Sean tersenyum, ia menggerakkan tangannya memberikan semangat pada Alea.
Alea tersenyum, kini rasa gugupnya sedikit menurun.
"Ok semuanya bersiap, acaranya akan segera di mulai" ucap salah satu kru.
"Tiga, dua, satu"
Perlombaan kini sudah di mulai, semuanya sangat gugup melihat dena kotak yang ada di depan.
Setiap orang maju satu persatu untuk mengambil undian, lalu ketika membukanya mereka akan melihat sebuah kata dimana kata itu menjadi tema untuk para peserta dalam membuat sebuah pakaian atau desain.
"Bahagia" lirih Alea membaca kata yang tertulis dalam selembar kertas yang ia bawa.
Alea mengernyitkan dahinya, ia mulai berpikir untuk membuat pakaian apa yang cocok dengan tema bahagia.
"Bahagia" lirih Alea lagi dengan memejamkan matanya mencoba untuk mencari ide yang muncul di pikirannya.
Alea menarik nafasnya beberapa kali, namun ia masih belum mendapatkan apa yang dipikirkannya.
Waktu seolah berjalan dengan cepat, Alea melihat kanan dan kiri. Semua lawannya sudah membuat desain, sedangkan dirinya masih berpikir apa yang akan ia desain.
"Tenanglah Alea, ayo tenang" gumam Alea mencoba untuk tetap tenang.
Hingga beberapa detik barulah Alea mendapatkan sebuah ide.
"Aku tahu" pekik Alea yang langsung mengambil pena dan mulai mendesain.
Kini semua peserta tengah sibuk dengan desainnya masing-masing.
"Dia memang istriku" pekik Sean.
Sean tersenyum dari kejauhan saat melihat Alea yang mulai tenang dan melakukan semuanya dengan teliti.
Waktu berlalu cukup lama, para pembawa kamera berjalan kesana kemari mengikuti juri mendatangi satu persatu peserta.
"Ok, waktu kalian tinggal sepulu menit lagi" ucap ucap host yang membawakan acara tersebut.
"Lima menit lagi"
"Stop, waktu kalian sudah habis"
Semuanya serentak berhenti dengan kegiatannya masing-masing.
Alea membuang nafasnya lega, ia berhasil menyelesaikan desainnya tepat waktu.
Setelah semuanya selesai, kini saatnya para model memakai baju yang sudah dirancang oleh para peserta.
Model itu satu persatu bejalan lenggak-lenggok menunjukkan pakaian yang sangat indah.
Selain juri yang akan memberikan penilaian, penonton di rumah juga memberikan voting untuk model pakaian yang mereka sukai.
Hingga tak lama, hasil dari pengumutan suara dan hasil penilaian juri akan di umumkan.
"Terimakasih kepada semua yang telah berpartisipasi dalam perlombaan ini. Kali ini saya akan membacakan siapa saja yang akan masuk ke babak final. Dan bagi yang belum masuk jangan bersedih, kalian masih bisa mengikutinya tahun depan" jelas host.
"Ok, yang masuk ke dalam babak final adalah...."
Hening, semua peserta merasakan ketegangan yang sama, begitupun dengan Alea.
"Selamat kepada Yangyi, Alea, dan Angel" teriak host itu dengan meriah, tak lama disusul dengan musik kemenangan dan taburan kertas emas juga tepuk tangan para penonton.
Alea tersenyum bahagia, rasanya ia ingin melompat dan berteriak. Alea melihat ke arah Sean, disana Sean juga tersenyum. Ia berdiri dengan tepuk tangannya dan memberikan dua jempol pada Alea.
Ketiga finalis saling berpelukan untuk menandakan mereka berdamai. Tak lupa meraka juga mengucapkan banyak terimakasih bagi yang sudah memilih pakaian mereka.
Mereka juga mengucapkan kata terimakasih untuk orang-orang tersayang nya.
Perlombaan hari ini berhenti sampai disini, babak Final akan di lanjutkan esok harinya.
"Selamat sayang" ucap Sean.
"Terimakasih" balas Alea tersenyum bahagia.
Mereka sudah sampai di apartemen, Alea membantu Sean membuka jasnya. Setelah itu, mereka membersihkan diri masing-masing dan bersiap untuk tidur.
"Alea" panggil Sean.
"Iya"
"Haruskah kita merayakan kebahagiaan ini?"
"Maksudnya?"
"Bagaimana kalau kita membuat Sean junior" bisik Sean.
"Yaampun, kamu ya. Bukannya baru seminggu yang lalu kita melakukannya" balas Alea.
"Memangnya kenapa? ayolah sayang"
"Hmm" pikir Alea
"Ya? malam ini saja" tanya Sean yang akhirnya mendapat anggukan dari Alea.
"Kau memang yang terbaik" kecup Sean.
"Kemarilah, biar ku mulai"
"Hey pelan-pelan"
"Ah baiklah, aku akan pelan-pelan"
...
Pagi kini sudah menyambut keduanya, Alea membuka matanya. Ia mengambil ponsel di atas laci.
"Apa? aku akan terlambat jika seperti ini" ucap Alea hendak berdiri.
"Aw" pekik Alea tiba-tiba.
Tubuhnya kini terasa remuk, bahkan untuk beranjak dari ranjangpun rasanya tidak kuat.
"Sudah bangun? kenapa pagi sekali?" tanya Sean dengan mata yang masih belum terbuka.
"Ayo bangun, kamu jadi kan nemenin aku masuk babak final?" ucap Alea.
"Babak final?" pekik Sean yang masih mengumpulkan nyawanya.
"Bangunnnn" ucap Alea.
"Iya sayang"
"Gimana? jadi nemenin nya?"
"Jam berapa sekarang?"
"Jam delapan"
"Jam delapan? bukannya kamu harus pergi kesana?" ucap Sean yang kini mulai duduk.
"Kan aku sudah bilang dari tadi, tapi"
"Tapi apa?"
"Badanku sakit semua, ini gara-gara kamu" ucap Alea membuat Sean tersenyum.
"Baiklah aku minta maaf" ucap Sean lalu mengecup kening sang istri.
Alea tersenyum, ia mengusap kepala Sean dengan lembut.
Mata mereka saling memandang satu sama lain, terlihat jelas kasih sayang mereka yang sangat dalam pada kedua bola matanya.
"Alea"
"Iya"
"Tetaplah bersamaku"
"Tentu saja" balas Alea mengecup singkat bibir Sean.
"Hey, kau seperti ini membuatku ingin melakukannya lagi" goda Sean.
"Sudah, ini sudah siang. Kita hanya punya waktu satu jam. Belum lagi nanti di perjalanan"
"Baiklah-baiklah kamu akan lolos kali ini, sekarang lebih baik kamu bersiap lebih dulu"
"Ya aku mau, tapi"
"Ah iya badanmu, kemari biar aku gendong. Kita mandi bersama saja" ucap Sean yang langsung menggendong tubuh Alea yang tanpa mengenakan busana apapun.
"Aku bisa sendiri tunggulah beberapa menit, turunkan aku" pinta Alea.
"Tidak bisa"
"Jika kau mandi denganku akan sangat lama" timpal Alea.
"Tidak, aku janji tidak akan melakukan apapun. Ini hari yang penting aku juga tahu sayang"
"Hmm, baiklah" ucap Alea pasrah.
Beberapa menit telah berlalu, satu menit lagi mereka akan terlambat. Untungnya mereka sudah sampai di lokasi, dan hanya melewatkan dua menit.
Alea segera bersiap, dan memulai untuk perlombaan.
Semuanya berjalan lancar, hingga Dams idola Alea menghampirinya dengan tatapan seolah mereka pernah bertemu.
"Oh hallo" ucap Alea menyapa Dams.
"Hallo, apa yang kamu buat" tanya Dams dengan pandangan yang fokus pada Alea, bukan pada desain nya.
"Pakaian" jawab Alea polos membuat Dams menahan tawanya.
"Aku tahu, maksudnya tema apa yang kamu ambil?"
"Oh ya maaf. Tema yang saya ambil adalah kasih sayang" ucap Alea yang sebenarnya terlalu gugup karena idolanya kini berada dihadapannya.
"Apa kau gugup?" tanya Dams yang melihat tangan Alea sedikit bergetar.
"Ah ya, aku sangat gugup. Karena anda disini" jawab Alea keceplosan.
"Oh baiklah kalau begitu aku akan pergi" ucap Dams.
"Tidak bukan begitu, maksud saya, saya mengidolakan anda. Dan saat ini saya sangat gugup karena tidak menyangka akan sedikit berbincang dengan anda" jelas Alea.
Dams tertawa, ia merasa senang dengan jawaban Alea.
"Aku senang mendengarnya, semoga berhasil" ucap Dams meninggalkan meja Alea.
"Terimakasih" balas Alea.
Disisi lain Sean yang melihat Alea dan Dams berbincang tertawa dan tersenyum membuatnya merasa kesal.
"Cih, memangnya harus selama itu juri untuk melihatnya" pekik Sean memasang wajah sinisnya.