Hari ini kebetulan Sean tidak bisa menjemput Alea, karena Sean harus menemui kliennya. Sean juga sudah mengirimkan pesan pada Alea, bahwa dirinya tidak bisa menjemput nya dan mengirim Jamsh untuk menggantikan dirinya.
Saat ini Alea masih di sibukkan dengan mendesain untuk model baru di butiknya.
"Kepalaku sedikit pusing, apa karena belum makan?" pikir Alea dengan masih berkutat dengan pensil miliknya.
"Sepertinya aku harus istirahat sebentar" sambung Alea.
Alea mulai beranjak dari duduknya, ia mengambil gelas cangkir miliknya yang berwarna putih.
"Ka untuk kain ini baiknya disimpan dimana?" tanya Meli salah satu pegawai Alea.
"Hmmm, kita simpan disana saja" balas Alea sembari menuangkan air hangat pada gelasnya.
"Baik ka" balas Meli.
Alea tersenyum, ia hendak kembali menuju ruangannya. Hanya beberapa langkah tiba-tiba perut Alea terasa sakit. Sangat sakit, bahkan untuk melangkahpun rasanya tidak kuat.
"Kak, kakak tidak apa-apa?" tanya Meli yang melihat Alea memegang perutnya.
"Tidak apa-apa" balas Alea.
Meli masih melihat pergerakkan Alea, ia takut jika sesuatu terjadi padanya.
Dan benar saja, dalam hitungan menit Alea ambruk begitu juga dengan gelas yang ia pegang terjatuh dan pecah.
Semua yang ada di dalam butik terkejut mendengar suara gelas yang jatuh sekaligus Alea yang pingsan.
Meli menangkap tubuh Alea hingga Alea terjatuh dan menimpa tubuhnya. Hanya saja Meli tidak bisa menyelematkan gelas yang Alea pegang sehingga membuat semua karyawan panik.
"Kak, kak Alea?" panggil Meli.
"Cepat bawa kak Alea ke rumah sakit" pekik yang lainnya.
"Kalau begitu carikan taksi" timpal Meli.
"Sudah-sudah, aku sudah menghentikan taksi disana. Cepat" ucap Tira.
"Cepat juga" pekik Meli.
"Hey bantuin lah" sambungnya.
Dengan bekerja sama Alea sudah berada di mobil. Kali ini hanya Meli yang mengantarkan Alea dan yang lainnya melanjutkan kegiatan mereka mengelola pesanan yang masuk sangat banyak.
"Aku harap kakak baik-baik saja" ucap Meli.
"Pak lebih cepat" sambung Meli.
Sepuluh menit barulah mereka sampai di rumah sakit. Meli segera meminta tolong untuk membawa Alea ke dalam rumah sakit.
Dan saat ini Alea sudah ditangani oleh dokter.
"Bagaimana dok keadaannya?" tanya Meli melihat dokter keluar dari ruangan.
"Apa anda walinya?" tanya dokter.
"Ah iya, saya yang bertanggung jawab"
"Baiklah, kalau begitu ikut saya"
"Iya dok"
Meli mengikuti dokter dan masuk ke dalam ruangannya untuk mengetahui apa yang terjadi pada Alea.
"Ba-ik dok terimakasih" ucap Meli cukup terkejut dengan apa yang dijelaskan oleh dokter mengenai Alea.
"Apa aku harus memberitahu ka Alea?" pikir Meli.
Meli sampai di ruang inap Alea, ia memandang wanita yang menjadi atasannya namun seolah seperti keluarganya sendiri.
Alea adalah orang yang baik, pada pegawai nya pun Alea selalu menghargai dan mengerti dengan mereka semua. Oleh karenanya, saat melihat Alea pingsan semuanya sangat panik. Orang-orang dalam butik sudah bagaikan keluarga kedua bagi mereka.
"Meli" panggil Alea membuka mata melihat Meli yang menatap nya kosong.
"Mel" panggil Alea.
"Ah iya, kakak sudah sadar?" tanya Meli.
"Hm" angguk Alea.
"Ada apa?" tanya Alea yang tahu ada sesuatu yang terjadi pada Meli.
"Ti-dak apa-apa ka" balas Meli gugup.
"Kamu sudah bertemu dokter? apa yang dokter katakan?"
"Hmm"
"Tidak apa-apa, katakan saja"
"Tapi kak" ucap Meli merasa ragu untuk mengatakannya.
"Meli"
"Hmm, kata dokter kakak tidak apa-apa dan baik-baik saja" jelas Meli.
"Meli, jangan berbohong padaku"
Meli menundukkan kepalanya, entah ia harus menjelaskan pada Alea atau tidak.
"Dokter mengatakan, kalau ada permasalahan dengan rahim kakak. Sehingga kakak tidak bisa mempunyai a-nak" jelas Meli.
Deg
Alea terdiam, ia tidak bisa berkata apa-apalagi. Hatinya saat ini sangat hancur, bersama dengan harapannya.
Terlintas dalam pikiran Alea muncul wajah seorang lelaki yang tak lain adalah suaminya, Sean. Alea menutup matanya, hingga tak lama air matanya jatuh.
Meli hanya bisa diam melihat Alea yang kini menutup Matanya.
Alea mengganti posisinya, membelakangi Meli dan menangis dengan suara kecil mengeluarkan sesak dihatinya.
Alea sangat menginginkan seorang anak, apalagi Sean. Sean selalu berharap bahwa Alea segera hamil.
"Kak" panggil Meli.
"Meli, aku ingin sendiri. Dan tolong jaga rahasia ini. Hanya kau dan aku yang mengetahuinya" pinta Alea.
"Baik ka, kakak tenang saja. Kalau begitu kakak istirahat, aku akan menunggu kakak di luar ruangan" ucap Meli mendapat anggukan dari Alea.
Meli melangkah kan kakinya keluar ruangan, baru saja satu langkah ia keluar dari sana. Meli dikejutkan oleh Sean yang baru saja datang dengan nafasnya yang tersenggal-senggal.
"Meli, bagaimana keadaan Alea?" tanya Sean.
"Kak Alea baik-baik saja" balas Meli.
"Kembalilah ke butik, aku yang ajan menjaganya. Terimakasih"
"Baik kak" timpal Meli.
Sean segera masuk membuka pintu ruangan inap Alea.
Alea menoleh melihat siapa yang datang, mengetahui itu adalah Sean, Alea segera menghapus matanya.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Sean yang sudah berada di samping Alea.
"Aku tidak apa-apa" jawab Alea diiringi senyumnya seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
"Kenapa kamu bisa disini? bagaimana kata dokter? aku harus tahu, aku akan bertanya pada dokter" ucap Sean hendak pergi namun langkahnya dihentikan oleh tangan Alea yang meraih tangan Sean.
"Ada apa?" tanya Sean.
"Tidak usah bertanya, aku tidak apa-apa. Dokter bilang bahwa aku hanya kelelahan" tahan Alea.
"Sudah kuduga, kamu terlalu lelah karena bekerja sangat keras untuk butikmu"
"Kenapa mengomeliku?"
"Aku tidak mengomelimu" timpal Sean.
"Ah baiklah, aku minta maaf. Aku hanya khawatir kamu kenapa-napa sayang"
"Iya aku mengerti. Terimakasih" ucap Alea tersenyum.
"Duduk disini, aku sangat ingin kamu selalu disini"
"Hm" angguk Sean tersenyum lalu kembali duduk disamping ranjang Alea.
Sean mengusap lembut rambut Alea, ia memandangnya dengan perasaan yang sangat dalam. Entah jadinya bagaimana Sean jika sesuatu terjadi pada Alea.
Sementara itu, Alea memejamkan matanya. Ia menarik nafasnya dalam merasakan kehangatan yang diberikan Sean.
(Maaf Sean, aku tidak bisa memberikan keturunan untukmu) gumam hati Alea.
Dadanya kini terasa semakin sesak, air matanya sangat ingin mengalir namun ia tahan. Alea tidak ingin Sean mengetahui hal ini dan menjadi sedih.
(Apa yang harus aku lakukan) pikir Alea mengeratkan pejaman matanya.
Malam ini Sean masih setia menunggu Alea, bahkan ia sampai terlelap dalam tidurnya dengan bertumpuan pada kedua tangan yang dilipat.
Alea membukanya matanya, sebenarnya semenjak siang Alea tidak bisa tidur karena terpikirkan hal itu.
Alea mulai berganti posisi menjadi duduk, ia melihat ke arah Sean yang sedang tertidur.
"Sean, jika kamu tahu, apa yang akan kamu lakukan? apa kamu akan meninggalkanku?" pikir Alea.
"Atau, aku harus mengizinkanmu untuk menikah lagi?" sambungnya