Setelah selesai berbincang dengan dokter. Sean kembali menuju ruang rawat Alea. Disana ia melihat Maxi sedang memeluk Alea.
"Max" panggil Sean.
"Sean" balas Maxi.
"Kakak kenal orang ini?" ucap Alea melihat Sean.
"Dia-"
"Maxi ayo berbicara sebentar" potong Sean.
Sean menjelaskan apa yang terjadi pada Alea, dan itu membuat Maxi terkejut. Pantas saja dirinya merasa aneh saat pertama kali masuk ke dalam ruangan.
Maxi cukup kebingungan menyikapi hal ini, namun Sean mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Selesai berbincang, mereka kembali ke dalam. Disana Alea melepas infusan tangannya dan turun dari ranjang.
"Kamu mau kemana?" tanya Maxi.
"Kakak, kenapa kakak lama sekali" balas Alea yang langsung merangkul lengan Maxi.
"Iya, kakak tadi berbicara dengan om ini" jelas Maxi membuat Sean memasang mata elangnya. Bagaimana mungkin ia mendapat panggilan om.
"Oh hallo om" ucap Alea
"Panggil saja kakak, kemarilah peluk kakak" ucap Sean membuat Maxi menggelengkan-gelengkan kepalanya.
"Boleh emang?" tanya Alea pada Maxi sang kakak.
Maxi hendak menggelengkan kepalanya namun Sean segera memasang mata membunuhnya. Hingga pada akhirnya Maxi menganggukkan kepalanya memberikan izin agar Alea bisa memeluk Sean.
Alea yang mendapat anggukan melangkah memeluk Sean. Meskipun Alea tidak mengingatnya tetapi ini sedikit mengobati rasa rindu Sean yang sudah ia tahan kurang lebih selama satu tahun.
"Alea, cepatlah sembuh" lirih Sean.
"Alea?" tanya Alea melepas pelukannya.
"Ya namamu Alea mulai sekarang" ucap Maxi.
"Kapan aku mengganti nama?"
"Turuti saja perkataan kakak"
"Hm baiklah"
"Kakak akan bertemu dengan dokter untuk menanyakan apakah kamu bisa pulang atau tidak" jelas Maxi.
"Kau tunggu disini, jangan nakal. Dia juga kakak kamu, dan dia sangat menyayangi kamu jadi bersikap baiklah padanya" sambung Maxi.
Ia tahu betul, Alea sangatlah nakal pada usia kelas 6 sd. Oleh karena itu Maxi mewanti-wanti Alea agar tidak membuat masalah.
Sedangkan Sean, ia hanya menyumpal bibirnya menahan senyum melihat Alea yang menundukkan kepalanya karena Maxi yang memberinya ceramah.
Setelah Maxi pergi, barulah Alea meledek Maxi dari arah belakang.
"Ada apa? kakak menertawakanku ya" tunjuk Alea.
"Kau itu sangat lucu" ucap Sean mencubit pipi Alea.
"Kakakkk" teriak Alea.
Sudah dua puluh menit Alea dan Sean menunggu. Namun Maxi tak kunjung datang kembali.
"Kemana ka Maxi?" tanya Alea pada Sean.
"Hm, tidak tahu. Mau kita susul?" ajak Sean.
"Ayok" balas Alea merangkul tangan Sean yang entah kenapa ia merasa nyaman saat berada dengan Sean.
Sean tersenyum, namun berkali-kali menghembuskan nafas dalamnya. Iya sungguh harus menahan dirinya, baik saat melihat keimutan Alea, atau perlakuan Alea.
Mereka berjalan menuju dokter, dan dokter terkejut karena Alea sudah bisa berjalan dan memasang wajah cerianya.
"Yaampun kenapa dia ada disini?" tanya dokter yang mengetahui keadaan Alea.
"Memangnya kenapa dok?" tanya Sean.
"Diakan sudah koma selama satu tahun, harusnya istirahat saja. Biasanya orang yang tertidur selama satu tahun maupun lebih akan sedikit sulit untuk berjalan karena masih kaku. Mungkin membutuhkan satu hari atau dua hari atau bahakan lebih untuk kembali menormalkan tubuhnya" jelas Dokter.
"Kalau begitu bagaimana sekarang?" tanya Sean yang sedikit panik.
"Bawa dia kembali ke ruangannya"
"Aku tidak mau kembali, aku mau pulang" rintih Alea layaknya anak kecil.
"Ayo Alea"
"Tidak mau kakak"
"Kau ini" pekik Sean yang langsung menggendong Alea dengan gaya bridal style nya.
Alea diam, ia memanyunkan bibirnya. Ia merasa kesal karena Sean memaksanya, namun perasaan lain ia merasa nyaman dengan aroma tubuh Sean.
Sedangkan sang dokter ia tersenyum kala melihat tingkah anak muda itu.
Sean membaringkan tubuh Alea di ranjang rumah sakit. Dan dokter mulai mengecek bagaimana kondisi Alea saat ini.
Dokter mengerutkan dahinya, membuat Sean meneliti apa yang terjadi.
"Ada apa dok?" tanya Sean.
"Ini aneh, kenapa tubuhnya baik-baik saja. Dan semuanya berjalan normal. Bahkan ia sangat sehat dan bisa pulang hari ini" jelas Dokter.
"Benarkah? aku bisa pulang?" tanya Alea.
"Benar" balas Dokter.
"Kak ayo pulang" ajak Alea mengedipkan matanya beberapa kali.
Sean sedikit menarik nafasnya dalam, apa memang saat kelas 6 sd Alea seimut ini?
"Baik kita pulang. Tapi dok ini benar benar tidak apa-apa kan?"
"Tidak apa-apa, memang sedikit aneh. Namun tidak sedikit juga keajaiban muncul pada setiap orang" jelas dokter.
Kadang logika tidak bisa berjalan dengan dengan takdir yang sudah mengatur kita. Baik atau buruknya, selagi kita yakin semuanya akan baik-baik saja.
"Kalau begitu kami pamit dokter. Oh ya, apa Maxi menemui dokter?"
"Tidak, Maxi tidak menemui ku"
"Aish, dasar" pekik Sean yang langsung merogoh sakunya.
Ia hendak memanggil Maxi, namun ada sebuah pesan yang harus ia baca. Sean membukanya, ternyata itu pesan dari Maxi agar membawa Alea ke apartemennya.
"Sean, aku titip adikku. Saat ini aku mendadak akan ke luar kota bersama istriku. Jadi tolong jaga dia. Jangan sampai lecet. Dan titipkan salamku padanya. Oh ya, jangan pernah coba-coba untuk bersikap nakal padanya"
Begitulah isi dari pesan yang Maxi kirim pada Sean.
"Benar-benar dia" lirih Sean.
Selesai membaca pesan itu, Sean kembali menyimpan ponselnya. Ia memasukkan nya ke dalam saku jas miliknya.
Ia berpamitan pada Dokter lalu membawa Alea pergi menuju mobilnya.
Sebenarnya Maxi masih berada di sana, ia bersembunyi di antara mobil-mobil yang ada di parkiran rumah sakit itu.
Ia melihat Alea dan Sean mulai memasuki mobil, hal itu membuat Maxi merasa senang. Apalagi melihat ekspresi Sean yang kini sudah tidak muram lagi.
"Aku tahu kau sangat merindukannya. Meskipun dia dalam keadaan seperti itu, setidaknya rasa rindumu akan terobati" jelas Maxi.
"Le, bukannya kakak tak ingin membawamu pulang. Hanya saja lelaki yang saat ini sedang bersamamu jauh lebih membutuhkanmu. Ia sudah menderita selama satu tahun lebih ini. Dan kakak tahu bagaimana rasanya menunggu orang yang kita cintai. Persis seperti saat kakak menunggu Clara. Sangat berat, bahkan kakak hampir menyerah. Selain itu, kakak juga tahu kau akan aman dengannya. Dia akan memperlakukanmu dengan baik" sambung Maxi yang tanpa sadar air matanya sudah membendung du kelopak matanya.
"Ahh ada apa denganku, kenapa aku cengeng sekali" pekik Maxi menadahkan kepalanya agar air mata itu tidak terjatuh.
Maxi berjalan sedikit jauh, ia sengaja memarkirkan mobilnya tidak disana karena takut Sean akan mengetahuinya.
Disisi lain, mobil yang Sean kemudikan sudah melaju. Hari ini mood Sean sangat baik, meskipun Alea tidak ingat padanya.
"Alea" panggil Sean.
"Iya kak" balas Alea, namun tiba-tiba kepalanya sedikit sakit saat mendengar Sean memanggilnya.
"Ah ini sakit" pekik Alea.
"Ada apa Alea" tanya Sean menjadi panik.