"Tunggu, aku baru menyadari kau bilang membenciku dan Leon terkecuali Clara?" ucap Sean.
"Hm" angguk Maxi.
"Lalu kenapa Clara bunuh diri?"
"Kau yang seharusnya tahu sebagai kakaknya" balas Maxi yang wajahnya berubah menjadi kesal.
"Yang ku tahu Clara bunuh diri karena kau yang menyuruhnya lewat sebuah pesan" ucap Sean membuat Maxi mengangkat kepalanya.
"Apa? aku tidak pernah memberikan pesan seperti itu padanya"
"Kau yakin?"
"Tentu saja, aku sangat mencintai Clara. Bagaimana mungkin aku memintanya untuk bunuh diri. Kau pasti berbohong supaya punya alasan untuk membenciku"
"Tunggu disini" ucap Sean beranjak membuka sebuah laci dan mengambil ponsel yang berwarna merah muda.
"Lihat ini" sambung Sean memperlihatkan sebuah pesan pada ponsel itu.
Sean masih menyimpan ponsel milik Clara, agar ia selalu ingat akan kematian sang adik dan terus berusaha untuk menjatuhkan Maxi yang telah membuat adiknya seperti ini.
Selain itu, barang tersebut bisa menjadi bukti seperti saat ini untuk berjaga-jaga.
"Ini bukan gaya pesan ku" ucap Maxi.
Ia merogoh sakunya mengeluarkan ponsel miliknya. Ia memperlihatkan pada Sean chat terakhir dengan Clara sekaligus bagaimana gaya kalimat dan penulisannya.
"Jika saja aku terlambat, mungkin Clara tidak bisa tertolong" ucap Maxi akhirnya membuka mulutnya.
Sean menoleh, apa yang sebenarnya terjadi.
"Maksudnya?"
Maxi menceritakan semuanya pada Sean. Ia memberitahu Sean bahwa dirinya mengirim satu orang mata-mata untuk masuk kedalam rumah Sean secara diam-diam.
Tidak ada yang mengetahuinya, bahkan Clara sekalipun. Maxi sengaja melakukannya agar ia tahu bagaimana kondisi Clara sebenarnya.
Hingga saat itu, Maxi mendengar Clara di kurung di dalam kamarnya.
Semenjak saat itu Maxi selalu diam-diam datang ke kamar Clara untuk menemuinya selama lima belas menit.
Mereka akan duduk disamping jendela dengan memandangi indahnya langit malam saat itu, yang bertaburan bintang.
Namun sudah tiga hari Maxi tidak datang ke kamarnya Clara. Saat itu perusahaan Maxi mengalami banyak masalah yang membuat Maxi tidak mempunyai waktu untuk datang ke rumah Clara.
Hingga pada hari ketiga, Maxi mendengar bahwa Clara bersikap aneh. Malam itu Maxi segera menemui Clara.
Saat diperjalanan menuju rumah Clara, Maxi bertemu kakek-kakek yang hendak menyebrang.
Maxi tidak tega melihatnya, ia turun dari mobilnya dan membantu kakek tersebut untuk melewati jalan yang ramai itu.
Setelahnya, Maxi hendak kembali ke dalam mobil. Namun perut kakek itu berbunyi, sepertinya kakek itu merasa lapar.
Lagi-lagi Maxi tidak tega melihatnya, ia memilih untuk membawa kakek itu makan.
Hingg beberapa menit, mereka berdua keluar dari tempat makan. Maxi berpamitan pada kakek tersebut, dan sebelum pergi kakek itu memberikan sebuah kalung yang cantik pada Maxi.
Awalanya Maxi menolaknya, namun ia merasa tidak enak saat kakek itu berharap bahwa ia harus menerimanya.
"Biarkan kekasihmu memakai kalung ini" jelas kakek itu.
Untung menghargai sang kakek, Maxi akhirnya mengambil kalung tersebut tak lupa diiringi dengan senyumnya.
Maxi kembali ke dalam mobil melajukannya menuju rumah Clara.
Seperti biasanya, Maxi diam-diam memasuki kamar Clara.
Dan saat itu, Maxi sangat terkejut saat melihat Clara sudah berlumuran darah di pergelangan tangannya.
"Apa yang kau lakukan Clara" tanya Maxi tak lama dari itu Clara mulai menutup matanya.
Maxi berusaha untuk membangunkan Clara namun tidak ada pergerakkan apapapun. Dirinya merasa cemas juga khawatir. Namun Maxi juga bingung harus melakukan apa.
Hingga tak lama Maxi mengingat mata-mata yang ada di rumah ini. Maxi menelfonnya meminta untuk datang ke kamar Clara.
Dengan cemas menunggu akhirnya mata-mata itu datang dan berteriak. Membuat Sean segera datang dan membawanya pergi ke rumah sakit.
Saat di rumah sakit semuanya panik apalagi Maxi. Ia masih diam-diam mengikutinya sampai ke rumah sakit.
Hingga dokter mengatakan bahwa pasien sudah tidak dapat tertolong.
Maxi benar-benar terpukul, ia tidak percaya jika Clara meninggalkannya.
Saat semua orang sibuk, Maxi mengganti pakaiannya dengan memakai penyamaran seorang dokter.
Ia memilih untuk mengambil tubuh Clara memindahkannya ke ruang rahasia miliknya dimana disana peralatan medis sangat canggih, selain itu Maxi juga menyewa dokter terbaik untuk merawat Clara.
"Ternyata kau yang menculik Clara" tegas Sean.
"Aku tidak sanggup kehilangan dirinya. Dan kau malah mau menguburnya tanpa berusaha lagi. Apa kau tahu? saat ini tubuhnya sudah baik-baik saja, hanya saja dia masih belum ingin membuka matanya" jelas Maxi.
"Aku ingin bertemu dengannya" ucap Sean memasang wajah seolah memohon pada Maxi.
"Baik, aku akan membawamu bertemu dengannya" balas Maxi.
"Apakah bisa malam ini?" tanya Sean.
Maxi sedikit berpikir namun pada akhirnya ia menganggukkan kepalanya. Bagaimanapun juga, ia merasakan apa yang dirasakan seorang kakak saat ingin melihat sang adik.
"Sorry" ucap Sean mengulurkan tangannya.
Maxi mendengkus, ia tersenyum dan membalas uluran tangan Sean.
"Sorry" balas Maxi.
Keduanya saling berpelukan, bahkan Sean dan Maxi meneteskan air matanya.
Mengikhlaskan dan memaafkan membuat hati terasa lega dan ringan. Tidak ada beban apapun.
Ternyata selama ini terjadi kesalahpahaman antara kedua keluarga mereka. Andai saja ini diketahui sedari dulu, mungkin persahabatan mereka akan baik-baik saja sampai sekarang.
Berdiskusi untuk menyelesaikan sebuah masalah itu sangat penting, karena jika tidak berdiskusi kita tidak akan tahu apa yang harus kita lakukan, dan apa permasalah yang terjadi antara kedua belah pihak.
Intinya, komunikasi sangatlah penting dalam hal apapun. Baik atau buruk, semuanya perlu di perjelas dengan ketenangan dan saling bicara. Jika seperti itu, maka kesalah pahaman tidak akan terjadi
Hubungan mereka akan membaik mulai saat ini.
Sesuai yang dijanjikan oleh Maxi, malam ini ia membawa Sean untuk menemui Clara.
Sean meminjamkan mobilnya, dan Maxi memimpin jalan dengan mengemudikannya.
Tempat ruang rahasia Maxi terbilang cukup jauh dan sangat rahasia.
Tempatnya begitu aneh namun terlihat keren. Peralatan canggih berada di dalamnya.
"Ternyata kau mempunyai tempat seperti ini" ucap Sean.
"Jangan norak. Aku tahu kau juga mempunyai tempat seperti ini, bahkan lebih bagus dari ini" timpal Maxi.
"Hm" balas Sean.
"Dokter" sapa Maxi.
"Bagaimana keadaannya" sambungnya.
"Dia baik-baik saja" balas Dokter Riany, wanita paruh baya.
"Terimakasih dokter"
"Sama-sama. Silahkan jika kalian ingin melihatnya, saya permisi lebih dulu" ucap Dokter Riany lalu pergi meninggalkan mereka.
Sean berjalan mendekat pada Clara, sungguh tak percaya dirinya masih bisa melihat Clara saat ini.
"Clara, ini kakak" ucap Sean memegang tangan sang adik.
Belum lama dari itu, tiba-tiba cincin permata biru yang dipakai Sean menyala. Begitu juga dengan kalung yang dipakai Clara juga menyala.
"Kau melihatnya?" tanya Maxi ke arah kalung itu.
"Ya aku melihatnya, kenapa bisa menyala" tanya Sean.
"Lihat cincin yang kau pakai juga menyala"
Semuanya terkejut melihat itu, benar-benar sangat aneh.
"Seingatku dulu Clara tidak memakai kalung, kenapa sekarang ia memakai kalung ini?"
"Itu kalung dari kakek-kakek yang ku ceritakan kemarin. Aku menyukai bentuknya, dan aku memberikannya pada Clara" jelas Maxi.