Jamsh berjalan keluar, ia hendak memasuki lift. Namun lift tersebut tak kunjung terbuka.
"Kau masih disini?" tanya Sean mengejutkan Jamsh.
"Tuan sepertinya lift nya rusak" ucap Jamsh.
"Rusak?" pekik Sean.
"Apa jangan-jangan Alea terjebak disana" pikir Sean.
Tanpa berlama-lama, Sean berlari menuju tangga darurat untuk melihat ke ruangan cctv.
"Tuan" sapa penjaga bagian cctv.
"Biar saya lihat" ucap Sean langsung duduk dan mencari keberadaan Alea.
Sean melihat pada cctv yang ada di dalam lift, dan benar saja. Ia menemukan Alea disana bersama seorang laki-laki.
"Lantai sepuluh" lirih Sean.
Sean kembali berlari menuju lantai sepuluh dengan ponsel yang menyentuh telinganya. Sean menghubungi teknisi untuk segera datang.
Sementara itu, Alea masih mencoba mengaturnya pernapasannya yang semakin lama terasa semakin pengap.
"Ah kenapa lama sekali. Ponsel ini juga tidak ada sinyal" ucap Alea.
Sedangkan Dimas, ia hanya diam dan terus memperhatikan gerak gerik Alea.
"Kenapa kamu melihat ku seperti itu?" tanya Alea.
"Tidak, sudah jangan panik" balas Dimas.
"Hm"
"Alea? apa kau di dalam?" teriak Sean.
"Sean?" pekik Alea.
"Iya aku disini" balas Alea dengan berteriak.
"Tunggu sebentar lagi"
"Iya"
Terlukis rasa lega juga bahagia di wajah Alea. Berbeda halnya dengan Dimas, saat ia melihat Alea yang begitu kegirangan karena suara lelaki itu. Membuat Dimas mengulum senyumnya.
(Ternyata dia sudah mempunyai orang lain) pikir Dimas.
"Siapa?" tanya Dimas yang sangat penasaran karena bisa membuat Alea se senang itu.
"Suamiku" balas Alea mengembangkan senyumnya.
"Ah suami ya" ucap Dimas dengan nada kecewa.
"Ya, kami baru menikah tiga bulan yang lalu" sambung Alea.
"Selamat" ucap Dimas mengulurkan tangannya.
"Terimakasih" timpal Alea membalas uluran tangan Dimas.
Ting!
Pintu lift terbuka, Sean dan Dimas menoleh dengan posisi yang sama. Tangan mereka masih menggenggam dengan senyum diantara keduanya.
Sementara itu, Sean yang melihat pemandangan tersebut sangat tidak menyukainya.
Ia segera berjalan menuju Alea, memeluknya lalu meraih tangannya dan membawanya kembali ke dalam ruangannya menggunakan lift yang lain.
"Sean" panggil Alea.
"Hm" balas Sean tanpa menoleh.
Alea mengerutkan dahinya, ia tidak tahu mengapa sikap Sean tiba-tiba berubah seperti ini.
"Kamu kenapa?" tanya Alea.
"Tidak apa apa" balas Sean.
Alea diam, ia tidak mengajak Sean berbicara lagi. Sampai lift terbuka Sean malah berjalan lebih dulu meninggalkan Alea.
(Ada apa dengannya) pikir Alea.
Sean duduk di kursi kerjanya, dan Alea ia duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Mereka masih saling diam.
"Sudah ku bilang jangan pulang sendiri" ucap Sean.
(Apa karena itu dia begitu marah padaku?) pikir Alea.
"Hm" balas Alea.
"Kau tahu? aku sangat khawatir. Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu?"
"Aku tidak apa-apa Sean"
"Ya karena kali ini aku datang tepat waktu. Bagaimana jika tidak?" ucap Sean sedikit keras.
"Kenapa kamu meninggikan suaramu. Itu semua hanya sebuah kecelakaan. Aku juga tidak menginginkan itu" balas Alea.
Ia benar-benar bingung dengan sikap Sean. Pasalnya Sean tidak pernah sampai marah seperti ini.
Bahkan dulu juga pernah Alea pulang tanpa Sean, dan Sean tidak semarah ini. Tapi kenapa sekarang Sean sangat marah?
"Aku hanya khawatir padamu" ucap Sean yang mulai menurunkan nada bicaranya.
"Meskipun khawatir kamu tidak perlu membentakku" balas Alea yang entah kenapa mengatakan kalimat itu membuat dirinya ingin mengeluarkan air matanya.
(Alea jangan menangis) pekik Alea menguatkan dirinya sendiri.
Alea memilih untuk berbalik, ia berjalan menuju jendela kaca yang sangat besar. Dimana jendela itu menampilkan pemandangan kota yang sangat indah. Dengan ketinggian gedung itu, semuanya bisa terlihat.
Sean masih diam, ia memegang kepalanya dan sedikit memijat pelipisnya. Dan Alea, ia mulai menadahkan kepalanya dan mengedipkan beberapa kali matanya agar tidak menangis.
(Kenapa dia berlebihan seperti itu. Bukannya tadi dia memelukku di lift) pikir Alea.
Alea ingin berbicara dengan Sean, namun sikap Sean yang seperti itu membuat Alea malas untuk memulainya.
"Alea" panggil Sean.
Alea tidak menjawabnya. Ia masih diam memandangi pemandangan yang ada di bawah sana.
Tetapi tak lama dari suara itu, tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak melingkari tubuhnya dari arah belakang.
"Maaf kan aku" ucap Sean yang kini tengah memeluk Alea dari belakang.
"Hm" balas Alea.
"Maaf kan aku, aku hanya tidak suka kau memegang tangan orang lain" ucap Sean.
Alea mengernyitkan dahinya, apa yang di maksud Sean adalah Dimas?
"Maksud kamu Dimas?"
"Dimas? ah kau bahkan tahu nama lelaki itu"
"Hm, kami berkenalan di lift" jawab Alea dengan polosnya.
"Sudahlah, aku tidak jadi meminta maaf" ucap Sean hendak melepas pelukannya.
Alea segera mengehentikan pergerakkan Sean, ia tidak ingin jika Sean melepaskan pelukannya. Posisi seperti ini sangatlah nyaman.
"Kamu cemburu?" tanya Alea.
"Tidak"
"Bohong" ucap Alea menyembunyikan senyumnya.
"Ah sudah lah, malas" ucap Sean yang akhirnya melepas pelukannya.
"Seannnn" pekik Alea berbalik.
Alea memeluk Sean, rasanya sangat tidak menyenangkan jika dirinya bertengkar dengan Sean.
"Kami hanya kebetulan bertemu, dan dia menanyakan namaku. Lalu dia memperkenalkan namanya" jelas Alea.
"Dan kau menyukainya?" potong Sean.
"Ih kamu ini denger dulu. Saat kamu memanggilku, dia bertanya siapa itu. Dan aku menjawabnya suamiku. Dia mengucapkan selamat dengan mengulurkan tangannya, tentu saja aku harus membalasnya. Jika tidak apakah itu tidak sopan?"
"Hm" deham Sean.
"Tapi tetap saja aku tidak suka kau memegang tangan orang lain" sambung Sean.
"Ayolah suamiku, jangan marah lagi ya" bujuk Alea.
"Hm. Tunggu disini" ucap Sean berbalik menuju meja kerjanya.
Sean mengambil sebuah cairan, ia kembali pada Alea dan mengambil tangan Alea lalu menyemprotkan benda cair itu yang tak lain adalah hand sanitizer.
"Gatel" ucap Sean.
Alea tertawa di buatnya, kali ini ia melihat sisi lain dari suaminya. Ternyata Sean orangnya sangat cemburuan. Dan hal ini cukup membuat Alea senang.
Sesudah menyemprot tangan sang istri Sean menyimpannya kembali lalu memeluk Alea dengan sangat erat.
"Rasanya sangat nyaman memelukmu ketika pekerjaan sangat banyak" ucap Sean dengan memejamkan matanya.
"Jangan terlalu keras, jika kau lelah istirahatlah" balas Alea.
"Kalau begitu kamu setiap hari harus kesini" ucap Sean.
"Sayangku ini ada-ada saja" balas Alea mencubit pinggang Sean.
"Aw, kenapa kau mencubitku" ucap Sean.
"Entahlah" balas Alea dengan tawa kecilnya.
"Ayolah sayang, jangan mengajakku bermain disini. Nanti kalau Jamsh datang bagaiamana?" tanya Sean.
"Apa? aku tidak mengajakmu bermain" timpal Alea.
"Ya ya aku tahu" balas Sean.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Alea penuh curiga.
"Tidak, I Love You" ucap Sean berakhir dengan kecupan di kening Alea.