Sean meminggirkan mobilnya untuk melihat keadaan Alea.
"Alea" panggil Sean.
"Kak, kepalaku sakit" rintih Alea memegang kepalanya.
Sean mengambil botol minum yang ada didalam mobil. Ia memberikannya pada Alea.
"Ayo minum ini"
Alea menuruti apa yang di katakan Sean, ia sedikit meminum air putih itu.
"Bagaimana?" tanya Sean.
"Masih sakit tapi sedikit" balas Alea.
Tiba-tiba Sean langsung memeluk Alea, ia merasa sangat khawatir. Perasaan takut kehilangan gadis itu semakin kuat menguasai hati Sean. Ia sungguh tidak sanggup lagi jika harus menunggu untuk yang kedua kalinya. Tepatnya Sean tidak ingin terjadi apa-apa pada Alea.
"Kak, kakak kenapa? kenapa kakak sangat panik" tanya Alea dengan posisi masih belum berubah.
"Jangan membuatku takut"
"Maksud kakak? Alea tidak mengerti apa yang kakak bicarakan" balas Alea.
"Sudah jangan dipikirkan, bagaimana sekarang. Masih sakit?" tanya Sean melepas pelukan Alea.
"Sudah tidak sakit lagi, mungkin karena kakak memelukku" jawab Alea yang malah kembali memeluk Alea.
"Wuah ini nyaman sekali, terasa hangat dan wangi" sambungnya.
Sean tersenyum kecil, ia membalas pelukan Alea. Betapa tenangnya hati Sean saat ia bisa memeluk Alea dan mengelus rambutnya.
"Kakak?" panggil Alea.
"Iya?"
"Aku lapar" ucap Alea menadahkan wajahnya hingga berjarak sangat dekat dengan Sean.
"Ah ekhem, ayo kita makan" balas Sean salah tingkah saat menatap kedua mata Alea.
"Kakak kenapa?"
"Tidak apa-apa. Duduk yang baik, kakak akan mengajakmu makan" jawab Sean.
"Ok" balas Alea dengan senyumnya.
"Cih, kenapa dia imut sekali" lirih Sean kembali fokus mengemudi.
"Kak, apa kau tahu? kepalaku sakit saat kakak memanggil namaku dengan nada itu. Alea merasa bahwa suara itu tidak asing" jelas Alea
"Benarkah? lalu setelah itu, apa kamu ingat kelanjutannya?"
"Kelanjutan apa kak? kepalaku malah menjadi pusing saat ingin tahu apa itu"
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Kamu baru saja keluar dari rumah sakit. Jadi jangan terlalu banyak berpikir supaya kamu cepat sembuh" balas Sean.
"Hmm baik kak"
Tak lama dari perbincangan itu, mobil Sean berhenti di sebuah jajanan pinggiran yang berjualan bakso. Dimana dulu, Alea memintanya untuk berhenti dan membeli bakso tersebut.
"Bakso? aku suka bakso. Aku mau ka" senang Alea.
Alea hendak turun, namun lagi-lagi kepalanya terasa sakit. Ia seperti pernah datang ke tempat ini.
"Ada apa?" tanya Sean.
"Huhuhu kakak, aku merasa pusing lagi dan ada ulasan itu" jelas Alea menangis seperti anak kecil.
Sean yang melihat Alea menangis kebingungan untuk membujuknya.
"Sudah-sudah. Bukannya kamu mau makan bakso?" tanya Sean.
"Yasudah ayo makan bakso" balas Alea yang langsung berjalan dan duduk di atas kursi sana.
Sementara Sean ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya karena tak habis pikir dengan sikap Alea yang naik turun
"Abang bakso, aku mau satu" teriak Alea.
"Siap neng" balas abang bakso.
Sean tak henti-hentinya terus memperhatikan Alea. Pemandangan yang ada disampingnya ini membuat mood nya sangat baik.
Tak lama setelah pesanan datanglah bakso dua mangkuk putih diantarkan oleh abang bakso.
Alea langsung mengambil garpu dan menusuk bakso berukuran kecil untuk ia makan.
"Hati-hati panas" ucap Sean yang mengambil garpu Alea.
Alea menoleh, kakak yang ada disampingnya ini sangat perhatian dan berlaku hangat sekali padanya. Bahkan melebihi Maxi kakak kandungnya yang selalu menjaganya.
Sean meniup bakso yang akan Alea makan agar segera dingin, setelah merasa cukup dingin barulah Sean memberikannya pada Alea.
"Ini, ayo makan" ucap Sean.
"Terimakasih kakak" balas Alea yang langsung mengecup pipi Sean.
Sontak hal itu membuat Sean menoleh tak percaya, sedangkan Alea yang sudah menciumnya merasa tidak bersalah dan kembali melanjutkan melahap bakso kecilnya.
Sean menarik nafasnya lalu membuangnya, sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi Sean.
Sean benar-benar tak mengerti, apa dulu Alea memang seperti ini? sangat barbar sekali.
"Kenapa kau menciumiku" tanya Sean memberanikan diri.
"Karena kakak sangat baik padaku, itu sebagai tanda terimakasih ku. Dan aku menyukainya. Aku menyukai kakak dan menjadi penggemar kakak mulai saat ini" ucap Alea.
"Kau selalu mencium orang sembarangan?" tanya Sean yang wajahnya berubah menjadi masam.
"Tidak, aku hanya mencium kakak Max dan kakak saja" jelas Alea.
"Syukurlah" pekik Sean bernafas lega.
"Eh tapi, orang lain sepertinya juga pernah"
"Siapa?" tanya Sean kembali memasang wajah sinisnya.
"Kak Felix" ucap Alea dengan memainkan garpu nya yang kali ini mengambil mie nya.
"Untung saja kau masih kecil" pekik Sean mencoba untuk meyakinkan dirinya bahwa saat ini dan saat itu Alea masih kelas 6 sd.
Setelah itu, tidak ada perbincangan apapun lagi. Sean dan Alea sudah selesai memakan baksonya, mereka kembali ke dalam mobil dan melaju menuju apartemen Sean.
Sesampai nya di parkiran, Sean memberhentikan mobilnya. Ia hendak berbicara pada Alea, namun ternyata Alea sudah terlelap tidur.
"Cantik" pekik Sean lalu tak lama keluar dari dalam mobil dan berjalan berputar menuju pintu lain untuk menggendong Alea dan membawanya ke dalam apartemen.
Sesampainya di pintu apartemen, Sean sedikit kesulitan menekan tombol pintu dan membukanya. Namun tidak mungkin juga jika Sean meletakkan Alea di atas lantai.
Sean berusaha menggerakkan jempolnya untuk mendapatkan sidik jari agar pintunya terbuka. Tetapi hal itu justru membuat Alea terbangun.
"Kakak sedang apa" tanya Alea membuka matanya.
"Kamu bangun?"
"Hm" angguk Alea.
"Oh kakak kesulitan membuka pintunya. Kalau begitu turunkan saja aku" pinta Alea.
"Baiklah tunggu disini" ucap Sean menurunkan Alea.
Tak lama dari itu pintu apartemen mulai terbuka, Sean mengajak Alea masuk.
Satu langkah Alea memasuki apartemen Sean, kepalanya mulai kembali pusing. Ia segera memegang lengan Sean agar tubuhnya tidak terjatuh.
"Ada apa?" tanya Sean kembali khawatir.
"Kepalaku sakit lagi ka, aku merasa tidak asing dengan semua yang ada disini" jelas Alea.
Sean mengerti apa yang di maksud Alea, ia segera membawanya menuju ruang tamu. Sean mengambil air hangat untuk Alea. Lalu ia memeluk Alea dengan erat. Karena Sean juga bingung harus melakukan apa lagi agar Alea tidak merasa pusing.
"Kak, apa aku pernah ke sini?" tanya Alea.
"Pernah, dulu kamu sangat sering ke rumah kakak. Bahkan kamu tidak ingin pergi dari rumah kakak" ucap Sean mengingat apa yang terjadi pada saat Alea meminta untuk di culik.
"Pantas saja semua ini tidak asing" ucap Alea.
"Kamu tidak tidur lagi?" tanya Sean.
"Tidak, aku sudah tidak mengantuk ka" balas Alea.
"Apa kakak lelah?" tanya Alea.
"Tidak" balas Sean walau sebenarnya ia merasa cukup lelah.
"Jangan berbohong, aku tahu kakak lelah. Kalau begitu kita tidur saja ayo" ajak Alea menarik tangan Sean agar Sean beranjak dari duduknya.