Alea benar-benar terkejut mendengar semua apa yang dijelaskan oleh Sean.
"Maafkan aku sudah berprasangka buruk padamu" ucap Alea menundukkan kepalanya.
"Hm, sudahlah. Untuk sekarang aku harus membawamu keluar lebih dulu dari sini" balas Sean.
"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Alea.
"Kau diam disini tunggu aku menjemputmu kembali" balas Sean memegang kenop pintu untuk pergi dari sana.
Grep.
Alea yang memegang lengan Sean. Alea menatapnya, ia seolah mengatakan bahwa dirinya sangat takut jika harus menunggu sendirian di kamar ini.
"Tidak akan terjadi apa-apa. Aku akan meminta Jamsh menjaga di luar pintu kamar" ucap Sean yang mengerti maksud dengan tatapan Alea.
"Hm baiklah" angguk Alea.
Sean melanjutkan langkahnya, berjalan keluar dari kamar tersebut untuk menemui Brayn.
"Selamat pagi, apa kau sudah puas?" tanya Brayn yang menyeruput kopi hitamnya.
"Tentu saja tidak. Aku masih harus menikmatinya" balas Sean dengan tenang.
"Ternyata kau serakah juga"
"Tentu saja"
"Aku akan membawanya pergi" sambung Sean.
Brayn tak langsung menjawab perkataan Sean. Ia merasa sedikit kesal karena dengan mudahnya Sean berkata bahwa dirinya akan membawa gadis itu pergi. Brayn sudah menculiknya namun dengan mudah Sean meminta darinya.
"Kenapa diam saja" ucap Sean.
"Lampiaskan saja Maxi" sambung Sean.
Masih tidak ada jawaban apapun dari Brayn.
"Bagaimana?"
"Sudahlah, kau ambil saja dia" ucap Brayn ya ia sendiri sudah bingung harus melakukan apa.
"Pintar, aku akan pergi" balas Sean menepuk pundak Brayn.
Sean berbalik ia kembali menuju kamar sebelumnya. Sedangkan Brayn ia sungguh merasa kesal sekaligus marah. Andai saja tingkatakan dan kekuasaannya lebih besar dari pada Sean walau hanya sedikit, ia bisa melakukan apapun yang dia inginkan tanpa harus mengalah.
"Sial" gumam Brayn mengepalkan tangannya.
Sementara itu, Sean sudah berada di dekat kamar. Ia mulai membuka pintu, disana sudah ada Alea yang tengah duduk menunggu kedatangan Sean.
"Apakah sudah selesai?" tanya Alea.
"Hm" balas Sean.
"Ayo pergi" sambung Sean mendapat anggukan dari Alea.
Sean meraih tangan Alea, membuat gadis itu sedikit merasa terkejut namun senang. Sean menariknya membawa Alea keluar dari rumah itu dan memasuki mobilnya.
Selesai itu, mobil yang mereka tumpangi mulai melaju.
Perjalanan pulang terasa lebih cepat, namun ternyata mereka sudah cukup lama di dalam mobil hingga hari mulai larut.
Kini mobil mereka sudah berhenti dimana tak jauh dari rumah Alea namun juga tidak terlalu dekat dengan rumahnya.
Entah kenapa meskipun mobil sudah berhenti, Alea masih tidak ingin keluar. Ia duduk disamping Sean memikirkan cara agar dirinya bisa tetap bersamanya.
"Turunlah, sudah lima menit kau diam di mobilku. Itu membuang waktuku saja" ucap Sean membuat Alea sedikit kesal.
"Ish kau ini" balas Alea.
"Sean" panggil Alea.
"Hm"
"Bukankah kau ingin menculikku?" tanya Alea.
"Ya" balas Sean dengan jujur, bagaimanapun juga ia memang sudah merencanakan akan menculik Alea.
"Aneh sekali, kenapa banyak orang yang ingin menculikku. Bahkan kamu juga seperti itu" jelas Alea.
"Apa kamu masih ingin menculikku?" tanya Alea.
"Tentu saja"
"Ish jujur sekali" gumam Alea.
"Kapan kau akan menculikku?" sambung Alea.
"Besok atau nanti minggu depan" balas Sean.
"Yaampun, memangnya ada ya penculik yang bilang dulu bahwa dia akan menculiknya besok" timpal Alea.
"Tidak ada" balas Sean membuat Alea semakin kesal.
"Sean, bagaimana kalau kamu culik aku saja hati ini?" tawar Alea pada Sean.
Sean yang mendengar itu menoleh, bagaimana bisa seorang korban memintanya untuk diculik kepada penculik.
"Sean, ayo culik saja aku" balas Alea.
"Kalau seperti ini judulnya bukan aku yang menculikmu. Tetapi kita pergi bersama" jelas Sean.
"Terserah kamu saja. Apapun itu, aku tidak peduli" ungkap Alea.
"Memangnya kau tidak ada kegiatan lain?" tanya Sean yang kini membernarkan posisi duduknya. Ia sungguh tidak mengerti dengan pemikiran gadis yang ada dihadapannya saat ini.
"Hmmm, biar ku ingat-ingat"
"Sepertinya untuk saat ini tidak ada, memangnya berapa lama kau akan menculikku?" sambung Alea.
"Sampai Maxi mengatakan apa yang sebenarnya" balas Sean.
"Mengatakan apa" tanya Alea yang semakin penasaran.
"Sudahlah, kau mau turun tidak. Membuang waktuku saja"
"Ish galak sekali. Aku akan ikut denganmu sebagai sandra. Aku akan membantumu menculik diriku" ucap Alea.
"Terserah kamu saja" pusing Sean.
"Ok" senang Alea.
"Jamsh, kembali ke apartemen" ucap Sean.
"Baik tuan" balas Jamsh lalu menginjak gas mobilnya.
Sementara itu, Felix masih berada di rumah Alea. Ia sedang menerima amarah Maxi yang tak hentinya dari kemarin karena Alea yang di culik.
Namun Felix juga tidak merasa kesal atau marah pada Maxi. Justru ia juga merasa gagal tidak menjaga Alea dengan baik.
Bahkan sekarang, mereka berdua tidak mendapat informasi lebih lanjut mengenai Alea.
"Kenapa kau membiarkannya pergi" ucap Maxi duduk dengan menegang kepalanya.
"Aku kira akan baik-baik saja Max"
"Tapi apa yang terjadi? Alea malah menghilang bukan" timpal Maxi.
"Aku tahu, kau sudah mengatakan ini sepuluh kali lebih dari kemarin" balas Felix.
"Lebih baik, kita pikirkan siapa yang berani menculik Alea" sambung Felix.
"Hm" balas Maxi.
Felix memejamkan matanya ia membuang nafasnya kasar. Hal ini benar-benar membuatnya sangat khawatir.
"Bagaimana keadaannya sekarang, aku harap kau baik-baik saja" gumam Felix.
Sedangkan Alea yang sedang dikhawatirkan Felix dan Maxi sudah berada di dalam apartemen Sean.
"Ahh, entahlah aku merasa senang bisa kembali ke apartemen ini" pikir Alea lebih dulu membuka pintu apartemen.
Ia sudah sangat hafal dengan kode apartemen Sean.
Alea mulai memasukinya melepas sandalnya lalu menggantinya dengan sandal yang ada di apartemen.
Layaknya seorang pemilik, Alea langsung pergi ke dapur mengambil air putih dan meminumnya. Tak hanya itu, Alea juga membuka beberapa cemilan yang ada di lemari pendingin.
"Harusnya aku mengganti sandi pintu" pikir Sean melihat Alea yang mendahuluinya.
"Hey jangan sentuh itu" ucap Sean melihat Alea mendekati sebuah robot.
Baru saja Sean mengatakan itu, tangan Alea sudah menyentuh robot tersebut lebih dulu.
Sean hanya membuang nafasnya kasar, lalu menundukkan kepalanya.
"Apakah aku benar-benar menculiknya?" pikir Sean.
Alea melihat ekspresi yang dikeluarkan Sean. Ia menjauhkan tangannya dan memilih untuk kembali ke dapur memasak sebuah makanan.
Perutnya terasa lapar, begitu juga dengan Sean. Pasti lelaki itu juga sedikit lapar, oleh karenanya Alea akan memasak untuk dirinya dan Sean.
"Masak apa ya" lirih Alea melihat bahan makanan yang ada didalam dapur.
"Nasi goreng spesial saja" sambungnya.
Alea mengambil beberapa bahan, tak lupa ia juga mengambil telur, sosis, sayuran, wortel, tomat, mentimun dan yang lainnya.
Karena menu ini spesial, Alea akan membuatkannya dengan banyak sekali toping. Dan ia menggunakan resep rahasianya.
Sedangkan Sean, ia sudah berada di dalam kamarnya sedang membersihkan tubuhnya.
Hingga tak lama kemudian, Sean sudah selesai dan mulai keluar dari kamarnya.
Sean mencium aroma yang sangat wangi membuat perutnya terasa semakin lapar. Ia berjalan mendekat ke area dapur, ternyata Alea masih sibuk memainkan peralatan dapur.
Pemandangan ini cukup membuat Sean senang, ia merasa nyaman melihat Alea yang dengan cerianya memasak sebuah hidangan.
"Sean? kamu sudah lama disana?" tanya Alea.
"Hm" balas Sean.
"Kemari dan cobalah" ucap Alea.
Sean mendekat padanya, lalu Alea memberikan satu sendok makan dan meniupnya lalu memberikan suapan pada Sean.
"Bagaimana?" tanya Alea antusias.
Sean diam, ia merasakan bumbu nasi goreng itu sangat enak dan lezat.
Baru kali ini Sean memakan nasi goreng setelah sekian lamanya.
Terakhir ia hanya memakan nasi goreng buatan sang bunda. Namun itu sudah sangat lama.
Hanya dalam nasi goreng Sean selalu pemilih, ia tidak mudah gampang menyukai makanan apalagi jika itu nasi goreng.
"Enak" ucap Sean membuat mata Alea semakin berbinar kegirangan.
"Benarkah? Ah ternyata kemampuanku masih bisa di andalkan" ungkap Alea yang langsung memeluk Sean.
"Ekhem" deham Sean membuat Alea tersadar.
"Hehe maaf" balas Alea dengan cengiran kudanya.
"Ini sudah selesai?" tanya Sean yang ingin segera memakan nasi goreng itu.
"Sudah selesai, tunggulah disana. Aku akan membawakannya untukmu" balas Alea mendapat anggukan dari Sean.
Alea mengambil dua piring dan menuangkan nasi goreng tersebut ke dalamnya.
"Wuaa lapar sekali" pekik Alea membawa kedua piring tersebut ke meja makan.
"Ini untukmu, selamat makan" sambung Alea meletakkan piring untuk Sean.