"Ahh kenyang sekali" ucap Alea memegang perutnya.
"Hm" balas Sean.
Alea terus menahan senyumnya melihat lelaki yang ada di sampingnya. Dirinya tidak menyangka ternyata Sean sanggup memakan bakso sebanyak empat porsi.
"Siapa sih yang awalnya gak suka" ledek Alea.
Sean memicingkan matanya, sedangkan Alea hanya terkikik kecil.
"Eh langsung naik mobil?" tanya Alea melihat Sean yang sudah memegang pintu mobil.
"Jalan-jalan dulu yu sebentar. Perutku terlalu kenyang" sambung Alea.
Kali ini Sean tidak menolak ataupun membantah, sepertinya hal itu juga dirasakan oleh Sean hingga dirinya menyetujui apa yang dikatakan Alea.
Mereka mulai berjalan menikmati hembusan angin malam yang menerpa dengan lembut. Langkah keduanya imbang, pelan dan beriringan.
"Awas" ucap Sean meraih tubuh Alea yang hampir terserempet motor.
"Jangan terlalu menengah, disini saja" sambung Sean menukar posisi mereka.
Alea menghembuskan nafas dalamnya, ia masih memegang dadanya karena masih terkejut.
"Terimakasih" ucap Alea.
Mereka kembali berjalan, kecanggungan pada keduanya semakin terasa.
Sean melihat arloji yang melingkar dipergelangan tangannya, sudah menunjukan pukul sembilan malam. Ini sudah waktunya untuk mereka kembali.
"Kembali ke mobil" ucap Sean.
"Hm" angguk Alea.
Belum sampai mereka mendekati mobil, tiba-tiba air hujan turun dari langit. Membuat mereka mempercepat langkahnya.
"Kucing itu" tunjung Alea.
Ia menghampiri kucing tersebut. Lalu membawanya ke pinggir bangunan yang teduh untuk menghindari hujan yang semakin lebat.
"Kenapa kau membawanya" tanya Sean yang sedikit menjauh.
"Memangnya kenapa? kasian kalau tidak aku bawa dia akan kehujanan" jelas Alea dengan mengelus kucing yang ada di pangkuannya.
"Boleh aku membawanya?" sambung Alea.
"Tidak" tegas Sean.
"Aku mohonnn" bujuk Alea.
"Tidak bisa"
"Sean, plis" ucap Alea memasang senyum imutnya.
"Terserah" jawab Sean memalingkan wajahnya yang terasa sedikit panas.
Mendengar jawaban itu, tentu saja membuat Alea semakin mengembangkan senyumnya.
"Sebelum dia memasuki apartemen, harus dibersihkan lebih dulu" ucap Sean.
"Baiklah" balas Alea.
Sean kembali memandang lebatnya hujan yang turun, entah sampai kapan mereka harus berdiri di sana menunggu hujan reda.
Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam, hujan masih saja turun menghalangi jalan mereka.
"Emm, dimana kita membersihkan kucing ini?" tanya Alea memecahkan keheningan.
"Grooming kucing Narane" balas Sean.
"Apa itu?"
"Toko tempat khusus untuk merawat kucing"
"Owhh, apa tidak terlalu malam?"
"Hm"
"Kita terobos aja hujannya"
"Yakin?"
"Yakin, yu" ajak Alea.
"Kemari" ucap Sean.
Ia membuka jas yang dikenakannya. Lalu Alea ia melangkah lebih dekat pada Sean.
"Hitungan ketiga kita jalan" ucap Sean mendapat anggukan dari Alea.
Tepat pada hitungan ketiga mereka berjalan keluar melangkah dengan kecepatan dan hentakan yang sama.
Alea merasa sangat gugup, kali ini Sean menggunakan jasnya untuk melindungi mereka dari air hujan yang turun membuat jarak mereka sangat dekat.
"Masuklah" ucap Sean membukakan pintu mobil dengan tangan yang satunya.
Alea mengangguk ia memasuki mobil dan duduk di kursi depan samping kemudi. Alea melihat Sean yang berlari memutar menuju kursi kemudi.
(Aku tahu, sebenarnya kamu adalah orang yang baik) gumam hati Alea.
"Pakai sabuk pengamannya" ucap Sean menyadarkan Alea.
"Hm" angguk Alea dengan salah tingkah.
Setelah itu, Sean menancapkan gas mobilnya dan melaju menuju Toko Narane.
Untung saja, toko Narane tidak terlalu jauh dari sana. Mereka hanya membutuhkan sekitar sepuluh menit untuk sampai disana.
Seharusnya toko Narane sudah tutup tiga menit yang lalu. Hanya saja tamu penting seperti Sean, tidak mungkin mereka lewatkan.
"Silahkan, kalian bisa menunggu disini. Kami akan membersihkan kucing ini dengan sebaik mungkin" ucap salah satu pegawai toko tersebut.
"Baik terimakasih" balas Alea.
"Tunggu, berapa lama" tanya Sean menghentikan langkah pegawai toko.
"Tiga puluh menit atau sampai satu jam"
"Oh baiklah. Lebih cepat lebih baik, dan harus sangat bersih" ucap Sean.
Pegawai itu menganggukkan kepalanya, ia berbalik dan berjalan dengan membawa kucing itu.
"Kau tahu, ternyata tuan Sean tampan sekaliii" ucap pegawai itu pada rekan yang lainnya.
"Aku sudah lihat dan memang sangat tampan" balas yang lainnya.
"Siapa wanita yang bersamanya?"
"Entahlah aku tidak tahu, yang pasti nona itu beruntung bisa bersama dengan tuan Sean."
"Bos kita lebih beruntung dan cocok"
"Aku tahu itu"
"Hus kalian malah bergosip, sudah cepat bersihkan kucingnya dengan baik"
Disisi lain, Alea dan Sean kini tengah menunggu di ruang tunggu.
Alea terus mengusap-ngusap lengannya karena sedikit kedinginan. Sean melihanya, ia memilih untuk pergi keluar.
"Mau kemana dia" gumam Alea melihat Sean melangkah keluar toko.
Alea tak ambil pusing, ia masih duduk dengan kedua tangan yang disatukan lalu di digosok untuk menambah kehangatannya.
Sudah lima belas menit namun Sean belum juga kembali, kali ini Alea mulai khawatir. Ia takut jika Sean akan meninggalkannya disni. Lalu kemana dia harus pergi?
"Kemana dia, kenapa belum juga kembali" lirih Alea yang mulai beranjak dari duduknya.
Hatinya terasa gusar tak menentu, ia melangkahkan kakinya berjalan menuju pintu kaca toko itu untuk melihat dan menunggu Sean.
Lima menit Alea sudah berdiri disana, tetapi Sean tak kunjung terlihat.
"Apa dia benar-benar meninggalkanku?" ucap Alea pelan.
Untuk menenangkan hatinya, Alea memilih keluar dari toko tersebut untuk mencari Sean.
"Kanan atau kiri?" pikir Alea menoleh ke kanan dan ke kiri setelah keluar dari pintu kaca toko Narane.
"Kanan lebih baik" sambungnya lalu berjalan mengambil arah kanan.
Awalnya memang biasa saja, namun perlahan suasana terasa sangat sepi. Alea semakin ragu melangkahkan kakinya, namun hatinya terus ingin mencari lelaki itu.
"Kemana sebenarnya dia, dan dimana ini" lirih Alea yang mulai kebingungan.
Sementara itu, Sean baru saja sampai di toko Narane. Ia membelikan sebuah minuman coklat hangat untuk Alea. Ia merasa tidak tega kala melihat Alea yang mulai kedinginan.
Sembari menunggu, Sean memutuskan untuk jalan-jalan keluar dan mencari minuman hangat yang masih buka.
"Kemana wanita yang bersamaku?" tanya Sean pada salah satu penjaga toko.
"Saya lihat, tadi nona terus menunggu tuan di depan pintu. Saya sempat memintanya untuk kembali duduk, namun nona berisi keras untuk keluar dan mencari tuan" jelasnya.
"Kemana dia" kesal Sean yang langsung melangkah keluar dengan tergesa-gesa.
Disisi lain, Alea saat ini masih berjalan menyusuri jalan yang semakin jauh dan semakin sempit. Ia tidak tahu jalan dan arah kemana dia pergi.
"Apa aku lebih baik kembali saja?" pikir Alea.
Alea menganggukkan kepalanya, ia memutuskan untuk kembali ke toko itu. Alea memutar tubuhnya, ia kembali berjalan meninggalkan tempat yang sedikit menakutkan.
"Kok putar balik"
Deg.
Langkah Alea terhenti saat mendengar suara berat khas lelaki.