Memikirkan hal itu benar-benar membuat dirinya pusing, apa yang harus ia lakukan jika dirinya tidak mengetahui identitas aslinya.
Alea berbalik dan berjalan menjauh dari Sean yang kembali menatap air sungai itu. Entah apa yang membuat lelaki itu sangat senang menatap ke arah sana.
"Jika aku keluar dari hutan ini, siapa yang harus aku cari? dan kemana aku pergi?" gumam Alea menggigit ujung jarinya.
Tiba-tiba kepalanya menoleh ke arah Sean, ia mulai tersenyum kala terlintas sesuatu di dalam pikirannya.
"Apa aku harus mengikutinya untuk menumpang hidup?" pikir Alea.
"Sepertinya iya" sambungnya dengan menganggukkan beberapa kali kepalanya.
"Kenapa melihatku seperti itu" ucap Sean membuat Alea menyadarkan pikirannya.
"Ah tidak. Kau terlihat tampan" balas Alea lalu menutup mulutnya.
"Aku tahu itu" timpal Sean lalu berjalan mencari sebuah bambu.
Alea sedikit memukul kecil bibirnya, kenapa ia mengatakan kalimat itu, membuat dirinya malu sendiri.
Kruyukk.
Suara perut Alea yang meminta sebuah makanan.
Sean mendengarnya, ia menoleh pada Alea. Sedangkan gadis itu, ia memberikan cengiran kudanya dengan memegang perutnya berharap tidak akan berbunyi lagi.
"Ambil ini" ucap Sean memberikan sebuah batang bambu yang ujungnya runcing.
Alea mengernyitkan dahinya, ia tidak mengerti apa yang di maksud Sean.
"Tangkap ikannya jika kau lapar" ucap Sean berjalan sedikit ke tengah sungai dengan pijakan bebatuan.
Lagi-lagi Alea memasang wajah cemberutnya, kenapa lelaki yang sedang bersamanya ini semakin lama semkin menyebalkan.
Tidakkah bisa ia bersikap lebih lembut pada dirinya? lebih tepatnya pada seorang wanita yang telah menolongnya.
Jika tahu saja lelaki ini sangat menyebalkan, Alea lebih memilih untuk tidak menolongnya saat itu.
"Husss,, tenanglah. Lebih baik aku mencari makan untuk mengisi perutku" sanggah Alea menyingkirkan kekesalan yang ada dihatinya.
Ia mulai berjalan menuju tengah sungai seperti yang dilakukan Sean. Dengan pelan, bahkan sangat pelan Alea melangkah dari batu ke batu lainnya sebagai pijakan.
"Baiklah, ikan-ikanku kemarilah momy disini" ucap Alea pelan namun masih terdengar oleh Sean.
"Apa? kenapa melihatku seperti itu?" jutek Alea yang mendapat tatapan aneh dari Sean. Sedangkan Sean menggelengkan kecil kepalanya melihat tingkah aneh wanita yang kini sudah berada disampingnya.
Club.
Club.
Club.
Sudah tiga kali Alea menusukkan bambunya pada target namun tidak ada ikan yang berhasil ia tusuk.
Club.
Hanya satu kali, hanya satu kali Sean berhasil menusuk ikan yang lumayan terbilang besar.
Alea menoleh dengan tatapan seolah tidak terima, dan Sean ia menunjukan ikan yang tertusuk bambu miliknya.
Karena tidak mau kalah, Alea kembali fokus menunggu ikan melewati areanya.
Club.
"Aaaa berhasil" teriak Alea mengancungkan bambunya dengan ikan yang berada di ujungnya.
Tanpa Alea sadari satu tangannya menyentuh tangan Sean dan menggoyangkannya kesana kemari karena begitu senang sampai melupakan lengan Sean yang pernah terluka oleh sebuah panas pada saat itu.
Sean yang menyadarinya mengangkat tangannya melepaskan genggaman Alea membuat gadis itu kehilangan keseimbangan dan hendak terjatuh ke dalam sungai dengan batu-batu yang berada disekitarnya.
Grep.
Sean yang dengan cepat merangkul tubuh Alea dengan tangan kirinya menahan gadis itu supaya tidak terjatuh.
Wajah mereka sangat dekat, pandangan keduanya saling terpaut satu sama lain. Bahkan Sean, baru menyadari bahwa gadis itu ternyata mempunyai bola mata dengan warna yang sangat unik. Apalagi mentari yang memancarkan cahayanya membuat kedua bola mata tersebut seolah transparan sehingga semakin terlihat sangat cantik berpaduan dengan paras yang gadis itu miliki, hamper terlihat sempurna.
Clup.
Ikan Alea yang kembali melompat ke dalam sungai karena tusukan yang kurang dalam.
"Ah ikan ku" teriak Alea tidak terima.
Sean melepas tubuh Alea, ia memilih untuk beranjak pergi meninggalkan gadis itu.
"Aishhh, ini semua gara-gara kamu" kesal Alea.
Sementara itu, Sean menyunggingkan senyumnya menahan senyum.
Alhasil karena ikannya yang kembali masuk ke dalam sungai membuat Alea harus kembali berjuang untuk mendapatkan ikan agar ia bisa mengisi perutnya.
Lima belas menit telah berlalu namun Alea belum berhasil mendapatkan ikan yang ia mau.
"Alea" panggil Sean dengan nada beratnya.
Pemilik nama menoleh, ia melihat Sean yang tengah membakar dua ikan berukuran sedang dan lumayan besar.
Senyum mengembang terlukis di wajah cantik itu, dengan lincah Alea segera mendekat pada Sean.
Ia tidak tahu jika Sean mempunyai dua ikan, jika di piker-pikir kapan Sean menangkap ikan itu.
Ternyata sebelum Alea bergabung untuk menangkap ikan, Sean sudah mendapatkannya lebih dulu dengan mudah karena airnya yang masih tenang. Barulah ikan kedua berhasil Sean tangkap yang terbilang cukup sulit karena Alea yang terus bersuara membuat para ikan tidak ingin melewati jalan itu.
"Hm" deham Sean memberikan ikan berukuran besar pada Alea.
"Untukku?" tanya Alea sumringah sekaligus terkejut dengan Sean yang memberikan ikan berukuran lebih besar kepadanya.
"Yasudah kalau tidak mau"
"Ah iya, kemari" rebut Alea mengambil ikan bakan yang sudah matang di tangan Sean.
"Pelan-pelan, banyak tulang ika-" belum juga Sean menyelesaikan perkataannya Alea sudah tersedak tulang ikan di tenggorokannya.
Uhuk ... uhuk ... uhuk
Alea memukul Sean pelan meminta bantuan darinya. Dengan wajah malas, Sean memukul pundak belakang Alea dengan lembut. Hingga tak lama tulang itu berhasil di keluarkan.
"Terimakasih" ucap Alea lega.
Mereka kembali melanjutkan memakannya, kali ini Alea melakukannya dengan hati-hati.
Selesai memakan makanannya, Sean kembali berdiri dan mulai berjalan meninggalkan Alea.
"Hey mau kemana" tanya Alea panik, bagaimanapun juga ia takut jika harus sendirian di dalam hutan.
"Cari jalan keluar" balas Sean dingin.
"Ikut" timpal Alea yang langsung berada di samping Sean.
Sean tidak memperdulikannya, yang ia pikirkan saat ini adalah bagaimana cara agar dirinya bisa keluar dari dalam hutan ini.
"Eh lenganmu kembali berdarah" pekik Alea yang melihat luka di lengan Sean kembali mengeluarkan darah.
"Biarkan saja" balas Sean kembali fokus mencari jalan keluar.
"Bahaya kalau darahnya keluar terus" timpal Alea namun tidak mendapat respon apapun, lelaki itu tetap mengabaikan perkataan Alea.
"Ish, kamu ya. Udah sini dulu duduk" tarik Alea yang berhasil membuat Sean terduduk.
"Apa?" tanya Alea yang mendapat tatapan elang dari Sean karena memaksanya untuk duduk.
Sean sedikit berpikir, baru kali ini ada orang orang yang tidak takut dengan tatapan elang darinya.
"Ini itu harus di ganti, di ikat dengan baik. kalau tidak lukanya akan semakin parah" jelas Alea membuka balutan yang melingkar pada lengan Sean.
Alea melipat bekas tali Sean, lalu memasukkannya ke dalam saku pakaiannya setelah itu ia kembali merobek bagian bawah bajunya dan memasangnya kembali pada lengan Sean.
Sean memperhatikan setiap gerakan Alea, kali ini tulus. Alea memasang tali itu dengan sangat pelan dan penuh hati-hati, terlihat dari wajahnya bahwa wanita itu tidak ingin Sean merasa lebih perih dan sakit.
Selesai semuanya, mereka kembali melanjutkan langkahnya ke sela-sela mencari jalan keluar dari hutan ini.