Alea memegang kepalanya, ia sedikit memijat di bagian pelipis kanannya. Rasanya sangat pusing memikirkan hal ini.
Alea tidak bisa tidur, ia terus duduk dengan posisi yang sama sampai pukul delapan pagi hingga Sean terbangun dan membuka matanya Alea masih memegang kepalanya. Bahkan Alea tidak menyadari bahwa Sean sudah bangun dari tidurnya.
"Sayang" panggil Sean.
"I-ya?" balas Alea yang langsung melihat ke arah Sean.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Sean.
"Aku tidak apa-apa, apa kita bisa pulang hari ini?"
"Sepertinya bisa, kamu mau pulang?"
"Iya, rasanya tidak nyaman berada di rumah sakit terus, lagian juga aku sudah membaik"
"Baiklah, kalau begitu aku akan mengurusnya lebih dulu. Kamu tunggu disini"
"Hm" angguk Alea.
Sean beranjak dari duduknya, ia berjalan keluar menuju dokter dan administrasi. Selesai itu Sean kembali dan membawa Alea pulang ke apartemen.
Di apartemen Alea terus berbaring di kamar, sedikit berbicara dan bergerak. Sean melihat tingkah Alea, ia merasa ada yang aneh dengan istrinya.
Esok harinya, Alea masih bersikap seperti itu. Namun sekarang ia sudah mulai bergerak menuju dapur untuk memasak melakukan aktivitas seperti biasanya.
"Selamat pagi sayang" ucap Sean merangkul Alea dari belakang yang sedang memasak makanan.
"Selamat pagi" balas Alea.
Sean diam, aneh rasanya mendengar balasan Alea yang sangat lesu seolah tidak mempunyai semangat untuk menjawabnya. Namun Sean juga tidak bisa melakukan apapun, karena saat bertanya Alea pasti menjawab dengan hal yang sama 'aku tidak apa-apa'.
Sean enggan untuk bertanya lagi karena melihat situasi mood Alea, hal itu kini membuat sebuah jarak di antara mereka.
Alea sudah kembali ke butik, ia disambut dengan senang oleh para karyawannya. Alea bersikap normal seolah tidak terjadi apa-apa padanya.
Seharian ini Alea kebanyakan diam, ia terus berpikir bagaimana langkah yang harus dirinya ambil.
"Apa aku meminta cerai?" pikir Alea.
Alea memejamkan matanya, menyandarkan kepalanya ke belakang kursi miliknya.
Alea tidak ingin meninggalkan Sean, namun ia juga tidak bisa jika terus bersamanya. Dirinya tidak bisa memberikan keturunan bagi Sean, setau Alea, Sean sangat menginginkan keturunan untuk meneruskan semua bisnis dan aset miliknya.
Beberapa hari ini Alea terus berpikir namun ia belum juga menemukan jalan keluar lainnya. Yang ada dipikirannya hanya ada dua. Cerai atau dimadu.
"Aku tidak mau dimadu" gumam Alea.
Alea kembali berpikir dengan keras, dari dua pilihan itu. Alea harus putuskan malam ini atau semuanya akan semakin menyakitkan.
Malam sudah tiba, Alea juga sidah berada di apartemen bersama Sean.
Sean sedang membersihkan tubuhnya, dan Alea ia tengah memasak untuk makan malam.
Selesai Sean bersiap, keduanya kini mulai duduk dan memakan makanan yang sudah dihidangkan di meja makan.
Suara dentingan garpu dan sendok rasanya terdengar cukup keras, entah mungkin itu karena keduanya yang hanya diam membuat suasana sangat hening.
"Alea"
"Sean"
Panggil keduanya secara bersamaan.
Alea dan Sean saling memandang, tak lama mereka tersenyum.
"Kamu dulu"
"Kamu saja"
Ucap keduanya yang lagi-lagi secara bersamaan.
"Ada apa, katakan saja" ucap Alea kembali menyantap makanannya.
"Alea, apa kamu baik-baik saja?" tanya Sean.
"Aku baik-baik saja" balas Alea.
"Akhir-akhir ini aku merasa ada yang aneh. Semenjak kamu keluar dari rumah sakit. Apa ada yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Sean membuat Alea menghentikan gerakan tangannya terdiam sejenak.
"A-ku tidak apa-apa" balas Alea.
Rasanya sulit sekali untuk mengatakan hal sebenarnya pada Sean. Alea benar-benar bingung, apakah ia harus memberitahu Sean yang sebenarnya atau tidak.
"Sean" panggil Alea.
"Iya"
"Aku akan kembali ke rumah kakak" ucap Alea membuat Sean sedikit terkejut.
"Kembali? maksud kamu?"
"Aku akan pergi dari rumah ini sementara"
"Why?"
"Aku hanya perlu waktu untuk mengatakan semuanya"
"Ada apa? bicaralah sekarang.
"Aku belum bisa" balas Alea beranjak dari tempat duduknya berjalan menuju kamar dan segera mengambil koper miliknya yang ternyata sudah Alea siapkan sebelumnya.
Sean terdiam, lalu tak lama ia mengejar Alea yang saat ini sudah berada di luar pintu kamar dengan membawa koper miliknya.
"Alea" tahan Sean.
"Maaf" ucap Alea menghempas tangan Sean lalu melangkah pergi.
"Alea! jika ada masalah beritahu aku" teriak Sean.
Alea tidak memperdulikannya, ia memilih untuk tetap berjalan pergi dari apartemen itu.
"Alea bukannya kamu sudah berjanji tidak akan ada rahasia apapun di antara kita?" tegas Sean yang akhirnya membuat langkah Alea terhenti.
"Maaf, sepertinya aku mengingkari janji itu" jelas Alea.
"Alea! ada apa sebenarnya denganmu" ucap Sean yang sudah sangat kesal.
Sean sudah mencoba untuk menahan sikap Alea yang berubah sejak keluar dari rumah sakit.
Sikapnya yang terus diam, menjawab seperlunya, tidak perhatian bahkan saat tidur Sean ingin memelukpun Alea menghindar.
Sean sudah menahannya, namun kali ini ia sudah tidak bisa menahannya lagi.
"Kenapa suaramu meninggi?" teriak Alea.
"Tentu saja, aku sudah mencoba untuk berusaha menahannya dan sebaik mungkin bersikap baik padamu. Namun kamu masih saja seperti ini" jelas Sean.
"Oh, jadi kamu menyesal karena sudah bersikap baik padaku selama ini?"
"Bukan itu maksudku Alea"
"Baiklah, dengan begitu aku akan lebih tenang meninggalkan tempat ini"
"Alea! bisakah kamu menghargai bagaimana perasaanku?"
Hening,
Alea menarik nafasnya, ia memejamkan matanya beberapa detik.
"Aku tidak bisa hamil, aku harus pergi"
Deg
Sean terdiam, bagaikan mendapat sebuah bom dihatinya yang menghancurkan semua harapan yang ia inginkan.
Alea melihat sikap Sean, ia melihat pandangan Sean yang terkejut dan ada rasa kecewa di dalamnya.
Alea tersebut sinis, ternyata benar. Hal ini yang Alea takutkan, Sean tidak akan peduli lagi dengannya.
Tanpa sadar Alea meneteskan air matanya, dengan cepat Alea menghapusnya lalu pergi menuju pintu keluar dari apartemen.
Alea sempat menghentikan langkahnya saat sudah berada di luar. Ia berharap Sean akan menghentikannya atau mengatakan hal yang baik padanya.
Namun dirinya salah, tidak ada tanda tanda apapun yang menunjukan bahwa Sean akan mengejarnya atau menghentikannnya.
Alea merasa kecewa sekaligus sakit dalam hatinya. Apa Sean menikahinya hanya karena ingin mempunyai keturunan?
Lagi-lagi Alea tersenyum sinis. Ia membuang wajahnya lalu melanjutkan langkahnya memasuki lift dan meninggalkan apartemen itu.
"Kak, kakak dimana?" tanya Alea memegang ponsel miliknya menelpon Maxi.
"Aku ingin bertemu, bisakah kakak pulang sebentar?"
"Baik ka, aku akan menunggu kakak di rumah" ucap Alea mengakhiri panggilannya.
Saat ini tujuan Alea adalah rumah Maxi, satu satunya keluarga yang ia miliki.
Sementara Sean, ia duduk dengan memegang kepalanya. Tentu saja hal ini membuat dirinya sangat terkejut.
"Arghh!" teriak Sean membanting pas bunga yang ada di atas meja.