"Apa? kamu mau tidur sama kakak?" tanya Sean.
"Memangnya kenapa ka?"
"Kamu tidur sendiri saja di kamar itu ya" jelas Sean.
"Tidak mau, Alea tidak mau tidur sendiri. Alea takut" tangis Alea.
"Baik-baik, kita tidur bersama-sama" ucap Sean meredakan tangisan Alea.
Sean meminta Alea untuk membersihkan wajah, tangan dan kaki terlebih dulu. Selesai itu, barulah Sean membersihkan tubuhnya.
Saat selesai mandi, Sean melihat Alea sudah tertidur. Bukannya gadis itu bilang tidak mengantuk?
Sean berjalan untuk melihat Alea. Ia memandangi gadis itu.
"Terimakasih sudah bangun kembali" pekik Sean mengusap lembut rambut Alea.
"Kakak?" pekik Alea yang membuka matanya.
"Ah ya, selamat tidur" ucap Sean.
"Kakak mau kemana?" tanya Alea.
"Kakak nau tidur disana" tunjuk Sean pada kursi panjang yang ada di dalam kamarnya.
"Disini saja" tarik Alea membuat Sean berada disampingnya.
"Awas jangan pergi"
"Hm"
Pada akhirnya, Sean tetap tidur bersama Alea. Ia mencoba untuk tenang. Mengendalikan emosinya.
"Tetaplah anggap dia sebagai anak kecil" pikir Sean.
...
Pagi kini menyambut keduanya, Sean mulai membuka matanya dan bangun dari tidurnya. Ia menoleh ke arah samping ternyata Alea masih berada disampingnya.
Sean beranjak dari ranjangnya, pergi membersihkan tubuhnya lalu berjalan menuju dapur. Kali ini bukan Alea yang memasak untuknya, tetapi Sean memasak untuk Alea.
Hari ini Sean membuat mini sandwich yang sangat menggoda. Awalnya Sean ingin membuatkan masakan lain untuk Alea, hanya saja saat ini Alea sedang dalam umur kelas 6 SD.
Biasanya anak sekolah selalu membawa sandwich ke sekolahnya. Jadi Sean membuat sandwich agar Alea bisa
"Wahh kakak sedang membuat apa?" ucap Alea berjalan memasuki area dapur yang menarik perhatiannya.
"Dapur ini?" pikir Alea.
Lagi-lagi rasa sakit di kepala Alea muncul kembali. Rasanya kali ini bayangan itu semakin kuat.
"Alea kamu tidak apa-apa?" tanya Sean yang memegang tubuh Alea karena hampir terjatuh.
Alea menggelengkan kepalanya, ia dipapah Sean untuk duduk di kursi ruang makan. Tak lupa Sean juga memberikan minuman hangat pada Alea.
"Minumlah" ucap Sean.
Alea terus memandangi Sean tanpa berkedip, ia merasa aneh dengan lelaki yang ada dihadapannya.
"Ada apa?" tanya Sean.
"Tidak ka" balas Alea.
Sean mengusap rambut Alea lembut, ia meminta Alea untuk tidak berpikir terlalu keras. Lagian Sean juga menikmati masa-masa ini.
Alea terlihat sudah cukup tenang, Sean kembali menuju dapur mengambil sandwich yang sudah ia siapkan.
"Ini untukmu" ucap Sean memberikan sandwich tersebut yang terlihat sangat enak.
"Sangat cantik, sayang sekali jika dimakan ka" pekik Alea memegang sandwich tersebut.
"Ternyata kakak juga bisa bikin sandwich" sambung Alea.
"Tentu saja" balas Sean.
Alea melahap sandwich yang ada di tangannya secara perlahan. Ia selalu merasa aneh, perasaannya seolah mengatakan bahwa ia pernah melakukan ini. Memakan sandwich namun bukan dengan orang yang yang ada dihadapannya saat ini.
"Tau ah" gumam Alea memilih untuk tidak mengingat apapun lagi. Yang ada dipikiran Alea saat ini, dirinya harus pergi ke sekolah. Karena teman-temannya sudah menunggunya.
"Kak, ayo mandi" ajak Alea sembari melahap sandwich.
Uhuk uhuk
Sean tersedak, ia segera mengambil air minum yang ada didekatnya.
"Mandi?" tanya Sean.
"Iya, aku kan harus sekolah ka. Teman-teman ku sudah menunggu" jelas Alea.
"Hmm, apa kamu lupa? ini sudah akhir tahun. Dan sekarang kamu sedang tidak sekolah dalam artian kamu sedang libur" jelas Sean.
"Benarkah?"
"Iya Alea"
"Ahh sayang sekali" keluh Alea.
"Sekarang cepat habiskan makanannya"
"Iya ka"
Alea kembali menghabiskan sisa sandwich yang ada di tangannya.
Selesai memakan sandwich Alea beranjak dari sana dan berjalan menuju ruang tv. Ia menyalakan layar besar tersebut menonton sebuah film kartun.
Alea di buat tertawa dan kesal oleh film tersebut, meskipun begitu ia menyukai apa yang ia tonton.
Sementara itu, Sean membuka laptopnya mengerjakan pekerjaan kantor.
Sudah satu jam film yang Alea tonton akhirnya selesai. Alea menoleh ke kanan dan kiri, ia mencari keberadaan Sean.
"Dimana kakak?" pekik Alea.
Alea berjalan mencari keberadaan Sean, ia membuka pintu kamar Sean. Disana terlihat Sean yang masih sibuk mengoperasikan laptopnya.
"Kak" panggil Alea.
"Iya" balas Sean tanpa menoleh.
"Kakak" panggil Alea lagi karena Sean yang tidak menoleh kepadanya.
"Iya Alea" kali ini Sean menoleh, namun tak lama ia kembali menatap layar laptop.
Alea memonyongkan bibirnya, ia berjalan mendekat pada Sea dan langsung duduk di pangkuan Sean.
Sontak hal itu membuat Sean terkejut, dan fokusnya beralih menuju Alea.
"Turun Alea" pinta Sean
"Tidak mau" tolak Alea.
"Kenapa? cepat turun" tegas Sean.
Bukan apa-apa, meskipun Alea pikirannya anak kelas 6 Sd, namun tubuhnya adalah tubuh layaknya orang dewasa.
Apalagi dia perempuan, dan Sean laki-laki.
Sean memejamkan matanya, sepertinya Sean tidak bisa jika Alea terus berada di apartemennya, bisa-bisa Sean kehilangan kesabaran dan pertahanannya.
"Kamu lebih baik mandi saja sana" ucap Sean menurunkan tubuh Alea.
"Mandi? sama kakak?" senang Alea.
Sean memegang kepalanya, mencoba untuk tidak membayangkan hal-hal aneh.
"Kamu bisa kan mandi sendiri?" tanya Sean.
"Aku tidak mau mandi sendiri" balas Alea.
"Yasudah jangan mandi saja" kesal Sean berbalik dan memilih untuk pergi dari kamarnya.
"Ada apa dengan kakak" pekik Alea.
Sean berjalan untuk mengambil minum, ia meneguknya cukup banyak.
"Lebih baik aku membaca buku saja" ucap Sean beralih menuju ruang baca dan mengambil beberapa buku.
Suasana di ruang baca sangat lah nyaman, tenang dan damai. Hanya saja itu tidak berjangka panjang.
Baru saja sepuluh menit Sean menikmatinya, Alea kembali datang dan menggangu Sean. Bahkan Alea juga mengacak-ngacak ruang baca serta buku-buku yang ada disana.
"Buku apa ini?" tanya Alea mengambil sebuah buku.
"Ah ini tidak seru" sambungnya dengan melempar buku tersebut.
"Nah ini sepertinya seru kak" ucap Alea mengambil satu lagi buku, namun setelah membaca judulnya Alea menggelengkan kepalanya lalu melemparkannya.
Alea melakukan hal yang sama selama tujuh kali melempar buku yang ia ambil ke sembarang arah.
"Alea!" kesal Sean membuat Alea terkejut lalu menghadap ke arah Sean.
"Kenapa kau melempar buku seperti itu?" tanya Sean dengan nada sedikit tinggi.
Alea menundukkan kepalanya, ia tidak mengeluarkan sepatah atau dua patah katapun.
Suara Sean membuat Alea tidak berkutik, bahkan saat ini air mata sudah membendung di kedua kelopak matanya.
"Jangan melempar buku seperti itu, buku itu adalah jendela ilmu. Kita bisa belajar dari sana, dan kita bisa membuka pikiran kita walau hanya lewat sebuah buku. Meskipun itu hanya benda mati kau harus tetap menghormatinya dan menghargainya. Setidaknya simpan saja jika tidak ingin di baca, jangan di lempar. Itu tidak sopan" jelas Sean.