Sesaat Sean dan Maxi berbincang tiba-tiba salah satu jari tangan Clara bergerak.
Hal itu sontak membuat Sean dan Maxi menoleh, tak lama dari itu kedua mata Clara mulai bergerak dan membuka matanya.
"Clara" panggil Maxi dan Sean secara bersamaan.
"Aku akan memanggil Dokter Riany" ucap Maxi mendapat anggukan dari Sean.
Dokter Riany segera datang dan melihat keadaan Clara. Ia memasang senyumnya lebar mengatakan bahwa sekarang semuanya sudah membaik dan normal.
"Kakak" pekik Clara saat melihat Sean berada di sampingnya.
"Maxi" sambungnya.
"Clara, akhirnya kamu bangun" ucap Maxi meraih tangannya.
"Kalian" pekik Clara merasa aneh dengan keduanya. Karena setau Clara hubungan mereka sangatlah tidak baik sehingga dirinya dan Maxi berhubungan secara diam-diam.
"Jangan terlalu banyak dipikirkan. Kami sudah baik-baik saja. Semua hanya kesalah pahaman saja. Jika kamu ingin mengetahuinya dengan jelas cepatlah sehat kembali dan bermain bersama kami" jelas Sean membuat Clara melukis senyumnya.
"Terimakasih Max" alih Sean kembali memeluk Maxi.
Suasana disana penuh haru, Sean juga tidak melupakan untuk berterima kasih pada Dokter Riany yang sudah merawat adiknya.
Dokter Riany merasa senang, karena sebagai seorang dokter melihat pasien kembali sembuh adalah sebuah keberhasilan sekaligus kebahagiaan.
Disisi lain Alea masih berada di kapal pesiar yang besar.
Saat ini Felix tengah menutup kedua matanya dengan kain.
"Felix kau akan membawaku kemana?" tanya Alea.
"Ikuti saja. Awa hati-hati" balas Felix memapah Alea untuk menunjukan jalan.
"Satu langkah lagi kita akan sampai" sambungnya.
"Baiklah"
"Stop, berhenti disini. Siap-siap ya, aku akan membukanya"
"Iya"
Perlahan Felix membuka ikatan kain itu, dan perlahan Alea membuka matanya.
"Wahh sangat indah" pekik Alea saat pertama kali membuka matanya.
Benar-benar sangat indah. Mereka berada tempat paling atas kapal itu. Disana sudah ada meja dan dua kursi. Tak lupa hiasan outdoor membuat tempat itu semakin indah, apalagi saat malam seperti ini.
Banyak lampu kecil yang menyala, dan berkelip.
"Apa kamu suka?" tanya Felix.
"Aku menyukainya. Terimakasih" balas Alea memasang senyum senangnya.
"Aku senang jika kamu menyukainya" timpal Felix.
Felix mengulurkan tangannya mengajak Alea berjalan dan duduk di atas kursi yang sudah disiapkan.
Felix mempersatukan kedua tangannya hingga terdengar suara kepukan tangan.
Selesai Felix menepukkan kedua tangannya, datanglah seseorang dengan pakaian yang rapih membawa makanan dan minuman.
"Makanlah" ucap Felix saat makanan sudah dihidangkan.
Alea tersenyum, hari ini Felix benar-benar berbeda. Ia sudah menyiapkan semuanya dengan sangat baik.
"Kenap memandangiku seperti itu?" tanya Felix melihat Alea yang terus memandanginya.
"Ada denganmu, kenapa melakukan semua ini?" tanya Alea.
"Aku hanya ingin bersamamu, apa itu tidak boleh?" ucap Felix.
"Kau ini ada-ada saja" timpal Alea membuat keduanya tertawa ringan.
"Sudah lama kita tidak bertemu. Kau terlalu sibuk di luar negeri sampai sangat jarang menghubungiku"
"Bukannya seperti itu, hanya saja aku selaku ingin pulang jika ingat orang rumah" balas Alea.
"Karena itu sudah berlalu, bagaimana kalau kita makan saja" sambung Alea melihat hidangan yang sangat menggiurkan.
"Aku tahu kau lapar, cepat dimakan" ucap Felix.
"Ah kau memang terbaik" balas Alea.
Mereka menyantap hidangan yang ada di atas meja.
Alea merasa senang dan bahagia, namun tetap saja ia selalu memasang benteng was-was nya pada Felix.
Alea mengira bahwa apa yang dilakukan Felix saat ini sangatlah aneh. Dan perasaannya entah kenapa selalu ingat pada sang kakak.
Namun Alea tidak membawa ponselnya, oleh karena itu ia tidak bisa menghubungi sang ikak.
Alea memakan makanan yang ada dihadapannya dengan sangat lahap. Ia merasa perutnya terasa sangat lapar.
Uhuk uhuk
Alea yang tersedak.
"Pelan-pelan, tidak akan ada yang merebutnya. Ayo minum dulu" ucap Felix memberikan gelas yang berisi air putih.
Alea mengambilnya ia meminumnya supaya tidak tersedak. Setelah itu, Alea mulai memakannya dengan pelan-pelan.
Dua puluh menit telah berlalu, mereka baru selesai melakukan dinner. Alea dan Felix memilih untuk berdiri di ujung kapa menikmati pemandangan yang sangat indah.
Malam ini banyak sekali bintang yang bertaburan du langit, bahkan bulanpun menyinari mereka dengan cahaya dan bentuk yang bulat sempurna.
"Pakai ini, anginnya cukup kencang" ucap Felix membuka jas yang ia pakai dan memberikannya pada Alea.
Rasanya perlakuan Felix malam ini sangat hangat. Terlihat jelas dalam wajahnya jika Felix melakukannya dengan sangat tulus.
Alea kini mulai merasa ragu, apakah benar yang menyebabkan keluarganya dan keluarga Sean mati adalah karenanya?
Pertanyaan itu kini memenuhi pikirannya. Dengan sikap Felix saat ini apakah mungkin.
"Sudah sangat malam, ayo kembali" ucap Felix melihat jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Iya" balas Alea.
"Ini kamarmu. Langsung tidur ya, dan tidurlah yang nyenyak. Besok kita akan melakukan olahraga pagi dan diving, jadi jangan tidur terlalu malam" jelas Felix diakhiri kecupan di punggung tangan kanan Alea.
"Iya baiklah" balas Alea memasang senyum manisnya.
"Kau juga, beristirahatlah. Terimakasih sudah melakukan semua ini untukku" sambung Alea.
"Iya honey" balas Felix.
Alea segera masuk ke dalam kamar, dan Felix ia juga berjalan menuju kamarnya yang bersebelahan dengan Alea.
Sebenarnya Felix ingin melakukan sesuatu dengan Alea, hanya saja hati kecil Felix mengatakan bahwa itu adalah hal yang buruk. Mau bagaimanapun mereka belum menikah, dan hal itu hanya bisa dilakukan oleh sepasang suami dan istri.
"Aku harus bisa menahannya" ucap Felix melempar tubuhnya ke atas ranjang.
Felix memejamkan matanya, namun ia bukan tertidur melainkan pikirannya saat ini penuh dengan rencana yang akan terjadi besok.
Felix mengambil ponselnya dan memainkan layar benda pipih itu.
Perusahaan Maxi dan rumah itu sudah ada ditangan Felix. Namun ia masih belum tenang karena dirinya kehilangan jejak Maxi.
Felix sangat khawatir, karena Maxi bukanlah pria yang bodoh.
"Kemana dia pergi" pekik Felix.
Memikirkan hal itu membuat kepalanya terasa pusing, hingga tak lama Felix mulai menutup matanya dan tertidur.
Berbeda dengan Alea, ia masih membuka matanya. Dirinya tengah merindukan seseorang berharap orang itu akan datang menemuinya.
"Apa aku salah jika merindukan Sean?" pikir Alea.
Alea merasa bingung dengan perasaannya, apakah ia mencintai Sean atau Felix?
Namun perasaan saat bertemu antara Sean dan Felix berbeda.
Saat bertemu dengan Sean degup jantungnya terasa berdebar, selain itu ia selalu merasa ingin dekat dengannya.
Berbeda saat bersama dengan Felix, Alea merasa Felix seperti Maxi, ketika mereka bersama mereka tertawa dan bercanda juga bertengkar layaknya seorang adik kakak.
Bahkan selama ini Alea beranggapan Felix bersikap layaknya seperti seorang kakak.
"Apa rasa sayangku pada Felix hanya sekedar rasa sayang pada sang kakak, atau hanya tidak enak untuk menolaknya" tiba-tiba Alea mengucapkan kalimat itu.
Pikirannya penuh dengan tanda tanya yang ada dihatinya.