Setelah meletakkan piring Sean, Alea mulai duduk dan bersiap untuk menyantap makanannya.
"Wahh enak sekali" pekik Alea dengan mulut penuh.
"Kau tahu? aku sudah lama tidak memasak nasi go- uhuk uhuk"
Perkataan Alea terpotong, ia tersedak oleh makanannya.
"Ketika makan tidak boleh bicara, ayo minum" ucap Sean memberikan gelas yang berisi air putih.
"Ah iya aku minta maaf" balas Alea.
Setelah merasa membaik, Alea kembali melahap makanannya dengan pelan-pelan dan tanpa berbicara.
Sepuluh menit sudah berlalu, mereka sudah selesai menghabiskan makanannya.
Sean merasa senang karena sudah lama ia tidak makan dengan sebanyak ini.
Begitupun juga dengan Alea, ia merasa kenyang sekaligus senang karena melihat Sean yang memakan nasi goreng buatannya cukup banyak.
Alea berdiri, ia beranjak dari duduknya lalu mengambil piring Sean dan miliknya untuk dibersihkan.
"Aku akan membersihkannya" ucap Alea.
"Hm" balas Sean.
"Kamu mau kemana?" tanya Alea yang melihat Sean beranjak dari duduknya.
"Kakakmu" jawab Sean memperlihatkan ponsel miliknya yang ia genggam.
"Jangan memanggilnya" ucap Alea.
"Why?"
"Kau kan sedang menculikku"
"Benarkan ini penculikan?"
"Tentu saja" balas Alea.
"Sudah sana cuci piring saja" ucap Sean membuat Alea kesal. Meskipun begitu, Alea menuruti perkataan Sean, membawa piring itu dan membersihkannya.
Melihat Alea sudah berjalan pergi menuju dapur, Sean melanjutkan langkahnya menuju ruang baca miliknya.
Ia mengirimkan sebuah pesan pada Maxi, bahwa Alea sedang bersama dengannya. Namun Sean tidak mengatakan bahwa ia menculik Alea. Karena Sean merasa ia tidak menculik gadis itu, malah Alea sendiri yang ingin ikut bersamanya.
Apalagi Sean tahu, tidak perlu mengatakan dirinya telah menculik Alea. Karena dengan mengatakan Alea sedang bersamanya pasti Maxi akan merasa kesal dan ingin membawanya kembali.
^Saat ini di kediaman Maxi
Drrrtt ...
Ponsel Maxi berdering pendek, pertanda sebuah pesan masuk.
Maxi membukannya, dan wajahnya mulai berubah menjadi marah.
"Beraninya dia" pekik Maxi.
"Ada apa Max" tanya Felix yang sedang berbicara dengan anak buahnya untuk mencari keberadaan Alea.
"Le bersama Sean" ucap Maxi.
"Apa!"
"Arghh, kenapa aku lupa. Saat di mall dia ada disana" sambung Felix.
"Sedang apa dia disana?" tanya Maxi.
"Aku tidak tahu" kesal Felix.
"Apa kita harus melapor polisi?" tanya Maxi.
"Tidak bisa. Sean selalu berhubungan baik dengan polisi" jawab Felix.
"Lalu sekarang bagaimana? aku tidak bisa berpikir karena terlalu khawatir" ucap Maxi.
"Tenanglah" balas Felix.
"Tidak bisa, aku harus menanyakan apa yang dia inginkan"
Maxi kembali mengambil ponsel miliknya ia mulai menekan panggilan pada Sean.
Sementara itu, Sean yang sedang berada di apartemen tersenyum puas. Dugaannya benar, Maxi menelponnya.
"Hallo Max" ucap Sean.
"Apa maumu"
"Aku suka kau selalu to the point" balas Sean.
"Cepat Sean"
"Mari bertemu di xx" ucap Sean.
"Baik, bawa Le"
Tuttttttt ...
Sean langsung mematikan panggilannya tanpa menjawab Maxi.
Tentu saja hal itu membuat Maxi semakin marah.
Disisi lain Alea sudah selesai membersihkan piring kotornya. Ia mulai berjalan menuju Sean untuk memperjelas apa yang membuat Sean harus menculik dirinya.
"Apa itu" lirih Alea menoleh ke arah kanan.
Alea mencoba untuk tidak menghiraukannya. Namun benda itu membuat Alea kembali memundurkan langkahnya.
"Aku lihat sebentar saja" ucap Alea mendekati benda tersebut.
Alea mengambilnya, benda tersebut terbilang cukup besar. Bahannya terbuat dari kaca dengan bentuk yang unik dan ada cairan ungu di dalamnya.
"Baunya seperti minuman alkohol" ucap Alea.
"Ah aku sangat penasaran sekali apa ini" sambungnya meskipun ia tahu bahwa dari baunya seperti minuman alkohol.
Tanpa berlama-lama, Alea langsung mengambil gelas dan menuangkannya. Ia meminum minuman itu beberapa teguk.
Hingga dalam tegukkan ketiga, tiba-tiba kepala Alea terasa pusing.
"Kenapa semuanya bergerak" lirih Alea mengedipkan matanya dan menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk menyadarkan pikirannya.
"Ah ternyata benar ini alkohol" sambungnya yang mulai berjalan sempoyongan.
"Tapi rasa minuman ini sedikit berbeda" ucap Alea kembali meneguknya sampai habis.
Alea berjalan menuju ruang tengah dengan sempoyongan bahkan dirinya beberapa kali menabrak benda yang ada dihadapannya.
"Malam ini sangat indah, bulan bulat terlihat sempurna menyinari dunia. Kau adalah bintang-bintang yang berkelap-kelip sangat indah namun terkadang hilang namun juga ada hingga tak terhitung"
Begitulah Alea bersenandung dengan nada yang tidak beraturan. Terkadang suaranya meninggi terkadang merendah.
Namun hanya kalimat itu yang ia terus ulang-ulang.
Sean yang kini sedang berada di ruang baca mendengar nyanyian itu. Ia mengernyitkan dahinya lalu Sean berjalan keluar dari ruangan tersebut untuk memastikan suara apa yang ia dengar.
Satu langkah ia membuka pintu semua barang-barang berantakan bagaikan kapal yang pecah.
"Apa ini" ucap Sean.
"Alea!" panggil Sean sedikit marah.
Sang pemilik nama menoleh kala mendengar seseorang memanggil namanya.
Alea berjalan mencari asal suara itu, sesekali ia menyipitkan matanya dan ia juga menabrak beberapa benda lagi.
Duk
"Aw" rintih Alea menabrak bangku yang ada dihadapannya.
"Hey, kamu kenapa ada disini. Kau membuat kakiku sakit. Harusnya kamu menyingkir jadi tidak akan melukaiku" jelas Alea sedang memarahi bangku yang ia tabrak.
Sean yang melihat itu memegang kepalanya, ia benar-benar dibuat pusing oleh tingkah Alea.
"Alea" panggil Sean.
Alea mengangkat wajahnya, ia menatap Sean lalu tertawa kecil dan mendekat.
"Ternyata kamu disini" ucap Alea tersenyum lalu memeluk Sean.
"Hey, apa yang kau lakukan" balas Sean mencoba untuk melepas pelukan Alea.
Semakin Sean berusaha melepasnya semakin erat Alea memeluknya.
"Alea kau mabuk?" tanya Sean mencium bau aroma alkohol.
"Apa? mabuk? aku tidak mabuk" balas Alea diiringi tawa kecilnya.
Sean membuang nafasnya kasar, entah apa yang yang harus ia lakukan jika menghadapi wanita seperti ini.
"Kemari" ajak Sean menarik tangan Alea membawanya ke dapur.
"Kau menarikku" pekik Alea dengan senyum malunya, sedangkan Sean hanya menggelengkan kepalanya.
"Sean, pelan-pelan" ucap Alea yang menghempaskan tangannya membuat genggaman Sean terlepas.
"Seperti ini membuat tanganku sakit, lebih baik seperti ini" sambung Alea beralih memeluk tubuh kokoh Sean.
"Hey apa yang kau lakukan, lepas" pinta Sean.
"Tidak mau"
"Alea"
"Sean"
"Yaampun"
"Yaampun" balas Alea dengan nada mengikuti Sean.
Beberapa detik kemudian tiba-tiba Alea berubah menjadi sedih dan menangis. Hal itu membuat Sean terkejut, membuat dirinya semakin bingung harus melakukan apa.
"Sudah jangan menangis" ucap Sean mencoba membujuk Alea.
"Sean, apa yang kau katakan saat itu benar?" tanya Alea dengan masih dalam keadaan mabuk dan berdiri sempoyongan.
"Yang mana"
"Sepertinya kau sudah melupakannya"
"Yang mana Alea"
"Aku mencintaimu"
Deg
Heninggg, keadaan berubah menjadi sangat hening. Ada sesuatu yang aneh dalam hati Sean.