"Ah sudahlah lebih baik aku tidur" sangkal Alea lalu memejamkan matanya berusaha untuk tidur walaupun itu sangat sulit.
Esok harinya,
Maxi dan Sean sudah bersiap dengan rencana yang mereka susun saat malam untuk mencari Alea.
Maxi juga sudah memberitahu apa yang terjadi pada perusahaannya.
Setelah berdiskusi kemarin malam, mereka menyimpulkan bahwa Felix yang melakukan semuanya.
Felix sengaja mengadu domba keluarga mereka. Namun Sean dan Maxi tidak tahu apa alasan Felix hingga melakukan hal itu.
Dan sekarang, Sean juga Maxi merasa panik karena Alea berada di tangan Felix.
"Sean apa kau sudah menyiapkan semuanya?" tanya Maxi.
"Tenang saja semuanya sudah ku atur" balas Sean.
"Baiklah. Bibi?" panggil Maxi.
"Iya den?"
"Tolong jaga Clara, jika Clara mencari kami bilang saja kami sedang melakukan bisnis" jelas Maxi.
"Baik den"
"Bi, saya titip adik saya Clara" ucap Sean
"Tentu saja" balas Bi Mirna dengan senyumnya.
"Oh ya, ini ponsel untuk bibi. Jika ada apa-apa bibi tekan saja angka satu yang ini" jelas Maxi mendapat anggukkan dari Bi Mirna.
Mereka masih berada di markas rahasia milik Maxi.
Awalnya Sean meminta agar Maxi memindahkan Clara ke apartemen miliknya. Namun Maxi menolak, ia tidak ingin menanggung resiko lagi, apalagi harus kehilangan Clara untuk yang ke dua kalinya.
Maxi memberitahu Sean untuk tidak memindahkan Clara agar dia tetap aman. Ia memilih untuk membawa bibi ke dalam markas tersebut dan menjaga Clara.
Selain keselamatan Clara, Maxi juga mengkhawatirkan keselamatan sang bibi. Dengan begini bibi dan Clara akan aman.
Setelah memikirkan banyak pertimbangan akhirnya Sean menyetujui apa yang dijelaskan oleh Maxi.
Dan dengan segala rencana, akhirnya Maxi juga Sean sudah siap untuk melakukannya hari ini.
"Kau yang kemudi" ucap Sean.
"Kau saja" timpal Maxi.
"Jika kau ingin mendapat restuku kau yang mengemudi" sambung Maxi.
"Hey, kau juga jika ingin mendapat restuku kau yang menyetir" balas Sean.
"Aish" kesal Maxi.
"Kau saja, ayolah" bujuk Maxi.
"Yasudah mana kuncinya" ucap Sean.
"Ini" balas Maxi memberikan kunci mobil dengan ekspresi kemenangannya.
"Cih" dengkus Sean.
Kali ini Sean yang mengemudikan mobilnya, mereka melaju menuju sebuah tempat. Tak lupa Sean juga melibatkan Jamsh dan bawahannya.
Sementara itu, Alea baru saja membuka matanya. Ia mendengar ada ketukan pintu hingga memaksanya untuk beranjak dari kasur yang nyaman.
Klek
Alea membuka pintu, ternyata Felix sudah siap dengan baju renangnya.
"Selamat pagi" sapa Felix dengan senyumnya.
"Felix, selamat pagi" balas Alea mengucek kedua matanya.
"Ah ternyata kau masih tidur"
"Hehehe"
"Ayo bersiap, kita akan olah raga lalu melakukan diving" ajak Felix.
"Ok, tunggu aku" ucap Alea mendapat anggukan dari Felix.
Alea kembali berjalan ke dalam kamarnya, entah kenapa bantal itu menarik perhatian Alea. Ia sangat ingin tidur kembali melanjutkan mimpinya.
"Alea cepat" ucap Felix yang ternyata masih memantaunya di pintu.
"Iya-iya" balas Alea menuju kamar mandi yang ada disana.
Felix menahan senyumnya melihat tingkah Alea yang sangat lucu.
"Aku tunggu di depan, jangan lama-lama" teriak Felix.
"Iyaa" balas Alea.
Selesai mencuci wajah dan menggosok gigi Alea keluar dari kamar mandi, ia mengambil beberapa pakaian dan mengganti pakaiannya.
"Felix" panggil Alea yang sudah berada dibelakang lelaki.
"Kau lama sekali" pekik Felix.
"Iya iya maaf, jadi gak olahraga nya?"
"Jadi"
Alea dan Felix mulai melakukan aktivitas paginya dengan berolahraga, selesai itu mereka sedikit memakan makana lalu minum.
Kini Alea sedang dipasang alat untuk diving, begitu juga dengan Felix.
Alea terus mengomel pada Felix karena sebenarnya tidak perlu juga peralatan ini dipasang dibadannya.
Hanya saja Felix terlalu khawatir pada Alea,ia takut jika nanti terjadi sesuatu pada Alea. Hingga pada akhirnya mau tak mau Alea tetap menurutinya.
Setelah serasa aman dan semuanya sudah siap, mereka melompat secara bersamaan masuk ke dalam air.
Hawa air dingin sangat terasa pada tubuh mereka, namun Alea dan Felix menyukai itu. Sangat menyegarkan.
Mereka mulai menyelam melihat pemandangan bawah laut.
Sangat Indah, airnya begitu jernih. Dan kerang yang tumbuh di dasar air laut terlihat sangat cantik. Tak hanya itu, disana juga ada banyak ikan-ikan yang berbeda jenis.
Sesekali Alea menunjuk meminta Felix untuk melihatnya. Keduanya sangat menikmati kegiatan mereka.
Felix mengeluarkan sebuah kotak yang berisi kamera di dalamnya. Dengan gerakan tangannya Felix meminta Alea untuk bergaya dan memotret nya.
Begitu juga dengan Alea, ia mengambil kamera tersebut lalu memotret Felix.
Tidak sampai disitu, mereka juga memberikan makanan pada ikan yang berada di dekat mereka.
Felix sudah menyiapkan semuanya, termasuk orang yang memimpin mereka diving. Meskipun Felix yakin ia bisa melakukannya sendiri, namun ia selalu khawatir dengan Alea. Ia takut jika terjadi sesuatu padanya.
Hingga semuanya Felix persiapkan dengan sangat baik.
Setelah cukup lama Alea dan Felix naik ke permukaan. Mereka beristirahat sejenak mengisi perut mereka yang sedikit lapar.
"Apa kau menyukainya? pemandangan di bawah sana indah bukan?" ucap Felix.
"Benar sekali, sangat indah" balas Alea.
"Ini makanlah sesuatu" timpal Felix memberikan sandwich pada Alea.
"Kau juga makan"
"Iya iya"
"Andai saja kakak ada disini, pasti ini akan lebih menyenangkan bukan?" tanya Alea.
"Ah ya" balas Felix.
Felix beralih melihat jam arloji di tangannya, hampir saja ia lupa dengan urusannya. Saat ini belum ada informasi apapun mengenai Maxi. Dan hal itu membuat Felix terus was-was.
"Sepertinya aku harus tetap membuat Le diam disini" pikir Felix menatap ke arah Alea yang sedang melahap sandwich.
"Hey, kenapa melamun saja. Ayo makan" ajak Alea.
"Alea" panggil Felix dengan nada serius membuat Alea menghentikan memakan sandwich yang ada ditangannya.
"I-ya?"
"Aku sedang ada urusan, bisakah kamu disini lebih dulu?"
"Ada apa?" tanya Alea melihat sikap aneh dari Felix.
"Tidak ada apa-apa, hanya saja di perusahaan ada sedikit masalah. Aku harus membantu Maxi mengatasinya" jelas Felix berbohong.
(Kamu berbohong) ucap Alea yang sudah mengenal Felix dengan sangat dekat. Alea tahu, jika Felix berbicara padanya tanpa melihat matanya berarti ia sedang berbohong.
"Oh ya, baiklah. Jangan terlalu lama, dan bilang pada kakak kalau aku disini" balas Alea.
"Tentu" ucap Felix memeluk Alea lalu pergi dengan langkah tegap sekaligus cepat.
(Kenapa kau berbohong padaku, apa yang sebenarnya terjadi) gumam Alea.
Alea tidak melanjutkan memakan sandwich miliknya. Hal ini membuat mood Alea memburuk.Ia sangat takut jika terjadi sesuatu pada Maxi.
"Apa yang harus aku lakukan" pikir Alea beranjak dari duduknya.
"Hallo nona, saya Mira. Saya bertugas untuk menjaga nona sampai tuan Felix kembali" jelas seseorang saat Alea membalikkan tubuh.
"Ah, kamu mengagetkanku saja" pekik Alea.
"Maaf nona" bungkuk wanita itu.