"I Love You to" balas Alea.
"Sekarang, sudah saatnya kamu bekerja kembali" ucap Alea mendorong Sean hingga duduk di bangku kebanggaannya.
"Alea, aku-"
"Tidak ada alasan lain. Tidak akan ada habisnya jika kamu terus bersamaku. Nanti pekerjaanmu semakin banyak. Dan kamu akan semakin sibuk" jelas Alea.
"Kamu bekerjalah, dan aku akan menemanimu disana" tunjuk Alea pada sofa panjang yang ada di ruangan itu.
"Hmm baiklah" ucap Sean lesu.
"Semangat" balas Alea.
"Hm, kamu duduklah disana dan tunggu aku sebentar lagi"
"Ok" ucap Alea dengan menggerakkan tangannya.
Alea berjalan dan duduk di atas sofa itu. Ia memandangi Sean yang kini tengah sibuk dengan dokumen yang ada dihadapannya.
(Suamiku benar-benar tampan) pikir Alea tanpa sadar menyunggingkan senyumnya.
"Hua"
Alea mulai menguap, ia mengambil bantal kursi dengan pandangan masih melihat wajah yang terukir sempurna.
Hingga tak lama Alea mulai terlelap dalam tidurnya.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan saatnya pulang. Sean menutup seluruh dokumennya dan membereskannya.
Ia berdiri dan beranjak dari sana menuju ke arah Alea.
"Ternyata kamu tertidur" lirih Sean pelan.
Sean mengusap rambut Alea dengan sangat lembut, ia tersenyum hangat pada Alea.
Pandangan Sean kini beralih pada jam arloji di tangannya. Ia memilih untuk menunggu Alea selama tiga puluh menit, sampai ia bangun.
Namun sudah tiga puluh menit Alea belum juga bangun, akhirnya Sean mengangkat tubuh Alea dan membawanya ke dalam mobil.
Di perjalanan menuju parkiran, Alea terbangun. Ia baru menyadari bahwa Sean tengah menggendong dirinya.
"Sean? kenapa tidak membangunkan ku?" tanya Alea.
"Sudah bangun? tidur lagi saja" balas Sean.
"Aku tidak bisa tidur lagi, turunkan saja aku" ucap Alea.
"Tidak mau"
"Sean, turunkan saja. Bagaimana kalau para pegawai mu melihat nya"
"Mereka sudah pulang" ucap Sean.
Alea melirik ke arah sekitar, ternyata para pegawai masih ada. Dan kini mereka sedang berbisik dan heboh karena melihat Sean yang menggendong Alea.
"So sweet sekali sih"
"Aku semakin menyukai presdir kita"
"Dia terlihat dingin, namun sangat romantis dengan istrinya"
"Ah, nyonya Alea memang beruntung bisa bersama presdir"
Itulah kalimat yang terdengar oleh Alea saat ini. Alea mencoba untuk tidak memperdulikannya, meskipun itu sedikit menganggunya.
"Sudah sampai, biar ku pasang sabuk pengamannya" ucap Sean memasangkan sabuk pengaman pada Alea.
"Terimakasih" ucap Alea senang.
Sean tersenyum dan mengangguk, ia menutup pintu mobil dan berjalan memutar menuju setir kemudi.
Tak lama kemudian mobil itu melaju meninggalkan parkiran.
Disisi lain ternyata ada yang memperhatikan mereka.
Di ujung sana ada Dimas yang sedang memperhatikan mereka. Namun di sudut lain juga ada Nara yang melihat kepergian Sean dan Alea.
Esok harinya, Sean berangkat lebih pagi. Hari ini Sean akan bertemu dengan kolega bisnisnya yang sangat penting.
Tak lupa sebelum berangkat Sean mengecup kening sang istri dan berpamitan padanya.
Alea mengantar Sean sampai ke depan pintu apartemen. Alea melihat suaminya yang kini sudah memasuki lift.
Setelah itu, Alea kembali masuk ke dalam apartemen.
Alea membereskan semuanya, mulai dari mencuci piring, pakaian, mengepel lantai, beberes rumah dan lainnya.
Hingga apartemen tersebut selalu terlihat bersih dan rapih.
Selesai semuanya, Alea membuka laptopnya. Sesekali alea menonton film di kamarnya. Namun Alea lebih sering membuka laptopnya untuk menambah pengetahuannya sekligus melatih kemampuan desainnya.
"Aku sangat ingin sekali melanjutkan mimpiku. Apa Sean akan setuju?" pikir Alea.
"Apa ini" ucap Alea menghentikan gerakan jarinya.
Alea meng klik mouse yang ia genggam, hingga muncul sebuah gambar dengan sangat jelas.
"Perlombaan Desaign?" ucap Alea membaca brosur tersebut.
Alea memfokuskan matanya membaca persyaratan juga hadiah yang dimenangkan jika memasuki tiga besar.
Namun bukan itu yang paling menarik bagi Alea, dan yang paling menarik baginya adalah ketika memasuki babak final, peserta akan langsung bertemu dengan juri yang terkenal.
Dimana salah satu juri tersebut adalah Dams. Lelaki misterius yang selalu memakai topeng mata menyembunyikan identitas aslinya.
Dan Dams adalah idola Alea sejak pertama kali masuk SMA.
Ia juga menyukai design, karena sering menonton acara Dams Alea akhirnya memilih untuk masuk ke perguruan tinggi dengan mengambil sekolah Desain.
Bagaimanapun juga Alea adalah gadis normal seperti yang lainnya. Ia juga bisa mengidolakan orang lain.
"Aku harus mengikuti perlombaan ini" pekik Alea dengan penuh Semangat.
Sebelum mendaftar diri, Alea mengambil ponselnya. Ia menghubungi Sean untuk meminta izin darinya.
"Hallo" ucap Alea.
"Iya sayang ada apa?" balas Sean.
"Hmm, aku mengirimkan gambar lewat email. Coba kamu lihat" pinta Alea.
"Baik sebentar"
"Kamu ingin mengikuti perlombaan design?" tanya Sean.
"Memangnya boleh?" tanya Alea.
"Jika kamu memang menginginkannya coba saja" ucap Alea.
"Aaaaa terimakasih suamiku" teriak Alea membuat Sean menjauhkan ponselnya dari telinga kanannya.
"Kalau begitu aku matikan ya, aku akan mendaftarkan diri dulu" ucap Alea yang langsung mematikan panggilan tanpa menunggu balasan dari Sean.
Sean yang sedang berada di ruangannya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya.
Sebenarnya Sean menginginkan Alea diam di rumah, dan melakukan tugas lainnya layaknya seorang istri.
Namun Sean juga mengerti, bahwa Alea masih muda jika dibandingkan dengan umurnya. Sean sudah menariknya ke dalam pelukannya, hal itu cukup membuat Sean bahagia.
Sean mengetahui mimpi Alea, menjadi designer terkenal dan mendirikan butiknya sendiri.
Sean tidak mungkin menghalangi mimpinya, ia tidak ingin jika pernikahan membuat Alea merasa terkekang.
Sean akan membebaskan Alea, namun bukan berarti Alea melupakan kewajibannya sebagai seorang istri.
Sean mengizinkan Alea karena mereka masih belum mempunyai anak. Jika mereka sudah mempunyai anak barulah Sean akan sedikit melarangnya.
Biarkanlah Alea yang saat ini masih belum mempunyai anak bermain sepuasnya dan mengejar mimpinya yang tertunda.
...
Malam ini Alea memasak makanan dengan menu yang banyak. Ia tersenyum sepanjang hari.
Hatinya kini merasa sangat senang, karena ia akan kembali mengikuti perlombaan.
"Sepuluh menit lagi" ucap Alea melihat jam dinding menunggu kedatangan Sean.
Satu menit lagi, biasanya Sean akan pulang dan membuka pintu.
Alea kini sudah siap menunggu bel apartemen berbunyi.
Sementara itu, Sean kini masih bersama dengan kolega bisnisnya.
Ponselnya ia titipkan pada Nara sekertaris barunya.
"Ah jam berapa ini? ini pasti Alea sudah menungguku" pikir Sean melihat arloji di tangannya.
"Tuan Sean kenapa kau terus melihat arlojimu?" tanya Lisa yang tak lain adalah adik dari kolega bisnisnya Peter.
"Tidak. Apa kakakmu masih lama? aku rasa ia ke toilet sudah cukup lama" ucap Sean.
"Mungkin sebentar lagi kakakku kembali" ucap Lisa.
"Hm" balas Sean.
Lisa menggerakkan jarinya, memanggil salah satu pelayan disana.
"Tuangkan untuknya" ucap Lisa.