Mereka tidak terlalu lama berada di atas gedung. Selesai semuanya, mereka kembali dan memasuki ruangan Sean.
Sean mengatakan bahwa ia ingin membicarakan sesuatu pada semuanya. Oleh karena itu, Maxi tidak langsung pulang, dan kini semuanya sudah berada di ruangan Sean.
"Ada apa?" tanya Maxi sangat penasaran.
"Aku ingin membicarakan pernikahan ku dengan Alea" jelas Sean membuat semuanya terkejut.
"Aku ingin pernikahanku di segerakan" sambung Sean.
"Ternyata kau tidak sabaran" balas Maxi menahan tawanya.
"Maxi, aku serius" timpal Sean.
"Ya baiklah. Itu semua terserah Alea. Karena dia yang akan kau nikahi"
"Aku?" pekik Alea menunjuk dirinya sendiri.
"Iya" balas Maxi.
"Alea, bagaimana?" tanya Sean.
"Bagaimana baiknya saja" jawab Alea.
"Bagus, kalau begitu kita lakukan minggu depan"
"Apa?!" ucap Maxi, Alea, dan Clara secara bersamaan.
"Kak, bukankah itu terlalu cepat?" tanya Clara.
"Lalu kapan? memangnya kaka harus menunggu apa lagi? semuanya sudah siap" balas Sean.
"Benar juga" sambung Maxi.
Bagaimanapun juga, Sean sudah mempunyai segalanya. Uang, pekerjaan, popularitas, semuanya ia sudah miliki.
Bahkan hidup Alea sudah terjamin tidak akan kekurangan apapun.
"Jadi bagaimana?" tanya Sean berharap Maxi menyetujuinya.
"Baiklah aku setuju. Dan Alea, bagaimana denganmu?" tanya Maxi.
"Jika kakak setuju, maka aku akan melakukannya" balas Alea.
"Ah kau memang selalu menjadi adik yang baik" ucap Maxi memeluk Alea.
Saat memeluk Alea entah kenapa tiba-tiba Maxi mengeluarkan air matanya. Ia merasa senang sekaligus terharu.
Ia senang karena Alea sang adik akan menempuh kehidupan yang baru, tak terasa Alea yang dulu masih kecil sekarang sudah dewasa bahkan akan menikah dan meninggalkannya.
"Kak, kenapa kakak menangis" tanya Alea.
"Apa kamu memang ingin menikah? rasanya kakak tidak ingin kehilangan kamu" ucap Maxi.
"Aku-"
"Sayang, Alea juga harus menikah. Ia berhak mendapatkan kehidupan barunya" jelas Clara.
"Baiklah" balas Maxi
"Kak, kakak jangan bersedih seperti ini. Lagian Alea juga masih ada disini. Alea akan sering mengunjungi kakak dan kakak ipar" jelas Alea.
"Benar yang dikatakan Alea. Kau ini seakan akan tidak akan melihatnya lagi saja" pekik Sean membuat Maxi memasang mata kesalnya.
"Seperti kau tidak seperti ini saja saat aku menikah dengan Clara. Bahkan kau lebih parah dariku" timpal Sean.
"Benarkah?" tanya Alea antusias.
"Benar sekali, andai kau ada saat itu. Mungkin kau akan tertawa ketika melihatnya"
"Sudahlah Maxi" pekik Sean.
"Sean aku ingin mendengar nya" ucap Alea.
"Itu tidak baik Alea. Sudah, lebih baik kita keluar saja mempersiapkan gaun pernikahan untuk kita nanti. Sekarang ini kita akan disibukkan dengan persiapan semuanya" jelas Sean.
"Hmm iya" balas Alea.
"Kalian berangkatlah, aku dan Clara akan menyiapkan hal yang lainnya"
"Sepakat" ucap Sean.
Kini mereka keluar menuju parkiran, Sean meminta Jamsh untuk menghendel semuanya.
Maxi dan Clara memasuki mobil, begitu juga dengan Alea dan Sean.
Mereka memasuki mobil yang berbeda dengan arah yang berbeda. Saat ini Sean dan Alea akan pergi menuju tempat pemilihan dress pengantin.
"Kau tahu tempatnya?" tanya Alea.
"Tentu saja, aku sudah menyiapkannya jauh jauh hari" balas Sean.
"Ah, kau memang yang terbaik" ucap Alea.
"Tentu saja" balas Sean.
"Oh ya, bisakah kamu menyetir dengan satu tangan?" tanya Alea.
"Bisa, memangnya kenapa?"
"Entahlah, menurutku menyetir dengan satu tangan terlihat keren" jelas Alea.
Sean sedikit menoleh, namun tak lama ia kembali memandang lurus hingga perlahan tangan kirinya melepas kendali stir.
Alea yang melihat itu tersenyum tipis, ternyata Sean melakukannya.
"Seperti ini?" tanya Sean.
"Ya seperti itu" balas Alea lalu menggerakkan tangannya menggenggam tangan kiri Sean.
"Ah ternyata ini rencana mu" pekik Sean dengan senyum diwajahnya.
Alea memasang cengiran kudanya, ia sengaja melakukan itu agar bisa saling menggenggam satu sama lain.
"Apa kau menyukainya?" tanya Sean.
"Tentu saja" balas Alea.
Keduanya memandang lurus dengan saling tersenyum.
Perjalanan kali ini terasa menyenangkan, hingga tak terasa mereka sudah sampai di tempat yang mereka tuju.
Alea dan Sean mulai memasuki tempat itu. Disana banyak sekali gaun yang terpajang dengan sangat cantik.
Bahkan Alea merasa bingung harus memilih gaun yang bagaimana, karena semuanya terlihat sempurna.
Dua pelayan datang menyambut mereka dengan sangat sopan. Begitupun sang pemilik butik tersebut, secara langsung menyambut mereka berdua.
"Bagaimana kau suka?" tanya Sean.
"Hm" angguk Alea.
"Kalau begitu pergilah, pilih yang kamu mau. Aku akan menunggumu disini" balas Sean.
"Aku ingin yang terbaik untuknya" ucap Sean pada salah satu pelayan.
"Baik tuan. Kemari nona" ajak salah satu dari mereka.
Pelayan itu berjalan di depan Alea untuk memimpin jalan. Jangan salah, butik ini sangat terkenal dan sangat besar.
"Boleh saya tahu bagaimana yang nona suka? supaya saya bisa memilihkannya untuk nona"
"Aku menyukai yang tidak terlalu terbuka. Aku ingin gaunnya sederhana namun sangat indah. Dan aku menyukai princess, jadi kurang lebih aku ingin gaun yang mengembang" jelas Alea.
"Baik nona, sebelah sini. Apa seperti itu?" tunjuk pelayan itu.
"Ah ya seperti itu, hanya saj itu terlalu emm .. terbuka sekali" balas Alea.
"Baiklah, mari kita lihat yang lain nona"
"Hm" angguk Alea.
Alea mencoba memakai pakaiannya beberapa kali dengan model yang berbeda, namun semua itu tidak ada yang pas dengan hatinya.
"Maaf merepotkan mu. Tapi belum ada yang pas dengan apa yang aku inginkan" ucap Alea.
"Tidak apa-apa nona"
"Oh ya, nona ada satu lagi yang belum saya perlihatkan. Dan ini adalah model terbaru sekaligus terbaik di butik ini"
"Boleh saya melihatnya?" tanya Alea.
"Tentu saja, silahkan"
Alea berjalan untuk melihat pakaian tersebut.
Sretttt
Sebuah gordin terbuka. Alea menatap pakaian itu tanpa berkedip.
"Aku ingi mencobanya" ucap Alea.
"Baik nona"
Alea mulai memakai pakaian tersebut dengan dibantu oleh pelayan butik.
"Wah, cantik sekali" ucap pelayan yang melihat Alea.
"Aku menyukainya" ucap Alea.
"Nona anda benar-benar terlihat sangat cantik. Bahkan terlihat seperti seorang putri kerajaan"
"Jangan terlalu berlebihan" balas Alea dengan senyumnya.
"Hehe iya nona"
Alea telah selesai memilih gaun yang akan ia kenakan nanti.
Kali ini giliran Sean, Alea menunggu di kursi di tempat sebelumnya Sean menunggunya.
Namun tidak membutuhkan waktu yang lama Sean sudah selesai.
"Sudah?" tanya Alea tak menyangka.
"Hm" angguk Sean.
"Cepat sekali" sambung Alea.
Setelah itu mereka kembali ke dalam mobil melanjutkan perjalanan untuk pergi membeli perhiasan.
"Sean apa kau yakin tadi memilih pakaiannya?" tanya Alea.
"Memangnya kenapa?"
"Cepat sekali"
"Kau sudah memilih gaunnya, aku hanya tinggal mencoba pakaian jasnya yang merupakan pasangan dari gaun yang kamu pilih. Lagian sekali pakai juga sudah terlihat sangat tampan" jelas Sean.
"Kamu ini" balas Alea menahan senyumnya, entah dari kapan kepercayaan diri Sean semakin hari semakin tinggi.