"Hey, sepertinya kamu sudah melupakannya" ucap Alea yang hampir terjatuh karena semakin pusing.
"Hati-hati, kamu tidak apa-apa?" tanya Sean yang segera menahan tubuh Alea.
"Aku tidak apa-apa, hanya saja ini sakit. Hatiku terasa sakit karena kamu melupakannya dan kenyataannya semua itu bohong" jelas Alea memegang d**a sebelah kanannya.
"Bagaimana jika itu benar?" ucap Sean membuat tangisan Alea tiba-tiba berhenti.
"Maka aku akan sangat bahagia"
"Lalu apakah kamu juga akan membalasnya" tanya Sean.
"Tentu saja, aku mulai menyukaimu tapi kamu menghancurkan semuanya" jawab Alea yang tak lama dari itu terjatuh dan tidak sadarkan diri.
"Alea" panggil Sean.
"Alea bangun" ucap Sean yang mulai khawatir.
Ia mengangkat tubuh Alea membawanya masuk ke dalam kamarnya. Sean membaringkan tubuhnya di ranjang.
Sean hendak pergi namun tiba-tiba tangan Alea meraih tangan Sean membuat langkah lelaki itu terhenti.
"Alea?" panggil Sean mendekat.
"Sean, aku sudah berusaha untuk membencimu atas apa yang telah kamu lakukan. Namun semua itu sia-sia, semakin aku berusaha semakin sulit untuk menghilangkan dirimu di dalam hatiku" jelas Alea lalu menarik tubuh Sean hingga terjatuh padanya.
Tanpa sadar Alea mendekatkan bibirnya dengan bibir Sean hingga keduanya saling bersentuhan.
Sean sedikit menikmatinya, namun ia segera sadar dan kembali menarik tubuhnya lalu pergi meninggalkan Alea yang berada di dalam kamar.
"Ada apa denganku" pekik Sean mengusap wajahnya kasar.
"Ahh haruskah aku membereskan semuanya?" pekik Sean melihat apartemen miliknya yang berantakan.
Sean melangkah lalu ia mengambil barang yang berjatuhan dan membereskannya.
Satu persatu barang yang terjatuh atau berantakan sudah mulai kembali ke tempatnya. Dengan tekun Sean membereskan semuanya.
Selesai merapikannya Sean kembali ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
Sean menarik selimutnya, matanya mulai terpejam.
"Sean" panggil Alea yang muncul dari dalam selimut.
Sontak lelaki itu terkejut, Sean sedikit memundurkan tubuhnya.
"Sedang apa kamu disini" tanya Sean.
"Aku? tidur" balas Alea dengan cengiran kudanya.
"Kau masih mabuk? cepat bangun jangan tidur disni. Kembali ke kamarmu" jelas Sean.
Alea memonyongkan bibirnya dan ia kembali memeluk Sean.
Sean berusaha melepaskan Alea namun Alea memeluknya dengan sangat erat.
"Terserah saja, lebih baik aku tidur" gerutu Sean yang memilih untuk memejamkan matanya meskipun Alea masih memeluk dirinya.
Beberapa menit setelah Sean tertidur pulas, Alea membuka matanya. Ia bergerak dan turun dari ranjang.
Hingga pagi harinya, Alea membuka mata. Ia sangat terkejut saat melihat wajah Sean berada dihadapannya.
Selain itu kepalanya terasa sedikit lebih pusing.
"Ahh ada apa denganku" pikir Alea memegang kepalanya.
Ia mulai beranjak turun dari ranjang tersebut, dengan pelan Alea keluar dari kamar itu. Alea berjalan menuju pintu dengan mengendap-ngendap. Ia takut jika Sean membuka matanya dan mengetahui bahwa dirinya sudah tidur bersamanya.
Duk
"Aw" rintih Alea menabrak meja kerja Sean.
(Kenapa akhir-akhir ini aku suka sekali menyenggol meja, ini membuatku sakit) pikir Alea dengan memukul meja tersebut pelan.
Alea mengambil beberapa buku yang terjatuh karenanya. Ia menyimpannya kembali, hanya saja ada buku yang menarik perhatian Alea.
"Sean aku izin buka ya" ucap Alea dengan suara yang seolah berbisik.
"Iya" balasnya sendiri.
Alea mulai duduk dan membuka lembar demi lembar buku yang ada dihadapannya.
"Ini semua, kenapa seperti ini" pikir Alea setelah membaca buku tersebut.
Sean mulai menggeliat membuat Alea terkejut. Alea mengira bahwa Sean akan bangun, tapi ternyata tidak.
Ia tidak bisa jika harus terus berlama-lama, takutnya Sean akan melihatnya membaca buku tersebut. Oleh karena itu, saat ini Alea hanya bisa pergi dari kamar Sean beranjak dari duduknya, kembali ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya. Selesai itu Alea berjalan menuju ruang dapur untuk memasak.
Sementara itu, Sean yang baru saja terbangun menoleh mencari seseorang. Ternyata Alea sudah pergi dari kamarnya.
Sean tidak terlalu memusingkannya, ia mengambil posisi duduk sejenak lalu beranjak menuju kamar mandi.
Hari ini Sean mempunyai janji dengan Maxi, ia akan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Alea" panggil Sean menuju dapur.
"Aku disini" ucap Alea menyimpan beberapa masakan yang ia buat.
"Sudah rapih, ayo makan dulu" ajak Alea.
"Masa penculikanmu sudah habis, hari ini kamu akan kembali bertemu dengan kakakmu" jelas Sean duduk di kursi makan.
"Apa? kenapa cepat sekali" timpal Alea.
"Apa tidak bisa diperpanjang?" sambungnya.
"Tidak bisa"
"Ish" kesal Alea.
"Cepat makan makanannya setelah itu kita pergi" ucap Sean tak mendapat balasan apapun dari Alea.
Acara makan pagi itu terasa hening hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar.
Setelah selesai, mereka berjalan ke luar apartemen menuju tempat dimana Sean dan Maxi akan bertemu.
^Cafe x
Disana sudah ada Maxi yang sedang duduk memasang wajah khawatirnya.
"Kakak" panggil Alea membuat Maxi berdiri.
"Le, kamu baik-baik saja?" tanya Maxi.
"Aku baik-baik saja" balas Alea memeluk sang kakak.
"Syukurlah" balas Maxi mengusap kepala Alea lembut.
"Sesuai perjanjian" ucap Sean.
"Aku hanya tahu Clara terlalu mencintaiku hingga ia melakukan bunuh diri" jelas Maxi.
"Cih" kesal Sean.
"Aku tahu, ada yang aneh saat dia bunuh diri" timpal Sean.
"Terserah percaya atau tidak" balas Maxi.
Sean sangat ingin marah, ia kesal karena bukan itu jawaban yang ia inginkan. Namun ia juga terlalu malas jika harus berlama-lama berada disana.
Ia memilih untuk kembali dan datang dengan cara yang lain.
Setelah Sean pergi, Maxi mengajak Alea untuk pulang. Tetapi Alea meminta Maxi untuk berbicara dan mengobrol sebentar dengannya.
"Kak, bisa kakak jelaskan apa yang terjadi dengan kematian kedua orang tua kita?" tanya Alea.
"Kenapa bertanya hal itu? jangan mengingatnya lagi itu akan membuat kamu sedih" balas Maxi.
"Aku tahu, tapi tolong jawab ka"
Maxi menunduk, lalu ia mulai menceritakan apa yang terjadi. Maxi tidak bisa menolak apa yang diinginkan Alea, akhirnya ia mulai bercerita kenapa keluarganya, yaitu kelurga Baker dan Deacon selalu bermusuhan.
Saat itu, keluarga Deacon dan keluarga Baker selalu bersama-sama. Baik dalam hal bisnis atau di luar bisnis.
Bahkan anak-anak mereka, Sean, Leon, Clara dan Maxi selalu bermain bersama-sama.
Sangat harmonis dan menyenangkan, kedua keluarga itu saling membahu satu sama lain.
Hingga pada hari sebelum tahun baru, ibu dan ayah Maxi memasang wajah panik mereka. Saat itu, sang ibu meminta Maxi untuk pergi dan membawa Alea yang masih bayi.
Ibunya meminta Maxi untuk menjaga sang adik.
Awalnya Maxi tidak mau pergi, ia menangis ingin bersama dengan ayah dan ibunya. Namun sang ibu terus meyakinkan Maxi hingga Maxi menganggukkan kepalanya untuk pergi dari tempat itu.
Baru saja beberapa langkah, tiba-tiba ada suara aneh. Maxi masuk ke dalam bangku dan sembunyi disana dengan masih membawa Alea.