Sean masih dengan posisi yang sama, ia menoleh ke arah jendela luar. Orang yang mengawasinya kini sudah pergi.
Sean menjatuhkan tubuhnya disamping Alea. Ia menarik selimut dan memejamkan matanya.
"Sean" panggil Alea.
"Hm" balas Sean.
"Bisa buka tali ini?"
"Kemarilah" balas Sean sedikit mengangkat tubuhnya lalu menyandarkannya pada belakang dinding kasur.
Ia mulai membuka tali yang melingkar di lengan Alea.
"Terimakasih" ucap Alea.
"Hm" balas Sean, mengambil ponsel miliknya yang berdering menerima sebuah pesan.
Alea membuang nafasnya lega, rasanya sangat senang saat tali tersebut terlepas darinya. Ia sedikit mengusap-ngusap pergelangan tangannya karena sedikit lecet.
"Kenapa tanganmu" tanya Sean sedikit melirik.
"Tidak apa-apa, hanya perih sedikit"
"Biar ku lihat" ucap Sean langsung manarik tangan Alea dan melihatnya.
"Sial, mereka terlalu keras mengikatmu" pekik Sean.
"Apa?" tanya Alea yang sedikit mendengar suara Sean.
"Tidak. Sudah tidurlah" ucap Sean menarik tubuh Alea hingga terjatuh pada d**a bidang miliknya.
Alea merasa sangat canggung, apalagi Sean yang tidak mengenakan bajunya.
"Mau kemana" tanya Sean melihat Alea beranjak dari ranjang.
"Memangnya harus tidur bersama ya?" tanya Alea.
"Mereka masih memperhatikan kita"
"Kalau begitu sebentar"
"Mau kemana"
"Ambil ini" ucap Alea turun dari ranjang dan mengambil celana sekaligus kemeja putih Sean.
"Pakai ini, aku tidak bisa tidur jika melihatmu tanpa pakaian" sambung Alea.
"Memangnya kenapa? takut tergoda karena melihat tubuhku?" ledek Sean yang sebenarnya kata-kata itu tidak salah juga.
"Tidak juga" sangkal Alea.
"Cepat pakai" sambungnya.
"Baiklah-baiklah" ucap Sean kembali memakai pakaiannya.
"Sudah selesai, sekarang tidurlah"
"Iya" balas Alea kembali tidur di atas ranjang bersama Sean dengan menggunakan selimut yang sama.
Sean mulai memejamkan matanya, hari ini dirinya merasa sangat lelah.
"Sean" panggil Alea yang tidak bisa tidur.
Alea menoleh, ia melihat lelaki itu dengan lekat. Sekilas ada bayangan dimana mereka berdua tersesat di hutan. Walaupun semua itu adalah rencana Sean.
Alea memang merasa kesal dan kecewa. Tetapi entah kenapa perasaannya selalu saja cepat berubah-ubah.
"Kenapa melihatku seperti itu, cepat tidur" ucap Sean menggerakkan tangannya meraih tubuh Alea dan memeluknya.
"Sean, apa yang kamu lakukan" ucap Alea.
"Hmmm" Sean yang hanya berdeham.
Alea mengatur nafasnya, jantungnya semakin berdegup dengan kencang. Namun aneh, lama-lama ia merasa nyaman dan tubuhnya yang mulai menghangat.
Sementara itu, Sean mengulum senyumnya. Ia cukup senang melihat Alea yang diam saja dan tidak memberontak.
Sean juga seorang laki-laki normal, bagaimana mungkin dia tidak tergoda dengan gadis yang kini berada dihadapannya. Apalagi gadis itu hampir nyaris terlihat sempurna.
Hanya saja, Sean mempunyai batasan. Selagi mereka belum terikat janji pernikahan, maka mereka tidak boleh melebihi batas.
Malam begitu indah nyaman sempurna dengan bulan yang bersinar terang.
Keduanya terlelap dalam tidurnya dan mimpinya.
Hingga tak terasa kini pagi sudah menyambut mereka dengan mentari yang memancarkan cahayanya menembus ke setiap jendela kaca.
Alea membuka matanya, namun ia enggan untuk bangun. Saat ini dihadapannya ada wajah yang terukir sangat indah.
"Selamat pagi" ucap Sean membuka matanya memergoki Alea yang sudah memandanginya selama sepuluh menit.
"Eh em, iya. selamat pagi" balas Alea yang langsung bangun dari tidurnya dan mengambil posisi duduk.
Sedangkan Sean yang melihat itu, tersenyum kecil melihat Alea yang menggemaskan.
"Aku akan ke kamar mandi dulu" ucap Alea
"Hm" balas Sean.
Alea beranjak dari duduknya, ia berjalan memasuki kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.
Ia menyalakan air keran dan membasuh wajahnya.
Air yang dingin menyentuh pipinya terasa menyergarkan sang pemilik.
"Huh, ini jauh lebih baik" ucap Alea menghembuskan nafas dalamnya.
Klek
Pintu kamar mandi terbuka.
"Sean, kenapa kamu masuk" tanya Alea yang terkejut.
"Kamu tidak menguncinya" balas Sean.
"Setidaknya ketuklah pintu terdahulu"
"Ah ya" cuek Sean langsung membasuh wajahnya.
(Untung saja aku belum membuka pakaianku) gumam hati Alea.
"Yasudah kamu saja dulu, aku menunggu di luar saja" ucap Alea hendak pergi menuju pintu kamar mandi namun Sean segera meraih pergelangan tangannya.
"Lepas Sean"
"Diam" balas Sean dengan ekspresi datarnya.
"Sebenarnya apa sih yang terjadi" tanya Alea yang sudah mulai kesal.
"Jangan terlalu keras" balas Sean.
"Kalau begitu jawab pertanyaanku" ucap Alea.
Sean berdecak, ada kalanya ia kesal dengan sikap Alea yang tidak bisa di ajak kompromi.
"Aku akan memberitahumu nanti" balas Sean.
"Aku mau sekarang" bantah Alea.
"Alea" tegas Sean.
"Iya Sean" balas Alea menirukan logat Sean.
Sean memegang kepalanya, ini masih pagi namun dirinya sudah harus menghadapi sikap Alea yang seperti ini.
"Dimana mereka?" ucap seseorang sangat pelan namun masih terdengar.
Suara itu berasal dari dalam kamar mereka, jika didengarkan dari langkah kaki, sepertinya mereka tidak hanya satu orang.
"Siap-"
Belum juga Alea menyelesaikan perkataannya Sean sudah menutup mulut Alea dengan tangannya.
Sean menatap Alea seolah memberikan kode agar ia tidak bersuara.
Alea mengernyitkan dahinya ia masih tidak mengerti dan ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Sean lebih mendekat pada Alea, membuat gadis itu memundurkan langkahnya hingga terpentok dinding.
"Mereka mengincarmu, jika kau ingin selamat maka turuti saja perkataanku" bisik Sean dengan jarak yang sangat dekat. Bahkan hampir menyentuh telinga Alea membuat tubuhnya sedikit bergidik.
Selesai mengatakan itu, Sean kembali ke posisi awal memberi jarak antara dirinya dan Alea.
Kini wajah Alea berubah menjadi ketakutan. Dirinya percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sean.
"Lalu apa yang harus aku lakukan" tanya Alea berusaha melawan ketakutannya.
"Berteriaklah, seolah kita sedang...."
"Apa!" pekik Alea.
"Sudah ku bilang kecilkan suaramu" kesal Sean.
"Yasudah jika itu membuat mereka pergi"
Sean menyunggingkan senyumnya, ia mengira gadis itu takkan melakukannya. Namun ternyata ia juga bisa diajak kerjasama.
"Sean! lepaskan aku! bukankah kau sudah melakukannya tadi malam. Kenapa kau mau melakukannya lagi sekarang!" teriak Alea mendekatkan suaranya pada pintu kamar mandi dengan nada seolah benar-benar terjadi sesuatu padanya.
Sean terdiam, ia sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan Alea. Ternyata Alea juga pintar dalam berakting.
"Hey, jangan berteriak seperti itu. Aku tahu kamu menikmatinya" balas Sean dengan nada datarnya.
Entah kenapa mendengar kalimat yang dikatakan Sean membuat Alea memasang mata elangnya.
Sedangkan Sean, ia berusaha menahan senyumnya.
"Apa!! dasar kurang ajar. Biar ku pukul kau" balas Alea melempar tempat sabun cuci tangan hingga berhamburan.
"Diam kau, nikmati saja" balas Sean mencoba untuk tidak tertawa.
"Seannn aku mohon hentikan" ucap Alea sembari meringis berteriak sangat kencang membuat Sean tertawa namun tidak mengeluarkan suara.
Ekspresi yang dikeluarkan Alea sangatlah lucu, benar-benar ada saja kelakuannya.
"Sial! dia masih melakukannya" pekik seseorang di balik pintu.