Diam, saat ini Sean hanya bisa diam melihat gambar dirinya yang sangat berantakan.
"Aku tidak berbuat apa-apa Alea" jelas Sean. Ia sangat yakin bahwa dirinya tidak melakukan hal yang salah.
"Kamu saja tidak ingat bagaimana kamu pulang, lalu apakah kamu akan ingat apa saja yang telah kamu lakukan?"
"Alea, percayalah padaku" ucap Sean.
"Aku sangat ingin percaya padamu, tapi semua bukti ini? parfum ini? tanda bibir ini? aku juga wanita normal" jelas Alea.
"Sudah Alea, jangan menangis" ucap Sean hendak menghapus air mata Alea namun ditepisnya.
"Kau bahkan lupa untuk mengabariku, aku sudah memasak sangat banyak dan menunggumu" ucap Alea dengan isak tangisnya.
"Maafkan aku Alea, mari kita bicarakan baik-baik" ucap Sean dengan nada sangat rendah.
"Aku tidak tahu" ucap Alea.
Sean langsung memeluk Alea, Alea sempat memberontak, namun Sean mengeratkan pelukannya hingga tak lama Alea mulai diam.
"Maafkan aku sayang, aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Dan aku akan menyelidiki semuanya. Percayalah aku tidak akan mengkhianati mu" jelas Sean.
Alea tidak menjawab apapun, ia masih menangis dan mendekap di pelukan Sean.
"Jangan pergi, aku benar-benar takut kehilanganmu" sambung Sean semakin mengeratkan pelukannya.
Setelah mulai tenang, Sean melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah mungil yang cantik itu.
Sean mendekatkan wajahnya, bibirnya mulai menyentuh bibir Alea. Sean memainkannya dengan perlahan, untuk membuat istrinya lebih tenang dan bisa berpikir jernih.
"Jangan marah lagi" ucap Sean kembali memeluk Alea.
Kruyukkk
Tiba-tiba perut Sean berbunyi. Alea menatap Sean, dan Sean hanya memasang cengiran kudanya.
"Sayang, masaklah. Apa kamu tidak kasihan pada suamimu yang kelaparan seperti ini?" ucap Sean.
"Hmm, baiklah aku ajan memasak untukmu" ucap Alea.
Sean mengambil koper Alea, dan Alea ia berjalan menuju dapur untuk memasak.
Selesai memasaknya, Alea memanggil Sean dan menyuruhnya untuk makan.
"Kamu sudah siap?" tanya Alea.
"Iya sayang" balas Sean duduk di ruang makan.
"Kapan kamu libur?" tanya Alea.
"Tidak tahu, memang nya kenapa?"
"Tidak" balas Alea.
Alea sangat ingin pergi ke luar bersama Sean. Sudah cukup lama mereka berdua tidak keluar bersama sama untuk berjalan jalan atau bermain.
Sean selalu sibuk dengan pekerjaan yang semakin hari semakin sibuk.
Sementara Alea, ia selalu di rumah sendirian. Terkadang dirinya merasa sepi, pikirannya selalu kesana kemari.
Apa dirinya terlalu egois jika hanya ingin selalu bersama dengan Sean untuk berjalan jalan?
Alea jarang mengatakan apapun pada Sean, ia takut jika mengatakannya akan menambah beban pikiran Sean yang saat ini saja sudah pusing dengan urusan pekerjaannya.
Kembali ke topik, Sean sudah selesai memakan makanannya. Ia berpamitan pada Alea, seperti biasanya Alea akan mengantar Sean sampai ke depan pintu apartemen.
Tak lupa Alea juga mencium punggung tangan Sean, begitu sebaliknya Sean juga mencium kening sang istri. Sebelum pergi, mereka juga selalu mengucapkan kalimat 'I Love You' sebagai tanda perasaan mereka berdua, yang semakin hari semakin bertumbuh.
Sean melambaikan tangannya, ia mulai memasuki Lift.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan waktunya makan siang, hari ini Alea berencana untuk membawakan makan Siang untuk Sean.
Dengan pakaian yang sudah rapih, Alea mulai pergi menuju perusahaan Sean.
Tak membutuhkan waktu yang lama, kini Alea sudah berada di depan ruangan Sean. Ia mengetuk pintu lalu membuka pintu ruangan Sean.
Dan apa yang terjadi,
Alea malah melihat pemandangan yang tidak menyenangkan.
Ia melihat Sean tengah memeluk tubuh Nara yang tidak sadarkan diri. Wajah Sean terlihat sedikit panik, dan hal itu semakin membuat hati Alea terasa sakit.
"Sean" panggil Alea.
"Alea kamu disini? tolong panggilkan Jamsh" ucap Sean.
"Hm" deham Alea berbalik untuk memanggil Jamsh.
Beberapa menit kemudian, barulah Jamsh muncul.
"Jamsh tolong antar dia ke rumah sakit" ucap Sean.
"Baik tuan" balas Jamsh.
Alea masih diam, rasanya sedikit menyesal ia telah datang kemari.
"Sayang, ayo masuk" ajak Sean.
"Tadi-"
"Tadi tiba-tiba kepala Nara terasa pusing, dan tidak lama tubuhnya langsung ambruk. Aku hanya reflek menolongnya" potong Sean.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Alea tiba tiba membuat Sean diam menatap ke arah Alea.
"Alea, apakah aku terlihat seperti itu dimatamu? tidakkah bisa beri sedikit kepercayaan padaku?"
"Hm, baiklah aku minta maaf" balas Alea.
"Ayo makan, aku sudah memasaknya untukmu" sambung Alea berusaha untuk melupakan apa yang telah terjadi.
"Suapi aku" ucap Sean.
Walau sedikit malas, Alea berusaha untuk bersikap normal.
...
Sore ini sudah waktunya untuk pulang, Alea lebih dulu pulang dengan di antar oleh Jamsh. Sean takut hal hal seperti kemarin terulang lagi, jadi Sean memaksa Alea untuk menerima bahwa dirinya harus di antar oleh Jamsh.
Mau tak mau Alea menerimanya, dan kini Alea sudah selesai memasak di rumah dan siap menyambut kedatangan Sean.
Ting tong...
Bell apartemen berbunyi, tebakan Alea itu adalah Sean.
Alea melihat layar yang ada disamping pintu yang menempel pada dinding dengan ukuran yang tidak terlalu besar.
Layar itu adalah kamera dimana kita bisa mengetahui siapa yang memencet tombol bell pintu dan siapa orang yang ada di balik pintu.
Ternyata benar, itu adalah Sean.
Alea segera membuka pintu apartemen, ia memeluk Sean. Lalu Alea membawa Sean menuju meja makan yang dimana disana sudah banyak terhidang makanan yang beragam.
Semuanya terlihat sangat enak, dan beraroma sangat wangi. Membuat siapa saja yang melihatnya dan mencium bau itu pasti akan merasa lapar.
Begitu juga dengan Sean, saat ini perutnya sudah berbunyi kelaparan. Masakan Alea memang selalu membuat Sean sangat lapar.
Tanpa mengganti pakaiannya, Sean langsung duduk dan menyantap masakan buatan sang istri. Ia memakannya dengan sangat lahap.
"Pelan-pelan sayang" ucap Alea.
"Hm" balas Sean.
Alea tersenyum manis, ia merasa puas melihat Sean yang sangat lahap memakan makanan yang ia buat hari ini.
"Kau juga harus makan" ucap Sean.
"Nanti saja"
"Kenapa nanti? sudah sekarang ayo makan" paksa Sean.
"Aaa buka mulutmu" ucap Sean memberikan satu suapan pada Alea.
Alea tersenyum ia melahap suapan yang diberikan Sean.
Saat ini mereka berdua menikmati makanan yang ada di atas meja.
Hingga tak terasa Sean sudah menghabiskan semuanya.
"Sepertinya suamiku sangat kelaparan" pekik Alea dengan tawanya.
"Ya, begitulah. Dan sepertinya aku harus kembali sering berolah raga" balas Sean dengan mengusap perutnya.
"Aku mandi dulu ya" ucap Sean.
"Iya" balas Alea dengan senyumnya.
Sean melangkah pergi menuju kamarnya, ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
...
Tak terasa pagi kini sudah datang, seperti biasanya. Alea bangun dan beranjak dari tidurnya.
Ia masuk ke dalam kamar mandi mencuci wajahnya lalu bersiap untuk membuat sarapan pagi.
"Kenapa jas ini ada di sini" pekik Alea.
Alea mengambil jas yang dikenakan Sean saat kemarin. Mungkin Sean lupa menyimpan jas nya disana.
"Apa ini" ucap Alea merogoh saku jas milik sean.
"Bukti transfer?" sambung Alea.
Alea melihat dengan jarak dekat bukti transfer tersebut. Apa ia benar benar tidak salah lihat?
Nama yang tertulis di atas kertas itu adalah nama sekertaris nya Sean yaitu Narane Celline.
Alea mencoba membacanya dengan jelas, namun tetap saja nama itu tidak berubah. Kali ini Alea tidak bisa tahan, apalagi melihat nominal yang cukup besar di bukti transfer tersebut.
"Sean" panggil Alea.
"Hmm, iya sayang" tanya Sean.
"Apa ini?" tunjuk Alea.
"Apa?" tanya Sean bangun dari tidurnya mencoba membaca kertas yang diberikan oleh Alea.
"Oh ini bukti transfer" jawab Sean dengan santai.
"Lalu uang ini?" pekik Alea.
"Sean, bisakah kamu bangun lebih dulu. Lalu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi" ucap Alea.
"Baiklah sayang, seperti ini"
Sean memang mentransfer uang pada Nara, dan itu untuk biaya pengobatan neneknya. Sean melakukan itu karena merasa kasihan pada Nara, lebih tepatnya Jamsh yang memohon pada Sean agar Sean membantu nenek Nara.
Sepertinya Jamsh mulai menyukai Nara, bahkan saat Jamsh berkata ia meminta untuk memotong dari gajinya.
Tentu saja Sean merasa tidak enak, dan baru kali ini Jamsh meminta sesuatu darinya. Oleh karena itu, Sean mau membantu Nara untuk membayar pengobatan neneknya Nara.
"Jadi seperti itu sayang" ucap Sean pada Alea.
"Lalu malam itu" tanya Alea yang mengingat dimana Sean di antar oleh Nara dengan keadaan yang tidak baik.
"Begini Alea..."
Saat itu Sean sedang bersama Peter, dan Peter izin untuk pergi ke toilet. Dan disana Sean juga tidak menyadari bahwa diam diam Lisa adik Peter memasukkan sesuatu pada minuman Sean.
Sean selalu bisa minum dengan baik, hanya saja malam itu entah kenapa hanya dengan satu tegukan Sean sudah mulai linglung dan mabuk.
Peter meminta Sean untuk pulang, dan Sean menyetujuinya. Saat itu Peter sedang mengangkat teleponnya yang berdering.
Dan Sean karena mabuk, ia berjalan sembarang. Ternyata saat itu Lisa mengikutinya, hingga tak lama Lisa mulai membawa Sean.
Sean yang saat itu sedang mabuk tidak terpikirkan apapun. Sesaat Sean melihat wajah Alea, hingga ia menuruti Lisa yang entah membawanya kemana.
Lisa sudah membuka kedua kancing kemeja putihnya, bahakan ia sengaja menempelkan cap bibir di kemeja putih milik Sean.
Hingga tak lama saat Lisa ingin melanjutkan langkahnya Nara muncul dan langsung memukul Lisa hingga pingsan.
Nara sedikit terkejut, ia juga tidak mengira pukulannya akan membuat Lisa pingsan seketika.
Nara tidak memperdulikannya, ia segera membawa Sean kembali ke dalam mobil. Nara membawa masuk Sean ke dalam mobil, setelah itu ia memasuki kursi kemudi dan mengemudikannya.
Awalnya Nara tidak mengetahui alamat Sean, namun dengan kepintarannya akhirnya Nara bisa menemuka dimana Sean tinggal.
Sesampai di parkiran apartemen, Nara sedikit kesulitan membawa Sean, namun ia tetap berusaha agar Sean bisa sampai di apartemen nya.
Hingga tak lama Nara berhasil sampai di lantai dimana Sean tinggal. Dan tepat di saat itu, Nara melihat Alea yang baru saja keluar dari dalam apartemen.
Alea melihat Nara dan Sean dengan keterkejutannya. Tak lama dari itu, Alea segera meraih tubuh Sean dan membawanya sampai dengan menutup pintu dengan sangat keras.
Nara sedikit terkejut, dan ia tahu bahwa akan terjadi kesalahan pahaman antara dirinya dan Alea. Namun bagi Nara, sikap Alea sangat wajar. Masih baik Alea tidak memakinya dan mengusirnya dengan kasar.