Tiga bulan kemudian....
Semuanya berjalan seperti biasanya, keharmonisan keluarga Baker dan Deacon terasa semakin hangat.
"Aku berangkat dulu ya sayang" ucap Sean mengecup kening Alea.
"Iya, semangat suamiku" balas Alea.
Sean pergi menuju perusahaannya melanjutkan aktivitas seperti biasanya.
Saat ini Alea berada di apartemen Sean, biasanya setelah Sean pergi ia akan membereskan apartemen tersebut.
Sean sempat menawarkan sebuah rumah pada Alea. Namun Alea memilih untuk tetap tinggal di apartemen ini.
Menurut Alea apartemen ini mempunyai banyak cerita tentangnya da Sean. Selain itu, Alea juga sangat nyaman tinggal di apartemen ini.
"Kertas apa ini?" lirih Alea saat melihat map berwarna biru.
Alea membukanya, ia membaca map tersebut. Ternyata itu adalah sebuah berkas milik Sean.
"Ini sepertinya sangat penting" ucap Alea.
Alea segera mandi lalu bersiap, ia membawa berkas itu menuju ke perusahaan Sean.
"Pak tolong sedikit di percepat ya" ucap Alea pada sopir taksi.
Alea mendengar bahwa Sean ada rapat hari ini, dan mungkin berkas ini sangat penting bagi Sean.
Sesampainya di perusahaan, Alea langsung memasukinya dan naik melewati lift menuju lantai atas.
Ting
Pintu lift terbuka.
Bruk.
"Ah maaf" ucap Alea.
"Tidak apa-apa, biar saya bantu" ucap seseorang yang Alea tabrak.
Dokumen itu sedikit berantakan, namun dengan kepintaran Alea ia menyusunnya dengan cepat.
"Terimakasih" ucap Alea menatap lelaki itu.
Tidak ada jawaban apapun, lelaki itu terdiam melihat kedua bola mata Alea yang sangat indah dan berbeda dengan yang lainnya.
"Hallo?" ucap Alea menggerakkan tangannya.
"Ya?" balas Lelaki itu yang tersadar dari lamunannya.
"Terimakasih, aku akan pergi" ucap Alea.
"Oh ya baik" balas lelaki itu.
Alea berlari menuju ruangan Sean, sepertinya ia terlambat karena saat ini Sean tidak ada di dalam ruangannya.
"Aku terlambat" lirih Alea melihat arloji di tangannya.
Klek
Pintu terbuka.
Alea menoleh, terlihat seorang wanita dengan penampilan yang rapih dan terbilang cantik. Selain itu, tubuhnya juga sangat bagus.
"Siapa dia" pikir Alea.
"Maaf, kenapa anda ada di ruangan presdir?" tanya wanita itu.
"Ini, saya ingin memberikan berkas ini" ucap Alea.
"Boleh saya lihat?" tanyanya.
"Hm" angguk Alea memberikan berkas tersebut.
"Ah, ini berkas yang disuruh presdir untuk mengambilnya" pekik gadis itu.
"Kalau boleh tahu kamu?" tanya Alea.
"Perkenalkan saya sekretaris baru Presdir, nama saya Narane Celline. Bisa panggil Nara." Jelas Nara mengulurkan tangannya.
"Hm. Nama saya Alea, istri Sean" balas Alea menerima uluran tangan Nara.
"Istri presdir? ah maaf nyonya saya tidak tahu" ucap Nara membungkukkan badannya memberikan hormat pada Alea.
"Tidak apa-apa, jangan seperti itu. Sejak kapan kamu bekerja disini?" tanya Alea.
"Dua minggu yang lalu nyonya" jawab Nara mendapat anggukan dari Alea pertanda mengerti.
"Nara, kenapa lama seka-" ucap Sean yang terpotong saat melihat Alea berada di ruangannya.
"Hey sayang, kenapa kamu ada disini?" tanya Sean menghampiri Alea.
"Memangnya tidak boleh?" tanya Alea.
"Bukan seperti itu"
"Lalu?"
"Nara, kamu tunggu saya di ruang rapat" ucap Sean.
"Baik presdir" ucap Nara keluar dari ruangan Sean.
"Kenapa sayang?" tanya Sean yang mengetahui bahwa istrinya itu sedang dalam mood tidak baik.
"Siapa dia?" tanya Alea seolah sedang menelusuri.
"Dia sekretaris baruku" ucap Sean.
"Kenapa tidak memberitahuku?"
"Memangnya setiap karyawan yang aku ganti harus ku memberitahu?"
"Tidak juga, tapi kan-"
"Tenang saja, dia hanya sekretaris ku. Aku tidak akan berpaling darimu sayang" potong Sean.
"Sekretaris yang kemarin keluar karena mau melahirkan" jelas Sean.
Sean tahu benar, jika istri yang ada dihadapannya saat ini sedang cemburu dan meminta sebuah penjelasan.
"Memangnya harus yang sangat muda? kenapa tidak mencari seperti sekretaris sebelumnya atau yang sedikit lebih tua"
"Sayang, aku kan memerlukan tenaga nya. Tidak mungkin juga aku memperkerjakan seorang paruh baya bukan? apalagi akhir akhir ini nama perusahaan melonjak sangat tinggi, sehingga pekerjaanku akan sangat sibuk"
"Hm"
"Sudah, kemari" ucap Sean memeluk Alea.
"Ada apa kamu kemari?" tanya Sean.
"Salah satu berkasmu tertinggal jadi aku mengantarnya" jawab Alea.
"Istriku memang yang terbaik" pekik Sean mengecup kening Alea.
Alea tersenyum, ia merasa senang dengan Sean yang memperlakukannya seperti ini.
"Bukannya kamu harus rapat?" tanya Alea.
"Hmm gimana ya"
"Loh ko gimana ya?"
"Kamu ada disini, kan aku jadi malas. Lebih baik disini saja"
"Tidak boleh seperti itu, sudah sana. Kamu harus bekerja" jelas Alea mendorong tubuh Sean.
"Ah selalu saja seperti ini" balas Sean yang hanya mendapat tawaan dari Alea.
"Semangat sayang" ucap Alea.
"Baiklah, aku akan meminta Jamsh untuk mengantarmu"
"Tidak usah, aku bisa kembali sendiri" ucap Alea.
"Biarkan Jamsh saja, agar aku lebih tenang"
"Tidak sayang, Jamsh kan harus menemani kamu di dalam rapat" jelas Alea.
"Tapi-"
"Sean, sudah sana. Aku akan baik-baik saja"
"Baiklah"
Dengan berat hati, Sean membiarkan Alea untuk pulang sendiri. Mau bagaimana pun Alea pasti akan terus menolaknya. Dan jika Sean memaksa pasti Alea akan merasa kesal padanya.
Sean sudah meninggalkan ruangannya, begitu juga Alea. Ia kembali berjalan memasuki lift.
"Kamu?" pekik Alea dan seorang lelaki bersamaan.
Mereka berdua saling melempar senyum.
"Oh ya, kamu mau ke lantai berapa?" tanya lelaki itu.
"Lantai satu, kamu?"
"A-ku sama, lantai satu"
"Ah iya" balas Alea.
Hening, di dalam lift tersebut hanya ada mereka berdua. Suasana di sana sangat hening. Tidak ada perbincangan apapun lagi dari keduanya.
"Kamu bekerja disini?" tanya lelaki itu membuka pembicaraan.
"Hmm, tidak. Aku hanya-"
Gebruk!
"Ada apa ini?" ucap Alea yang terkejut karena lift tiba-tiba berhenti.
"Sepertinya lift nya rusak"
"Apa rusak?" pekik Alea.
"Lalu bagaimana ini?" sambung Alea.
"Kita harus menunggu"
"Ah baiklah"
"Namamu siapa?" tanya lelaki itu.
"Namaku Alea"
"Nama yang bagus, perkenalkan aku Dimas"
"Ah ya. Kamu bekerja disini?" tanya Alea.
"Tidak, aku hanya ada urusan bisnis di perusahaan ini"
"Oh begitu ya"
"Iya"
Perbincangan kembali berhenti, membuat suasana menjadi hening dan sedikit canggung.
(Kenapa lama sekali? apa tidak ada yang mengetahuinya?) pikir Alea.
Alea mengeluarkan ponsel miliknya ia hendak menghubungi Sean. Namun sinyal ponselnya menghilang, membuat Alea mengeluarkan nafas kecewanya.
"Tenang saja ini tidak akan lama" balas Dimas.
"Semoga seperti itu" balas Alea.
Sementara itu, Sean yang sedang melakukan rapat tidak bisa fokus. Perasaannya entah kenapa merasa sedikit gelisah.
"Rapat hari ini cukup, besok kita ulang" ucap Sean yang langsung pergi meninggalkan ruang rapat.
Percuma saja jika Sean melanjutkan rapatnya, karena pikirannya tidak bisa fokus sedikitpun. Ia merasa khawatir pada Alea yang memilih untuk pulang sendirian.
Sean memasuki ruang kerjanya, ia tidak melihat Alea sama sekali.
"Apa mungkin Alea sudah keluar? kenapa cepat sekali?" pikir Sean.
"Jamsh" panggilnya.
"Saya disini tuan" ucap Jamsh yang berada di belakang Sean.
"Aku ingin kau melihat cctv, apakah Alea sudah keluar atau belum dari perusahaan" pinta Sean.
"Baik tuan"