Terik matahari menyinari seorang gadis yang tengah berbaring di dalam hutan. Kuntup matanya masih menutup, hingga perlahan mulai bergerak dan terbuka.
Sangat cantik, bola mata kanannya berwarna biru sedangkan bola mata kirinya berwarna coklat sedikit oranye. Kilauan mentari membuat gadis itu refleks mengangkat tangannya meneduhkan pandangannya.
"Dimana aku" gumamnya.
Ia mulai berdiri lalu sedikit menepuk-nepuk pakaiannya yang sudah sangat kotor karena tanah yang menempel pada pakiannya.
Hutan ini terbilang luas dengan banyak pepohonan membuat dirinya linglung sendiri, apalagi saat ini tenggorokannya merasa kering.
Tidak ada pilihan lain selain mencari mata air untuk menghilangkan dahaganya. Gadis itu mulai melangkah beranjak pergi mencari yang ia cari.
Suara burung begitu nyaring terdengar membuat perjalanannya tidak terasa sepi, hingga tak terasa dirinya sudah berjalan cukup jauh namun belum juga menemukan sumber mata air.
"Kemana aku harus pergi" ucapnya yang sudah merasa lelah.
Duduk, itu adalah pilihannya saat ini. Sepanjang hari berjalan mencari sungai membuat kakinya terasa pegal dan nyeri. Apalagi bau tubuhnya yang ia sendiri sudah tidak tahan menciumnya. Entah sudah berapa lama ia terdampar di hutan ini.
Tak lama dari duduknya, tiba-tiba gadis itu menoleh kala mendengar riak air yang sangat pelan. Senyum manisnya terukir pada wajah cantik itu.
Ia kembali berdiri dan mulai beranjak dari duduknya. Rasa kaki yang sakit sudah tak ia rasakan kala melihat aliran air yang sangat kecil.
"Pasti ini menuju sungai besar" pekik gadis itu diakhiri senyumnya.
Dengan tenaga yang tersisa, ia berjalan perlahan mengikuti aliran air yang mengalir.
"Apa ini" ucapnya menyingkirkan dedaunan yang besar dan sebagian ranting yang menghalangi langkahnya.
Sreett.
Suara daun dan ranting yang ia singkirkan.
Beberapa menit kemudian, gadis itu tertegun berdiam diri tidak bergerak. Sepersekian detik, ia berlari dan berteriak kala melihat sungai yang lumayan besar dengan penuh bebatuan kecil.
"Akhirnya" teriak gadis itu, lalu memainkan air yang membuat tubuhnya terasa segar.
Ia tak ingin menyia-nyiakan air itu, dirinya mulai membersihkan seluruh tubuhnya dan pakaiannya kala sudah memastikan bahwa keadaan di sekitarnya telah aman.
"Segar sekali" pekik gadis itu yang kini beralih menjemur pakaian luarnya.
Braakkk!
"Apa itu" ucapnya dengan was-was.
Karena penasaran ia mengambil sebuah batu berukuran sedang lalu berjalan menuju asal suara.
"Aaaaaa" teriak gadis itu melihat seorang laki-laki yang tergeletak dengan pakaiannya yang berlumuran darah.
Ia kembali berlari meninggalkan lelaki itu, ia tidak ingin memperdulikan apapun. Yang terpenting baginya saat ini adalah mencari jalan keluar dari hutan yang luas ini.
Baru saja beberapa langkah, gadis itu memutar tubuhnya menoleh pada lelaki itu yang memiliki banyak luka sekaligus darah yang melumuri pakaiannya. Rasa kemanusiaan yang ada dalam hati gadis itu tidak bisa dihilangkan, hingga ia kembali melangkah mendekat pada sosok pria itu.
"Beginilah jika menjadi orang baik, gak tegaan" celetuknya.
Gadis itu sedikit mengigit bibir bawahnya kala melihat darah begitu banyak yang hampir menutupi warna asli dari pakaian lelaki itu.
"Hey, bangun" ucapnya mencoba membangunkan lelaki yang kini berada di hadapannya.
Ia menggerakkan tangannya menyentuh pergelangan tangan lelaki itu memastikan bahwa denyut nadinya masih berdetak.
"Panjang umur ternyata" celetuknya dilanjutkan dengan mengangkat tubuh besar dan kokoh lelaki itu sekuat tenaga yang ia punya, tubuhnya yang sudah bersih kembali kotor dengar darah yang menempel padanya.
Mau tak mau ia harus membersihkan tubuhnya kembali lalu membersihkan bagian tubuh lelaki itu yang bisa ia bersihkan walau hanya sebagian. Setidaknya akan sedikit terasa nyaman baginya.
"Ah, ini pasti sakit" ucap gadis itu melihat sebuah panah yang sudah patah sedikit munusuk kedalam lengannya, selain itu ada banyak bekas luka lama dan bekas luka baru yang menggores tubuh pria itu.
Dengan sepelan mungkin ia membasuh dan mengelap lalu mencoba untuk menarik panah mengeluarkannya dari lengan lelaki itu. Tak lupa ia juga memotong bagian bajunya lalu diikatkan pada lengan pria itu.
Beberapa menit kemudian gadis itu menadahkan kepalanya, tak terasa langit kini mulai berubah menjadi senja, malam yang gelap akan segera tiba. Ia sesegera mungkin mencari ranting-ranting kecil yang tak jauh dari sana untuk menghangatkan tubuhnya.
Malam sudah datang, tepat pada api unggun yang sudah menyala.
Wanita itu kembali menoleh kepada lelaki yang ada di sampingnya, ia melihat wajah lelaki itu dengan tatapan serius sekaligus penuh tanya. Tetapi, pertanyaannya kini semuanya telah buyar kala melihat ketampanan yang tiada tara. Jika terus dilihat, lelaki yang sedang berbaring di sampingnya ini terlihat sangat tampan. Hidung mancungnya, alis yang tebal bahkan kulitnya yang terlihat bersih juga segar membuat siapa saja tidak ingin memalingkan pandangannya.
Layaknya seperti dirinya yang masih memandangi lelaki itu sembari menunggu sang pemilik wajah membuka matanya.
Namun sayang sekali, sudah menunggu begitu lama malam semakin larut. Pemilik mata itu tak kunjung terbuka yang justru malah membuat gadis itu menutup matanya karena berat menahan kantuk.
...
Pagi telah menyambut gadis yang kini mulai membuka matanya. Sedangkan lelaki itu masih belum membuka matanya.
Ia kembali menggerakkan tangannya menyentuh pergelangan tangan lelaki yang berbaring disampingnya memastikan bahwa nadinya masih berdenyut.
"Masih ada kok" ucapnya terheran.
"Apa?" suara berat khas lelaki itu.
"Denyutnya" jawab sang gadis datar.
Beberapa detik kemudian, gadis itu kembali menoleh ia baru menyadari bahwa lelaki itu sudah bangun dari tidurnya.
"Sudah bangun?" tanyanya sedikit memundurkan posisi duduk.
"Hm" jawab lelaki itu lalu duduk seolah tidak terjadi apa-apa.
"Siapa namamu?" sambungnya.
"Nama?"
"Namaku ... siapa namaku. Kenapa aku tidak ingat" pekik gadis itu memegang kepalanya.
"Tidak punya nama?" tanya lelaki itu dengan ekspresi datar dan sikap dinginnya.
"Siapa aku? kenapa aku tidak bisa mengingat peristiwa sebelumnya" ujar gadis itu menggelengkan kepalanya beberapa kali hingga terasa pusing.
"Ah kepalaku" sambungnya yang tidak kuat menahan sakit.
"Pikirkan saja nanti, untuk saat ini aku akan memanggilmu Alea"
"Alea?"
"Hm"
"Kenapa Alea?"
"Karna hanya nama itu yang terbesit saat melihatmu"
"Lalu apa artinya Alea" tanya gadis itu antusias.
"Tidak tahu" balas lelaki itu lalu beranjak pergi untuk mencuci wajahnya.
"Ishh, kak tunggu" ucap Alea mengikuti lelaki yang ada didepannya.
"Aku bukan kakakmu, panggil saja Sean" balas Sean lalu membasuh wajahnya.
Alea memanyunkan bibirnya, ia sedikit kesal dengan balasan Sean. Padahal ia hanya bersikap sopan dengan memanggilnya kakak.
Keduanya kini tengah mencuci wajahnya, rasa dingin dari air sungai membuat mereka merasa segar kembali, ditambah suasana pagi yang cerah membuat siapa saja merasa nyaman dan tenang.
Sean kini berdiri, ia memandang jauh air yang mengalir di dalam sungai. Tubuhnya memang berada disini, namun pikirannya entah kemana.
"Kenapa bertanya siapa namaku?" tanya Alea yang akhirnya memberanikan diri membuka pembicaraan.
"Agar mudah jika ku panggil" jelas Sean yang masih menatap lurus.
"Cih, memangnya kamu siapa" balas Alea berdecak.
Sean masih diam, ia tidak membalas apapun. Ia juga tidak mengerti kenapa bisa dia menanyakan nama gadis itu kala tersadar dari pingsannya, dan yang lebih aneh kenapa dia memberinya nama.
"Emm, kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Alea membuat Sean menoleh dengan memasang wajah seolah dirinya sudah mengganggu lelaki itu.
"Ah iya, aku tidak akan bertanya lagi" ucap Alea yang sedikit mundur.
"Siapa aku? kenapa aku tidak tahu siapa diriku sendiri. Lalu kenapa aku ada di sini?"