Sean melihat pakaian yang dikenakan oleh Alea. Ia memalingkan wajahnya lalu menggerakkan tangannya sedikit memijat keningnya.
"Kenapa memakai pakaianku" tanya Sean.
"Hmm, aku tidak punya pakaian lain" balas Alea.
Sean beralih berjalan menuju ruang pakaiannya. Ia mengambil satu buah celana jeans pendek miliknya.
"Pakai ini" lempar Sean.
Alea kembali berdecak, untung kali ini tangannya sigap menangkap lemparan celana tersebut. Ia berjalan memasuki kamar mandi untuk memakainya.
Tak terasa hari ini sudah cukup larut, malam sudah datang dengan cahaya bulan yang bulat sempurna.
Tidak ada perbincangan dari keduanya, kurang lebih sudah tiga jam Alea memandangi laptop yang ada di hadapannya. Sean menyuruh nya untuk belajar dan beradaptasi dari benda itu. Ia sungguh tidak mau jika wanita itu terus merepotkan dirinya.
Kruyukkk...
Suara yang keluar dari perut Alea.
Gadis itu mengusap perutnya, ia menoleh ke arah Sean yang masih sibuk dengan laptop kerjanya yang lain.
"Kenapa melihatku begitu" tanya Sean yang menyadari hal itu.
Alea memasang cengiran kudanya, ia berjalan mendekat ke arah Sean.
"Aku lapar" ucap Alea yang duduk disamping Sean dengan kepala yang menghadap wajah Sean.
Tak ada jawaban apapun, Sean masih fokus dengan laptop yang ia mainkan.
(Kenapa masih diam) gumam hati Alea.
Alea terus menatap wajah lelaki itu membuat Sean merasa risih yang akhirnya tak lama dari itu Sean menoleh pada Alea.
Alea melebarkan senyumnya dan mengedipkan beberapa kali matanya, sedangkan Sean, ia membuang nafasnya kasar seolah mengatakan bahwa gadis itu telah mengganggu dirinya.
Sean mulai berdiri dan berjalan menuju dapur. Ia membuka lemari pendingin yang ada disana. Ternyata semua ruang dipenuhi dengan air putih.
Alea sedikit menoleh pada Sean, sungguh lelaki yang aneh.
"Jamsh, tolong belikan makanan" ucap Sean yang menempatkan ponsel miliknya pada telinga kanannya.
"Maaf tuan, perutku sedikit bermasalah. Sepertinya itu akan membutuhkan waktu yang lama" jelas Jamsh yang berada di seberang sana.
Sean mematikan ponselnya, sungguh malas jika harus keluar malam ini.
Kruyukk....
Lagi-lagi suara perut Alea berbunyi.
(Ada apa dengan orang ini, apa dia tidak lapar? perutku sudah sangat sakit) gerutu hati Alea.
Sean menoleh pada Alea, ia kembali melihat penampilannya.
"Tunggu disini" ucap Sean mendapat anggukan dari Alea.
Ia berjalan menuju kamarnya mengganti pakaiannya dan mengambil sesuatu yang ia perlukan.
"Pakai ini" lempar Sean.
Kini Alea hanya diam menangkap dengan sigap pakaian yang dilemparkan padanya. Sepertinya ia sudah mulai terbiasa dengan sikap Sean yang suka melempar barang padanya.
Tidak ada komentar apapun, Alea menuruti perintah Sean memakai baju yang dibawanya.
"Ini-" ucap Alea berjalan pada Sean menunjukan pakaian yang ia kenakan.
Sean yang melihatnya segera memalingkan wajahnya menahan tawa. Bagaimana tidak, saat ini Alea tengah memakai jas berwarna hitam set dengan celananya yang terlihat sangat kebesaran.
Tubuhnya bagaikan tenggelam dalam jas tersebut.
(Cih, kau sedang menertawakanku ya. Lihat saja nanti, aku memakainya karena memang sudah sangat lapar) gerutu hati Alea.
"Jalan" ucap Sean yang merasa puas dengan penampilan Alea.
Mereka keluar dari apartemen, menuruni lift dan memasuki mobil.
Seperti biasanya, tak ada perbincangan dari keduanya. Selain itu, Alea juga sedikit kesal dengan Sean yang memberinya pakaian ini.
"Stop, stop, stop." Pinta Alea membuat Sean mendadak menginjak rem.
Sean memasang mata elangnya menatap gadis yang ada di sampingnya.
"Hehee, sorry. Aku mau makan itu" tunjuk Alea pada gerobak bakso.
"Disana?" tanya Sean memastikan.
"Iya" yakin Alea menganggukkan beberapa kali kepalanya.
Sean sedikit menghembuskan nafasnya, ia meminggirkan mobilnya lalu mulai menuruni dan berjalan menuju gerobak bakso yang berada pinggir jalan dengan beberapa bangku beserta meja yang sudah disediakan.
"Pak satu" ucap Sean.
Setelah memesan, Sean menyusul Alea yang sudah duduk lebih dulu dengan sangat antusias.
"Kemari" ajak Alea menggerakkan tangannya.
Sean diam beberapa detik, lalu ia berjalan mendekati Alea. Dirinya sedikit enggan untuk duduk di kursi itu, ini adalah kali pertamanya Sean berada di tempat makan pinggir jalan.
"Kenapa? ayo duduk" ucap Alea menarik tangan Sean membuat lelaki itu duduk di sampingnya.
Sean merogoh saku jasnya, ia mengambil hand sanitizer lalu menyemprotkannya ke area terdekatnya termasuk Alea.
(Yaampun orang ini) pekik Alea dalam hati.
"Ini makanannya" ucap abang bakso menghidangkannya di depan Alea.
"Terimakasih" ucap Alea ramah.
"Sama-sam neng" balas abang bakso.
"Huaaaa, wangi sekali" pekik Alea dengan mata yang berbinar.
"Kenapa satu?" tanya Alea yang baru menyadarinya.
"Kau saja yang makan" balas Sean.
"Yakin? ini kayanya enak loh. Wanginya juga enak, emang gak laper?"
"Gak, udah cepet makannya" timpal Sean.
"Baiklah" ucap Alea menganggukkan beberapa kali kepalanya.
Srruuupppp ...
Alea menyeruput mie putih dari bakso tersebut.
"Enak sekali" ucap Alea sedikit melirik ke arah Sean.
"Ammm" Alea yang sengaja menggoda Sean memakan bakso berukuran kecil.
"Aduh ini enak sekali, apalagi baksonya. Di campur kuahnya yang gurih dan sedikit panas. Pas banget di makan malam hari" ucap Alea dengan khusu memakan bakso yang sangat enak.
Sean yang mendengar itu sedikit menoleh, namun dengan cepat ia kembali memalingkan pandangannya. Aroma bakso ini memang sangat pekat, begitu wangi dan mengeluarkan asap karena masih panas.
Perut Sean dibuat lapar ketika mencium aromanya, apalagi Alea yang terus menggodanya terlihat sangat menikmati bakso tersebut.
Kini Sean menelan salivanya, ia benar-benar penasaran dengan rasa bakso itu. Namun, rasa gengsi nya sangat tinggi.
"Apa kamu tidak ingin mencobanya?" tanya Alea yang melihat reaksi Sean. Ia tahu betul pasti lelaki yang ada disampingnya ini pasti sedang kelaparan, karena semenjak siang mereka belum memakan apapun.
"Ammm, nyam nyam nyam"
"Apakah seenak itu?" tanya Sean yang akhirnya membuka suara.
"Heem, enak sekali" angguk Alea dengan mulut penuh.
"Hm" deham Sean.
"Ayo coba, nih" ucap Alea menyodorkan satu sendok bakso kecil dengan mie.
Sean menggelengkan kepalanya, berusaha menahan dirinya.
"Sudah ayo makan, aku tahu kamu lapar" ucap Alea dengan paksa menyuapi Sean.
Hap.
Bakso tersebut masuk ke dalam mulut Sean. Ia mulai mengunyah dan mencicip rasa bakso itu.
Beberapa detik kemudian, Sea menoleh pada Alea.
"Enakkan?" tanya Alea antusias.
"Lumayan" jawab Sean mengontrol dirinya.
"Masih saja berbohong" lirih Alea pelan.
"Pak, baksonya satu lagi" teriak Alea pada abang bakso.
"Saya satu pak" sambung Sean.
Alea menoleh, ia melipat bibirnya menahan senyum melihat Sean.
"Apa?" tegas Sean.
"Tidak" timpal Alea kembali menyantap suapan terakhir mangkuknya.
"Ini baksonya" ucap abang bakso setelah beberapa menit.
Sean mengambil bakso tersebut, dengan cepat ia segera menyantap bakso yang ada di hadapannya.
Tiga puluh menit kemudian....