Untung saja Alea memakai baju cardigan tunik dengan dalam kemeja putih dan celana jeans panjang. Setidaknya ia masih memaki kemeja putihnya, dan yang ia robek adalah cardigan tunik miliknya.
"Sepertinya jalan ini bisa membawa kita keluar dari sini" ucap Alea menebak.
"Hm" angguk Sean.
"Kalau begitu ayo" ajak Alea.
"Tidak sekarang"
"Kenapa?" tanya Alea namun tidak mendapat jawaban apapun. Ia sungguh sangat kesal melihat Sean yang selalu berbicara sedikit dengannya.
Mereka kembali berjalan menuju sungai, kali ini Sean membawa beberapa tanaman rambat dengan di bantu Alea.
Tak lupa Sean juga mengambil beberapa batang pohon yang patah namun cukup kuat untuk dijadikan sebagai tiang.
Kali ini Sean membuat sebuah gubuk kecil dan sangat sederhana untuk keduanya. Sean melihat langit hari ini sedikit mendung dan seperti akan turun hujan.
Jika dirinya keluar dari hutan hari ini dan terjadi hujan, itu akan sangat membuatnya kesulitan melihat dengan jelas bagaimana kondisi jalan yang ia tuju.
Oleh karena itu, Sean memilih esok harinya untuk keluar dari hutan ini.
"Boleh juga" ucap Alea pelan diiringi tawa kecilnya kala melihat Sean yang sedang membuat gubug kecil tempat mereka berteduh.
Pemandangan yang Alea lihat saat ini benar-benar sangat indah. Apalagi rambut Sean yang mulai basar dan keringat Sean yang bercucuran membuatnya terlihat semakin tampan.
"Kenapa tertawa, bantu aku" alasan Sean yang sebenarnya merasa tidak nyaman karena Alea yang terus memperhatikannya.
"Ok" jawan Alea.
Pagi berganti siang, siang berganti sore, dan kini langit mulai senja dengan rintik hujan yang berjatuhan secara bersamaan.
Ternyata perkiraan Sean benar, bahwa hari ini akan hujan. Air sungai yang tak jauh dari mereka sedikit meluap, namun tidak sampai pada gubug yang kini terisi oleh dua orang.
Dengan kepintarannya, Sean membuat gubug sedikit lebih tinggi dari area sungai. Sehingga jika air sungai meluap mereka akan tetap aman.
"Hujannya lumayan deras" pekik Alea membuka suara. Pasalnya, susana di sana sangat canggung. Hanya suara jankrik yang terus berbunyi menemani keduanya.
"Hm" balas Sean.
"Ayo bercerita" ucap Alea.
"Tidak" jawab Sean membuat Alea memicingkan matanya kesal.
"Terus apa yang harus kita lakukan, ini sangat membosankan" ucap Alea.
"Oh ya. Kenapa aku ada disini, dan tidak ingat apapun" sambung Alea.
"Jangan berpikir terlalu keras jika itu membuatmu sakit" balas Sean membuat Alea beralih menatapnya.
"Tidurlah" sambung Sean lalu menutup kedua matanya.
Alea masih diam, suasana malam itu sangat dingin. Ia merasa kesulitan untuk tidur. Apalagi bunyi rintik hujan yang terus mengganggunya.
...
Pagi ini Alea membuka matanya, ia tidak melihat Sean di sampingnya. Dengan panik, Alea segera bangun dan keluar mencari sosok lelaki itu.
Tidak ada siapa-siapa, apa Sean telah meninggalkannya dan pergi sendiri? pikir Alea.
"Sean" panggil Alea.
"Seann" Alea yang terus menyebutkan nama itu.
Alea kesana kemari memanggil Sean, namun lelaki itu tak kunjung datang. Entah kenapa hal ini membuat Alea takut dan sedikit khawatir.
Mungkin karena Alea yang tidak tahu siapa dirinya dan hanya Sean satu-satunya orang yang bisa menolongnya keluar dari hutan ini.
Alea terduduk, ia menundukkan kepalanya menutup dengan kedua telapak kanannya.
"Apa yang harus aku lakukan" pikir Alea.
"Kau kenapa" tanya Sean membuat Alea menadahkan kepalanya.
"Sean?" panggil Alea yang langsung berdiri dan memeluknya
.
"Syukurlah kamu tidak meninggalkanku" gumam Alea namun terdengar oleh Sean.
"Lepas Alea" ucap Sean dingin seperti biasanya.
"Ah baiklah, maaf itu refleks" jelas Alea melepas pelukannya.
"Wah apa itu " sambung Alea melihat pisang di tangan kanan Sean.
Sean menyimpannya, sebelum Alea bangun Sean sudah pergi mencari makanan untuk perjalanannya pulang.
Mereka membersihkan wajah dan tubuh mereka secara bergantian dengan syarat tidak saling mengintip dan tidak meninggalkan.
Selesai itu, Sean dan Alea memakan sedikit buah untuk mengisi perutnya dan menyisihkan nya untuk dibawa perjalanan pulang nanti.
"Kemari" ajak Sean meraih tangan Alea membawanya masuk ke dalam hutan.
Alea sedikit terkejut dengan gerakan Sean yang tiba-tiba meraih tangannya. Tangan Sean lebih besar dari tangan Alea yang mungil, dan itu sedikit membawa kehangatan pada dirinya.
Mereka berjalan mengikuti jalan kecil yang dipimpin oleh Sean. Sesekali keduanya berhenti untuk beristirahat dan mengisi tenaga juga menjaga agar tenaga mereka tidak cepat habis.
Dengan kejelian Sean, akhirnya mereka bisa menemukan jalan keluar dari dalam hutan dan menemukan sebuah jalan yang di lewati kendaraan.
Meskipun tidak begitu ramai, namun ada satu atau dua mobil dan motor yang melewati jalan itu.
"Ah, akhirnya setelah berjalan selama enam jam" pekik Alea yang senang kala berhasil keluar dari dalam hutan.
Sean masih fokus melihat ujung jalan yang tak kunjung melihat sebuah mobil, hingga beberapa menit mereka melihat ada mobil yang melewati keduanya. Sean melambaikan tangannya namun tidak ada mobil yang berhenti karena melihat pakaian keduanya yang terbilang lusuh dan kotor.
Sampai dua puluh menit kemudian barulah ada sebuah mobil kolbak hitam berhenti.
"Apa kami bisa ikut menumpang?" tanya Alea.
"Silahkan, tapi ruang depan penuh. Tidak apa-apa kalian naik di belakang?" ucap sopir tersebut.
Dengan cepat Alea mengangguk dan meminta Sean untuk segera naik ke atas mobil.
Sean dan Alea berhasil menaiki mobil, mereka mulai menikmati perjalanan dengan pemandangan daerah sekitar.
Pertama naik, Alea terus berbicara dan bertanya kesana kemari pada Sean walau hanya mendapatkan anggukan atau dehaman dari lelaki itu Alea tetap menikmatinya.
Lima belas menit perjalanan, Alea mulai diam. Hingga lima menit kemudian dirinya mulai tertidur di pundak kokoh milik Sean.
Sean hendak menghindar, namun ada rasa tidak enak melihat wajah Alea yang sangat kelelahan. Apalagi saat ini tangan Alea tengah merangkul lengan kanan Sean.
Tak lama dari itu, barulah di susul oleh Sean yang menutup kedua matanya.
"Permisi mas, mbak" panggil sopir yang membangunkan keduanya setelah dua jam perjalanan.
Alea mulai membuka matanya, ia mengucek kedua matanya membuat sopir terkejut kala melihat kedua bola mata Alea.
Saat ini tangannya terasa hangat seolah sedang memeluk sesuatu yang sangat nyaman. Rasa enggan melepaskan dan bangun kini sedang memenuhi hatinya.
"Hey bangun" ucap Sean membuat Alea menoleh.
Ia baru menyadari bahwa tangannya tengah memeluk lengan Sean, Alea segera melepaskannya ia kira semua itu hanyalah mimpi.
"Terimakasih pak" ucap Alea mengalihkan perhatian.
Keduanya menuruni mobil, setelah mobil kembali melaju. Sean memberhentikan seseorang dan berniat untuk meminjam ponselnya.
"Jamsh tolong jemput di alamat xxx" ucap Sean meminjam telepon seseorang untuk memanggil orang kepercayaanya yang bernama Jamshon.