus melihat luasnya lautan. Pikiran sedang bergelut dengan apa yang terjadi padanya.
Hingga tak terasa siang berganti malam, Sean masih berada disana dengan posisi yang belum berubah.
"Tidak, kenapa aku harus seperti ini. Alea juga tidak menginginkan hal ini. Dan aku menikah dengannya bukan karena ini. Aku sangat ingin memilikinya dan melindunginya. Aku harus bisa menerima apa adanya. Alea, maafkan aku. Apa yang sudah kulakukan"
Sean mengacak rambutnya, dengan cepat ia segera berbalik dan masuk ke dalam mobil miliknya menuju rumah Maxi.