Kini mereka sudah sampai di tempat perhiasan. Sean langsung membawa Alea ke tempat utama dimana tempat orang lain yang sudah melakukan pemesanan.
"Kenapa disini? bukan harusnya disana?" tanya Alea.
"Aku sudah memesannya dari jauh-jauh hari. Disaat kamu koma, aku sudah mempersiapkannya. Oleh karena itu, sekarang aku ingin melakukan semuanya segera mungkin agar kamu menjadi milikku seutuhnya" jelas Sean.
"Terimakasih" ucap Alea tersenyum.
"Ini tuan pesanannya" ucap pelayannya memberikan perhiasan set yang sebelumnya Sean sudah pesankan.
"Wahh indah sekali" ucap Alea.
"Aku tahu kau pasti akan menyukainya" balas Sean.
"Kita ambil yang ini, kirimkan saja ke alamat yang ini" ucap Sean.
"Baik tuan"
Alea dan Sean kembali berjalan, tak terasa hari ini sudah sangat sore. Perut mereka sedikit lapar, sehingga Sean mengajak Alea untuk makan terlebih dahulu sebelum pulang.
Selesai makan, mereka kembali ke rumah masing-masing untuk besok dan besoknya sampai minggu depan di acara yang sangat dinantikan.
...
Hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu pernikahan antara Sean dan Alea.
Semuanya sudah bersiap, termasuk pengantin laki-laki dan pengantin perempuan.
Jam sudah menunjukan dimana waktu yang terbaik sudah datang. Para tamu undangan juga sudah kumpul.
Ini saatnya pemanggilan pengantin baru, Clara yang merupakan kakak ipar Alea mengetuk pintu untuk membawa Alea turun.
"Alea" panggil Clara.
Tidak ada jawaban apapun. Clara sedikit khawatir, ia tidak mendengar pergerakkan apapun.
"Alea?" panggil Clara satu kali lagi.
Masih sama, tidak ada jawaban apapun. Akhirnya Clara memilih untuk langsung masuk ke dalam kamar Alea.
"Ah membuatku terkejut saja" lirih Clara saat melihat Alea yang sedang berdoa.
Clara benar-benar takut saat tidak mendengar suara apapun dari dalam kamar. Ia takut kejadian di film-film yang akhirnya tidak jadi menikah atau ada halangan di pernikahannya.
"Iya kak, maaf aku selesai berdoa. Jadi tidak menjawab panggilan kakak" jelas Alea.
"Tidak apa-apa" balas Clara.
"Wahh, adik kakak sangat cantik sekali" sambung Clara melihat penampilan Alea.
"Terimakasih ka" jawab Alea mengulum senyumnya.
"Ayo sebelum terlambat" ajak Clara.
Alea menganggukkan kepalanya, mereka mulai berjalan keluar dari ruang kamar.
Mereka berjalan perlahan hingga satu langkah lagi menuruni tangga.
Disana sudah terlihat banyak tamu undangan yang memperlihatkan Alea.
Semuanya terkagum dengan penampilan Alea. Sangat cantik, persis seperti seorang putri.
Apalagi kedua bola mata Alea yang berbeda membuat penampilannya terlihat sempurna. Bahkan Sean pun tidak mengedipkan matanya. Ia tidak percaya bahwa itu adalah Alea, calon istri nya.
Tak ... Tak ... Tak
Alea menuruni tangga dengan didampingi Clara dan beberapa temannya yang lain.
Dari awal ia turun hingga sampai di dasar lantai semuanya masih menatap Alea terkagum kagum. Hal itu semakin membuat hati Alea berdegup dengan kencang.
"Sean" panggil Maxi dengan berbisik.
Tidak ada respon, Sean masih fokus melihat pada Alea.
"Sean" panggil Maxi lagi, dengan jawaban yang sama. Sean masih diam.
"Ekhem" deham Maxi sedikit menyenggol Sean membuat lelaki itu tersadar.
"Ah ya ampun" pekik Sean pelan.
Sean berjalan mendekati Alea, ia mengulurkan tangannya dan membantu Alea menaiki Altar.
Janji pernikahan kini terucap dari keduanya, saling mengikat satu sama lain.
Dan pada akhirnya mereka sekarang sudah menjadi suami istri.
Semuanya bertepuk tangan memberikan selamat pada kedua pengantin baru. Suasana terasa bahagia, apalagi bagi Sean dan Alea yang akhirnya bisa bersama untuk selamanya hingga maut yang memisahkan.
Hari berjalan sangat cepat, pagi berganti siang, siang berganti malam.
Sudah pukul satu pagi, pernikahan Alea baru saja selesai.
"Sangat pegal sekali" lirih Alea menggerak gerakan kakinya yang sudah berdiri memakai hils selama beberapa jam.
"Mu ku pijit?" tanya Sean.
"Tidak, aku tidak apa-apa" balas Alea.
"Kalau begitu bersihkan badanmu, kita istirahat" ucap Sean.
"Istirahat?"
"Kenapa? kamu mau membuat Sean junior malam ini? memangnya kamu sanggup setelah kelelahan seperti ini?" goda Sean.
"Ih apaan sih kamu. Udah ah" timpal Alea yang langsung pergi menuju kamar mandi.
Sean melukiskan senyumnya, ia memang sudah tidak tahan dengan gadis itu. Rasanya ingin memakannya. Hanya saja jika Sean melakukannya malam ini, ia takut Alea akan merasa lelah.
Begitu juga dengan Alea, bukan maksud pembicaraannya mengarah pada hal itu. Dirinya juga sama merasa sangat lelah, bahkan Alea sudah siap untuk mencari alasan. Ia hanya memastikan bahwa Sean memang memintanya untuk beristirahat.
"Sudahlah, tidur saja" pekik Alea.
...
Hari ini merupakan hari yang berbeda untuk Alea dan Sean.
"Selamat pagi" ucap Alea melihat Sean mulai membuka matanya.
"Selamat pagi sayang" ucap Sean mengecup sang istri.
"Aku akan memasak untukmu" jelas Alea mendapat anggukan dari Sean.
Alea mulai turun dari ranjangnya ia mengikat rambutnya lalu turun menuju dapur untuk memasak.
Aroma makanan yang Alea buat membuat seisi rumah terbangun. Membuat siapa saja yang mencium aroma itu menjadi sangat lapar.
"Selamat pagi kak" ucap Alea dengan fokus yang masih bergelut pada masakannya.
"Wangi sekali" ucap Clara.
"Benarkah?"
"Iya. Sepertinya sangat enak. Ahh aku jadi lapar" ucap Clara diiringi tawa renyahnya.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya masakan Alea sudah selesai. Kini semuanya tengah melakukan makan bersama termasuk dengan Bi Mirna.
"Aku sangat senang melihat semuanya seperti ini" gumam hati Alea.
"Sayang" panggil Sean.
"Iya?" balas Alea.
"Setelah ini bersiaplah, kita akan berangkat ke Paris"
"Paris?"
"Iya"
"Wah, hebat kalian. Kalau begitu aku juga akan bersiap" timpal Maxi.
"Max, jangan ganggu kami" ucap Sean.
"Ah baiklah, aku hanya bercanda." Timpal Maxi.
"Sayang, kita juga pergi ke Paris saja yu" ajak Maxi pada Clara.
"Sudah jangan menggangu mereka" balas Clara mendapat tawa dari Sean dan Alea.
"Hmm baiklah" balas Maxi
Seperti rencana yang telah di buat, selesai makan bersama dan membereskannya. Alea bersiap untuk pergi bersama Sean selama satu minggu.
Mereka berpamitan pada Maxi, Clara dan bi Mirna.
"Hati-hati, dan Sean kau harus jaga adikku" ucap Maxi melepas pelukannya pada Alea.
"Tentu saja aku akan menjaganya" ucap Sean.
"Alea, kamu harus sabar ya jika menghadapi sikap ka Sean yang sebenarnya" ucap Clara membuat Maxi tertawa.
"Baik ka" balas Alea tertawa.
"Cih kalian ini" kesal Sean.
"Clara kamu tidak berpamitan pada kakak?" tanya Sean.
"Kakak ini, kemari. Hati-hati ya, tolong jaga diri kakak dan Alea" ucap Clara.
"Iya, Max jangan sampai kau menyakiti adikku"
"Tenang saja. Semuanya aman" balas Maxi.
Tak lupa Alea dan Sean juga berpamitan bibi. Alea juga berterima kasih karena bibi selalu menjaga dan setia merawat dirinya dan Maxi.
"Kami pergi ya" ucap Sean melambaikan tangannya memasuki mobil hitam miliknya.