"Bagaimana? sudah jelas?" ucap Sean.
Alea terdiam, tepatnya dirinya merasa bersalah pada Nara karena sempat mencurigai nya.
"Sepertinya hari ini aku akan ikut bersamamu" ucap Alea.
"Terserah kamu saja sayang. Yang terpenting saat ini, kamu harus membuatkan suamimu makanan enak" jelas Sean.
"Baiklah aku akan membuatkannya untuk" balas Alea beranjak dari duduknya.
"Oh ya, apakah harus aku memberi pelajaran pada wanita itu?" ucap Alea berbalik saat mendekati pintu keluar.
"Ah, istriku memang luar biasa" balas Sean.
Alea tersenyum mendengarnya, ia berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur untuk menyiapkan makanan pagi.
Hari ini Alea memasak cepat, ia juga mandi sangat pagi sekali.
Sean dan Alea melakukan sarapan bersama, setelah itu mereka berangkat bersama menuju perusahaan Sean.
Disana Alea mencari Nara, ia meminta maaf atas sikapnya yang menutup pintu dan sempat mencurigainya. Tak lupa Alea juga berterimakasih pada Nara karena telah membawa Sean pulang.
"Tidak perlu seperti itu nyonya. Aku hanya menjalankan tugasku, dan aku tidak menyalahkan sikap nyonya" ucap Nara.
"Tetap saja aku merasa berhutang maaf padamu. Sekali lagi aku minta maaf ya" jelas Alea.
"Iya nyonya" balas Nara.
Nara merasa kagum dengan Alea, pantas saja Sean sangat mencintai Alea. Alea tidak malu untuk meminta maaf meskipun itu paada bawahannya sendiri.
Alea berjalan keluar dari ruangan Nara, ia sudah meminta izin pada Sean untuk keluar.
Hari ini selain Alea pergi untuk menemui Nara, sebenarnya Alea juga berniat untuk keluar dan mencari tempat untuk butik barunya.
Semalam, Sean dan Alea sudah merundingkan hal ini.
Alea ingin mempunyai kesibukan nya sendiri dengan mengembangkan bakatnya dan mewujudkan mimpinya untuk mempunyai tempat butik sendiri.
Sean menyetujuinya, asalkan tempat butik itu tidak jauh dari perusahaan Sean. Sehingga Sean bisa datang kapan saja dan kapanpun. Selain itu, Sean juga bisa memantau Alea.
Alea sempat tidak menyetujuinya. Bagaimana pun juga Alea ingin mandiri, namun Sean memberikan pilihan padanya, menyetujuinya atau tidak membuka butik sama sekali.
Hal itu membuat Alea sedikit kesal, namun ia juga tidak bisa apa-apa karena sekarang Sean adalah suaminya yang harus ia hormati dan menghargai setiap keputusannya.
Hingga pada akhirnya Alea menyetujui untuk mencari tempat di dekat perusahaan Sean.
"Sepertinya ini cocok" ucap Alea yang kini sudah berada di toko kosong.
Toko itu tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Ruangan itu cukup bagi Alea yang baru saja pemula.
Alea mulai memasuki toko itu, diikuti dengan sang pemilik toko yang akan menyewakannya pada Alea.
Pemilik toko itu terus berbicara menjelaskan bagaimana kondisi toko tersebut.
Meskipun bayarannya sedikit tinggi, namun tempat ini begitu strategis. Apalagi, disini belum ada yang membuka butik. Selain itu, banyak orang yang berlalu lalang baik memakai kendaraan atau hanya sekedar berjalan.
"Aku menyukainya. Akan ku ambil" ucap Alea.
"Tentu saja silahkan, terimakasih" ucap pemilik toko itu.
Setelah berbincang beberapa menit akhirnya Alea telah selesai bertransaksi. Ia menyewa toko itu untuk jangka waktu satu tahun terlebih dahulu, jika memang baik dan cocok maka Alea akan memperpanjang tempat sewanya.
Kini kunci toko tersebut sudah diserahkan pada Alea.
Alea merasa senang sekaligus semangat untuk memulai bisnis kecilnya.
"Baiklah kita akan mulai dari mana" ucap Alea kembali melihat sekeliling toko itu.
"Sepertinya aku harus memperbaiki tatanan di toko ini" sambung Alea.
Ia meraih ponsel miliknya untuk menghubungi Sean. Alea sangat ingin memberitahu Sean bagaiamana kondisi tokonya dana alamat toko itu.
Mendengar apa yang dikatakan Alea , Sean juga ikut senang. Ia datang untuk menemui Alea sekaligus melihat bagaimana toko yang akan menjadi butik Alea.
Hanya dalam beberapa menit Sean akhirnya sampai di tempat Alea.
Ia melihat istrinya tengah berada di dalam ruangan itu, Sean masuk lalu mengejutkan Alea dengan memeluknya dari arah belakang.
"Aaaaaa" teriak Alea berbalik dan memukul Sean.
"Ini aku Alea" ucap Sean.
Alea menghentikan tangannya, ia melihat ke arah Sean. Ternyata itu memang benar suaminya.
"Apakah sakit? kenapa melakukan itu" tanya Alea.
"Memangnya tidak boleh?"
"Bukannya tidak boleh, kamu membuatku terkejut" pekik Alea.
"Hmm baiklah maafkan aku" balas Sean mengecup kening sang istri.
Alea tersenyum, ia sedikit mencubit pinggang Sean karena merasa kesal padanya namun tetap tidak bisa marah pada Sean.
"Hey kenapa mencubitku?" pekik Sean.
"Tidak" sanggah Alea.
"Kau ini" balas Sean menggelitik pinggang Alea.
"Sudah-sudah" ucap Alea dengan tawanya karena geli.
Sean menghentikan gerakannya dengan akhir tangannya yang memeluk Sean.
"Bagaimana kau suka dengan tempat nya?" tanya Sean.
"Hm, aku menyukainya. Aku akan memulainya di tempat ini" jelas Alea.
"Baguslah, kalau begitu kau harus tetap semangat. Apalagi bulan depan kamu akan mengikuti perlombaan"
"Iya, terimakasih" balas Alea.
"Hm" balas Sean.
"Besok kita akan merubah tempat ini" sambung Sean.
"Besok?"
"Ya, lebih cepat lebih baik"
"Ok" balas Alea dengan senang.
Selesai melihat lihat, Sean dan Alea kembali ke apartemen untuk beristirahat.
...
Paginya kini Alea sudah bersiap, ia juga sudah memasak makanan untuk Sean.
"Aku sudah meminta beberapa orang untuk merenovasi toko tersebut" ucap Sean menyantap makanannya.
"Terimakasih sayang" balas Alea.
"Oh ya, apa kamu sudah menyiapkan nama untuk butikmu?"
"Sudah"
"Apa?" tanya Sean penasaran.
"Aku memberi nama 'Butik Seanle', bagaiamana?"
"Seanle?"
"Iya, singkatan dari Sean and Alea"
"Bagus, itu bagus sekali. Apalagi ada namaku. Pasti akan sangat laris" pekik Sean.
"Kalau begitu aku ganti jadi-"
"Hey aku bercanda" potong Sean.
"Aku juga" balas Alea.
Sean menggelengkan kepalanya, ia mengacak lembut rambut Alea.
Hari ini berjalan seperti biasanya, Sean berangkat menuju perusahan nya. Sedangkan Alea, ia terus berlatih untuk mengikuti perlombaan yang akan ia ikuti.
"Aku harus memenangkan kesempatan ini" pekik Alea dengan semangat.
Hari berganti menjadi minggu, minggu berganti menjadi bulan.
Dan hari ini adalah hari dimana Alea mengikuti perlombaan yang sudah ia siapkan dari bulan lalu.
"Kamu harus semangat, aku berada disana. Jika kau gugup lihat aku, aku akan selalu mendukungmu" ucap Sean.
"Baiklah" balas Alea dengan senyumnya.
Apa yang dikatakan semua orang memanglah benar, Alea sangat beruntung mendapati seseorang seperti Sean.
Lelaki yang selalu mendukung dan memberikan semangat padanya.
"Aku bersyukur karena kamu menjadi suamiku. I Love You" ucap Alea.
"Ah kau ini membuatku gemas saja. I Love You to" balas Sean mengecup kening sang istri.
"Aku kesana dulu" tunjuk Alea pada meja yang sudah disiapkan untuk para peserta.
"Hm" angguk Sean.
Alea berjalan dan mengikuti arahan para kru sekaligus juri.
Alea mengedarkan pandangannya, lawannya terlihat sangat modis dan seperti berpengetahuan luas.
Hal itu membuat Alea semakin gugup.
(Jika kau gugup lihat aku disana)
Alea mengingat apa yang dikatakan Sean, kini matanya beralih pada Sean yang tengah duduk di antara jajaran penonton dan pendukung lainnya.