Gebruk!
Tubuh sang ayah jatuh dihadapannya. Maxi tidak bisa bersuara. Ia hanya bisa menutup mulutnya sendiri menahan tangisan yang hendak keluar dari matanya.
Darah mengalir disana, tak lama dari itu. Disusul sang ibu yang langsung terjatuh dengan tembakan yang sama.
Maxi mengeluarkan air matanya tanpa bersuara. Saat itu, dirinya benar-benar takut sekaligus marah.
Ia marah saat melihat jam tangan yang di pakai lelaki penembak kedua orang tuanya.
Lelaki itu memakai baju hitam, dan jam tangan persahabatan yang hanya dimiliki ayah Maxi dan ayah Sean.
Semenjak itu, Maxi memutuskan untuk membalaskan dendamnya pada keluarga Deacon.
Persahabatan kedua keluarga itu mulai hancur, setiap pertemuan adalah pertengkaran.
Perusahaan mereka saling menyerang satu sama lain, memasang mata-mata di tempat musuh.
"Seperti itu jelasnya jika kau ingin tahu" akhir kalimat Maxi.
"Apa kakak tahu orang tua Sean meninggal?" tanya Alea.
"Aku tahu"
"Kenapa?"
"Sakit" balas Maxi.
"Tidak ka, bukan sakit" balas Alea membuat Maxi menatap dirinya.
"Apa maksudmu" tanya Maxi.
"Bukankah kakak mengirim pesan pada mereka untuk bertemu terakhir kalinya?"
"Sebentar, kakak tidak mengerti"
"Kak, saat aku bersama Sean. Aku berada di kamarnya tak sengaja menabrak meja kerja miliknya. Lalu, beberapa buku dari meja tersebut terjatuh. Aku penasaran dengan saah satu buku yang terjatuh itu, aku mengambilnya dan membukanya. Dan apa kakak tahu?"
"Apa?"
"Disana ada foto pesan dari kakak yang dicetak dan itu sebelum kedua orang tua Sean meninggal" jelas Alea.
"Apa kamu yakin? semenjak kejadian itu, kakak tidak pernah mengirim pesan apapun lagi" balas Maxi.
"Aku yakin ka" ucap Alea.
Kini Maxi diam memikirkan apa yang dikatakan oleh Alea. Maxi benar-benar yakin, dia tidak pernah mengirim pesan apapun lagi. Apalagi meminta kedua orang tua Sean untuk menemuinya.
"Le, bisa kamu jelaskan lebih detail apa yang kamu baca?"
"Begini ka"
Alea memberitahu Maxi sesuai dengan apw yang ia baca di buku harian milik Sean
Ia benar-benar melihat bahwa ada foto cetakan dimana Maxi mengirimkannya pesan pada ayahnya.
Saat kematian ayah dan ibu Maxi, orang tua Sean berangkat untuk menjenguk dan melihat keadaan Maxi juga Alea. Mereka sangat khawatir, begitu juga dengan Sean, Leon, dan Clara.
Hanya saja, keluarga mereka di tolak karena Maxi tidak ingin bertemu dengan mereka.
Sean dan keluarganya merasa sedih, ia tidak tahu mengapa Maxi melakukan hal itu.
Mereka kembali ke kediaman Deacon, memikirkan bagaimana keadaan Maxi yang akan tumbuh tanpa bimbingan kedua orang tuanya.
Hingga tak terasa sudah dua bulan berlalu, tidak ada kabar apa-apa lagi tentang Maxi. Maxi memutuskan semua informasi, dan pergi ke luar negeri bersama pamannya untuk sekolah disana.
Karena semenjak kejadian itu, Maxi terus diam. Dulunya Maxi termasuk orang yang ceria dan suka tersenyum. Hanya saja kejadian itu membuat dirinya berubah sangat banyak, hingga membuat sang paman khawatir dan memilih untuk membawa Maxi juga Alea ke luar negeri hingga beberapa tahun kemudian, barulah ia kembali ke tempat kelahirannya dan meneruskan bisnis orang tuanya.
Oleh karena itu, keluarga Sean tidak bisa mencari informasi dan keberadaan Maxi.
Tepat sebelum Sean berulang tahun, orang tuanya sedang mempersiapkan acara untuknya.
Tiba-tiba ada sebuah pesan masuk pada ponsel milik sang ayah. Ayah Sean membukanya, dan betapa terkejutnya kala ia melihat pesan itu yang tak lain dari Maxi.
Ia merasa senang sekaligus terharu karena Maxi mengirimnya pesan ingin bertemu dengannya dan istrinya.
Sang ayah memberitahu Sean untuk menjaga Leo dan Clara. Mereka mulai meninggalkan kediaman Deacon.
Sean tidak menyangka, jika itu adalah hari terakhir dirinya bersama dengan kedua orangtuanya.
Ayah Sean memberikan ponsel miliknya pada Sean, takutnya jika terjadi sesuatu pada Sean, ia bisa menghubungi nomor sang ibu.
Setelah bersiap-siap mereka pergi menuju mobil dan mulai melajukannya.
Sudah dua jam Sean menunggu kepulangan ayah dan ibunya. Entah kenapa hatinya merasa gelisah sekaligus khawatir.
Hingga tak lama, ia mendengar bahwa orang tuanya meninggal dunia.
Sean mengeratkan kepalan tangannya, ia menyimpulkan bahwa ini semua terjadi karena Maxi.
Jika saja Maxi tidak meminta ayah dan ibunya untuk menemuinya, mungkin mereka masih ada disisinya untuk merayakan ulang tahunnya.
Saat itu Sean terpukul sangat berat, namun ia masih memiliki sang nenek yang selalu mendukungnya.
Hingga dirinya bisa bertahan sampai saat ini bersama Leon sang adik. Terkecuali Clara.
Beberapa tahun saat itu, Clara bertingkah aneh. Ia sering keluar dari rumahnya.
Tak berapa lama, Sean mengetahui bahwa Clara diam-diam bertemu dengan Maxi.
Hal itu membuat Sean marah, ia mengurung Clara di dalam kamarnya. Melarangnya untuk tidak keluar dari mansion.
Clara merasa kesal, dan ia masih berhubungan dengan Maxi lewat ponsel miliknya. Meskipun ia tahu Maxi masih bersikap dingin padanya.
Sikap Maxi membuat Clara menyerah, ia mengirim pesan pada Maxi bahwa dirinya sangat mencintainya, dan ia tidak bisa jika Maxi bersikap dingin padanya.
Clara selalu mengirim pesan, bagaiamana dulu Maxi sangat perhatian dan melindunginya.
Tak lama dari itu, Clara melakukan bunuh diri di dalam kamarnya.
Dan Sean membaca semua pesan yang Clara kirimkan pada Maxi.
Sean semakin mengepalkan tangannya, lagi-lagi Sean merasa ini semua karena Maxi.
Mulai saat itu, Sean menyusun rencana dan mencari tahu dimana keberadaan adik Maxi yang waktu ia lihat saat Alea masih bayi.
Tak hanya itu, Sean juga mengirim mata-mata ke dalam perusahaan Maxi. Begitu juga sebaliknya. Maxi mengirim mata-mata pada perusahaan Sean.
"Begitu ka yang aku baca disana" tutup kalimat Alea.
Maxi semakin mengerutkan dahinya, ia merasa semua ini tidak benar. Terkecuali dengan Clara.
"Le, kakak yakin. Kakak tidak pernah mengirim pesan seperti itu pada ayah dan ibu Sean" jelas Maxi.
"Aku tahu ka. Tapi nomor ponsel itu, adalah nomor ponsel yang kakak gunakan masih sampai saat ini" jelas Alea.
Alea juga merasakan ada yang aneh setelah mendengar kedua cerita antara Maxi dan Sean. Apalagi dalam buku itu tertulis sangat jelas, bahwa saat kematian ayah dan ibunya, keluarga Sean berada di luar negeri. Bahkan Sean menuliskan waktu, tanggal, dan foto saat mereka liburan di luar negeri.
Namun semuanya terlihat aneh, pasalnya Maxi tidak pernah memberikan ponsel miliknya pada siapapun terkecuali Alea.
Tetapi Alea juga tidak mungkin mengirim pesan itu, karena saat itu Alea masih kecil.
"Siapa yang selalu dekat dengan kakak saat itu" gumam Alea.
Beberapa menit mereka terdiam mencoba untuk mencerna apa yang terjadi Hingga tak lama dari itu,
"Felix!" pekik Alea dan Maxi secara bersamaan.