"Ada apa dengannya kenapa berjalan sangat cepat" ucap Maxi yang sedang mengeluarkan koper di belakang mobil.
Alea berjalan lebih dulu, disana sudah ada Clara yang menyambut kedatangan mereka bertiga.
"Hallo ka apa kabar?" tanya Alea memeluk Clara.
"Baik Alea. Bagaimana denganmu?" balas Clara.
"Aku sangat baik" ucap Alea disambut tawa ringan oleh keduanya.
Clara mengajak Alea masuk, entah apa yang di perbincangkan oleh mereka, namun yang pasti Maxi dan Sean mengukir senyumnya melihat dua orang yang berharga bagi mereka tertawa bahagia.
"Kapan kau akan seperti ku?" tanya Maxi.
"Secepat nya" balas Sean membuat Maxi terkejut dan heboh sendiri.
Siang berganti malam, kini saatnya melakukan makan malam bersama-sama.
Maxi menuntun Clara menuruni anak tangga. Keduanya tersenyum bahagia membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa iri.
Malam ini terasa sangat indah, semuanya bergurau, tertawa, bercerita. Hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan sangat malam.
Sean berpamitan untuk pulang, Alea sempat melarangnya namun Sean tetap memilih untuk pulang.
...
Hari berganti demi hari, semuanya berjalan seperti biasanya.
Alea dan Sean sudah membina hubungan mereka selama satu bulan.
Tok ... tok ... tok
Suara ketukan pintu.
"Masuk" ucap Sean.
Alea membuka pintu ruangan kerja Sean, ia melihat lelaki itu tengah sibuk dengan dokumen yang ada dihadapannya.
"Waktunya makan siang" ucap Alea memperlihatkan rantang yang ia bawa.
"Kamu memasaknya?" tanya Sean beralih melihat Alea.
"Tentu saja, ayo makan dulu. Jangan sampai lupa" ucap Alea.
"Hm" angguk Sean.
Alea duduk di sofa panjang yang da disana, ia membuka satu persatu rantang yang ia bawa. Sean beranjak dari kursi kebanggaannya, ia mencium aroma makanan Alea yang sangat wangi memenuhi ruangan tersebut.
"Aaa buka mulutmu" ucap Alea memberikan suapan pertama pada Sean.
Sean tersenyum, ia melahap suapan itu. Begitu juga dengan Alea, ia membentuk senyum manisnya.
Hanya saja ada sesuatu yang memenuhi pikiran Alea. Hari ini, adalah ulang tahun Alea. Namun Sean belum mengucapkan apapun pada nya.
Alea merasa sedikit sedih, padahal ia berharap Sean adalah orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya.
Alea masih menyuapi Sean dengan tenang, ia menyembunyikan rasa sedihnya. Lagi pula Alea tidak pernah memberitahu tanggal berapa ia berulang tahun.
Tetapi tetap saja, Alea berharap Sean mengetahuinya.
"Kamu kenapa?" tanya Sean, mau bagaimana pun Alea menyembunyikan wajah sedihnya. Sean selalu bisa melihatnya.
"Tidak apa-apa. Kau harus makan yang banyak. Jangan terlalu lelah" balas Alea kembali menyuapi Sean.
Sean tidak ambil pusing, ia kembali melahap suapan Alea.
Ketukan pintu kini terdengar lagi, kali ini adalah Jamsh.
Jamsh memberitahu Sean bahwa ada perkelahian antar karyawan di atap gedung perusahaan ini.
Sean terkejut, bagaimana mungkin hal ini terjadi di perusahaan nya.
"Alea, kamu tunggu disini. Jangan kemana-mana, aku harus melihat mereka" ucap Sean.
"Apa tidak sebaiknya biarkan satpam saja yang menanganinya? aku khawatir kamu kenapa-napa" khawatir Alea memegang lengan Sean.
"Tidak Alea, ini adalah tanggung jawabku sebagai presdir disini"
"Kalau begitu aku ikut"
"Jangan Alea, justru aku akan khawatir jika kamu ikut denganku. Aku tidak ingin kamu kenapa-napa"
"Tapi-"
"Dengarkan aku, duduk disini dan tunggu aku kembali. Aku akan baik-baik saja sayang" jelas Sean.
Akhirnya Alea menganggukkan kepalanya, dengan sangat berat Alea mengizinkan Sean untuk pergi.
Sean berjalan pergi meninggalkan Alea. Dan Alea merasakan rasa tidak enak dalam hatinya.
"Apa dia akan baik-baik saja?" pikir Alea.
Alea mencoba untuk tidak memikirkannya, ia kembali membereskan makanan yang ia bawa.
Baru saja ia selesai membereskannya tiba-tiba Jamsh kembali ke ruangan Sean.
"Jamsh" pekik Alea saat melihat Jamsh membuka pintu tanpa mengetuk pintu. Bahkan pernafasannya pun tidak beraturan.
"Ada apa?" tanya Alea melihat bahwa pasti ada sesuatu yang tidak baik.
"Tuan Sean-"
"Kenapa dengannya?" tanya Alea berdiri panik.
"Di atas sana, tuan...."
Belum sempat Jamsh menyelesaikan perkataannya Alea segera berlari keluar dari ruangan Sean.
Ia mempercepat larinya menuju atap gedung yang menjulang sangat tinggi.
"Dimana Sean" pekik Alea yang kini sudah berada di atap gedung.
Hening,
Semuanya sepi, tidak ada pergerakkan apapun.
"Sean?" panggil Alea.
"Sean kamu dimana?" teriak Alea.
"Se-"
Tiba-tiba ada hembusan angin yang sangat kencang, Alea memegang dinding kecil yang ada di sana agar tubuhnya tidak terbawa angin.
Perlahan sebuah helikopter muncul dari bawah dan terbang meninggi.
"Sean?" pekik Alea yang melihat lelaki itu berada disana dengan melambaikan tangannya. Tak lupa Alea juga melihat Jamsh berada disamping Sean yang tengah mengendalikan helikopter tersebut.
"Sean, sedang apa kamu disana" teriak Alea.
Beberapa detik dari itu sebuah spanduk panjang terbuka menjuntai ke bawah dengan kalimat yang membuat Alea terdiam.
"Alea" teriak Sean.
"Will You Marry Me?" ucap Sean.
Mata Alea berkaca-kaca, bahkan ia kini menangis karena bahagia.
Helikopter itu mendekat lalu berada di atas gedung tersebut.
Sebuah tangga diturunkan menjuntai untuk pijakan Sean agar ia bisa turun.
"Alea" panggil Sean menghapus air matanya yang mengalir di pipi Alea.
"Bagaimana jawabanmu?" tanya Sean yang hatinya kini tengah berdebar kencang menunggu jawaban gadis yang ada dihadapannya.
"Hm" angguk Alea.
"Yeah" senang Sean yang langsung memeluk Alea dan memutar tubuh mungil Alea.
Keduanya tersenyum dan tertawa, terlukis kebahagiaan diantara mereka.
Sean merogok saku jas nya, ia mengambil sebuah kotak yang berwarna merah.
Sean mulai membukanya, terlihat sebuah cincin yang sangat indah di dalamnya.
Cincin itu Sean ambil dan memasukkannya pada jari manis milik Alea. Benar-benar sangat cocok.
"Cantik sekali" ucap Sean mengecup punggung tangan Alea.
"Terimakasih" jawab Alea kembali memeluk Sean karena terlalu senang.
"Selamat ulang tahun sayang" ucap Sean berbisik pada telinga Alea.
"Ini adalah hadiah dariku di hari ulang tahunmu" sambung Sean dengan senyum tampannya.
"Sekali lagi terimakasih" balas Alea mempererat pelukannya.
"Iya sayang" timpal Sean.
Disisi lain ada dua orang memperhatikan mereka, salah satu darinya bertepuk tangan, membuat Alea melepaskan pelukannya.
Ternyata itu adalah Maxi dan Clara. Mereka berada disana.
Maxi melengkungkan senyumnya, begitu juga dengan Clara. Ia membawa sebuah kue yang bertuliskan Happy Birthday Alea.
"Kakak? sejak kapan kalian disini?" tanya Alea.
"Sejak kalian berpelukan" balas Maxi menggoda Alea.
"Kakakkk" timpal Alea merasa malu.
"Ciee, bentar lagi ..."
"Max" potong Sean yang tidak tahan dengan sikapnya yang terus menggoda dirinya dan Alea.
"Baiklah-baiklah" balas Maxi.
"Alea selamat ulang tahun" ucap Clara menyalakan lilin yang ada di atas kue.
"Terimakasih ka" balas Alea lalu meniupnya.
Semuanya memberikan tepuk tangan, setelah itu dilanjutkan dengan Alea yang memotong kue dan memberikannya pada Maxi, Sean juga Clara.