Beberapa saat kemudian, barulah suasana hening kembali.
Sean sedikit membuka pintu, melihat apakah mereka sudah pergi meninggalkan kamar itu atau belum.
"Sudah, mereka sudah pergi" ucap Sean.
"Sebenarnya apa yang terjadi? dan siapa orang yang bersuara berat itu?" tanya Alea yang mendengar suara lelaki itu.
"Akan ku beritahu jika kamu memang ingin mengetahuinya" jawab Sean.
"Awalnya kau yang akan ku culik, tapi ternyata rencananya tidak berjalan lancar. Bawahanku melaporkan bahwa kau di pukul seseorang"
"Apa? kenapa kamu ingin menculikku" potong Alea.
"Jangan memotong pembicaraanku jika masih ingin mendengarnya" timpal Sean.
"Ah baiklah"
Flashback on
Hari itu Sean memang akan bertemu kolega bisnisnya di mall tersebut. Lebih tepatnya ia baru selesai menemui koleganya.
Hanya saja sebelum keluar dari mall tersebut ada sesuatu yang menarik pandangannya. Dan anehnya ia tidak menyukai melihat adegan Alea dan Felix yang sedang bermain ice skating bersama-sama, apalagi melihat mereka saling berpegangan tangan.
Sean tiba-tiba menghentikan langkahnya, Jamsh yang berada di belakangnya hampir saja menabrak Sean karena Sean yang berhenti berjalan secara mendadak.
Moodnya menjadi buruk, namun kakinya enggan untuk pergi. Ia masih diam melihat keceriaan dan tawa Alea.
"Tuan" panggil Jamsh.
"Siapa lelaki itu" tanya Sean.
Jamsh menjawabnya, ia memberitahu Sean bahwa lelaki itu adalah tunangan Alea yang bernama Felix
Sean mengeratkan tangannya, cincinnya kembali menyala.
Sean masih diam, hingga tak lama Sean melihat Alea terjatuh karena di tabrak anak kecil yang sedang bermain.
Lalu anehnya, Sean langsung berjalan mendekat pada Alea yang terjatuh mengulurkan tangannya untuk memberikan bantuan pada gadis itu.
Entah kenapa, saat itu Sean berharap bahwa Alea hanya meraih tangannya. Namun yang terjadi, Alea malah meraih kedua tangan yang terulur padanya.
Dan yang lebih membuat mood nya semakin buruk adalah ketika Alea malah setuju pada Felix dan pergi bersamanya.
Melihat hal itu, Sean memutuskan untuk menjalankan rencananya saat ini.
Yaitu menculik Alea, menjadikannya sandra supaya Maxi bisa menjelaskan apa yang terjadi pada Clara adiknya.
Karena Sean merasa yakin, ada sesuatu hal yang aneh dengan kematian Clara. Sean mempunyai firasat bahwa Maxi mengetahui segalanya. Apalagi saat pesan terakhir yang dikirim Maxi pada Clara.
Oleh karena itu, Sean harus melakukan nya. Menculik Alea, sebab Alea adalah kelemahan Maxi.
Sementara itu, Jamsh yang perkataan Sean hanya bisa melaksanakannya.
Jamsh, meminta bawahannya untuk menculik Alea namun tidak boleh menyakitinya atau berlaku keras padanya.
Dua bawahan Sean sudah mulai beraksi, mereka sudah berada di dalam mall tersebut. Lalu Sean, ia memilih untuk kembali menuju parkiran.
Saat kedua bawahan Sean akan beraksi, tiba-tiba langkahnya terhenti karena ada orang lain yang lebih cepat beraksi dengan memukul Alea dari belakang.
Hal itu membuat keduanya terkejut, mereka segera mengambil ponsel dan menghubungi Sean.
Namun saat itu, Sean sudah tiga kali tidak mengangkat panggilan tersebut. Hingga panggilan yang ke empat, barulah Sean mengangkatnya.
Sean mengeratkan genggaman tangannya, meremas ponsel yang ia genggam.
"Apa kalian sedang mengikutinya?" tanya Sean.
"Benar tuan" ucap seseorang di balik telepon.
"Kirimkan lokasinya" ucap Sean.
"Baik tuan"
Sean mematikan panggilannya, lalu tak lama sebuah pesan, masuk pada ponselnya. Sean membuka layar ponsel tersebut, ia melihat lokasi yang di share oleh bawahannya.
Dengan langkah cepat dan tegap, Sean berjalan bersama Jamsh dan keempat bawahannya.
Perjalanan terbilang cukup lama dan jauh. Namun Sean berhasil datang tepat waktu.
"Sean Alexavier Deacon" ucap seseorang menyapanya.
"Apa kabar?" tanya Sean dengan senyum mematikannya.
"Baik, bagaimana denganmu" tanya orang itu yang tak kalah seramnya.
"Baik sekali, hanya saja ada sesuatu yang membuat perasasaanku berubah menjadi tidak baik" balas Sean.
"Apa yang membuatmu datang ke tempat ku" tanyanya to the point.
"Brayn, jangan coba-coba untuk bermain-main dengan sesuatu yang bukan milikmu" ucap Sean.
"Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan Sean"
"Lepaskan dia" ucap Sean menekan perkataannya dengan ekspresi datarnya dan aura dinginnya membuat orang yang dihadapannya sekaligus yang ada di sekitarnya merasakan hawa dingin yang menusuk.
"Tenanglah, bagaimana ku tahu jika dia milikmu?" balas Baryn mencoba untuk mengatur nyalinya yang sedikit menciut.
"Lihat saja malam ini, aku harus menemuinya lebih dulu" timpal Sean.
"Baik, silahkan" balas Baryn dengan memasang senyum ramah palsunya.
Sean membalas senyuman Baryn, ia berjaln dengan diikuti ke empat bawahannya dan dua bawahannya yang menunggu di luar.
Langkah Sean terhenti, ia melihat Alea yang baru saja di baringkan di kursi panjang yang yang ada disana.
Tangannya mengepal, ia merasa marah. Apalagi saat mendengar para pengawal itu berbincang bahwa mereka memukul Alea dari arah belakang.
"Tuan" panggil Jamsh membuat Sean tersadar.
Sean menggerakkan tangannya memberi kode bahwa ia baik-baik saja.
"Alea Lesandra" ucap Sean yang tanpa berlama-lama membuat gadis itu membuka matanya.
Sean menatap Alea, sepasang mata saling bertemu. Dalam tatapan Alea terlihat sangat jelas bahwa ia ketakutan dan berharap Sean akan menolongnya.
Tetapi itu tidak mungkin, karena Sean sedang berada di kandang lain. Jika sekali saja ia salah mengambil keputusan, Alea yang akan menanggung semuanya. Dan hal itu, Sean tidak menginginkannya.
Sean mencoba membuat gadis itu semakin takut, walau itu bertentangan dengan hatinya.
Selesai itu, Sean meminta bawahannya untuk membawa Alea ke dalam kamar. Namun Brayn tidak mengijinkan bawahan Sean yang membawa gadis itu.
Tak ada pilihan lain, Sean menyetujui bahwa bawahannya tidak akan ikut campur.
"Kenapa kau menculiknya?" tanya Sean.
"Maxi membuatku malu di depan umum, hingga aku harus membalaskan dendam ku padanya dengan menculik adiknya dan menikmatinya" jelas Brayn dengan senyum menyeringai.
"Kau tahu sendiri bukan, aku tidak suka orang lain menyentuh milikku" balas Sean.
"Sejak kapan dia milikmu?"
"Mulai malam ini" tegas Sean.
"Benarkah?"
"Kita lihat saja nanti"
Bawahan Brayn membawa Alea dengan paksa yang memberontak, tak hanya itu mereka juga melempar Alea ke dalam kamar dengan kasar.
Sean tak bisa menahannya, namun ia juga tidak ingin terjadi sesuatu yang lebih parah pada Alea.
Klek
Sean yang membuka pintu kamar dan memasukinya. Disana sudah ada Alea yang berasa di atas ranjang.
Sean harus melakukan aksinya, karena diluar sana Baryn terus memperhatikan mereka berdua.
Sudah cukup lama Brayn terus memperhatikan mereka, membuat Sean harus lebih kuat mempertahankan pertahanannya.
Hingga beberapa saat dari itu, Brayn mulai pergi dengan kekesalannya dan kekalahannya.
Mau bagaimana lagi, Sean bukan orang sembarangan. Ia harus mempersiapkan mentalnya jika ingin berurusan dengan keluarga Deacon. Jika tidak maka semua yang Baryn rintis akan sia-sia.
Flashback off