Tak perlu menunggu lama, orang kepercayaan Sean yang tak lain adalah Jamshon sudah sampai dengan mengendarai mobil mewah berwarna hitam.
Lelaki yang mempunyai paras cukup tampan namun terlihat kaku memberhentikan mobilnya lalu keluar dan membukakan pintu mobil bagian belakang.
"Tuan" sapa Jamshon memberikan bow pada tuannya yang kini sudah berada di hadapannya.
Sean menganggukkan kepalanya, ia melangkahkan kakinya berjalan mendekat ke arah pintu mobil bagian belakang yang sudah terbuka.
"Mau kemana kau" tanya Sean dingin, kala melihat Alea yang berjalan dan hendak membuka pintu mobil.
"Aku? naik" jawab gadis itu dengan wajah polosnya.
"Aku tidak suka orang asing memasuki mobilku" ucap Sean memasuki mobilnya dan menutup pintu dengan sedikit keras.
Alea mengerutkan dahinya, lagi-lagi ia dikejutkan dengan sikap Sean yang ternyata berhasil membuat dirinya kesal setengah mati.
Memang benar dirinya adalah orang asing, tetapi setidaknya membantu orang yang kebingungan bukanlah masalah besar baginya.
"Jalan" ucap Sean pada Jamsh.
Jamsh mengunci pintu mobil dan menghidupkan mesin mobil membuat Alea tersadar dari lamunannya.
"Hey, ayolah aku tidak tahu harus kemana. Setidaknya aku pernah menolongmu" teriak Alea sekeras mungkin dengan mengetuk jendela kaca mobil yang kini mulai melaju.
Sean mendengar apa yang dikatakan oleh Alea, namun dirinya lebih memilih untuk tidak memperdulikannya.
"Tuan" panggil Jamsh.
"Hm" deham Sean melihat ke arah kaca kecil bagian depan yang langsung tertuju pada Jamsh.
"Itu-" potong Jamsh yang mengalihkan pandangan matanya ke arah kaca spion.
Sean mengikuti pandangan Jamsh, saat ini matanya tengah melihat Alea yang terus berlari mencoba untuk mengejar mobil mereka.
Lelaki itu berdecak, ia memalingkan pandangannya.
"Stop" pelan Sean pada Jamsh.
Jamsh yang mendengar kata itu segera menginjak rem membuat Sean memasang tatapan elang karena tubuhnya yang terjorok ke depan.
"Maaf tuan" ucap Jamsh yang melihat Sean.
Bruk!
"Suara apa itu?" tanya Jamsh mengalihkan pembicaraan.
Sean masih memasang wajah datarnya, ia beranjak keluar membuka pintu mobil.
"Kemana dia" gumam Sean mengedarkan pandangannya.
"Aw, bisa gak sih gausah berhenti mendadak" gerutu Alea memegang pinggulnya yang sakit terjatuh karena menabrak mobil.
Ia terlalu fokus dan cepat saat berlari untuk mengejar mobil tersebut sehingga dirinya tidak menyadari bahwa mobil itu sudah berhenti yang akhirnya membuat Alea menabrak mobil yang ada di depannya.
"Apa? ngapain liat-liat" jutek Alea melihat wajah Sean yang berusaha menahan tawanya.
"Sungguh kasihan" lirih Sean melihat pemandangan yang ada didepannya.
"Apa?"
"Tidak, masuk mobil sebelum aku berubah pikiran" timpal Sean dengan kembali berjalan memasuki mobilnya.
Alea menoleh, mendengar kalimat tersebut membuat dirinya segera berdiri melupakan rasa sakit yang ada pada pinggulnya. Ia membuka pintu mobil secepat mungkin lalu duduk disamping lelaki itu.
Hening,,
Atmosfer dalam mobil terasa canggung sekaligus tegang bagi Alea. Ia merasa dirinya telah di culik karena perjalanan yang terasa cukup jauh dan tidak kunjung berhenti.
Alea masih memainkan jari jemarinya untuk menghilangkan rasa bosan dan canggung yang ada dihatinya. Sesekali gadis itu menoleh pada Sean yang kini tengah menyandarkan kepalanya ke belakang kursi mobil dengan kedua matanya yang terpejam.
Jika dilihat-lihat memang lelaki yang berada disampingnya ini terlihat sangat tampan. Sepertinya siapapun yang melihatnya tidak akan pernah merasa bosan.
"Jangan lupa ngedip" ucap Sean yang menyadari hal itu walaupun dengan mata tertutup.
"Geer" balas Alea memalingkan wajahnya dengan bibir yang maju kedepan.
Beberapa detik kemudian,
"Emm, haii. Boleh ku tahu siapa namamu?" tanya Alea pada Jamsh.
"Jhamshon, panggil saja Jamsh" balas Jamsh.
"Oh, nama yang bagus. Salam kenal, aku Alea" ucap Alea mengulurkan tangannya.
"Jamsh, menyetir yang benar" timpal Sean membuat Jamsh mengurungkan niatnya untuk membalas uluran tangan Alea.
Sedangkan Alea ia berdecak kesal lalu kembali menyandarkan tubuhnya pada kursi mobil.
"Apakah ini masih lama?" pertanyaan Alea yang sedikit mengganggu Sean.
"Kalau tak bisa diam lebih baik turun sekarang juga" ucap Sean dingin.
Alea melipat bibirnya, ia mengalihkan pandangannya pada kaca jendela mobil. Sepertinya melihat pemandangan jalan jauh lebih baik daripada berusaha untuk mengajak lelaki itu berbincang.
(Sungguh kejam) gerutu hati Alea.
Sepuluh menit telah berlalu, akhirnya mobil itu berhenti di sebuah gedung apartemen yang menjulang tinggi mencakar langit.
"Wahhh tinggi sekali" pekik Alea yang baru saja keluar dari dalam mobil.
"Lihat, lihat itu" tunjuk Alea pada puncak bangunan dengan sangat antusias.
Sean masih diam, ia menoleh ke arah Jamsh. Sedangkan Jamsh, ia hanya tersenyum dan menelan salivanya seolah umurnya tidak akan panjang lagi.
"Hey tunggu" panggil Alea berlari kecil mengejar Sean yang meninggalkannya.
"Ah kepalaku" rintih Alea memegang keningnya dan menghentikan langkahnya. Disepersekian detik ada sebuah gambaran yang melintas dipikirannya.
"Masuk tidak" tanya Sean yang sudah berada di dalam lift.
"Ah iya tunggu"
Lagi-lagi Alea berlari seperti anak kecil, ia melangkah lebih cepat sehingga berhasil memasuki lift sebelum pintunya tertutup.
Bruk!
Sayang sekali, karena kecepatannya ia justru mendarat pada tubuh Sean. Hanya dalam beberapa detik kedua mata mereka saling menatap, namun dengan cepat Sean mendorong gadis itu.
"Jaga sikapmu" ucap Sean yang sudah merasa tidak nyaman.
"Hm" angguk Alea menjaga jarak sangat jauh dengan Sean.
Alea menundukkan pandangannya, sesekali ia melihat angka yang ada disamping dekat pintu keluar yang berwarna merah.
(Aw, kepalaku sedikit sakit. Kenapa aku merasa semua ini tidak terasa asing) pikir Alea memegang keningnya.
Ting.
Pintu lift sudah terbuka, Alea menyadarkan pikirannya. Ia segera membuntuti Sean yang langsung keluar dari dalam lift.
(Jangan sampai aku tertinggal lagi) gumamnya.
"Cukup untuk hari ini, sekarang kamu bisa pergi" ucap Sean pada Jamsh.
"Terimakasih tuan" balas Jamsh dengan memberikan bow lalu pergi menuju pintu apartemen yang ada di sebelahnya.
Ternyata tempat tinggal Jamshon berdampingan dengan Sean. Dimana ada Sean disitu ada Jamshon. Hal itu dikarenakan Sean yang selalu ingin Jamsh datang tepat waktu dan selalu ada dimanapun dan kapanpun.
Selain itu, mereka saling bekerja sama sudah sangat lama, bahkan Jamsh sangat setia pada Sean.
"Hanya ada satu kamar, tidurlah di kursi" ucap Sean memasuki kamarnya.
Alea masih terdiam, ia terpaku melihat isi apartemen itu. Tidak terlalu luas dan tidak terlalu kecil. Ukurannya cukup nyaman jika hanya untuk satu orang tinggal.
Sebenarnya bukan itu yang menarik perhatian Alea, yang menarik dirinya adalah kebersihan dan kerapihan ruangan tersebut.
Sangat bersih dan sangat rapih.
"Wah, apa ini" ucap Alea menyentuh sebuah layar hitam yang sangat besar.
Tap.
Jari telunjuk Alea yang menyentuh sebuah tombol kecil.
"Woah, kenapa ada orang-orang disana" sambung Alea.
Pluk.
"Bersihkan badanmu sangat kotor" ucap Sean melempar handuk putih pada Alea.
Alea mengambilnya dengan tatapan tidak suka, ia sedikit menggerutu dan berjalan.
Alea memang kehilangan ingatannya, namun tidak sepenuhnya ingatannya hilang. Ia masih mempunyai naluri kemanusiannya untuk bertahan hidup dan menggunakan banyak cara dengan benda yang ada di sekitarnya.
Pada dasarnya, Alea memang merupakan gadis yang sangat pintar dan daya tangkap yang baik.
Dirinya hanya perlu mengenal benda-benda yang menurutnya baru karena ia yang baru saja keluar dari hutan.
"Ah segar sekali" ucap Alea keluar dari dalam kamar mandi.
Ia melangkahkan kakinya berjalan keman saja yang ia mau dengan handuk yang masih melilit di tubuhnya. Sedangkan Sean, lelaki itu kini tengah sibuk di ruang kerjanya yang sudah di desain khusus dengan banyak teknologi canggih di dalamnya.
"Kemana dia" lirih Alea mencari keberadaan lelaki itu.
Klek
Alea yang membuka sebuah pintu.
"Wah rapih sekali, emang beda ya" ucap Alea melihat pakaian yang tertata rapih dan jam tangan, dasi juga yang lainnya yang berada di ruangan itu.
"Hmm, pilih yang mana ya" pikir Alea kala melihat pakaian yang menggantung disana.
"Kenapa warnanya sama semua" sambung Alea yang hanya melihat deretan kemeja putih dan jas yang warnanya tidak cerah.
"Ini saja" ungkap Alea mengambil salah satu kemeja Sean.
Ia mengambil kemeja itu lalu memakainya. Kemeja putih itu terlihat kecil, namun ketika Alea memakainya terlihat lebih kebesaran. Kira-kira panjang kemeja itu hanya sampai paha putih miliknya.
"Baiklah, mungkin begini sudah cukup" ucap Alea melihat pantulan dirinya di depan cermin.
Karena sudah selesai, Alea kembali keluar dan mencari keberadaan Sean yang tak kunjung ia temukan.
"Sea-"
"Sedang apa kamu disini" potong Sean yang baru saja keluar dari sebuah lemari.