Alea terdiam, ia mengangguk pelan. Sebenarnya apa yang dimaksud oleh Sean? apa dia cemburu?
(Aishh kenapa aku mengatakan itu) pikir Sean setelah beberapa menit.
Suasana masih hening, Alea tidak tahu kemana Sean akan membawanya. Hingga tak lama mobil mereka berhenti di sebuah bazar yang sangat ramai.
Sean keluar dari dalam mobilnya, lalu berputar menuju posisi Alea dan membukakan pintu mobil untuknya.
Alea merasa semakin aneh, namun ia tidak mengatakan apapun. Dirinya sungguh tertarik dengan bazar yang ada disana.
"Tempat apa ini?" tanya Alea senang.
"Ini bazar" balas Sean.
"Kenapa membawaku kesini?"
"Biasanya wanita selalu menyukainya. Apa kamu tidak suka?"
"Wanita? berarti kamu pernah ajak wanita lain juga?" tanya Alea, ada sesuatu yang sedikit membuatnya tak nyaman kala Sean mengatakan hal itu.
"Memangnya kenapa?" tanya balik Sean.
"Tidak" singkat Alea, membuat Sean menahan senyumnya.
"Apa?" tanya Alea.
"Cemburu ya" ucap Sean membuat Alea salah tingkah.
"Tidak Sean" jutek Alea lalu berjalan meninggalkan Sean.
"Kamu wanita pertama yang ku bawa kemari. Aku tahu informasi ini dari Jamsh" ucap Sean membuat langkah Alea terhenti.
Suasana hatinya kini berubah, mendengar apa yang diucapkan Sean membuat hatinya merasa senang. Alea tersenyum namun tidak berbalik, ia memilih untuk melanjutkan langkahnya.
Sedangkan Sean ia juga tersenyum melihat tingkah Alea yang semakin menggemaskan.
Alea berjalan lebih dulu. Dan Sean, ia hanya mengikuti gadis itu yang berjalan ke sana kemari karena kegirangan.
"Sean, lihat" panggil Alea menunjuk permen kapas yang bentuknya lucu-lucu.
"Mau?"
"Hm" angguk Alea antusias.
Sean membelikan permen kapas itu untuk Alea yang berukuran sedang dengan bentuk boneka lucu.
"Ah sayang sekali untuk memakannya" ucap Alea yang terus memandang permen kapas itu.
Sean yang melihat Alea, tiba-tiba saja terpikirkan untuk mengerjainya. Ia menggerakkan tangannya mengambil secuil permen kapas dan memakannya membuat bentuknya tidak lagi sempurna.
"Seann" teriak Alea yang tidak terima permen kapasnya di makan.
Sedangkan Sean, ia tertawa melihat wajah Alea yang kesal setengah mati.
"Kamu yaaa!" sambung Alea hendak memukul ringan Sean.
"Tidak kena" ucap Sean yang semakin membuat Alea kesal.
"Awas kamu yaa!" balas Alea yang langsung mengejar Sean yang sudah menghindar dan berlari di sekitar sana.
Pemandangan yang sangat langka dan indah. Keduanya tertawa dan tersenyum ringan. Pancaran bahagia terlihat dari wajah keduanya.
"Sudah, aku sudah lelah" ucap Sean
"Tidak bisa, ini bentuknya jadi gak bagus lagi" gerutu Alea.
"Coba kau makan, itu enak"
"Tidak mau"
"Ayo di coba" paksa Sean yang langsung mengambil dan menyuapi Alea dengan senyum jailnya.
"Seannn" ucap Alea dengan mulut yang berisi permen kapas.
"Hmm, ini enak" sambung Alea.
"Aku akan membeli minum, tunggu disini" ucap Sean mendapat anggukan dari Alea yang mulai sibuk memakan permen kapasnya.
Sean berjalan pergi meninggalkan Alea untuk membelikan sebuah minuman. Sedangkan Alea, ia masih sibuk dengan memakan permen kapasnya hingga habis lebih cepat.
"Maaf ya, aku sudah menghabiskanmu" pekik Alea dengan tawa kecilnya lalu membuang sisa tusukan permen kapas pada tong sampah.
Kini Alea kembali mengedarkan pandangannya, ia melihat penjual aksesoris . Alea sangat tertarik dengan itu, ia mulai beranjak pergi dari posisinya.
Tidak beberapa lama setelah Alea meninggalkan tempat itu, datanglah Sean dengan membawa dua botol minuman.
"Alea" panggil Sean menepuk seseorang.
Wanita itu berbalik, ternyata itu bukanlah Alea. Tiba-tiba perasaan Sean menjadi tidak karuan, ia merasa cemas karena Alea yang tidak ada disana.
"Kemana dia" kesal Sean.
Sean melihat sekitar, ia mencoba untuk menemukan Alea di antara ramainya bazar. Sean juga berjalan dan bertanya pada seseorang, namun tidak ada yang melihat Alea. Hal itu membuat Sean mulai sangat cemas.
"Alea" panggil Sean.
"Alea" ulang Sean sembari berjalan.
"Alea" teriaknya lagi.
"Sean, aku disini" ucap Alea membuat Sean menoleh dan segera mendekat pada Alea.
"Apa yang kau lakukan disini, bukankah sudah kukatakan untuk diam disana" jelas Sean memeluk tubuh Alea.
Sementara Alea, ia hanya diam. Tak menyangka dengan sikap Sean yang langsung memeluk dirinya. Secemas itukah?
"Maaf, aku hanya melihat-lihat" balas Alea.
"Bagaimana jika kamu tersesat. Ini sangat ramai" timpal Sean melepas pelukan Alea.
"Maaf Sean" ucap Alea.
"Oh ya, lihat ini sangat lucu" alih Alea agar Sean tak lagi marah.
"Hm" Sean yang masih merasa kesal dengan melipat kedua tangannya di d**a.
Alea tahu Sean masih kesal padanya. Ia memakai topeng yang bentuknya lucu untuk menghibur Sean.
"Sean, lihat aku" ucap Alea menarik lengan Sean hingga membuat lelaki itu melihatnya.
"Terlihat lucu bukan? lihat ini" sambung Alea menunjukan gerakan-gerakan lucu yang akhirnya membuat Sean tak kuasa menahan senyumnya.
"Sudah-sudah, lain kali tidak boleh seperti itu" ucap Sean mengusap rambut kepala Alea membuat siapapun yang melihatnya akan merasa gemas.
"Wah lihat ini, bando ini sangat lucu. Coba pakai" ucap Alea membuka topengnya lalu hendak memasangkan bandonya pada Sean.
"Tidak Alea" tolak Sean.
"Ayo cobalah" paksa Alea yang langsung memakaikan bando tersebut pada Sean.
"Alea" kesal Sean membuat Alea tertawa lepas melihat Sean mengenakan bando lucu dengan ekspresi kesalnya.
Tiba-tiba saja ekspresi kesal Sean berubah saat melihat Alea yang tertawa ringan. Sangat cantik, kebahagiaannya terpancar dari wajah gadis itu. Membuat siapa saja yang melihatnya akan terasa sangat nyaman.
"Ah perutku sakit karena tertawa terlalu lama" pekik Alea yang berusaha mengatur dirinya agar tidak tertawa lagi.
"Sudah ayo pergi, aku masih harus membawamu ke suatu tempat" ucap Sean.
"Kemana" tanya Alea.
"Sudah ayo" ajak Sean.
"Pak ini untuk bapa, saya ambil bando ini" ucap Sean memindahkan bandonya pada kepala Alea membuat gadis itu terlihat semakin lucu dan manis.
Waktu sudah menunjukan pukul lima sore, pastinya Alea merasa lapar. Sean mengajak Alea kembali ke dalam mobil, walau sebenarnya ia tahu bahwa Alea masih ingin berada di tempat ini.
"Belilah sesuatu untuk mengganjal perutmu di dalam mobil" jelas Sean mendapat anggukan Alea.
"Kita beli itu saja" tunjuk Alea.
Sean tak mengatakan apapun, ia mengikuti langkah Alea.
"Eh apa itu" lirik Alea kala menunggu pesanannya datang.
"Sudah tunggu dulu, sebentar lagi selesai pesananmu" timpal Sean yang tahu Alea akan pergi kesana.
"Hehe iya" balas Alea.
"Ini pesannya" ucap penjual itu memberikan dua bungkusan makanan.
"Lihat itu dulu ya, sebentar saja" pinta Alea.
"Hmm, yasudah ayo" balas Sean yang tidak bisa menolak.
Dengan senyum senangnya Alea mendekat pada penjual itu, ia melihat barang-barang yang indah namun aneh.
Alea mengambil salah satu gelang hitam seperti besi.
"Pilihan nona sangat bagus, ini bisa untuk melindungi diri" jelas penjual tersebut mengambil gelang yang digenggam Alea.
Ternyata dalam gelang tersebut ada sebuah tombol kecil pada kupu-kupu yang menggantung, dan itu membuat gelang tersebut berubah menjadi sebuah besi lurus dengan ujung runcing bagai sebuah tombak.
"Wahh, keren" pekik Alea yang melihatnya. Begitu juga dengan Sean yang langsung memfokuskan pandangannya.
"Apa ada satu lagi?" tanya Alea.
"Ini hanya tersisa satu nona" balas penjual itu.
"Ah sayang sekali" lirih Alea kembali mencari benda lain.
Tak lama kemudian, mata Alea tertarik pada sebuah benda berbentuk cincin.
"Kalau yang nona pegang, itu adalah cincin takdir"
"Cincin takdir?"
"Benar, kemari" ucap penjual itu mengambil cincin yang di berikan oleh Alea.
Penjual itu melihat cincin tersebut, lalu menarik bagian lain. Cincin tersebut hanya terlihat satu, tetapi sebenarnya itu adalah dua cincin yang disatukan. Manik biru yang ada pada cincin tersebut akan bersinar ketika keduanya berdekatan, selain itu ketika manik birunya di tekan. Akan muncul sebuah benda kecil yang tajam yang mampu menusuk apapun.
"Sean, aku mau ini" ucap Alea.
"Pak kami mau ambil yang ini"
"Baik, silahkan" ucap penjual itu memberikan cincinnya pada Alea.
"Terimakasih" ucap Alea.
"Sama-sama"
Setelah itu, Alea dan Sean pergi meninggalkan bazar kembali menuju mobil.
"Saling bertemu, namun saling menyakiti. Tetapi semua itu adalah takdir. Sama seperti cincin yang kalian ambil. Pada akhirnya, kita akan lihat apa yang lebih mendominan. Cinta atau Pembalasan" ucap sang penjual.